“Kamu anggap itu berarti?”
Bevi tergelak mendengar pertanyaan itu. Dia berdiri tegak dengan napas memburu. Matanya bergerak ke kiri dan ke kanan sedangkan pikirannya sibuk mencari jawaban yang pas. Lalu dagunya tertarik ke atas, menatap Birzy dengan senyum sinis. “Enggak, tuh!”
Birzy menatap Bevi yang terlihat salah tingkah. Dia tersenyum kecil kemudian membuang muka. “Baguslah. Itu hanya pelukan nggak berarti.”
Tring!
Saat pint lift terbuka sempurna, Birzy masuk lebih dulu. Dia berdiri di depan tombol lift. Pandangannya kemudian tertuju ke Bevi yang masih diam di posisinya. “Nggak masuk?”
“Ah!” Bevi langsung menoleh. Dia masuk lift dengan kepala tertunduk. Dia memilih berdiri di ujung lift, sambil menutup sisi samping wajahnya.
Birzy melirik ke arah Bevi, mendapati gadis itu hanya menunduk. Dia fokus menatap angka yang bergerak. Tiba-tiba dia merasa canggung. Ini ketiga kalinya dia satu lift dengan Bevi dengan kondisi yang sedikit berbeda. “Kamu pulang naik apa?”
Bevi menoleh. Saat Birzy menggerakkan kepala ke arahnya buru-buru dia menunduk. “Naik bus,” jawabnya. “Eh, bukannya Bapak tadi sudah tanya?” Barulah dia berdiri tegak menatap depan.
“Sudah, ya?” Jari telunjuk Birzy mengusap dagu. Dia lupa telah menanyakan itu. “Memang masih ada bus jam segini?”
Refleks Bevi melirik arloji. Dia mengembuskan napas lalu menggeleng. “Saya bisa naik ojek.”
“Ojek?” Birzy memutar tubuh, menghadap Bevi yang mengangguk dengan wajah berat. “Ya udah sama saya aja.”
“Apa?” Bevi mengangkat wajah. “Nggak perlu, Pak. Ngerepotin.”
Birzy kembali berbalik menghadap pintu lift. “Saya yang repot kalau kamu hilang. Statusmu masih pegawai magang di sini.”
Sudut bibir Bevi tertarik ke atas. Dia menyentuh d**a, lalu maju selangkah. “Saya tersanjung dengan ucapan Bapak.”
“Kalau kamu hilang dan keluargamu nuntut ke mari, itu bikin susah. Saya nggak mau terlibat urusan kayak gitu,” balas Birzy tajam.
Bevi seolah tertampar oleh sebuah kenyataan. Tidak mungkin Birzy perhatian seperti itu. Apalagi, langsung berbuat baik dengan langsung mengantarnya pulang. “Keluarga saya nggak bakal nyari. Kalau saya hilang nggak mungkin ada yang ke mari. Jadi, Bapak tenang saja. Saya nggak ngeribetin kok.”
Birzy menoleh, cukup terganggu oleh kalimat Bevi. “Maksudnya keluargamu nggak bakal nyariin meski kamu hilang?”
“Iya!” Bevi mengangguk dengan wajah serius, alih-alih terlihat sedih.
“Keluargamu ternyata aneh!” Birzy membuang muka. Bertepatan dengan itu pintu lift terbuka, dia keluar lebih dulu dengan satu tangan berada di saku. “Saya antar kamu, nggak ada penolakan.”
Bevi mengembuskan napas, lalu mengerucutkan bibir. “Oke kalau bapak maksa.”
Seketika Birzy menghentikan langkah. Dia menunjuk Bevi dengan wajah sebal. “Kapan saya maksa kamu?”
“Barusan,” jawab Bevi sambil menahan tawa. “Bapak minta nggak ada penolakan. Itu artinya Bapak maksa.”
“Kamu benar-benar, ya!” Tangan Birzy tertarik ke atas, geram ingin memukul kepala Bevi. Lalu yang dia lalukan, dia hanya mendorong kepala gadis itu. “Saya nggak maksa, kalau kamu pengen naik bus ya terserah.” Setelah mengucapkan itu dia melanjutkan langkah.
Bevi menahan tawa melihat tingkah bosnya yang sebenarnya lucu itu. “Pak, kalau marah kurang menghayati. Masa wajahnya tanpa ekspresi gitu.”
Birzy tidak merespons. Dia tetap berjalan menuju mobilnya, tidak peduli apakah Bevi mau mengikutinya atau tidak. Saat hendak masuk mobil, dia menoleh. Bevi ternyata mengikutinya sambil menahan tawa. “Jangan ngejek saya.”
Seketika Bevi menarik bibirnya ke dalam. “Saya nggak ngejek Bapak.” Dia berlari saat Birzy mulai menyalakan mobil. Dia menarik pintu belakang dan duduk di sana.
“Apa yang kamu lakukan?” geram Birzy. Kedua tangannya mencengkeram kemudi sedangkan pandangannya tertuju ke spion tengah. “Kamu pikir saya supir kamu?”
Bevi mengangkat kedua jari. “Takutnya pacar Pak Birzy marah kalau saya duduk depan. Jadi saya duduk sini.”
“Saya bukan sopir kamu.”
“Lah? Yang bilang Bapak sopir saya memang siapa?” Bevi menahan tawa mendapati Birzy mulai emosi. “Ah, akhirnya saya bisa lihat emosi Bapak lagi.” Gadis itu turun dari mobil lalu berganti duduk di depan.
Birzy menoleh, memperhatikan Bevi yang tampak puas telah mengerjainya itu. “Pakai sabuk pengaman.”
“Perhatian banget!”
“Diam!” Kepala Birzy terasa akan pecah karena Bevi terus membuatnya marah. Dia mulai mengemudikan mobil. Saat melewati jalan raya yang sepi, dia mengemudi dengan kecepatan tinggi. “Di mana rumahmu?”
Bevi melirik Birzy yang masih terlihat marah itu. “Di pertigaan depan belok kanan.” Dia melirik Birzy lagi. “Maaf.”
Birzy hanya mengembuskan napas. Dia berbelok ke arah kanan sesuai arahan Bevi. “Terus ke mana?”
“Lurus aja. Nanti aku kasih tahu lagi.” Gadis itu duduk bersandar, merasakan sandaran yang terasa empuk. “Kursi di kantor nggak seempuk ini. Nggak bisa bayangin kalau lembur sebulan, punggungku bisa-bisa patah tulang.”
Tidak ada respons dari Birzy. Dia fokus menatap depan sambil menanti arahan dari Bevi. Hingga beberapa menit kemudian, dia sadar gadis itu belum menunjukkan arah selanjutnya. “Setelah ini ke mana?”
Bevi menoleh. “Masih lurus, Pak. Nanti saya kasih tahu lagi.”
Birzy kira rumah Bevi tidak jauh dari kantor. Sekarang dia hampir melewati perbatasan wilayah. “Di mana?”
“Nah, itu belok ke kampung dekat pencucian mobil!” Bevi menunjuk ke sebuah tulisan cuci mobil dengan lampu yang menyala agak gelap.
Mobil mulai berbelok ke sebuah kampung. Birzy melirik ke kiri dan ke kanan, mendapati rumah-rumah telah gelap padahal belum terlalu malam.
“Berhenti di rumah kuno itu!” Bevi duduk tegak sambil melepas sabuk pengaman. Setelah mobil sepenuhnya berhenti, dia menghadap Birzy. “Makasih tumpangannya, Pak.”
Birzy melirik sekilas. “Hmm.”
“Hati-hati di jalan!” Bevi turun dari mobil, lalu melambaikan tangan. Dia menghentikan kegiatannya kala Birzy tidak menoleh sedikitpun. Lantas dia berbalik dan masuk ke kontrakan. Dia senang karena malam ini menghemat biaya transportasi.
Birzy menoleh, melihat Bevi yang berjalan dengan langkah riang itu. Dia lalu menoleh ke kiri dan ke kanan. Dia menyadari rumah Bevi cukup jauh dari kantor. “Apa dia nggak capek?” Dia menggumam sambil melajukan mobil.
Di perjalanan, Birzy ingat saat Bevi datang ke kantor dengan wajah ceria dan pulang dengan wajah ceria pula. Rumah gadis itu cukup jauh, harusnya gadis itu terlihat lelah. Namun, sepertinya Bevi sengaja menutup-nutupi semuanya.
“Apalagi soal keluarganya,” gumam Birzy. Entah bagaimana latar belakang gadis itu.
***
Bip....
Saat mendengar suara pintu yang terbuka, Raka langsung keluar dari dapur. Dia melambaikan tangan melihat sahabatnya itu masuk dengan wajah suntuk. “Lembur lagi? Harusnya malam ini lo nggak lembur.”
Birzy menghempaskan tubuh di sofa single. “Harusnya udah daritadi gue sampai.”
“Terus?” Raka duduk bersila, melihat mata Birzy yang memerah. Biasanya lelaki itu tidak selelah ini. Apalagi, masih belum terlalu larut.
“Gue nganterin dia dulu.” Birzy menyandarkan kepala sambil memijit pelipis.
“Dia?”
“Hmm....”
Raka menebak-nebak siapa yang dimaksud. Hingga dia dengan seseorang yang sedang dekat dengan sahabatnya itu. “Si anak magang?” tebaknya. “Lo anterin dia pulang? Kok tumben? Terus ketemu kedua orangtuanya nggak?”
“Ka, jangan banyak omong, deh!” Birzy duduk tegak menatap sahabatnya itu dengan sebal. “Gue anterin dia karena kasihan. Nggak lebih.” Setelah mengucapkan itu dia berdiri dan menuju kamar.
Raka jelas tidak percaya alasan Birzy begitu saja. “Sejak empat tahun terakhir lo nggak pernah anterin cewek pulang.”
Langkah Birzy langsung terhenti. Kedua tangannya terkepal atas ucapan Raka. Memang benar, dia tidak pernah mengantar seorang perempuan sejak empat tahun yang lalu. Namun, barusan dia mengantar Bevi padahal dia belum dekat dengan gadis itu. Ayolah, Bevi hanya karyawan magang yang belum tentu menjadi karyawan tetap di kantor Birzy.
“Bir! Ini saatnya lo lanjutin hidup lo!” teriak Raka dari arah dapur. Dia kembali menyantap cemilan dari lemari es Birzy.
Di dalam kamar, Birzy masih berdiri di posisinya. Dia menunduk lalu menyugar rambutnya ke belakang. Hari ini dia sadar, terlalu dekat dengan Bevi. Bahkan dia memeluk gadis itu. Birzy mengembuskan napas lalu berdiri tegak. “Gue nggak boleh kayak gini. Gue harus menjaga hati.”
“Bir! Kalau butuh bantuan gue bilang. Gue ahli soal merayu cewek. Lo nggak ngeraguin itu, kan?”
“Diam!” Birzy berteriak. Dia melepas kemeja dan membuangnya asal. Setelah itu dia masuk kamar mandi. Hari ini sungguh melelahkan.
***
Sejak pukul delapan, Bevi dan Risyad sibuk menyiapkan berkas untuk rapat pemegang saham. Dua orang itu berkali-kali mondar-mandir ke ruang meeting untuk memeriksa kembali kesiapan ruangan. Belum lagi, dia koordinasi dengan yang divisi lain. Bevi yang masih karyawan magang lebih sering mendapatkan perintah ini itu.
“Pak Risyad, semua berkas udah siap dan sudah saya letakkan di ruang meeting.” Bevi kembali dengan langkah sempoyongan. Dia berbaring di sofa panjang, mengistirahatkan kakinya yang terasa pegal.
Risyad bertolak pinggang sambil memperhatikan Bevi. “Cepat bangun, kalau ada tamu dateng bikin malu.”
“Lima menit!” Bevi mengangkat kelima jarinya ke arah Risyad. “Ini pengalaman pertamaku mondar-mandir nggak karuan ngurusin ini itu. Sebelumnya lo sendiri yang ngurusin?”
“Harusnya gue marah karena lo nggak sopan. Tapi lebih enak ngomong santai kayak gini, sih.” Risyad mendekati Bevi. Dia duduk di sofa single, menyandarkan pundaknya yang terasa pegal. “Sebelumnya gue sendiri. Paling sama Pak Sony.”
Bevi tersenyum lalu menepuk d**a. “Kehadiran gue cukup membantu, kan?”
Risyad mengangguk. Tiga hari Bevi bekerja sama dengannya. Gadis itu sangat cekatan dan meringankan beban pekerjaannya. “Gue harap lo tugas di sini sama gue.”
Seketika Bevi terduduk. Dia menatap Risyad sambil menggeleng. “Kalau di sini gue pasti diminta lembur. Apa lagi....”
“... apa lagi?” Risyad memiringkan kepala, mendapati raut bingung Bevi. “Lo nggak suka bantuin gue?”
“Bukan nggak suka. Cuma, gue nyari aman aja.” Bevi menunduk sambil memainkan ujung jari. Dia ingat, kemarin Birzy memeluknya membuat dadanya terasa sesak. Dia ingat, kemarin sedikit membahas tentang keluarganya. Lalu yang membuatnya terus kepikiran saat Birzy mengantarnya pulang. Memang, lelaki itu hanya membantu tapi tetap saja Bevi merasa terusik. Selama ini tidak ada lelaki yang mengantarnya pulang. Wajar jika dia terbawa perasaan.
“Lo nggak tahan sama sikap dingin Pak Birzy?” Risyad memajukan tubuh, penasaran dengan apa yang menimpa Bevi.
Bevi mengangkat wajah lalu menggeleng pelan. “Bukan cuma itu aja. Tapi gue ngerasa kalau dia itu....”
“... lo suka sama Pak Birzy?” potong Risyad cepat.
“Enggak!” Bevi langsung berdiri. Dia menggeleng dengan wajah cemas. Bagaimana mungkin Risyad menebak seperti itu? “Mana mungkin gue suka cowok dingin kayak gitu. Enggaklah. Nggak mungkin!” Dia menggeleng tegas.
Risyad menahan tawa melihat Bevi yang sangat ekspresif. “Jelas nggak mungkin. Cewek kayak lo pasti pengen dapet cowok yang setipe.”
“Setipe?” tanya Bevi tidak mengerti.
“Iya. Lo ekspresif, pasti pengen dapet cowok yang ekspresif juga.”
Bevi manggut-manggut. “Ya, gue suka cowok yang ekspresif. Jadi, gue nggak perlu nebak-nebak apa yang dia rasain.”
“Ehm....” Dehaman itu tiba-tiba menginterupsi.
Risyad seketika berdiri. Dia menoleh mendapati Birzy berjalan dengan wajah dingin. “Selamat pagi, Pak. Semuanya sudah siap.”
Birzy menghentikan langkah. Dia menatap Bevi yang menunduk, entah karena malu atau karena takut. “Kamu ikut saya.”
Bevi melirik Birzy. Sadar jika Birzy berbicara dengannya, dia tersenyum lalu menunduk lagi.
“Ke ruangan saya!” Birzy berjalan menuju ruangannya.
Bevi menatap Risyad dengan wajah enggan. Dia berjalan mengekori Birzy dengan kedua tangan meremas di samping tubuh. Setelah sampai ruangan, dia kembali menunduk mendengar perintah Birzy.
“Selama rapat pastikan semuanya berjalan lancar,” pinta Birzy. “Nanti kamu jaga di depan, kalau-kalau ada yang butuh bantuan saya bisa langsung panggil kamu.”
“Baik, Pak.” Bevi menunduk menyanggupi.
Birzy memperhatikan Bevi yang tampak sibuk dengan pikirannya sendiri itu. “Saya nggak suka kamu terlalu bergosip.”
Bevi mengangkat wajah. “Tapi hari ini saya nggak bergosip.”
“Barusan apa? Ingat, kamu di sini kerja.” Birzy menunjuk Bevi. “Satu lagi, jangan ada yang tahu kalau semalam saya antar kamu. Dan anggap hal itu tidak pernah terjadi.” Setelah mengucapkan itu Birzy keluar dari ruangan.
Kepala Bevi semakin tertunduk. “Kayaknya gue doang yang terbawa perasaan, dia enggak. Huh....”
“Memang tidak, jangan mengharapkan apapun dari saya,” jawab Birzy yang masih berdiri di depan pintu. “Jangan mengharapkan apapun.”