10- LO NAKSIR PAK BOS?

1828 Kata
“Jangan mengharapkan apapun.” Bevi menoleh. Dia mendapati Birzy masih berdiri di depan pintu. Gadis itu seketika menutup mulut. “Pak....” Dia kesulitan berkata-kata. Birzy tidak menoleh. Dia melanjutkan langkah lalu menggerakkan tangan meminta Risyad mengikutinya. Risyad menurut. Sambil melangkah dia melirik ke arah pintu. Dia sempat mendengar apa yang diucapkan Birzy. Entah, apa yang terjadi di dalam ruangan tadi, tapi dia merasa aura Birzy semakin terasa dingin. “Gue harus gimana?” Bevi langsung berjongkok memeluk kedua kaki. Dia menyembunyikan wajah di atas lutut. Tidak seharusnya dia menyuarakan isi hatinya. Apalagi, sampai dijawab oleh Birzy. “Pasti dia udah mikir yang enggak-enggak!” Bevi menggeleng tegas. Dia tidak ingin Birzy semakin semena-mena karena tahu dia terbawa perasaan. Bevi lalu berdiri tegak. Dia memukul dadanya beberapa kali. “Gue aneh banget, sih? Padahal cuma dipeluk dan dianter pulang langsung baper kayak gini!” Wajah Bevi mulai memerah menyadari tiba-tiba dia terbawa perasaan. Gadis itu menarik napas panjang, mencoba tetap tenang. “Pasti bentar lagi gue lupa. Gue terbawa perasaan karena dia cowok pertama yang nganterin gue pulang. Udah itu aja.” Beberapa menit kemudian Bevi mulai tenang. Dia berjalan keluar dari ruangan dingin itu sambil menghela napas panjang. “Semoga hari ini cepat berlalu. Semoga hari ini cepat berlalu.” Bevi meramalkan kalimat itu hingga dia sampai di ruang meeting lantai lima. Sesuai perintah, gadis itu menjaga di depan pintu. Dia duduk di kursi sambil mengembuskan napas panjang. Dia mencoba melupakan sesuatu yang mengganjal pikirannya. “Gue nggak terbawa perasaan. Gue nggak terbawa perasaan.” “Siapa yang terbawa perasaan?” “Gue!” jawab Bevi cepat. Sedetik kemudian dia sadar. Gadis itu mendongak dan mendapati Raka berdiri di hadapannya. “Pak. Silakan masuk!” Raka menahan tawa melihat Bevi yang salah tingkah itu. Dia melirik ke arah pintu kaca, melihat Birzy sedang berdiri di dekat jendela. Lalu pandangannya kembali tertuju ke Bevi. “Lo terbawa perasaan ke bos?” “Enggak! Nggak mungkin!” Bevi menggerakkan tangan ke kiri dan ke kanan. Setelah itu dia menggaruk belakang kepala dengan canggung. “Bingo. Lo emang suka sama dia.” Raka melipat kedua tangan di depan d**a. “Mau gue bantu? Terlepas dari pekerjaan, gue sahabatan sama dia.” Bevi menggeleng tegas. “Gue nggak suka sama dia.” “Masih baper? Tapi lama-lama jadi cinta, loh!” Raka mengedipkan mata. Dia menatap ke arah pintu. Tiba-tiba Birzy menoleh dan menatapnya tajam. Raka seketika menarik Bevi mendekat dan mengarahkan wajah gadis itu ke arah pintu. “Pak!” Bevi menjerit sambil memukul tangan Raka. Saat menatap depan dan menyadari Birzy menatapnya, Bevi langsung menunduk. “Pak, jangan bikin malu. Aduh, bentar lagi saya dimarahin ini.” Raka melepas rangkulannya. Dia menatap Birzy yang menjauh dari area jendela. “Gue harap dia marah karena cemburu.” “Aduh. Nggak mungkin!” Bevi kembali duduk dengan wajah memerah. “Pak, udah, deh masuk aja. Bentar lagi rapat dimulai.” “Haha. Lucu ngerjain cewek kayak lo.” Setelah mengucapkan itu Raka masuk ruangan. “Huh....” Bevi baru bisa mengembuskan napas dengan lega. Dia menyandarkan kepala di atas meja sedangkan kedua kakinya bergerak ke depan dan ke belakang. “Kenapa, sih, gue harus baper ke cowok dingin itu? Kenapa nggak yang ke yang lain? Sial!”   ***   Jam makan siang, Bevi berjalan menuju kantin. Para pemegang saham sedang makan di aula samping ruang meeting. Bevi yang tidak termasuk di dalamnya memilih ke kantin seorang diri. Dia sudah izin Risyad, dan lelaki itu mengizinkannya pergi. “Hayo! Ngelamunin apa?” Bevi terjingkat mendengar teriakan itu. Dia mengangkat wajah mendapati Gatha berdiri di hadapannya. “Kak Gatha, gue pengen balik.” Gatha langsung duduk di hadapan Bevi. “Lo sakit? Mau gue anter ke klinik?” “Bukan itu.” Bevi menggeleng tegas. “Gue pengen di bagian akuntan aja daripada bantuin di atas.” “Lo itu aneh.” Gatha geleng-geleng. “Karyawan magang pada pengen bantuin bos. Sekaligus nunjukin kemampuannya biar diterima jadi karyawan tetap. Lo malah pengen menjauh. Gimana, sih?” Bevi menyangga dagu sambil setengah melamun. “Tapi di sana itu dingin banget. Sekalinya hangat gue takut terbuai.” Gatha memajukan tubuh, memperhatikan Bevi yang tidak seceria biasanya. Gadis itu terlihat sedikit sedih, tapi bukan sedih dalam arti sesungguhnya. “Lo galau?” “Hmm.” “Beneran?” “Hmm....” Bevi duduk tegak. Dia menatap Gatha seolah sedang merajuk ke teman barunya itu. “Menurut lo gue harus gimana? Gue pengen balik.” “Wait!” Gatha menoleh ke kiri dan ke kanan. Setelah memastikan keadaan cukup aman, dia menggerakkan tangan meminta Bevi memajukan tubuh. “Lo baper ke Risyad?” Bevi menatap Gatha lalu mengangkat bahu. “Bukan?” tanya Gatha kaget. “Jadi, lo naksir Pak Birzy?” Wajah Gatha langsung memerah. Dia geleng-geleng, tidak menyangka baru beberapa hari bersama, Bevi langsung naksir Pak Birzy. “Nggak naksir juga, sih!” Bevi terlihat tidak terima. “Intinya gue bingung sama diri gue sendiri.” “Gila, sih!” Gatha menoleh ke kiri dan ke kanan. “Jangan sampai karyawan lain tahu. Bisa-bisa lo jadi bahan omongan. Lo tahu sendiri, sejak kedatangan lo ke sini, lo udah jadi bahan omongan mereka.” Bevi manggut-manggut. “Gue juga nggak mau ngejerumusin diri sendiri. Gue harus sadar apa yang harus gue rasain sekarang.” Setelah mengucapkan itu dia langsung berdiri. “Loh? Lo nggak makan?” Gatha bingung. Dia tidak mendapati sisa makanan di meja Bevi, tapi gadis itu langsung pergi. Bevi tidak merespons pertanyaan Gatha. Gadis itu berjalan keluar kantin dengan mata yang tidak fokus. Dalam hati, dia ingin menghilangkan rasa aneh yang tiba-tiba datang itu. Tidak mungkin dia langsung menyukai Birzy. Pertama bertemu, lelaki itu sudah tidak sopan karena ingin membelinya. Tidak mungkin dia jatuh cinta ke badboy seperti itu. “Nggak boleh!” Bevi tiba-tiba berteriak sambil membingkai kepala. “Aneh lo!” Teriakan itu membuat Bevi berjingkat. Dia mengedarkan pandang, melihat beberapa karyawan yang baru kembali dari makan siang tengah menatapnya aneh. Bevi membungkuk memberi hormat lalu berlari menuju lift. “Ck! Gara-gara dia gue jadi bahan omongan! Ini nggak bisa dibiarin.”   ***   Para anggota pemegang saham sedang sibuk menyantap makan siang mereka. Sesekali obrolan mereka diselingi dengan perkembangan bisnis kali ini. Raka yang sebenarnya enggan terlalu serius membahas bisnis, memilih diam menyantap makanannya. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Birzy, ingin mengobrol dengan sahabatnya itu. “Saya permisi sebentar!” Birzy berdiri, berjalan menuju deretan minuman. Saat matanya bertemu pandang dengan Raka dia menggerakkan tangan ke lelaki itu. Raka seketika berdiri dan berjalan mendekati Birzy. “Haduh. Kepala gue pusing dengerin obrolan mereka.” Birzy melotot, takut keluhan Raka didengar orang lain. “Lo daritadi ngelihatin gue mulu. Emang ada apa?” “Bagus kalau lo sadar.” Raka mengedarkan pandang. “Si anak magang nggak ikut makan di sini? Kasihan, loh, dia tadi nunggu di luar.” Seketika Birzy ingat dengan Bevi. Sejak keluar ruangan dia tidak mendapati gadis itu. Birzy mengedarkan pandang, dia juga tidak melihat Risyad. “Sama Risyad kali.” “Dan lo kelihatan santai?” Raka memperhatikan ekspresi Birzy. “Gue tadi denger omongan Bevi.” “Soal?” Birzy menegak air mineral sambil melirik Raka. “Dia baper ke lo.” “Uhuk.” Birzy langsung tersedak minumannya. Dia menarik tisu dan mengusap air yang sedikit membasahi dasinya. Tindakan itu membuat Raka menahan tawa. Dia merangkul Birzy lantas berbisik. “Dia bilang baper ke lo. Artinya bentar lagi dia ada perasaan. Udah, deh, pepet aja. Dia cantik sebenarnya. Pakai make up dikit pasti ngalahin cewek-cewek ganjen di kantor ini.” Birzy mengembuskan napas. Dia heran kenapa Raka bisa tahu hal itu. “Bevi cerita ke lo? Dia bilang apa?” Raka melepas rangkulannya sambil menahan tawa. “Gue nggak bisa kasih tahu. Dia minta biar gue jaga rahasia.” “Lo sebenarnya sahabat siapa?” Birzy geram melihat Raka yang sok itu. “Sahabat lo. Tapi kali ini gue memihak Bevi, karena jelas-jelas dia udah mengakui perasaannya. Sedangkan lo enggak! Sorry!” Raka menepuk pundak Birzy. Birzy bergeser lalu menepuk pundaknya yang tadi ditepuk Raka. “Gue emang nggak ada perasaan sama dia.” Setelah mengucapkan itu dia kembali ke tempat duduknya. “Aih! Sahabat gue dingin banget!” Raka geleng-geleng sambil memperhatikan kepergian Birzy. Sekarang dia bingung, harus kembali ke tempat duduknya dan mengobrol tentang bisnis, atau dia memilih kabur. Raka tersenyum kecil, opsi kedua jelas lebih pas. Yah, hitung-hitung mencari suasana sebelum kembali meeting. Lelaki itu lantas berjalan keluar. “Pak Raka.” Risyad membungkuk. “Ada yang bisa saya bantu?” Raka mengedarkan pandang. “Bevi mana Bevi?” “Di kantin. Ada perlu apa biar saya telepon.” “Nggak usah! Saya yang ada perlu sama dia.” Raka berjalan menjauh. “Tapi Pak sebentar lagi rapat dimulai.” “Rapat tetap jalan tanpa gue!” Raka melambaikan tangan tanpa menatap Risyad.   ***   Angin berembus kencang, memainkan rambut Bevi yang panjang. Sesekali gadis itu menyampirkan rambut ke belakang, tapi angin selalu membuat rambutnya berantakan. Sekarang dia berada di rooftop Dia tidak tahu kantor ini memiliki rooftop dengan beberapa tanaman yang menghiasai. “Andai tahu, setelah lembur gue ke sini. Pasti pemandangannya jauh lebih bagus.” Bevi berjalan mendekati pinggiran. Tangannya terlentang lalu dia menengadah. Angin sepoi-sepoi membuat pikirannya tenang. Mata Bevi perlahan terpejam. Tiba-tiba bayangan wajah Birzy muncul. Bevi menarik napas panjang, mencoba menyelami isi hatinya. Dia tidak tahu rasa ini hanya sementara atau tumbuh seiring berjalannya waktu. Selama ini tidak ada yang mendekati Bevi. Dia tidak memiliki teman, dia tidak memiliki sahabat. Saat Bevi mulai magang di tempat ini, dia merasa akan mendapatkan teman baru. Meski awalnya dia tidak ingin berlama-lama bekerja. Sekarang, Bevi pun juga ingin meninggalkan tempat ini, apalagi dengan kondisi hatinya yang sedang bimbang. Ditambah, Birzy yang memintanya untuk tidak mengharapkan apapun. “Bevi. Ternyata lo di sini.” Raka berdiri di dekat tangga ujung. Dia mengernyit karena Bevi tidak merespons. Dia bertanya ke beberapa orang di kantin, jika Bevi baru saja keluar. Kemudian seorang OB memberi tahu jika ada karyawan yang memaksa ke rooftop. Padahal saat jam kerja dilarang ke area itu. Raka tiba-tiba tersenyum, tahu apa yang harus dia lakukan. Dia merogoh ponsel lalu mengirimkan pesan. Setelah itu dia memilih turun. “Huh! Nyamannya!” Bevi menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. Sudah lama dia tidak menenangkan diri seperti ini. Justru, dia selalu berteman dengan sepi. Tanpa sadar air mata Bevi turun. Dia ingat dengan hidupnya yang terlalu monoton. Bekerja sendirian, di kontrakan sendirian tanpa ada orang lain yang peduli. Dia tidak seperti kebanyakan orang yang memiliki keluarga hangat dan teman yang peduli. Dia merasa ditakdirkan untuk hidup sendiri. “Aaa!” Bevi berteriak mengeluarkan segala hal yang selama ini mengganjal di hati. Gadis itu kemudian menunduk dengan bahu bergetar hebat. “Kenapa nggak ada yang peduli sama gue? Mama gue juga nggak peduli sama gue? Kenapa?” Bevi menangis. Dia berjongkok, memeluk kedua kakinya dengan erat. Entah sudah berapa tahun Bevi tidak pertemu dengan ibunya. Selama itu pula Bevi mulai hidup sendiri. Dari sosok anak manja yang tidak tahu dunia seperti apa, sekarang dia tumbuh menjadi gadis yang dipaksa kuat oleh keadaan. Sreek.... Tubuh Bevi menegang saat ada sesuatu menyampir di pundaknya. Dia menunduk, mendapati sebuah jas hitam terpasang. Seketika dia mendongak dan mendapati wajah dingin itu berada di hadapannya. “Pak Birzy!” Bevi langsung berdiri. Birzy mendapati mata dan hidung Bevi memerah. Dia membuang muka sambil mengembuskan napas. “Kalau mau bunuh diri jangan di sini.” “Apa?” Bevi mengernyit bingung. Dia melirik jas yang dia kenakan lalu buru-buru melepaskan. “Ini, Pak.” “Jangan bikin ulah.” Suara Birzy terdengar tegas. “Kenapa kamu selalu membuat saya marah?” Dia menatap Bevi dengan sorot tajam. Bevi menelan ludah. Dia mundur satu langkah, takut dengan sorot mata Birzy. Berkali-kali dia terlibat adu mulut dengan Birzy, tapi kali ini lelaki itu terlihat menyeramkan. “Maaf.” “Kenapa kamu selalu seperti ini?” Birzy mengungkapkan kekesalannya. Dia maju selangkah, membuat Bevi langsung bergerak mundur. “Pak Birzy.” Bevi tidak bisa mundur lagi, kakinya telah bersandar di pembatas. “Maaf kalau saya selalu membuat Pak Birzy marah.” Birzy memasukkan kedua tangan di saku. Matanya tertuju ke mata kecokelatan Bevi. Dia seolah menyelami mata itu. Mata yang menatapnya sendu dengan air mata yang hendak keluar. Birzy menghela napas lalu membuang muka. “Kamu mau bunuh diri karena patah hati ke saya?” “Apa?” Bevi tergelak. Dia bingung apa yang terjadi dengan bosnya itu. Birzy kembali menatap Bevi. Satu tangannya memegang tengkuk Bevi, lalu dia memiringkan kepala. “Apa yang kamu mau dari saya?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN