Pukul setengah empat sore, kewaspadaan Kirana seharian ini membuahkan hasil, di depan matanya seorang pria berseragam putih abu-abu itu tengah berdiri tak jauh dari parkiran motornya. Ia melirik sekitar mencoba untuk membaca situasi, ada beberapa guru yang kebetulan juga hendak pulang karena jam mengajar telah usai. Kiran kalut menghadapinya.
Ia melirik Meita yang ada di sampingnya, rekan kerja bagian kesiswaan. Keduanya memang sering pulang bersama karena searah. “Mei, aku ada urusan bentar, mau nungguin atau duluan?”
“Aku tungguin disini, ga lamakan?”
“Harusnya sih cepet, bentar ya.” Kiran bergegas meninggalkan Mei sembari melebarkan matanya pada Putra yang tak jauh di depannya, ia menggelengkan kepala memberi kode agar Putra meninggalkan tempatnya.
“Putra kamu ngap─” ucapannya terhenti seiring dengan langkahnya yang membeku, matanya mengerjap beberapa kali saat menyadari jika Putra sedang tidak sendirian. “Lho Bu Kiran, baru mau pulang ya, Bu?” tanya Pak Setyo. Pak Setyo adalah guru olahraga.
Putra sedang berbicara dengan Pak Setyo, namun sang guru tak terlihat karena bersandar pada tembok. Rasa malu begitu membara membuat Kirana memutar bola matanya, mencoba mencari alasan yang tepat untuk kedatangannya yang tiba-tiba.
“Iya, ini mau pulang, tapi keinget kalau powerbank ketinggalan,” balas Kirana dan sesegera mungkin pamit pergi. Meski sekilas, ia bisa melihat senyum devil dari pria berseragam putih abu itu. Senyum kemenangan atas rasa malu dan salah tingkah yang dirasakan Kirana.
“Kepedean banget astaga, bercandanya ga lucu,” gerutu Kirana menjejakan kakinya kesal. Ia bahkan kembali ke ruang guru untuk mensukseskan alibinya, mengambil powerbank yang sebenarnya sudah ada di dalam tasnya.
‘Ini gila!’
***
Perjalanan pulang sekolah terasa lebih melelahkan daripada saat berangkat. Belum lagi terik matahari sore yang begitu menyilaukan, sambil sedikit terkantuk ia memandangi lampu lalu lintas yang kini berwarna merah dan dua digit angka yang menunjukan waktu ia harus menunggu giliran.
“Selamat sore, Bu.”
Kiran menoleh cepat saat menyadari ada yang menyapanya, manik matanya membulat sempurna saat melihat Putra yang kini sudah ada di sampingnya. “Kamu ... kamu ngapain disini, arah rumahmu bukan kesini.”
“Lagi ngabisin bensin sekalian jalan-jalan,”
“Kamu ngikutin ibu?”
“Iya.” Kiran mendesah mendengar jawaban Putra yang sama sekali tak menyangkal, ia melirik ke belakang. Jalanan cukup padat. ‘Bagaimana ia bisa menyalip?’ Pikirannya teralihkan pada suara klakson yang berbunyi di belakangnya, ah! Lampu sudah berubah menjadi hijau tanpa terasa, sedikit gugup Kiran menjalankan motornya. Meninggalkan Putra yang ada di belakangnya.
“Dia ga benar-benar ngikutinkan?” gumam Kiran penasaran, ia mencoba untuk membelokan motornya ke arah yang bukan ia tuju, dari kaca spion terlihat pria itu masih mengikutinya. Kiran tak bisa tenang dan memilih untuk meminggirkan motornya tepat di dekat trotoar. Ia memilih berhenti daripada tak fokus menyetir.
Matanya melirik ketus pada pria yang tak ragu menghentikan motor di sampingnya. Giginya menggertak kesal, ia tak memahami situasi. Bahkan penguntit normal akan tetap jalan agar tidak dicurigai, tapi pria di belakangnya justru berhenti.
“Kamu ngikutin ibu ya? Jangan ngelak!”
Putra membuka helmnya dan turun dari motornya, ia tak mendekat. Hanya berdiri di samping motornya sembari memamerkan senyum menawannya. “Padahal tadi aku udah jawab iya lho bu.”
Kiran menggeram, “Dasar gila!” rutuknya tak bersuara, hanya mengeluarkan unek-unek yang memenuhi kepalanya.
“Tapi daripada ngikutin ibu aku cuma pengen nganterin ibu pulang kok. Sekalian cari udara segar, lagian kalau aku pulang sekarang di rumah juga ga ngapa-ngapain.”
Kiran menghela nafas berat, ia menyilangkan tangannya menatap intens muridnya yang juga menatapnya tanpa ragu. “Putra, dengerin ibu ya ... jadi penguntit itu ga keren, serius.” Kiran merasa bangga dalam hatinya. Ia bukan wanita yang tegas namun yang saat ini ia lakukan, membuat dirinya bangga. Apalagi saat pria dihadapannya tampak membeku, senyum miring terukir samar di bibirnya.
“Eum ... aku juga ga ada niatan buat jadi keren di depan ibu kok.” Kiran tersentak dengan jawaban tak tahu malu yang keluar dari bibir Putra, ia bahkan menahan diri untuk tidak tertawa, terdengar seperti lawakan garing. Gombalan yang tak bisa dipercaya, jika dia masih belasan tahun mungkin hatinya akan melayang namun saat ini, dimatanya Putra hanyalah anak kecil.
“Lagian aku ga ngapa-ngapain juga udah keren kok,” narsis Putra melampaui batas. Kiran yang mendengarnya bahkan mendelik tajam. Ia memukul dadanya, menahan kegeraman yang menggerogoti dirinya. “Ibu lanjutin aja, aku ga bakal berhenti,” ucapnya kembali menaiki motornya.
Kiran melirik arlojinya, ia tak memiliki tujuan lain. Dengan penuh umpatan dan makian dalam hatinya, ia melanjutkan perjalanan ke rumah. Mengabaikan pria yang terus mengekor di belakang hingga di depan rumah.
“Sampai ketemu besok, bu.” Teriakan Putra menggema dengan tangannya yang melambai dengan santai. ‘Memalukan,’ batin Kiran menutup pintu dengan cepat meninggalkan debuman yang cukup keras. Ia hanya berharap tidak ada tetangga yang melihat ataupun mendengar suara lantang Putra.
Putra yang tak bergeming hanya tersenyum kecil, melihat raut wajah Kirana yang memerah malu. Putra tahu jika pipinya memerah karena malu dengan tingkahnya bukan tersipu atas perhatiannya, meskipun begitu justru membuat ia semakin ingin terus mendekat dan mengganggunya.
“Semakin diganggu, semakin kepikiran dan lebih mudah di dapatkan.”
***
Jauh disayang, dekat bertengkar adalah gambaran tepat untuk percintaan Kirana. Tenang saja, ini bukan pertengkaran adu hantam ataupun pukul memukul, hanya perkara siapa yang harus membayar makan malam. Kirana merajuk karena ia menang saat permainan batu, gunting, kertas. Padahal ia ingin membayar makanannya.
“Pokoknya habis ini bayar masing-masing,” ketus Kiran mengembungkan pipinya. “Aku ga mau nanti kalau putus, kamu nagih bill selama kencan, bisa miskin mendadak nanti,” tambah Kiran membuat Elang mengernyitkan dahinya.
“Putus? Kok kamu bisa mikir kita putus sih? Kita udah mau tunangan lho,” balas Elang tak terima. Hubungan mereka sudah terjalin sejak Kiran masih duduk di bangku perkuliahan. Hubungan mereka bisa dikatakan sangat langgeng karena tak ada drama putus nyambung di dalamnya. Elang yang disibukan dengan pekerjaannya dan Kirana pun sama, ia sibuk bekerja.
“Akukan cuma waspada, kamu marah? Aku cuma pengen bayar sendiri-sendiri.”
“Sayang, kamu tahu kalau cowok bayarin makanan ceweknya itu ada kebanggaan dan kebahagiaan sendiri, sekalian pemanasan buat kalau kita udah nikah nanti,” ucap Elang sambil tertawa kecil. Bahkan saat ia menyinggung pernikahan, wajahnya bersemu malu. Usia keduanya memang sudah cukup matang untuk menikah.
“Tapi sayang ... nikah kebutuhannya banyak lho, ga bisa diukur sama dua porsi hotpot all you can eat.”
“Ah ... i see, apa mau sekalian pemanasan belanja bulanan? Nanti aku mampir setiap jam makan.”
“Jadi nanti aku bakal terus disuruh masak nih?”
Elang terbahak mendengar rajukan kekasihnya. Keduanya memang sepakat untuk menjadi partner hidup alih-alih menjadi suami istri seperti pada umumnya. Biarpun keduanya baru berencana untuk tunangan, namun pembahasan rumah tangga sudah sangat serius. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk memulai.
Hanya menunggu waktu untuk keduanya bersatu.