“Selamat pagi, bu.”
“Selamat sore, bu.”
“Sampai jumpa besok, bu.”
Sudah menjadi sapaan akrab yang di terima oleh Kirana, siapa lagi jika bukan Putra pelakunya. Tanpa bosan pria itu terus datang setiap harinya. Datang untuk mengantar dan menjemput. Sekuat apapun Kirana menegur Putra tak satupun ucapannya yang di dengar.
Tak hanya itu, di kelas Putra juga diam-diam menggodanya, memberi wink saat pandangan mata keduanya saling tubruk tak disengaja. Sedikit beruntung karena Putra masih cukup waras di kelas, namun tetap saja hal itu membuat Kiran lelah dan serba salah.
Satu-satunya sandaran Kiran saat ini hanya Elang, yang senantiasa menjadi pendengar terbaiknya. Seperti saat ini, Elang sengaja datang mengajak Kiran untuk jalan-jalan. Tidak terlalu jauh, hanya di street food yang ada di alun-alun. Jika tak bentrok dengan pekerjaan, mereka selalu menyempatkan untuk bertemu untuk sekedar makan.
“Jadi itu yang bikin kamu lesu hari ini?” tanya Elang sembari membenarkan letak rambut Kiran yang hampir menyentuh makanan di depannya. Kiran yang sadar langsung mengambil ikat rambut dari tasnya dan mengikat asal. Elang tersenyum tipis.
“Iya gimana ya, kalau ditegur takut sakit hati tapi kalau dibiarin takut ngelunjak, apalagi semakin hari semakin mengganggu pikiranku.” Bibirnya mengerucut. Satu muridnya memang terus membuatnya kepikiran, dimana sebelum ia membuka pintu ia menjadi waspada berharap Putra tak datang tapi nihil, begitupun saat pulang. Meskipun tak terlihat di tempat parkir, tiba-tiba pria itu muncul dan menyapa dengan riang di sampingnya saat di lampu merah ataupun di jalan yang tak terlalu ramai.
“Bayangin aja kamu mau berangkat kerja, mau pulang kerja tiba-tiba itu anak nongol. Ah! Jangan sampai! Aku bisa cemburu setengah mati kalau ada yang nyetalkerin kamu,” ucap Kiran menampar pipinya berkali-kali. Tak sanggup membayangkan jika Elang ada di posisinya. Membayangkan wanita cantik nan genit yang mengikuti Elang. Tidak!! Kiran tak sanggup.
“Iya sih pasti risih, tapi kamu jangan terlalu kejamlah sama dia, terkadang untuk anak SMA mereka menyukai guru untuk memberi semangat diri sendiri, mainkan aja peranmu disana, biar muridmu semangat belajar, jangan di terima ataupun ditolak. Abaikan kaya ga terjadi apa-apa.”
“Ngomong doang enak,” celetuk Kiran membuat Elang terdiam. Elang sadar jika dirinya terlalu menggampangkan. Belum sempat menjawab, Kiran kembali berkata dengan nada lesu. “Kamu ga cemburu?”
Speechless! Elang terdiam tak berkutik. Hanya bibirnya mengukir senyum lebar mendengar wanitanya merajuk. Cemburu? Ia sama sekali tak merasakan itu. Bagi Elang murid SMA hanyalah anak kecil yang tak mungkin bisa menggeser posisinya.
“Aku minta maaf ya kalau sebelumnya terkesan ngeremehin masalah kamu, tapi sayang ... jujur aja aku ga cemburu apalagi sama anak SMA.” Kiran kian murung. Bibirnya mengerucut dengan pipi yang mengembung.
“Tandanya aku nyimpen kepercayaan sepenuhnya ke kamu,” tambah Elang lagi. Kali ini senyum lebar menghias bibir Kiran. “Beneran? Kamu percaya banget sama aku. Makasih, aku terharu dengernya.” Kiran menyendokan es krim dan menyuapkan pada kekasihnya, perasaannya senang bukan main. Kepercayaan adalah hal yang sulit untuk di dapatkan dan Elang, mempercayai dirinya.
“Oh iya sayang, aku bakal dampingi kemah tiga hari mulai dari lusa, besok aku juga mulai sibuk buat persiapan. Kita LDR dulu ya? Eum ... sekitar seminggu.”
“Ya ampun, kirain apaan udah minta LDR. Iya santai aja. Tapi kenapa tiba-tiba kemah? Kamukan wali murid kelas dua belas. Emang mereka masih boleh ikut kemah?”
“Justru mereka yang bikin agenda kemah sendiri, mereka kompak satu angkatan ngebujuk wali kelas buat kemah. Mereka bilang mau refresh otak sebelum berperang, try out gila-gilaan bakal mulai minggu depan.”
“Try out gila-gilaan?” tanya Elang.
“Iya, dalam sebulan bakal dua kali try out kelulusan sekolah dan dua kali try out ujian kampus, jadi full tiap minggu ada try out.” Elang mendengar itu langsung menganga, membayangkannya saja sudah membuat pening. Soal-soal ujian memang bukan hal yang bisa di remehkan.
“Wah ... berat sekali jadi anak sekolah, kamu juga yang semangat ya. Pasti bakal makin sibuk, ngerangkap jadi wali kelas dan guru pelajaran.” ucap Elang mengusap surai rambut wanitanya, Kirana yang di elus kian mendekat. Belaian Elang selalu menjadi candu yang bisa menenangkan kekalutannya.
Padahal sebelumnya ia sempat goyah pada anak SMA setelah melihat kemewahan di rumah Putra. Ia tak menyangkal ingin hidup dengan nyaman. ‘Elang juga sangat nyaman,’ batinnya sembari menyandarkan kepalanya di bahu lebar Elang.
“Selesai kemah, kamu luangin waktu, kita harus menghabiskan waktu bersama, aku bakal kangen banget sama kamu.”
“Siap nyonya.”
***
Perkemahan dimulai!
Semua anak-anak dan guru berkumpul di lapangan sekolah untuk briefing dan absensi. Berbeda dari kemah biasanya yang mengenakan seragam pramuka, kemah kelas dua belas ini sangatlah bebas. Tidak ada seragam sekolah, tidak ada upacara dan tidak ada jerit malam ataupun latihan baris-berbaris.
Mereka merencanakan kemah full untuk refreshing. Bahkan kemah ini tidak ada panitia tetap, para guru yang hadir hanya bertugas sebagai pengawas. Kecuali Pak Setyo yang diundang sebagai penanggung jawab senam pagi, memikirkan pagi hari di bumi perkemahan akan sangat dingin.
“Semua udah hadirkan, ga ada yang double absen?” tanya Kiran pada Raka, salah satu murid di kelasnya. Di tangannya ia memegang buku absen sambil mengecek muridnya satu persatu. Sekalipun ada absensi, ia tak mau ceroboh apalagi sampai ada yang ketinggalan rombongan.
“Oke, terima kasih.”
“Sama-sama, Bu.” Raka undur diri. Ia kembali bergabung dengan teman-temannya. Tak lama suara Pak Setyo terdengar, menginterupsi seluruh peserta kemah yang langsung berkumpul.
“Kepada seluruh peserta Kemah Ceria, bis akan berangkat lima belas menit lagi. Barang-barang bisa langsung dimasukan ke bis dan buat yang mau ke kamar mandi juga bisa sekarang ya, perhatikan teman-teman kalian, jangan sampai ada yang ketinggalan.”
Semua peserta kemah langsung berhamburan menuju bis masing-masing untuk meletakan barang bawaan mereka, penentuan bis berdasarkan kelas. Satu bis untuk satu kelas dengan satu pendamping yaitu wali kelas. Terlihat juga gerombolan siswi memilih untuk ke kamar mandi.
Lima belas menit berlalu, lapangan sekolah sudah sepi. Seluruh murid sudah masuk ke dalam bis. “Jangan sampai ada yang lengah, absen lagi sebelum berangkat.”
Kirana dan beberapa guru lainnya mengangguk kompak setelah mendengar wejangan dari kepala sekolah. Kepala sekolah memberi perhatian lebih setelah sebelumnya menentang keras agenda kemah hari ini. Jika bukan karena desakan langsung dari murid kelas dua belas, mungkin kemah ini tidak akan terjadi.
Kirana masuk ke dalam bis. Semua begitu riuh seakan sudah tak sabar untuk berkemah, hingga pandangan Kirana tertuju pada tempat duduknya yang tepat berada di belakang supir. Ia diam tak berkutik untuk beberapa saat.
“Kamu ... kenapa duduk di depan?”
“Putra mabokan, bu!” jawab beberapa siswi kelasnya dengan kompak, beberapa bahkan tertawa setelah jawaban itu. Kiran kembali melirik Putra yang kini meringis kecil.
‘Sulit di percaya orang kaya bisa mabok kendaraan,’ batin Kiran tertekan.
“Iya bu, aku gampang mabuk,” balas Putra dengan tenang. Tentu saja hanya kebohongan, Putra melakukan itu agar bisa duduk di samping wali kelasnya. Kirana Ayudhisa.