Perjalanan menuju bumi perkemahan memakan waktu sekitar satu jam, semua murid tampak begitu antusias kala sang kernet bus membuka TV dan menyalakan lagu dangdut. Musik berputar dengan dentuman yang menggembirakan, membuat yang masih bangun bersenandung sesekali merequest lagu. Dua orang siswi tanpa ragu maju berebut mic untuk bernyanyi. Suasana yang awalnya hening menjadi riang. Bus berubah menjadi tempat karaoke dadakan.
Beberapa orang yang awalnya tidur karena tak kuat dengan bau bus mulai membuka matanya perlahan, mengintip siapa yang membuat keributan dengan suara yang tak begitu merdu. Meski begitu, beberapa kembali melanjutkan tidurnya.
Tak jauh berbeda dengan putra yang duduk di bangku depan, ia menatap malas siswi yang bernyanyi membuat telinganya sakit, tak bisa di tegur tapi tak bisa dinikmati. “Mana yang katanya mabuk kendaraan, kelihatannya sehat-sehat aja,” sindir Kirana menyadari jika putra duduk dengan tenang.
Pandangannya lurus pada jendela besar di depannya, tak banyak bicara. Putra menoleh pelan. “Aku memang sehat, hanya sedikit mengantuk. Apa boleh aku bersandar di bahu ibu?” tanya Putra. Rautnya tampak lelah, mencerminkan ucapannya.
“No!”
“Mereka berisik sekali,” gumamnya lagi menyandarkan kepalanya. Memejamkan matanya kesal. Bukan karena suara berisik mereka, melainkan karena posisi dua wanita itu yang tepat di sampingnya, berteriak dan berjoget. Ia kehilangan moment untuk menggoda gurunya.
Kirana yang ada di sampingnya hanya menatap keheranan. Pria yang begitu terobsesi padanya kini sangat datar, wajahnya tak menampakan sisi jahil.
Pluk!
Kepala Putra yang awalnya menyandar di kursi kini jatuh di bahunya, nafas Kiran tercekat sambil melirik situasi. Kiran tak ingin diinterogasi oleh muridnya, ia memilih untuk memejamkan matanya. Kepala Putra kembali bergerak mencari titik nyamannya.
“Terima kasih sudah bersedia menjadi sandaranku,” bisiknya pelan masih dengan mata terpejam, bibirnya membentuk lengkungan. Tersenyum manis karena moment romantis yang dirasakannya. Bagi Putra, seperti ini sudah cukup sebagai permulaan suatu hubungan.
Ia akan berjalan selangkah demi selangkah tanpa terburu-buru. Bisik-bisik mulai terdengar. Kirana menegang namun Putra tetap tenang.
“Putra nyender di bahu Bu Kiran,” ucap salah satu murid dengan mulut lebar namun tak bersuara, tangannya bergerak menangkup di bawah telinga dan memiringkan kepalanya memeragakan gerakan orang tidur.
“Masa? Send pict cepat!” balas seseorang dengan memberi kode dengan kedua tangannya yang membentuk jepretan kamera. Kiran menyadari itu, bisikan itu terdengar jelas namun ia yang sudah tak bisa bergerak memilih untuk mengabaikannya.
Semakin lama memejamkan mata, ia mulai merasa ngantuk dan selang beberapa menit, ia akhirnya tidur dengan nyaman. Melupakan tugasnya sebagai pengawas dalam bis.
***
Perjalanan yang awalnya tenang berubah menjadi penuh keributan saat jalanan yang dilalui tak lagi mulus. Mulai dari kelokan dan tanjakan tajam hingga jalan bergeranjul membuat para siswi heboh sendiri. Kiran mengerjapkan matanya pelan, tidurnya sudah tak lagi nyaman. Di sampingnya, Putra masih tetap di posisinya, menyandar di bahunya.
“Putra bangun,” ucap Kiran menggoyangkan bahunya, tak lama Putra akhirnya bangun, ia mengucek matanya yang masih terasa begitu berat. “Udah hampir sampai ya?” ucap Putra bergumam sendiri. Ia merogoh saku untuk mengambil ponselnya.
Tak lagi tidur atau menggoda Kiran, pria itu lebih memilih untuk menyibukan diri dengan ponselnya. Ia juga tak bertenaga untuk menggoda wanitanya meski ingin.
“Halo yah, iya ada apa?” tanya Putra mengangkat panggilan dari ayahnya. Matanya kembali terpejam dengan ponsel yang masih di tempelkan di telinganya. “Belum sampai, masih sepuluh menitan lagi,” ucap Putra kala ditanya keberadaan oleh ayahnya.
“Ibumu lagi belanja, ayah ga tahu ibu taroh kemeja putih dimana, kamu lihat gak?” Putra terbahak mendengar pertanyaan ayahnya, tawanya begitu lepas meninggalkan rasa penasaran orang di sampingnya. “Ayah nelpon aku cuma buat nanyain kemeja?” tanya Putra kembali memastikan, saking lepasnya air mata bahkan keluar di pelupuk matanya.
“Bukan cuma, penting lho ini mau buat rapat.”
“Oke, i see. Pakai punyaku aja yah, udah ku setrika licin semua tinggal pakai di lemari dorong.”
Tak lama panggilan berakhir, Putra mengembangkan senyum manisnya, keluarganya memang menyenangkan tapi kesibukan mereka yang seringkali membuat Putra kesepian. Di sampingnya Kiran terkesiap dengan kedekatan putra dan ayahnya. Jangan lupakan parasnya yang memesona untuk ukuran anak SMA.
“Ibu kalau mau nanya, tanya aja. Dilihatin ibu kaya gitu, aku jadi ga berani buka mata,” ucap Putra tiba-tiba membuat Kiran langsung membuang muka. Senyum Putra kian lebar. Rasa penasaran mulai bertumpuk, rasa penasaran terhadap seorang pria bernama Putra Bagaskara.
“Ayahmu nelpon ya, hubungan kalian akrab banget ya?”
“Malah terlalu akrab, jatohnya kek temen. Aku dan ayah punya selera yang mirip, jadi sering saling pinjem barang. Mau itu baju, celana, sepatu, topi rasanya udah kaya milik bersama.” Putra merapatkan bibirnya, ia terharu mendengar pertanyaan Kirana yang terdengar begitu hangat dan penuh rasa penasaran.
“Oh ...,” balas Kiran menanggapi sekadarnya. “Kamu juga punya adik perempuankan?”
“Punya, tapi dia jarang di rumah karena terlalu sepi. Jadi adikku balik kalau orang rumah udah balik.”
“Oh ... gitu.” Kiran mengakhiri percakapan, merasa sudah cukup menuangkan rasa penasarannya. Ah! Sebenarnya belum tuntas, namun ia tak mau terlalu banyak bertanya. Bisa disalahpahami nantinya jika Kiran terus menanyakan keluarga Putra.
Bus mulai memasuki bumi perkemahan, suasana dingin mulai terasa. Angin yang berhembus bahkan menyentuh kulit mereka. Seluruh peserta kemah tampak bahagia saat membaca palang bertuliskan Bumi Perkemahan Abadi di depan mereka, beberapa mengabadikan dalam kamera ponsel untuk dibagikan pada keluarga ataupun sebatas story media sosial.
Hanya butuh sekitar dua menit untuk bis terparkir sempurna. Sedikit ricuh saat beberapa siswi siap mengambil tas yang ada di bagasi atas, namun tak lama keheningan menyergap. Membuat beberapa terpaku.
“Hoeek! Hooek!”
“Siapa yang muntah?” teriak seseorang dari belakang, suasana bus kembali ramai, ingin tahu. Ternyata Nina yang duduk di kursi terdepan. Tak lama di sampingnya, Asya juga sama menahan muntah setelah mendengar Nina. Ia membekap mulutnya rapat-rapat.
Kiran mendelik melihatnya, ia panik dan juga kaget.
“Padahal udah sampai,” lirihnya menoleh ke arah Putra yang mengendikan bahu. Saat itu pula bis berhenti, memarkirkan mobilnya dengan sempurna dan secepat mungkin orang-orang di dalam bus keluar. Aromanya memang sangat kuat dan bisa menulari orang di dalamnya.
“Gila, bisa-bisanya muntah pas udah sampai,” ucap salah satu murid yang berhasil keluar dari bus dengan menutup hidungnya. Sementara Kiran sibuk memijat tengkuk Nina agar menuntaskan muntahnya.
Putra sendiri belum keluar dari bus. Entah apa yang menahannya tapi ia masih betah di dalam. Memperhatikan bagaimana Kiran yang cukup lambat. Belum lagi bagaimana Kiran yang juga membekap mulutnya, seperti menahan mual. “Kalian berdua langsung ke kamar mandi aja, kubawain barang-barang kalian,” ucap Putra mengusir dengan dagunya.
Putra tahu semakin lama di dalam bis semakin membuat mereka mual. Kiran menuntun Nina keluar bus dengan diikuti Asya di belakangnya dan mengantar mereka kekamar mandi.
“Astaga, mabok kendaraan juga ternyata,” kekeh Putra dengan senyum mengembang di pipinya.