9 :: SINYAL CINTA

1050 Kata
Sesuai dengan tujuan perkemahan, untuk refreshing. Tenda warna-warni sudah terbentang saat mereka datang. Alih-alih membawa tenda milik sekolah, mereka memilih patungan untuk menyewa tenda di bumi perkemahan. Tak hanya itu, makanan selama kemah pun sudah tercover oleh catering dari warung makan yang tak jauh dari bumi perkemahan. Putra masih dengan menggendong tasnya dan tangan kanannya menjinjing termos kecil. Ia berdiri tak jauh dari kamar mandi dimana tiga wanita sedang berada disana. “Gimana udah enakan?” tanya Putra saat Nina keluar dari kamar mandi, wajahnya begitu kusut. “Malu banget, padahal udah sampai tapi malah muntah,” ucap Nina menghela nafas berat. Putra hanya terkekeh mendengarnya, ia berjongkok mengambil sebuah cup gelas dan menuangkan air teh hangat dari termos yang dibawanya. “Minum dulu, biar segeran,” ucap Putra menyodorkan minuman. Tak lama Asya dan Kirana keluar dari bilik lain. “Ni anak emang paling setia,” ucap Asya yang langsung menghampiri meminta segelas teh hangat. “Setia?” tanya Kiran penasaran. Ia juga ikut mendekat saat sebuah gelas ditawarkan padanya tanpa kata-kata. “Iya, paling peka dan paling bisa diandalkan. Daripada nunggu perintah, Putra paling sigap dan punya inisiatif,” balas Asya lagi memuji Putra. Kiran hanya mengangguk menanggapinya. Tentu saja ia tak tahu persis bagaimana murid-muridnya. Ia belum lama mengajar dan menjadi wali kelas dua belas pun baru beberapa bulan. “Tas kalian udah di tenda masing-masing, langsung istirahat aja. Lumayan ada waktu setengah jam.” Putra menunjuk arlojinya. Dengan masih menggenggam gelas plastik mereka berlalu lebih awal. Meninggalkan Putra yang masih sibuk membereskan minumannya. “Ibu ga papa? Tadi kayanya ikut mual pas lihat mereka muntah,” ucap Putra tanpa menoleh, ia kembali berdiri setelah merapikan tempat minumnya. “Keliatan ya?” “Kebetulan aja lihat,” balas Putra singkat. Ia mengembangkan senyum kala mendengar suara Kiran yang begitu hangat, seakan telah melupakan apa yang telah Putra lakukan beberapa hari terakhir. “Kalau gitu, aku kesana dulu,” ucap Putra menunjuk ke arah tenda dimana teman-temannya sudah berkumpul. Putra melangkah pergi, Kiran pun mengikuti di belakangnya. Tangannya sibuk memegang ponsel dengan bibir yang komat-kamit karena kesal. Tak ada sinyal di bumi perkemahan. “Makasih ya, tehnya enak,” ucap Kiran menggoyangkan gelas yang masih ditangan dan berlalu berjalan mendahului. Kiran butuh keberanian besar untuk sekedar mengucapkan terima kasih, Putra sampai gigit bibir saking senangnya. Perasaannya begitu lega mendapati keramahan yang diterimanya dari wanita yang disukainya. *** Lelah belum tuntas, jiwa malas gerak bersemayam begitu kuat di dalam tubuh namun perkemahan yang sebenarnya telah dimulai. Semua berkumpul di tanah kosong dengan tali rapia yang membentang membentuk pola untuk melakukan permainan pertama. “Tes satu dua tiga, dicoba. Cek sound satu dua tiga, apa terdengar?” Pak Setyo cek sound. Ia bertugas sebagai wasit untuk permainan pertama kali ini yaitu gobak sodor. Gobak sodor adalah permainan yan terdiri lima pemain dan lima lawan yang bertugas menghadang. Para lawan harus berjaga di area garis mengikuti tali rapia dan para pemain harus menghindar dari gapaian lawan. “Kepada setiap kelas diharapkan untuk menunjuk lima pemain untuk perwakilan gobak sodor, sekali lagi hanya lima pemain dan diingatkan untuk setiap siswa wajib mengikuti kegiatan minimal memilih dua permainan.” Lapangan sudah ramai. Para pemain yang mengajukan diri sudah berkumpul. Total ada enam tim terdiri dari kelas dua belas A hingga dua belas F. Dengan kocokan arisan mereka Pak Setyo menentukan tim yang harus bermain. “Putra!” suara wanita memanggilnya. Putra menoleh. Carolina memanggil. Meski namanya Carolina tapi teman-temannya biasa memanggil Carla untuk memudahkannya, beberapa orang justru memilih untuk memanggil dengan nama Carli. Tangan kanan melambai dengan senyum lebarnya. “Hei! Kamu tuh ngeselin banget tahu ga sih, inget pas di kelas minta nomor hpku, ku tungguin tapi malah ga ngechat sama sekali, padahal aku dah mantengin hp sehari-hari,” dumal Carla tiba-tiba. Putra yang diomeli tak langsung menjawab. Ia cukup terkejut. “Bingung juga mau ngechat apa, ga biasa.” “Gils, jawaban buaya rawa banget tahu ga sih. Ikut game apa?” “Volly sama bola.” Carla ngebug sejenak mendengar jawaban konyol dari Putra. Padahal volly juga menggunakan bola. Pandangan mereka teralihkan pada permaianan. Gobak sodor sudah dimulai dengan begitu sengit lawan menghadang merentangkan kedua tangannya. Para pemain berusaha untuk mengambil celah agar bisa masuk ke dalam kotak. Beberapa berhasil mengecoh lawan, tiga orang terkepung. Sorak-sorak begitu riang menyemangi kedua tim. “Kamu sendiri ikut apa?” perbincangan mulai mengalir, keduanya berdiri bersampingan. Meski begitu, perbincangan mereka tak lebih dari permainan yang mereka lihat. Bak juri yang saling mengomentari dan gemas dengan cara bermain tim yang mereka lihat.          “Nanti malem ada couple trip, katanya timnya bebas mau dari kelas mana aja karena intinya buat seneng-seneng. Kamu sama aku ya?” “Oke,” balas Putra. Pandangannya tak teralihkan pada wanita yang kini begitu sibuk dengan ponselnya. Tangannya digoyangkan ke atas dengan ponsel yang ada di genggamannya. Sesekali pipinya mengembung kesal. Siapapun yang melihatnya pasti tahu.          Karina tengah mencari sinyal yang begitu terbatas di dataran tinggi seperti ini. Refleks Putra merogoh saku celananya, mengambil ponsel. Sinyal diponselnya justru full. “Lucu sekali,” gumamnya tersenyum lebar. Terlihat sekali Karina mengomel dengan ponselnya namun hal itu justru membuat Karina kian menawan di mata Putra.          “Bisa gila aku,” gumamnya lagi dan menoleh.Karla masih berbicara namun telinganya terasa tuli. Ia bahkan tak sadar jiwa wanita itu masih mengajaknya bicara. “Aku kesana dulu ya?” pamit Putra menepuk pelan bahu Karla.          Karla salah tingkah, membeku dan wajahnya memerah, tersipu.          “Bu Karin,” panggil Putra.          “Oh Putra, ada apa?” Putra terkekeh sejenak dan menggelengkan kepalanya. “Segitunya nyari sinyal sampai ga sadar banyak yang lihatin.” “Banyak yang lihat? Siapa aja? Aduh malu banget kalau beneran ada yang sadar. Tapi sinyal disini jelek banget. Makasih ya udah ingetin,” ucap Karina mengerucutkan bibirnya, ia memandangi sekitar. Mencari tahu siapa yang melihat tindakan bodohnya.          “Lagipula sinyal limit mau sampai dilempar pun tetep ga bakal ada, Bu. Karena aku ga suka pegang hp, ibu bawa hp aku aja gimana? Sinyalnya full, hotspotnya juga udah nyala. Passwordnya putragantengbanget ga pake spasi hurufnya kecil semua.” Putra langsung menyelipkan ponselnya ke tangan Karina dan pergi begitu saja. Ia tak menerima penolakan.          “Gila! Gila! Gila! Gue keren dan cringe banget a***y, semoga ga ilfil. Jangan sampai ilfil. Merinding banget.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN