10 :: COUPLE GAME

1349 Kata
Permainan volly berlangsung sengit di lapangan. Meskipun permainan dinyatakan telah usai setengah jam yang lalu, beberapa siswa memilih untuk melanjutkan permainan sembari menunggu antrian kamar mandi yang antri panjang. Tak hanya itu, beberapa juga memilih untuk merebahkan tubuhnya dengan nyaman pada tikar yang digelar di samping tenda. Camilan tak lupa menjadi peneman gosip. “Dari banyaknya yang bersenang-senang, pasti ada beberapa murid yang tertekan,” ucap Meita tiba-tiba, pandangannya lurus menerawang. Meita bukan guru, melainkan staff sekolah yang bertugas di kesiswaan namun ia datang menggantikan wali kelas yang berhalangan. “Tertekan?” tanya Kiran penasaran. Pandangannya mengedar luas meneliti murid-murid di sekolahnya yang ternyata cukup banyak. Hampir dua ratus siswa yang ikut. “Iya. Mereka yang terpaksa ikut, Meskipun banyak yang sepakat tapi pasti ada aja yang sebenarnya lebih milih untuk menikmati liburan di rumah.” “Ah ... oke paham, tapi gimanapun pasti kenangan kaya gini bakal melekat nantinya. Kerasa banget dulu ga ikut tour wisata karena ga ada duit jadi setiap mereka ngomongin tour jadi iri dan paham apa-apa.” “Ya ampun, aku juga pernah ngerasain kaya gitu, sumpah ya rasanya pengen ngilang aja pas mereka bahas sesuatu yang aku ga ikut, kek arghh! Nyebelin banget. Tapi bukan wisata sih, pas panitia seminar internasional gitu. Mereka cerita gimana ribet dan sibuknya kegiatan itu sementara aku malah ga tahu apa-apa,” balas Meita sambil meringis. Kepalanya geleng-geleng merinding. “Bu Kiran! Bu Meita! I─itu ... Ada yang jatuh!” Pembicaraan mereka teralihkan, dua orang wanita berlari tergesa-gesa. Pak Setyo dan Pak Burhan yang sedang asyik mengobrol tak jauh dari mereka langsung bergegas menuju lapangan, berbeda dengan dua wanita yang masih shock. “Hah? Siapa?” tanya Meita sembari mengerjapkan matanya. “Putra, Bu.” Kiran yang mendengar itu langsung menganga. ‘Modus ya?’ batinnya sedikit curiga. Bagaimanapun juga ia merasa ganjal namun semuanya terjawab saat melihat gerombolan yang lewat di depannya. “Putra itu anak kelasmukan?” tanya Meita menepuk pundak Kiran. Kiran mengangguk, ia segera bangkit dan menyusul. Perasaan cemas campur aduk saat melihat raut kesakitan dari muridnya. “Putra kenapa?” tanya Kiran berusaha setenang mungkin. “Itu bu, ada yang bilang kepleset terus keseleo gitu, ga tahu juga tadi aku lagi antri mandi terus ada rame-rame. Kakinya juga kena ranting jadi ke gores dan berdarah gitu.” Kiran melengos. Kakinya terasa lemas mendengar penjelasan dari Laila, salah satu murid di kelasnya. Ia menghela dan menghembuskan nafas berkali-kali. Membayangkannya saja sudah membuat ngeri. Terlebih saat mengatakan darah, ia paling tak kuat. “Yang lain langsung mandi dan istirahat ya, jangan bergerombol,” usir Meita memecah kerumunan. Dengan sigap ia membersihkan luka setelah Pak Burhan mengatasi keseleonya. “Sakit ga?” tanya Meita yang juga ngeri melihat luka yang cukup panjang di telapak kaki Putra. Pria itu tak menjawab, hanya meringis menahan perih yang dirasakannya. Kiran berjongkok di samping Meita. “Mainnya ga pakai sepatu ya?” tanya Kiran menatap melas. Ia meringis kecil membayangkan rasa perih saat luka itu diusap dengan cutton bud berisi obat merah.  “Tadi pake tapi ga nyaman jadi kulepas Bu,” balas Putra tersenyum kecil. Melihat senyumnya saja, Kiran sangat ingin menjitaknya. Geregetan namun ia harus menahan. “Padahal masih sampai lusa tapi udah ada yang luka.” Meita mendumal kecil, bukan karena kesal namun menyayangkan moment. “Denger-denger ada penunggunya Bu, mungkin lagi cari tumbal,” canda Putra sambil tersenyum lebar. Krik krik. Alih-alih tertawa mereka justru kesal mendengarnya. “Nanti mandi kakinya diplastikin ya, biar ge kena lukanya,” titah Meita membuat senyum Putra luntur, matanya membelalak dan orang-orang di sekitarnya tertawa puas mendengarnya. Kiran hanya menahan tawa dengan menutup mulutnya. Sungguh! Ia tak bisa membayangkan sama sekali. Terlebih ekspresi shock Putra yang terlihat merana. “Harus banget ya Bu?” “Iya, biar ga perih,” jawab Meita lagi. “Lagian kamu ada-ada aja sih,” lirih Kiran menatapi kaki Putra yang kini dibalut perban. Bahunya sesekali terangkat karena ngeri. Dari kejauhan, suara wanita berteriak kencang dengan handuk yang melilit rambut dan keranjang berisi alat mandi di tangan kanannya. “Putra! Putra! Putra! Kamu kenapa? Beneran jatuh? Lukanya parah apa engg─ kok sampai di perban gitu?” Carolina alias Karla histeris sendiri melihat Putra yang terduduk dengan kaki di perban. “Couple game kita gimana?” “Ah ... semoga aja nanti malem baikan.” Pluk! “Sembarangan, jangan dulu.” Meita mewanti, ia bahkan tak segan untuk memukul kaki Putra membuat pria itu terjengit karena kaget. Pukulannya sama sekali tak menyakitkan. “Gimana kalau aku minta ke panitia buat diundur besok?” Kirana menepuk pelan pundak Karla untuk menyadarkannya. “Apa kamu ga kasihan lihat Putra kaya gitu, buat jalan aja mungkin sakit. Sama yang lain dulu ya?” “Sama Awan aja gimana?” “A─awan?” *** Bintang bertaburan di langit malam, suasana yang hampir tak pernah terlihat di perkotaan. Suasana malam kian hangat setelah lampu petromax dinyalakan. Meskipun penampakannya tampak jadul, siapa sangka yang digunakan adalah lampu petromax dengan bohlam berwarna oren dan ada kabel untuk mencharge. Mungil dan estetik. “Gimana udah kumpul semua?” tanya Axel sang pencetus Couple Date. Siapa yang mencetuskan, siapa yang menuangkan ide dialah ketuanya. Setiap kelas memang diminta menyalurkan satu ide untuk kelangsungan acara dan kelas pemilik ide akan menjadi panitia acaranya.  Ide Axel bahkan sempat di tolak karena dianggap tidak mencerminkan seorang siswa sekolah, oleh karena itu Axel menyiapkan beberapa tantangan berupa soal-soal yang harus di jawab. Yang paling banyak menemukan soal dan menjawab benar akan mendapatkan hadiah dan syarat terpentingnya adalah setiap pasangan tidak boleh satu kelas. “Kita satu angkatan harus kompak ya, yang canggung bisa mulai memperkenalkan diri masing-masing ke partner yang ada di sampingnya. Kepoin aja segalanya kali aja jadi langgeng,” kali ini suara Merry yang juga pantia Couple Game. Kecanggungan begitu kentara namun setelah peluit dimulai tanda permainan berlangsung, mereka langsung berpencar mengikuti rute perjalanan. Pandangan mereka bahkan harus tajam untuk mencari soal yang disebar. Setiap pasangan memiliki satu senter. “Sayang banget aku ga bisa ikut,” ucap Putra yang kini duduk seorang diri di bawah tenda dengan lampu petromax di sampingnya. Tak benar-benar sendiri karena ada beberapa panitia yang berjaga di area tenda. “Lain kali hati-hati, akhirnya cuma jadi penontonkan? Besok juga belum tentu boleh ikut,” ucap Kirana tiba-tiba datang dengan jaket tipis. Tangannya menyodorkan ponsel Putra yang di pegangnya sejak sore. “Makasih ya,” ucap Kirana. Putra menepuk tikar di sampingnya meminta untuk di temani. Wali kelas menemani muridnya yang terluka? Tidak ada yang aneh bukan? Setidaknya itu pertimbangan Kiran yang akhirnya mau duduk di samping Putra. Ia juga tak tega melihat Putra yang duduk seorang diri. “Setidaknya aku ga kesepian kalau ibu disini,” balas Putra membuka ponselnya. Keningnya mengernyit melihat konsumsi data internet yang masih sama saat sore tadi. “Lho, ibu ga jadi hotspot di hpku? Padahal ga kukunci lho.” “Engga jadi, kamu juga seenaknya banget. Setelah kasih ibu hp langsung pergi gitu aja, kalau ada yang telpon gimana? Lagipula orang yang mau dihub─” “Cowok ya? Jadi ibu ngerasa ga enak karena aku su─” ucapan Putra di potong begitu saja, rona merah samar bahkan muncul di pipi Kiran saat membungkamnya. “Intinya bukan sesuatu yang darurat.” Putra menghela nafas berat, kakinya di goyang-goyangkan untuk mengurangi rasa dingin karena hanya diam sejak tadi. “Ucapanku itu ga perlu ditanggapi terlalu serius Bu, meskipun itu jujur tapi aku cuma anak SMA. Sekuat apapun perasaanku tetep bakal kalah kalau harus bersanding sama orang dewasa. Lagian apa yang bisa diharapin dari anak SMA yang masih jadi beban keluarga?”          “Jangan bilang kaya gitu, ga ada yang namanya beban keluarga.” Putra terkekeh, padahal ia hanya asal berkata untuk memecah sepi. Ia menyadari ada atmosfer kecanggungan diantara mereka.          “Intinya kalau mau telpon, telpon aja. Kalau ibu nolak atau ragu-ragu aku jadi baper lho. Putra anggap ibu ada rasa.” Kerlingan mata membuat Kirana menganga dan ucapannya membuat Kirana menahan diri untuk tidak menjewer telinganya muridnya. “Hei! Mana boleh bikin kesempulan kaya gitu. Oke ibu telpon pacar ibu sekarang.” Kirana bersungut. Putra tergelak puas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN