11 :: RASI BINTANG

1105 Kata
Ekspektasi memang selalu lebih tinggi dari realita. Berharap bisa bermain mesra namun ternyata tak seindah dalam bayangan. Couple game yang dianggap sebagai permainan manis nyatanya membuat siapapun meringis saat mendapatkan misi yang harus diselesaikan. Beberapa soal bertabur di halaman nan luas mengikuti alur penjelajahan. Misi mereka adalah menyelesaikan soal dalam amplop merah muda nan cantik dengan pita yang membalut amplop. Kesan pertama siapapun akan antusias melihat amplop yang cantik itu, namun tak lama setelah itu makian, teriakan dan umpatan terus bersahutan kala setiap pasangan mulai menemukan amplop. Wajah mereka menjadi kuyu, para panitia yang berjaga justru tertawa melihat wajah frustasi dari setiap pasangan yang bermain. “Wah ... nyesel banget asal cari pasangan, tahu gitu sama yang lain aja,” gumam Karla yang merasa kepalanya akan pecah. Tak jauh berbeda dengan Awan yang juga bersungut melihat pasangan gamenya tak berdaya dengan kertas yang digenggamnya. Dua jam berlalu, rute perjalanan memang cukup jauh namun yang membuat lama bukanlah perjalanannya namun bagaimana mereka menyelesaikan misi. Beberapa pasangan telah kembali ke halaman perkemahan, ada yang tampak begitu ceria dan beberapa terlihat murung dan pasrah. “Hei!” teriak Putra saat melihat Awan, temannya sudah datang. Tangannya melambai penasaran ingin tahu hasil dan cara bermain. Ia melihat raut Awan yang begitu kusut dan Karla di sampingnya yang mendumal. “Habis kencan kenapa wajah kalian kek gitu?” Putra menunjuk wajah mereka bergantian. “Sumpah ya! Dia ngeselin banget.” “Kamu yang ngeselin!” teriak Karla tak terima. Putra tergelak melihat keributan di depannya. Tak lama Karina datang, ia juga penasaran. Ia tak bisa ikut mengawasi karena cedera yang dialami Putra. Ia sebagai wali kelasnya bertanggung jawab untuk itu. “Ibu juga penasaran, gimana tadi? Menyenangkan?” tanya Karin yang sontak dibalas gelengan kepala oleh keduanya. Kompak! Sangat kompak. “Emang soalnya susah banget?” tanya Karin lagi. “Gampang bu, soalnya cuma satu tambah satu, tapi yang bikin susah itu keterangan dibawahnya, jawab dengan rumus aljabar. Langsung speechless padahal kita mau senang-senang malah jadi mual,” jawab Karla sambil bergidik. “Itukan sederhan─” “Masalahnya di dia, aku udah percaya diri buat ngisi tapi malah disuruh skip karena dia ga percaya sama jawaban aku.” “Di belakang kertas ada keterangannya lagi. Kalau bener plus dua kalau salah minus tiga, apa ga rugi bandar kalau jawabannya salah.” Putra terdiam. Ia juga tak menyangka jika couple game yang dinanti banyak orang ternyata sepelik ini. Terlalu jauh dari bayangan. “Untung aku cedera,” kekeh Putra akhirnya. “Ya itu juga alasan yang membuat couple game di ACC, kelas Alex udah ngajuin sampai tiga kali lho tapi ditolak terus karena permainannya terlalu tidak pas dengan usia kalian.” “Rencana awal emang gimana, Bu?” Belum sempat menjawab, suara dari panitia kembali terdengar meminta para peserta untuk kembali ke lapangan. Berat hati namun tetap melangkah, para peserta berbondong-bondong menuju lapangan sekolah. Termasuk Awan dan Karla. Meninggalkan Putra dan Karina. Wanita itu tampak kikuk, ingin pergi namun terlalu terburu jika menyusul, ia tak mau dicurigai. Ingin basa-basi namun ia kehilangan topik pembicaraan. “Eum ... kamu ga papa disini?” “Ibu mau ke lapangan ya?” Karin mengangguk sebagai jawaban. “Tapi maksud ibu bukan itu, kamu ga papa disini? Mungkin aja kamu pengen pulang karena disini pun ga bisa ikut kegiatan nanti ibu coba bicarain sama guru lain.” “Ibu ga perlu merasa terbebani, aku ga papa kok. Kalau ibu mau ngawasin mereka awasin aja, aku juga ga minta di temenin,” balas Putra memamerkan senyum lebarnya. Karin melengos dengan pernyataan Putra. Terbebani? Sungguh ia sama sekali tak merasa terbebani. Ia bahkan sedikit bersyukur karena bisa lebih santai dari pengawas lainnya. Ia hanya canggung. Lagipula ia juga tak terlalu senang berbaur dengan para guru yang topiknya suka ngalor ngidul. Karin memilih untuk duduk di salah satu kursi yang ada. Kursi yang ia pinjam dari penjaga perkemahan. “Ibu juga ga terlalu murah hati, ibu lebih milih duduk disini karena emang lagi ga pengen kumpul sama guru lainnya, tahu sendiri peran guru muda dikalangan guru senior.” “Disuruh bikin kopi ya?” “Ya ... begitulah,” balas Karina. Menilik hatinya, ia juga sebenarnya tak merasa berat jika para guru lain memintanya untuk membuat kopi, namun entah mengapa justru alasan itu yang keluar. “Zodiak ibu apa?” Karin terkesiap mendengar pertanyaan yang sangat random. Zodiak? Sangat tidak nyambung dengan pembicaraan sebelumnya. Terlebih ramalan zodiak adalah hal yang tak dipercayainya.  “Kenapa tiba-tiba tanya zodiak? Emang kamu percaya sama zodiak?” “Engga percaya sih, tapi jawab aja.” “Aquarius, eum ... kayanya aquarius sih kalau Ophiuchus dihilangkan.” “Ibu juga tahu itu? Biasanya yang ga percaya zodiak cuma tahu dua belas doang lho.” “Sekedar tahu karena dulu pernah ribut sama temen cuma karena zodiaknya yang beda padahal bulan dan tanggal lahir deketan. Oke abaikan alasannya, lanjutannya apa?” tanya Karin kemudian. Putra hanya terkekeh, ia mengayunkan jarinya menyipitkan pandangannya memandangi bintang yang terbentang dilangit malam. “Ibu tahu rasi bintang aquarius?” Karin menggeleng, pandangan matanya tertuju pada jari telunjuk yang diayunkan oleh Putra. Matanya masih erat menatap bintang. “Setidaknya harus ada tiga belas bintang yang terhubung untuk membentuk rasi bintang aquarius.” Putra terus mengarahkan telunjuknya kemudian kepalanya menggeleng saat tak menemukan titik yang tepat. Satu kali gagal, dua kali gagal dan berkali-kali hingga tangannya kembali turun menyerah. “Ga ada ya?” “Ga ada, adanya rasi bintang aries dan cancer tapi belum valid cuma bentuknya mirip. Hpku?” pinta Putra. Ponselnya memang sudah diambil alih oleh Karina yang fakir sinyal. Harap maklum karena bukan kartu yang mahal. Putra mengambil jepretan foto dan mengeditnya. Ia menghubungkan tiap titik membentuk rasi bintang Aries dan Cancer. “Ini aries dan ini cancer.” “Kenapa kamu mempelajari rasi bintang?” tanya Karin menatap lama ponselnya, ia yang tak mengenal rasi bintang cukup kagum dengan pengetahuan Putra yang sebelumnya ia sama sekali tak tahu. Ia hanya tahu aquarius berlambangkan air, hanya sampai situ. “Iseng aja, walaupun ramalannya ga bisa di percaya tapi tetap menarik untuk dipelajari, sekarang aku tanya lagi. Eum ... pacar ibu zodiaknya apa?” tanya Putra lagi, kali ini perasaannya berubah menjadi waspada, hatinya bahkan sedikit tercabik. Bagaimanapun juga ia menyukai Karina, sangat menyukainya. “Dua puluh tujuh april, taurus kalau ga salah. Kalau kamu sendiri?” Putra merapatkan bibirnya. Senyumnya mengembang perlahan. Merasakan ada celah yang bisa ia masuki. Aquarius seharusnya tak bisa langgeng dengan Taurus mengingat sifat mereka yang bertolak belakang. Taurus bisa dibilang cukup kolot untuk masalah percintaan. “Aku libra. Dan apa ibu tahu? Aquarius lebih cocok dengan itu daripada dengan taurus.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN