Ladang sudah mulai berbuah.
Di sana tersimpan bukti nyata kekagumanku.
Setiap tumbuhan yang berbuah.
Mewakili setiap perasaanku.
Adakah kau merasakan perasaan yang tak terbendung ini.
Menjadi gila adalah takdirku.
Ketika terjatuh begitu dalam padamu.
Bisakah aku tertolong.
Dalam kenyataan yang lebih mengerikan jika tanpamu.
****
Hades dan Persephone muncul di dalam kereta yang mereka naiki, atas trik Hades untuk menghindari para pria yang berniat buruk. Keinginannya untuk menghancurkan mereka, ditekan karena tidak ingin menunjukkan sesuatu yang kejam pada awal dia bertandang ke dunia manusia.
"Ayo kita kembali," ajak Persephone. Meski singkat tapi Persephone bersyukur merasakan betapa menyenangkan pesta rakyat di dunia manusia. Sangat berbeda dengan perjamuan di Olympus yang ada di ingatannya. Persephone bahkan tidak bisa memutuskan manakah yang lebih menyenangkan sekarang. Pesta di Olympus ataukah pesta di dunia manusia. Semuanya memiliki kelebihan tersendiri yang membuatnya tak bisa melupakan kenangan berada di pesta itu.
Bukannya tidak ada yang mengetahui tentang kedatangan dua dewa dewi itu di dunia manusia. Sesuai dugaan Hades, Aphrodithe memang datang ke sana dan ingin bermain - main bersama Ares di dunia manusia. Akan tetapi mereka segera menghindar begitu menyadari kehadiran Hades dan Persephone. Tidak ada yang ingin berhadapan langsung dengan wajah datarnya Hades yang tampan tapi tidak menyenangkan.
"Ares, bukankah itu Hades dan Kore?" tunjuk Aphrodithe.
Mendapati Persephone meninggalkan ladang Dementer merupakan sesuatu yang menakjubkan. Mengingat sifat anti membantah yang dimiliki oleh Persephone atas setiap perintah dan larangan dari ibunya. Aphrodithe ingin sekali menggoda Persephone seandainya saja tidak ada makhluk suram di sebelahnya.
"Ya, tak ku sangka jika gadis musim semi secantik itu..." guman Ares.
Dia tidak sadar jika pujiannya pada Persephone merupakan hal yang tidak bisa diterima oleh Aphrodithe. Dia tidak bisa menerima siapapun dipuji cantik jika di depan hidungnya. Apalagi oleh dewa perang yang notabene kekasihnya. Aphrodithe menunjukkan wajah masam pada Ares yang berbinar melihat Persephone.
"Apa kau mengatakan jika Kore lebih cantik dariku?" tanya Aphrodithe yang terlihat masam. Suaranya terkesan suram dan meninggi.
Ares yang menyadari jika dirinya sudah menyulut kecemburuan dari dewi cinta, langsung terkekeh. Dia pun buru - buru mengklarifikasi ucapannya.
"Tidak, tidak. Kau pemilik kecantikan tiada duanya Aphrodithe. Kecantikan adalah milikmu, aku hanya mengatakan jika Kore tidak buruk yang pada kenyataannya dia jauh berada di bawahmu."
Sebuah sanggahan yang memperbaiki mood sang dewi cinta dengan cepat. Di dunia ini, tidak ada yang tidak memuja kecantikannya. Dia adalah yang tercantik dari semua dewi, jadi tidak mengherankan jika Ares mengatakan hal tersebut. Apalagi dibandingkan Persephone yang polos. Bagi Aphrodithe, dia hanya memiliki warna surai yang berwarna langka dan mata sehijau daun. Hanya itu.
"Sudahlah, Hades dan Kore sudah pergi. Ayo kita bermain - main," ajak Ares.
"Tentu saja. "
Sayangnya permasalahan itu tidak berhenti di sini. Para pria yang hendak menculik Persephone dan bangsawan yang hendak menculik Persephone justru menjadi pemicu kemarahan Aphrodithe. Mereka membicarakannya Persephone tanpa henti ketika Aphrodithe lewat dan duduk di dekat mereka. Walaupun pada awalnya, kehadiran Aphrodithe menarik perhatian setiap mata yang melihat.
"Hei, lihat. Gadis bersurai perak keemasan itu. Dia sangat cantik. Matanya yang biru dan kulitnya seolah bersinar di pesta malam ini."
"Woah, kau benar. Sungguh luar biasa. "
Awalnya mereka memang memuji Aphrodithe yang sedang duduk di kedai minuman. Gestur tubuhnya yang anggun dengan tangan yang mengangkat anggur dan mata memperhatikan para wanita yang menari--- menimbulkan decak kagum setiap orang. Hanya saja pujian itu tak berlangsung lama, telinganya masih bisa mendengar segala pujian yang diarahkan padanya yang semakin lama semakin menghilang digantikan dengan memuji Persephone.
"Tapi aku masih belum bisa melupakan kecantikan gadis bersurai merah jambu tadi. Wajahnya yang indah dan matanya yang hijau sangat luar biasa."
"Kau benar, andai saja kita tidak kehilangan jejaknya."
'Gawat, ' batin Ares.
Ares yang juga mendengar percakapan mereka tahu jika kekasihnya akan ber- mood buruk. Apalagi setelah melihat Aphrodithe, mereka masih tetap membicarakan kecantikan Persephone. Itu akan melukai harga diri Aphrodithe.
"Lebih baik kita pulang. Di sini orang - orang banyak yang kurang waras karena mabuk," ajak Ares. Dia tidak ingin kekasihnya mengamuk di dunia manusia.
Aphrodithe yang kesal mengiyakan ajakan Ares. Baru pertama kali ia merasa terhina seperti ini karena manusia yang membandingkan kecantikannya dengan Persephone.
'Mereka pasti sudah gila, aku adalah dewi cinta mana mungkin aku kalah dari Persephone yang polos.'
Suasana hati Aphrodithe tidak kunjung membaik meski dia mendengarkan segala pujian ketika ia pulang melewati orang - orang di pasar. Dia pun memutuskan untuk mengunjungi Persephone untuk meneliti apa istimewanya teman ngobrolnya itu. Kedengkian mulai menghampirinya akibat tidak terima jika ada yang lebih cantik darinya.
Sedangkan gadis yang menjadi pusat rasa iri Aphrodithe, kini sudah berada di kuil ibunya. Menunggu kedatangan Dementer di kamar dan ditemani Hades yang memakai helmet of the drakness.
"Aku sangat takut kita ketahuan, Hades. Bukankah lebih baik kau pulang dan datang malam nanti?" saran Persephone.
Dia tidak bisa membayangkan betapa histeris ibunya jika dia ketahuan sedang bersama pria. Apalagi pria itu bukan dewa normal.
"Kau harus belajar menentang sesuatu yang tidak kau inginkan, Kore. Jika bukan kau siapa yang akan memperjuangkan keinginanmu Kore?"
Persephone tahu jika yang dikatakan Hades benar adanya. Tapi tidak mudah melakukan hal itu. Apalagi dia tidak pernah membantah satu ucapan ibunya, setidaknya sebelum ia bertemu dengan Hades.
"Tapi..."
"Sstth, lihatlah dan kau akan menyukai sensasi dari memperjuangkan keinginanmu."
Persephone hanya bisa memdesah dan mencoba melakukan apa yang Hades sarankan. Meski hatinya tidak yakin akan tetapi dia juga tidak ingin hidup dalam kendali ibunya terus menerus.
"Okey..."
Tak lama kemudian Dementer tiba di depan kuilnya. Kereta angsanya segera menghilang di saat matahari mulai membagikan cahayanya.
"Kore apakah kau sudah bangun. "
Dementer memanggil putrinya sambil melangkah menuju kamar Persephone. Sungguh dia sangat senang melihat putrinya duduk di ranjang dengan wajah tersenyum padanya.
"Oh ternyata kau bangun. Hari ini nampaknya sangat cerah, aku yakin ladang di depan akan sangat nyaman untukmu jika ingin menumbuhkan tanaman."
"Baiklah. Aku akan ke sana."
Persephone memegang jantungnya yang tidak bisa tenang karena menyembunyikan sesuatu dari ibunya. Namun dia juga merasakan perasaan luar biasa ketika berjalan beriringan di sisi Hades. Rupanya kekasihnya itu benar. Melakukan apa yang diinginkan, rasanya sangat luar biasa.
Tbc.