Ganendra menutup teleponnya, saat ini dia tengah berkumpul dengan anak-anak balap lainnya. Dia cukup terkejut karena mendapat telepon dari Pesona. Akhir-akhir ini dia memang sangat sibuk dengan geng sekolahnya. Mereka geng yang berkumpul dan sering mengadakan balapan liar dengan sekolah lain dan Ganendra adalah salah satu orang yang paling berpengaruh. Dia memang bukan pemimpin geng itu tetapi kemampuan balapnya hampir belum ada yang mampu menandingi.
Di sebuah gedung kosong mereka sering berkumpul, bukan seperti geng lain yang berkumpul sering membawa minuman tetapi mereka justru lebih ke arah bersenang-senang. Mereka menyediakan makanan atau cemilan rumahan, air soda, bahkan ada acara live music dari anggota geng yang bisa bermain musik dan bernyanyi. Terkadang mereka juga mengadakan acara amal untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Mungkin mereka sering dipanggil geng tetapi kegiatan yang mereka lakukan hampir seluruhnya kegiatan yang positif.
"Ciee yang habis ditelepon sama gebetan!" ujar Hanis dengan cengirannya.
"Ehem! Ada yang bakal traktir kita sebulan nih guys! Lumayan irit sangu jajan." sambung Denis.
"Haha.. tenang aja, kalo gue udah jadian sama Pesona bakal gue traktir apapun yang kalian mau!" jawab Nendra.
Patra yang mendengar hal itu membuat dirinya kesal, sebenarnya dia tidak suka jika ada wanita yang dijadikan taruhan dalam hal balapan apalagi Pesona. Gadis cuek seperti dia tidak akan mudah jatuh cinta dan sekalinya jatuh cinta maka biasanya perasaan itu sangatlah tulus dari hati. Patra tidak ingin ada yang patah hati karena taruhan bodoh antara kakak beradik itu.
"Kenapa lo Tra? Muka udah kaya baju ga disetrika aja." kata Denis.
"Abang Patra kenapa? Atit? Mau nyai pijetin?" jawab Hanis bergurau.
"Sampai lo nyentuh gue, ngga peduli lo temen gue bakal gue buang lo ke sumur!" bentak Patra kesal membuat Hanis menampilkan wajah cemberut bodohnya.
"Lo ada masalah Pat?" tanya Nendra.
"Masalahnya lo Nen! Gue masih belum setuju soal taruhan dapatin Pesona. Lo ngga takut sama karma?"
"Kenapa lo jadi mellow gini sih? Ngga usah bahas karma ke gue deh! Selama ini gue jadian terus putus dan ngga ada tuh yang namanya karma."
"Itu beda! Sekarang lo mau coba buat bodohin hati orang lain! Gimana kalau justru hati lo yang dibodohi sama pikiran lo sendiri? Ngga tau kenapa tapi gue yakin kalau karma lo bakal dateng lewat Pesona."
Nendra terdiam mendengar perkataan Patra, dia bukannya tidak takut dengan karma tetapi berusaha untuk menyembunyikan ketakutan itu. Apalagi sejak dia bertemu dengan Pesona, hatinya terkadang menjadi sulit untuk dikontrol. Perasaan membuncah senang saat berada didekat gadis itu tidak penah bisa dia pungkiri. Melihat tangisan gadis itu saja membuat hatinya terasa diremas. Apa ini yang disebut karma? Niat ingin membuat gadis itu jatuh cinta tetapi sekarang justru kebalikannya.
"Sorry, gue harus pulang! Nyokap udah sms." ujar Nendra.
Setelah mengatakan hal itu, Nendra bergegas berdiri lalu pergi menuju motornya yang diparkirkan tidak jauh dari kumpulan. Sejujurnya dia ingin menghindari semua perkataan Patra, entah kenapa hati dan pikirannya tiba-tiba tidak sejalan.
Sesampainya dirumah, Nendra memasukan motor kesayangannya ke dalam garasi. Dia memarkirkan motornya tepat disamping motor hitam milik Lendra, melihat itu dia berdecak kesal. Nendra sangat yakin bahwa motor itu nantinya akan menjadi miliknya. Nendra mamasuki rumah lalu dia melihat ibu dan adiknya Leina yang tengah menonton tv dengan serius tanpa menyadari kedatangannya. Dia mendekati ibunya dengan mengendap-endap kemudian...
"Dorr!!" teriak Nendra membuat ibu dan adiknya melonjak terkejut.
"Aaaa!! Kak Nendra nyebelin!" bentak Leina saat melihat Nendra yang tengah tertawa puas.
"Nendra! Kamu apa-apaan sih? Ngagetin orang aja tau, habis darimana kamu?" tanya Ibunya.
"Dari rumah temen, papa kemana ma?" tanya Nendra sambil mendudukan bokongnya di sofa sebelah Leina.
"Tidur dikamar, kayanya kecapean kerja."
"Papa lembur lagi?"
"Dia baru aja pulang." Jawab Lendra yang datang dari arah tangga.
Nendra yang mengetahui hal itu langsung berniat berdiri menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Dia melewati Lendra dengan tatapan sinis, selalu saja seperti itu. Disaat Nendra datang maka Lendra pergi lalu saat Lendra datang Nendra pergi. Mereka hampir tidak pernah berkumpul sebagai keluarga bahkan fotopun mereka tidak pernah bersama. Setiap foto keluarga, maka Nendra akan menghindarinya dengan berbagai cara kecuali jika tidak ada Lendra di dalamnya.
Sang ibu yang melihat hal itu hanya bisa mendesah pasrah, sudah berulang kali Ibunya mengakurkan mereka namun hasilnya tetap sama. Leina-pun sekarang lebih dekat dengan Lendra, entah apa yang lelaki itu rencanakan Nendra selalu tidak suka bahkan jika Lendra melakukannya dengan tulus.
"Apa lo liat-liat?" ujar Nendra saat melewati Lendra yang juga melihat kearahnya sinis.
"Lo ngapain liatin gue? Terpesona sama kegantengan gue?!" jawab Lendra balik.
"Ciaa pede banget! Upil lo tuh gede banget bikin gue ga konsen!" ujar Nendra lalu berlalu meninggalkan Lendra yang sekarang menggosok hidungnya.
"Ihh kak Lendra jorok!" teriak Leina.
"Ish Nendra! Turun lo!" Bentak Lendra kesal.
Mendengar hal itu, Nendra tertawa terbahak bahkan sampai terdengar oleh ketiga manusia yang ada dilantai bawah. Dia memegang perutnya yang sakit karena terlalu lama tertawa. Nendra membaringkan tubuhnya ke atas kasur, menormalkan kembali nafasnya.
"Salah ngga sih kalau gue udah mulai sayang sama lo?"
Gumaman Nendra itu menjadi sebuah pengantar dia memasuki alam mimpinya. Alam dimana dia tidak pernah salah melakukan apapun, termasuk mencintai seseorang siapapun dia.
--------
"Assalamu'alaikum?"
Anak-anak kecil yang tadinya sedang bermain dihalaman rumah itu seketika menoleh ke arah pagar. Mereka melihat seseorang yang datang dengan pandangan yang aneh. Awalnya mereka ragu untuk mendekat namun lelaki yang datang itu tersenyum hangat membuat mereka mendekat.
"Jangan takut de, Kakak temennya kak Pesona kok. Boleh panggilin kak Pesona ngga? Bilang aja kak Nendra udah dateng, gitu."
"Emang kakak mau ngapain ketemu sama Kak Sona?" tanya salah satu dari mereka yang sedikit lebih besar.
"Kakak mau ajakin Kak Sona keluar sebentar, boleh?"
Anak perempuan itu akhirnya mengangguk lalu masuk ke dalam rumah memanggil Pesona. Nendra membuka pagar Panti asuhan itu lalu masuk ke dalam, sebelum duduk dikursi teras Nendra mendatangi anak yang tengah bermain bola basket berukuran kecil dan mudah kempes. Dia melihat anak itu sedang berusaha memasukan bolanya ke ranjang yang terbuat seadanya dan tergantung dipohon. Dia tersenyum melihat anak yang bermain itu kesulitan memasukan bola.
"Butuh bantuan?" tanya Nendra.
"Keo bisa sendiri kok!" jawab anak lelaki yang bernama Keosa.
"Bolanya aja udah kempes gitu, pantes aja kamu ngga bisa mantulin bolanya buat masuk ke ranjang." Ujar Nendra lalu merebut bola itu.
"Ihh kakak balikin bola aku!" teriak Keosa.
"Nama kamu siapa?" tanya Nendra mengabaikan teriakan Keosa.
"Keosa! Kak bola akuu.." rengek Keo.
"Eitss! Anak laki-laki ngga boleh nangis!" jawab Nendra saat melihat Keo mulai merengek.
"Bola aku kaaa..."
"Kamu suka main basket sampai ngga mau main sama yang lain? Temen-temen kamu aja mainnya bareng-bareng kok, kenapa kamu ngga ikut?"
"Aku ngga suka lari-lari kaya gitu! Cape!"
Nendra meletakan tangannya di dagu seperti berpikir, "Gimana kalau kakak beliin kamu bola basket yang baru? Mau?"
Keo yang mendengar hal itu langsung mengangguk gembira.
"Oke! Kakak bakal beliin bola itu buat kamu asalkan kamu ijinin kakak main bareng sama kamu sekarang dan seterusnya. Gimana?"
Anak lelaki itu sekarang meniru gaya Nendra yang tadi seperti sedang berpikir.
"Oke deh!"
Setelah mendengar hal itu, Nendra mengangkat tangannya untuk melakukan high five dengan Keosa. Dengan senang hati Keo menyambutnya lalu secepat kilat nendra mengambil bola itu dari tangan Keo membuat anak lelaki itu berteriak kesal. Nendra tertawa saat melihat Keo kesal, anak yang berumur 6 tahunan itu sangat menggemaskan saat dia kesal. Nendra berlari menuju ring yang tergantung di pohon dan dengan mudah memasukannya dengan sekali percobaan.
"Kakak curang! Kakak kan lebih tinggi dari aku!" ujar Keosa.
"Itu namanya strategi! Bukan curang atau engganya, sini kakak ajarin kamu biar bisa lakuin yang kaya kakak tadi. Walau kakak tinggi tapi main basket itu selalu ada tekhniknya! Pertama kamu liat ring itu, fokus dan yakin kalau kamu bisa masukin bola itu ke dalam ring. Setelah itu lempar!"
Keosa melakukan apa yang diberitahu oleh Nendra, dia mendekat ke arah ring lalu mulai konsentrasi. Nendra terkekeh melihat keseriusan anak lelaki itu, beberapa detik kemudian Keo melemparkan bola basket itu dan masuk. Keo berteriak kegirangan melihat itu, Nendra mendekat dan mengacak rambut anak itu.
"Udah mainnya?" tanya Pesona yang sedari tadi berdiri dari jauh melihat Nendra dan Keo bermain.
"Kenapa cuma liatin aja? Ngga panggil aku?" tanya Nendra.
"Seneng aja liat Keo bisa ketawa kaya gitu, dia jarang bisa bergaul sama anak-anak yang lain." Ujar Pesona.
"Oohh pantes dia main sendirian tadi, bilangnya sih ngga suka lari-lari kaya anak lainnya, cape katanya."
Pesona terkekeh, "Main basket juga cape kali! Anak itu pinter aja cari alasan." Lanjutnya sambil melihat Keosa yang berusaha memasukan bola lagi seperti tadi.
"Iya, aku suka sama dia! Lucu, mirip sama adik perempuanku."
"Kamu punya adik?" tanya Pesona.
"Iya, kapan-kapan aku kenalin ke kamu." Jawab Nendra tersenyum, bukan karena Pesona bertanya adiknya tetapi karena gadis itu sudah tidak berbicara gue atau lo lagi melainkan aku kamu.
Pesona mengangguk seadanya, "Jadi pergi atau kamu mau main disini bareng Keo?"
"Tadinya aku bingung mau ngajak kamu kemana tapi sekarang aku tau tujuan kita kemana." jawab Nendra.
"Kemana?"
"Nanti kamu juga tahu! Keo, Kak Nendra sama Kak Sona pergi dulu ya!" teriak Nendra pada Keo.
"Jangan lupa sama janji Kakak!" jawab Keosa.
"Tenang, ini juga mau berangkat!"
Pesona yang mendengar percakapan itu membuat keningnya berkerut bingung
"Kamu janji apa sama Keo?" tanya Pesona.
"Ada deh! Ibu mana? Aku mau pamit nih!" jawab Nendra.
"Ibu lagi pergi ke pasar, adanya Mba Rosi yang nungguin anak-anak. Kita langsung berangkat aja, aku udah bilang kok."
"Oke!"
Nendra dan Pesona berjalan menuju motor, Nendra menyerahkan helm kepada Pesona setelah itu dia juga memakai helmnya. Mereka mulai berangkat, Pesona hanya terdiam melihat sekelilingnya saat berada di perjalanan. Nendra sengaja untuk berputar-putar lebih dulu sebelum menuju ke tempat tujuannya.
Setelah berputar-putar selama hampir satu jam, mereka sampai disebuah toko yang menyediakan berbagai alat olahraga. Pesona turun dari motor lalu melepaskan helmnya, dia menyerahkan helm itu pada Nendra.
"Kita ngapain kesini?"
"Aku janji sama Keo buat beliin bola basket sama ring yang baru buat dia, nanti aku bakal pasangin ring baru dipohon itu." jawab Nendra lalu memasuki toko itu.
Pesona menatap punggung lelaki itu, dia pikir Nendra berbohong waktu berkata bahwa dia menyukai Keosa. Dia tahu ada sesuatu yang disembunyikan lelaki itu makanya dia masih belum bisa percaya sepenuhnya pada Nendra.
"Kamu ngapain diem disitu? Ayo masuk!" ujar Nendra.
Pesona tersadar dari lamunannya lalu melangkahkan kakinya mengikuti Nendra yang sudah masuk ke dalam toko itu. Saat mereka masuk, seorang penjaga toko mendatangi mereka berdua lebih tepatnya Nendra.
"Woah, lama lo ngga kesini Nen!" ujarnya membuat Nendra menaikan kacamata yang sempat turun dari tempatnya.
"Hai Jo, biasa sibuk sama tugas sekolah!" jawab Nendra.
"Siapa nih? Pacar baru lo?" tanya Jodi.
"Dia Pesona. Son kenalin dia temen aku Jodi." Jawab Nendra menggubris pertanyaan Jodi yang terakhir.
Pesona hanya mengangguk kepalanya kecil tanpa senyuman sama sekali membuat Jodi tersenyum kaku. Setelah itu Nendra dan Pesoa berbagi tugas, Pesona mencari ring basket sementara Nendra mencari bolanya.
"Jadi, pacar baru?" ujar Pesona membuat Nendra menoleh.
"Hah?"
"Punya mantan berapa? Baru tahu cowo cupu manja bisa juga punya pacar." ujar Pesona sinis.
Nendra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Hehe... cuma iseng aja sih, ngga ada yang istimewa dari mereka."
"Mereka?" tanya Pesona sedikit menaikan nada bicaranya terkejut sambil menatap Nendra.
"Itu.. itu cuma masa lalu kok, mereka aja udah move on masa aku ngga bisa move on juga. Mereka udah punya takdir mereka yang baru dan aku juga punya takdir aku sendiri."
"Jadi sebenarnya seorang Nendra itu bukan cowo cupu yang manja tapi seorang playboy?" ujar Pesona tersenyum sinis
"Aku masih mencari seseorang yang bisa buat aku nyaman dan aku ngga pernah dapetin itu dari mantan aku sebelumnya. Jangan salahin aku, lagian kalau aku ketemu kamu lebih cepat aku juga ngga bakal punya banyak mantan."
Hati Pesona berdesir saat mendengar perkataan Nendra yang terakhir, jantungnya memompa lebih cepat dari sebelumnya sekarang. Dia mengalihkan tatapannya kembali mencari ring basket sementara Nendra terkekeh melihat Pesona yang tersipu.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sudah menemukan bola basket dan ring yang cocok. Setelah itu Nendra mengajak Pesona untuk pergi lagi. Kali ini Nendra ingin memberikan kejutan kepada wanita itu, sebuah kejutan yang sudah dia siapkan selama dua hari kemarin. Kejutan yang membuat dia sibuk dan membuat Pesona menelepon lelaki itu untuk yang pertama kali.
--------
TBC