PART 11

995 Kata
Setelah membeli bola dan ring basket, Nendra membawa Pesona berkeliling kota. Mereka sempat makan dicafe, lalu pergi ke taman hiburan. Hari sudah sore saat mereka memutuskan untuk keluar dari taman hiburan. Nendra kembali mengajak Pesona untuk berjalan di taman kota sambil berjalan kaki. Motor miliknya dia parkir lalu berjalan-jalan, terkadang mereka berhenti untuk membeli makanan ringan yang dijual di pinggir jalan. Malam harinya, Nendra mengajak Pesona untuk pergi lagi. Kali ini tujuannya adalah tempat kejutan yang dia buat untuk Pesona. Sesampainya disana, Pesona mengerutkan keningnya saat Nendra menghentikan motor di area lapangan basket belakang panti. Dia melepaskan helm lalu membenarkan rambut yang berantakan tertimpa angin saat di jalan. "Kita ngapain kesini? Kenapa kamu bisa tau tempat ini?" "Aku sering lewat jalan ini, aku pikir ini lapangan yang udah kotor ngga pernah terawat tapi setelah aku dateng kesini minggu lalu ternyata masih bagus. Aku jadi suka tempat ini." Jawab Nendra. "Ini tempat aku kalau mau menyendiri. Tenang, sepi dan jarang yang berani kesini. Mereka pikir tempat ini seram karena dari luar kelihatan kotor dan gelap, tapi menurut aku tempat ini yang paling nyaman buat menyendiri." "Mulai hari ini jangan lagi berada ditempat gelap! Apalagi kalau kamu sendirian! Ngga bagus buat kamu Pesona." "Kenapa? Buktinya aku baik-baik aja sekarang." "Kamu mungkin keliatan baik-baik aja, tapi hati kamu ngga baik. Jangan memaksakan suatu hal yang memang sudah menjadi jalan kamu, Pesona." Pesona tidak menjawab perkataan Nendra, semua yang lelaki itu katakan memang benar dan tidak ada yang bisa dia sangkal. Sekuat apapun dia tetap saja pertahanannya akan runtuh jika terus ditimpa berbagai masalah. Nendra tidak salah tetapi dia juga tidak benar, karena pada dasarnya Pesona tidak pernah memaksakan takdirnya tetapi dia hanya kecewa tentang kenyataan bahwa dia tidak terlalu kuat menghadapi takdir itu. "Ada yang mau aku tunjukin ke kamu!" ujar Nendra lalu menarik tangan Pesona masuk lepangan Basket itu. Lapangan itu gelap karena hanya berbekal cahaya langit malam saat ini. Pesona ditarik Nendra sampai ditengah lapangan, lalu setelahnya lelaki itu pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Pesona bingung melihat bayangan Nendra yang sudah tidak terlihat dalam pandangannya, dia menatap ke sekeliling namun hanyalah dinding yang tidak jelas terlihat karena terselimuti gelap. Entah kenapa tetapi Pesona mulai khawatir saat sudah 10 menit Nendra tidak kembali. "Nen?" panggil Pesona. Tidak ada jawaban. "Nendra?!" panggil Pesona lebih keras. "Sebentar!" jawab Nendra berteriak namun bayangannya tetap tidak terlihat. Beberapa menit kemudian, pandangan Pesona melebar karena dengan jelas dia bisa melihat dinding yang ada dihadapannya. Terang! Sangat terang, namun Pesona tidak mengindahkan terang itu berasal darimana. Matanya hanya terfokus pada gambar yang terlukis dengan jelas dan besar pada dinding depannya sekarang. Pesona mendengar langkah kaki yang mendekat, dia menolehkan kepalanya ke arah kanan. Disana lelaki itu tengah berjalan dengan senyuman lebar terpasang di wajahnya. Lutut Pesona lemas seperti lumer, dia berusaha agar dirinya tidak terjatuh. Dalam beberapa detik kemudian, Nendra sudah berdiri dihadapannya. "Bagus ngga lukisan aku?" tanyanya masih dengan senyuman yang membuat lutut Pesona lemas. "Gimana bisa kamu...." "Aku selalu ingin liat kamu tertawa, tapi sampai detik ini liat senyum kamu aja aku ngga pernah. Kamu selalu tersenyum sinis ke aku, dan ngga pernah tersenyum bahagia. Kali ini aku ingin buat kamu tertawa bahagia walaupun itu hanya dalam lukisan." Pesona hampir saja meneteskan air matanya mendengar perkataan Nendra namun dia tidak ingin terlihat lemah den cengeng. "Kenapa?" tanya Pesona lirih. "Apa kalau aku jujur, kamu mau terima kejujuran ini?" Diam hanyalah jawaban dari Pesona, dia tidak tahu harus menjawab apa. "Kalau aku bilang sayang sama kamu, apa kamu percaya?" lanjut Nendra. Pesona melebarkan matanya terkejut. "Kalau aku bilang suka sama kamu, apa kamu percaya?" lanjut Nendra. "Nen..." "Kalau aku bilang cinta sama kamu, apa kamu percaya? Banyak hal yang mungkin belum bisa kamu percayai tengtang aku, Pesona. Maka dari itu, jika kamu masih belum siap menerima kejujuranku, jangan pernah meminta penjelasan tentang suatu hal yang sulit untuk dijelaskan dengan sebuah kebohongan. Karena jujur adalah pilihan satu-satunya yang aku miliki." Jawab Nendra sambil menatap Pesona serius. Pesona hanya menundukkan kepalanya, dia gadis yang mungkin baru saja mengenal seorang lelaki kemarin lalu tiba-tiba mendapatkan pengakuan cinta. Bukan takut, Pesona hanya belum mengerti dengan jelas apa yang dimaksudkan dengan cinta itu. Bukannya tidak mau percaya, hanya saja dia lebih memikirkan resiko yang akan diambil jika percaya pada seseorang dibanding memikirkan kesenangan sesaat lalu sakit berkepanjangan. Saat Nendra tahu bahwa Pesona tidak akan mejawabnya, lelaki itu berbalik hendak meninggalkan gadis itu. Hatinya terasa perih melihat kebisuan Pesona mengenai perasaan yang dia utarakan. Nendra saja bingung dengan apa yang dirasakannya, dia mungkin berkata bahwa ini hanyalah taruhan namun hatinya berkata lain. "Ajari aku..." Langkah Nendra terhenti saat mendengar Pesona berbicara kembali. Dia membalikkan badannya menghadap gadis itu kembali. "Ajari aku tentang cinta!" lanjut Pesona. "Pesona...." "Selama ini ngga pernah ada yang bilang sayang ke aku selain Ibu, lalu tiba-tiba kamu datang mengacaukan segalanya dalam diriku dan bilang kalau kamu cinta sama aku. Sayang dan cinta yang aku kenal hanya antara aku, Ibu dan juga anak-anak panti. Selebihnya aku belum pernah mengenal itu. Bagaimana rasanya? Bagaimana caranya? Bagaimana kerjanya? Aku tidak mengerti." Ujar Pesona. Hening datang selama beberapa menit, Pesona memandang Nendra begitu juga sebaliknya. "Selama ini aku pikir cinta antara lelaki dan wanita hanyalah sebuah nafsu semata untuk saling memiliki." Lanjut Pesona. "Cinta bukanlah nafsu, itu adalah bentuk dari kasih sayang seseorang, karena terkadang cinta memang tidak harus memiliki." Jawab Nendra setelah bungkam mendengarkan perkataan Pesona. Kali ini, Berganti Pesona yang merenung mencerna perkataan Nendra. Dia mendongak menatap lelaki itu dengan pandangan serius. "Kalau begitu, kamu mau mengajarkanku tentang cinta yang kamu maksudkan?" ujar Pesona. Ganendra tersenyum mendengar pertanyaan gadis dihadapannya saat ini, perasaan bahagia membuncah dalam hatinya. "Baiklah, aku akan mengajarkanmu tentang cinta dan membuat kamu mencintaiku. Sebaliknya, maka aku akan belajar untuk menjaga cintaku ini sampai waktuku habis menjaganya." Pesona dan Ganendra saling berpandangan untuk meyakinkan satu sama lain bahwa mereka siap menerima segala resiko yang akan terjadi di masa depan. Kisah mereka akan dimulai hari ini, saat kamu dan aku menjadi kita. ------------- TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN