1. Kedatangan Sang Putri

1657 Kata
Aezar turun dari mimbar setelah pidato pertamanya sebagai CEO Patibrata Group selesai. Di usianya yang baru menginjak dua puluh tujuh, Aezar dipaksa memegang jabatan karena ayahnya yang terbaring sakit, dan juga kakak pertamanya, Ayudia, yang sedang fokus melahirkan. Sejak awal, posisi pewaris memang akan diberikan kepada Aezar sebagai satu-satunya putra dari keluarga Patibrata. Hanya saja, pola pikir Aezar masih belum dewasa, tingkahnya kekanakan dan berjiwa bebas. Bahkan Aezar tak peduli saat sekretarisnya berkali-kali memperingatkan Aezar untuk merapikan dasinya yang longgar. Para petinggi perusahaan langsung menjabat tangan Aezar untuk sekadar basa-basi, yang dibalasnya dengan tatapan dingin tanpa senyuman. Kalimat mereka hanya Aezar balas dengan anggukan tipis. Dari pada menghadiri acara kolot semacam ini, Aezar lebih suka berdiri di atas panggung sambil memetik gitar bass-nya, kemudian melemparkan tatapan menggoda pada para wanita yang menjerit-jeritkan namanya. Ketika tatapannya bertemu Haru yang sedang memandangnya, Aezar langsung menghampiri Haru dengan senyum yang terlihat kekanakan. Aezar adalah tipikal pria yang memiliki aura memikat ketika mood-nya sedang baik, kemudian berubah menjadi monster kejam tak berperasaan saat suasana hatinya memburuk. Senyum Aezar adalah jenis senyum yang membuat hati wanita berdebar. Sudut-sudut matanya akan sedikit menyipit, dan bola mata itu akan berbinar cemerlang seperti kristal yang tertimpa cahaya pagi. Di lihat dari sisi manapun, ketampanan Aezar memang dilahirkan dengan begitu sempurna. "Wah. CEO baru kita masih belum berubah. Selamat bro," sambut Haru tulus, membalas senyuman Aezar. Haru adalah sahabat sekaligus orang kepercayaan Aezar di Patibrata. Aezar refleks mengangkat tangannya untuk bertos ria dengan Haru. "Nanti malam kita pesta sampai pagi kan? Gue bakal request cewek-cewek cantik buat nemenin kita." "Tentu saja." Aezar mengerling jail. Sudut bibirnya terangkat. "Pastikan lo bawa salah satunya dan berhenti jadi jomblo abadi." Haru cuma tersenyum tipis sebagai jawaban. "Lo yang paling tahu gue, Zar. Gue nggak akan pacaran atau main cewek sebelum tujuan gue tercapai." Aezar merangkul pundak Haru dan membawanya keluar dari ballroom yang menyesakkan itu. Sejujurnya, Aezar belum siap mengemban jabatan itu di pundaknya. Aezar masih ingin bermain dan tidak terikat dengan segala peraturan yang mencekik lehernya. Beberapa tahun belakangan, Aezar memang memegang jabatan manajer di beberapa devisi. Tetapi jika dibandingkan CEO, tanggung jawab yang diemban Aezar tak lebih besar. "Jadi, kita mulai tugas pertama lo sebagai CEO?" Haru mengerling jail. "Biar saya bacakan jadwal Anda, Pak." Aezar menonyor kepala Haru. "Lo masih karyawan biasa, Kunyuk. Belum jadi sekertaris." Haru tertawa dan melepaskan diri dari rangkulan Aezar. Ia agak membungkukkan punggung sebagai tanda hormat. "Kalau begitu, saya kembali bekerja, Pak. Semoga berhasil dengan tugas pertama Anda." Aezar hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Haru dan menatap punggungnya yang perlahan menjauh. Haru itu adalah teman Aezar saat SMP, tetapi kemudian terpisah saat perusahaan keluarga Haru mengalami kebangkrutan dan Haru terpaksa pindah ke sekolah negeri. Belasan tahun setelahnya, mereka dipertemukan lagi di devisi pemasaran, tempat di mana Aezar melaksanakan tugasnya sebagai manajer pertama kali. Aezar kemudian memutuskan untuk ke toilet dan merapikan penampilannya. Tetapi kemudian ia mendengar sesuatu yang tak seharusnya ia dengar dan membuat darahnya bergejolak karena marah. "Hanya tinggal menunggu waktu saja hingga Patibrata Group hancur di bawah kepemimpinan bocah tengik itu," kata Johan, head manager bagian pemasaran kepada temannya, Kepala HRD. "Kamu tadi lihat sendiri bagaimana dia menghampiri temannya dan tertawa lebar. Dibandingkan Bu Ayu, bocah itu nggak ada apa-apanya." "Aku melihat wajah-wajah khawatir dari dewan direksi saat Aezar mulai membacakan pidatonya," balas Christian sambil tertawa. "Kamu tahu, saat dia magang di devisiku, penjualan menurun drastis karena kelakuannya mengganti kemasan produk tanpa pikir panjang." Johan menaikkan alis mengejek, tatapannya lurus pada cermin di depannya. Diam-diam memuji bakat dan ketampanannya. "Dan aku yang kebagian membereskan kekacauan yang dia buat." Aezar mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Cepat, ia memasuki toilet dengan amarah meledak dan mengajar kedua orang itu bergantian hingga tersungkur di tanah. Aezar bahkan tak peduli jika mereka adalah orang tua. Aezar hanya tak suka ketika ada seseorang yang berbicara omong kosong di belakangnya. Kenapa mereka bisa menilai Aezar tak becus padahal Aezar saja belum memulai? Aezar merapikan jasnya dan melihat kedua orang yang sedang berlutut di lantai itu dengan tatapan dingin. "Sekali lagi saya dengar kalian bicarakan kejelekan saya dari belakang, siap-siap keluar dari Patibrata secara tidak hormat. Saya sendiri yang akan memastikan bahwa kalian tidak akan diterima bekerja di mana pun setelahnya." "Maafkan kami, Pak," kata mereka serentak, dengan kepala menunduk dan sudut bibir mengeluarkan darah. Raut wajah itu jelas sekali sangat ketakutan. Dengan posisi Aezar sekarang, ia bebas bertindak untuk menyingkirkan dua tikus tidak berguna ini. "Kami tidak akan mengulanginya lagi, Pak. Kami berdua sangat menyesal," sambung Christian, kedua tangannya yang bertautan di atas lutut tampak bergetar. "Tolong, beri kami kesempatan untuk memperbaiki diri." Aezar mendengus, sudut-sudut bibirnya terangkat sinis. Tanpa berbicara apapun lagi, Aezar keluar dari toilet dengan langkah tegap. Siapa yang peduli bahwa mereka membicarakan Aezar di belakang? Hanya saja, pastikan bahwa kalimat tak menyenangkan itu tidak masuk ke telinga Aezar atau mereka akan mati. **** Lantai atas klub ternama itu disewa Aezar khusus untuk pesta malam ini. Aezar hanya punya satu lingkaran pertemanan dan mereka tergabung dalam sebuah grub band yang beranggotakan empat orang yang semuanya berasal dari keluarga konglomerat. Oke, kecuali Haru yang hanya karyawan biasa. Band itu tak serius digarap dan hanya untuk mengisi waktu luang saja. Jadi mereka hanya tampil pada saat-saat tertentu. Berbagai jenis wine mahal dan berkualitas sudah tersedia di atas meja, begitu pula dengan hidangan mewah yang berkelas. Aezar tidak tanggung-tanggung untuk menghabiskan uang dengan posisinya yang sekarang. Haru duduk di samping Kale dan sedang meneguk wine-nya dengan tenang. Sementara itu, Kenzo sedang asyik b******u dengan tiga orang wanita yang dibawanya dari lantai dansa. Tipikal Kenzo. Aezar bahkan tak akan kaget jika beberapa tahun ke depan, Kenzo ketahuan punya penyakit kelamin. "Dari kita ber-empat, kayaknya lo yang bakal nikah duluan," kata Kale, memulai percakapan. Matanya memandang Aezar lurus. "Gue yakin kalau Om Bima udah nyiapin seorang putri konglomerat buat kukuhin posisi lo sebagai CEO." Aezar mendengus, kemudian meneguk wine-nya perlahan. Dari mereka ber-empat, Aezar yang pertama kali duduk di kursi CEO, jadi, ucapan Kale cukup masuk akal. Hanya saja, Aezar bukan tipe orang yang akan langsung menurut begitu diperintah. Mana mungkin Aezar mau terikat di usianya yang belum menginjak kepala tiga? Pernikahan adalah hal terakhir yang Aezar pikiran. Tiba-tiba, terbesit ide jail untuk menggoda Kale. "Papa bilang, adik lo jadi salah satu kandidat calon istri gue. Si Kayla." "Gue bakal bunuh lo sebelum lo sempat nikahin Kayla," balas Kale dingin. "b******n kayak lo nggak pantes buat dapetin adek gue." Aezar menyeringai. "Gue inget pernah nerima cinta Kayla pas masih kuliah dulu." "Dan gue juga inget kalian langsung putus waktu gue nonjok lo sampai babak belur," sambung Kale kejam. Kale tentu mengenal sifat Aezar luar dalam karena mereka sudah berteman sejak SMP. Aezar bukan tipe cowok yang akan bertanggung jawab atas seorang wanita. Jiwa cowok itu terlalu bebas dan kekanakan. Mana mungkin, Kale menyerahkan adiknya yang berharga pada b******n seperti Aezar? Tanpa sadar Aezar menyentuh sudut bibirnya sambil meringis. Dulu Aezar hanya berniat main-main saat menerima Kayla sebagai pacarnya. Hanya saja, hubungan mereka hanya bisa bertahan dua hari karena Kale keburu tahu dan menghajar Aezar sampai babak belur. Beruntung kejadian itu tak membuat persahabatannya dengan Kale hancur. "Kayla bakal jadi kandidat terakhir yang bakal gue setujui, tenang aja," kata Aezar akhirnya. Ia kemudian melirik ke arah Haru yang sedari tadi hanya diam sambil menyesap wine-nya perlahan. "Tapi gue kemarin nggak sengaja liat Kayla lagi nungguin Haru di lobi kantor." Kale seketika beralih memandang Haru dengan tatapan tajam, seolah meminta penjelasan. Di luar dugaan, sikap Haru sangatlah tenang. Ia bahkan tersenyum tipis dan menepuk bahu Kale perlahan. "Kayla cuma minta bantuan ke gue ngerjain tesis-nya. Nggak lebih." Bahu Kale yang sedari tadi menegang langsung turun. Ia kemudian balik memandang Aezar tajam. "Kalau Kayla sama Haru, gue malah nggak keberatan. Gue tahu Haru luar dalam. Dia pasti bakal jaga Kayla dengan baik." Aezar tidak bisa menahan diri untuk tertawa sinis. Aezar memang pantas disebut b******n karena sering mempermainkan wanita. Hanya saja, mendengar langsung bahwa Kale lebih memilih Haru dibandingkan dirinya, cukup membuat Aezar kesal. Tetapi, Aezar menghiraukan semua itu dan meneguk wine-nya dengan cepat. Lagipula, Aezar tak menyukai Kayla. Kenapa ia repot-repot memikirkan hubungan Kayla dan Haru? "Yak! Si Kenzo udah teler. Minum berapa botol dia?" Kale menghampiri Kenzo dan menyuruh wanita-wanita itu menyingkir. Dilihatnya penampilan Kenzo yang berantakan dengan kemeja dan resleting celana yang terbuka. Dibandingkan dengan Aezar, Kenzo jelas lebih b******n seratus kali lipat. Setidaknya Aezar tak pernah make out sampai teler di depan teman-temannya. *** Aezar bangun di pagi harinya dengan kepala berat. Ia bergeser ke sisi nakas dan menuangkan air putih ke dalam gelas kristalnya. Ini hari ke-dua Aezar menjabat sebagai CEO, dan ia yakin akan terlambat berangkat ke kantor. Persetan. Apa Aezar terlihat peduli? Ia tidak mau memerima jabatan ini di usianya yang sekarang, tetapi, Aezar tak punya pilihan. Maka jangan salahkan ia jika sedikit memberontak. Setelah meneguk air, Aezar mengerjabkan mata dan meregangkan ke dua tangannya ke atas. Ia hendak turun dari ranjang untuk menuju kamar mandi, tetapi kemudian matanya terbelalak saat melihat seseorang duduk di atas sofa kamarnya dengan sikap tegap. Hanya saja, yang membuat Aezar semakin terkejut adalah, wanita itu mamakai kemban jarik yang membelit bagian dadanya hingga ke mata kaki. Sementara itu, pundaknya terrutup selendang berwana pastel lembut. Rambutnya disanggul rapi dan diberi hiasan semacam tiara yang terbuat dari emas. Wajahnya cantik, mempunyai garis-garis khas seorang bangsawan di masa lalu, berkulit kuning langsat dan tampak lembut untuk disentuh. Wajah itu tampak familiar, tetapi Aezar tak terlalu ingat pernah melihatnya di mana. Aezar mengejab lagi dan menepuk pipinya, untuk memastikan bahwa ia tidak bermimpi. Tetapi wanita itu kemudian berdiri dan mendekati Aezar dengan langkah anggun. Mungkinkah, Aezar terlalu mabuk semalam hingga tanpa sengaja datang ke sebuah lokasi syuting dan menculik tokoh utama dalam drama kolosal? Jika jawabannya adalah ya, maka Aezar pasti sudah gila. Iya kan? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN