Setelah tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Axel kembali masuk ke dalam mobilnya. Sekali lagi ia harus merasakan kekecewaan.
“Apa semuanya baik-baik saja, Tuan?” tanya sopirnya saat melihat tuannya yang sepertinya menyembunyikan sesuatu.
“Semuanya baik-baik saja. Cepat, jalan. Aku ada rapat yang harus segera aku hadiri.”
“Baik, Tuan.”
*****
Cuaca yang sangat panas membuat Vyora menatap sedih. Hari ini menjadi hari pertama Kevin mencari pekerjaan baru. Vyora tak bisa membayangkan dengan cuaca yang panas suaminya harus berpindah-pindah tempat mencari pekerjaan.
Hanya duduk di sebuah angkot saja Vyora tak bisa membayangkannya. Bagaimana dengan seandainya Kevin tak juga mendapatkan pekerjaan. Dengan panas-panasan Kevin harus mendatangi satu per satu perusahaan. Vyora terus berdoa agar suaminya segera mendapatkan pekerjaan.
Tak membutuhkan waktu lama ia telah sampai di tempat pemberhentian.
“Terima kasih,” ucap Vyora memberikan upah pada sopir angkot.
Rumahnya yang terletak di gang sempit membuatnya harus berjalan lagi. Waktu yang telah menunjukkan siang hari. Vyora tampak mengusap keringat yang membasahi dahinya.
“Berjalan kembali ke rumah saja membuatku lelah. Bagaimana keadaanmu saat ini? Apa semuanya baik-baik saja?” Vyora mengkhawatirkan keadaan Kevin.
Dengan keringat yang membasahi kemeja putihnya. Kevin tampak mengibaskan kemejanya untuk sekedar mendapatkan angin yang tak seberapa. Kevin sudah mendatangi beberapa perusahaan yang dulunya pernah bekerja sama dengannya. Namun, semuanya menolaknya. Bohong jika ia tak lelah. Mengingat Vyora yang sedang menunggunya di rumah. Rasa lelahnya tiba-tiba hilang.
“Tidak, aku tidak boleh lelah. Aku harus semangat.”
Kevin kembali melangkahkan kakinya penuh semangat. Ia terus menyusuri jalanan untuk mendatangi perusahaan lain. Kevin yakin dari banyaknya perusahaan. Berkat pengalamannya sebelumnya. Pasti ada salah satu perusahaan yang akan menerimanya.
Kali ini Kevin mendatangi perusahaan yang dikelola teman dekatnya. Kevin memasuki perusahaan dengan penuh keyakinan. Kevin terlihat mendatangi resepsionis untuk bertanya.
“Pak Ethannya ada?” tanya Kevin.
“Maaf, apa Anda sebelumnya sudah membuat perjanjian dengan pak Ethan?” tanya resepsionis.
“Aku teman dekatnya. Bisakah kau bertanya padanya jika Kevin Diaskara ingin bertemu dengannya?”
Setelah mempertimbangkannya. Resepsionis itu mengangguk. Melihat itu Kevin bisa bernapas lega. Resepsionis itu segera menyambungkan teleponnya ke sekretaris Ethan.
“Halo! Ada seseorang yang mencari pak Ethan. Dia bilang...”
Resepsionis itu menatapnya. Sepertinya wanita itu lupa namanya. Kevin akhirnya menyebutkan kembali namanya.
“Kevin Diaskara,” ucap Kevin.
Resepsionis itu mengangguk mengerti. “...Kevin Diaskara.”
Tak lama resepsionis itu menutup teleponnya.
“Bagaimana?” tanya Kevin segera.
“Pak Ethan bisa bertemu dengan Anda. Apa Anda sudah tahu ruangan pak Ethan?” tanya resepsionis yang diberinya anggukan.
“Baiklah, kalau begitu Anda bisa langsung pergi ke ruangannya. Nanti akan ada sekretarisnya yang menyambutmu.”
Dengan perasaan senang Kevin melangkahkan kakinya. Saat ini perusahaan Ethan menjadi harapan terbesarnya. Kevin yang telah berteman lama dengan Ethan. Ia yakin Ethan akan menerimanya.
“Silakan.” Saat Kevin baru keluar dari lift. Benar saja sekretaris Ethan langsung menyambutnya.
“Pak Kevin sudah datang,” ujar Sekretaris Ethan yang berbicara dengan Ethan.
“Suruh dia masuk.” Kevin mendengar Ethan yang mempersilahkannya masuk. Merasa kehadirannya yang disambut. Membuat Kevin tersenyum senang.
“Anda bisa masuk.” Kevin tersenyum tulus pada sekretaris Ethan.
Kevin memasuki ruang Ethan. Saat pertama masuk. Ia melihat Ethan yang berdiri menyambutnya.
“Hai, Teman. Sudah lama aku tidak melihatmu. Bagaimana kabarmu? Aku mendengar berita katanya kau baru saja menikah. Aku ucapkan selamat, Teman.”
Seperti biasa seorang pria yang bertemu teman lama. Mereka saling melakukan High Five sebagai penyambutan.
“Terima kasih, Ethan. Seperti yang kau lihat. Aku sedang tidak baik-baik saja,” ucap Kevin.
Ethan tampak mengamati Kevin dengan saksama. “Apa maksudmu, Vin? Duduklah, kau harus menjelaskannya padaku. Apa sebenarnya yang sudah terjadi padamu.”
Ethan membawa Kevin untuk duduk di tempat yang sudah ia sediakan.
“Sekarang, katakan padaku. Apa yang bisa aku bantu,” ujar Ethan.
“Ah, aku hampir lupa. Akan aku suruh sekretarisku membawakanmu kopi.” Ethan yang baru saja akan berdiri di cegahnya.
“Tidak perlu, Than. Lagian aku hanya sebentar saja,” ucap Kevin.
Ethan kembali duduk di tempatnya. “Baiklah.”
Dengan tak enak hati. Kevin harus mengungkapkan tujuannya mendatangi temannya.
“Sebenarnya aku membutuhkan bantuanmu, Than.”
Ethan menatapnya seolah tak mengerti. “Bantuan? Katakan padaku. Apa yang perlu aku bantu.”
“Sebenarnya aku meninggalkan rumah. Keluargaku yang tak pernah merestui hubunganku dengan istriku saat ini. Aku memutuskan meninggalkan semua termasuk menyerahkan kembali fasilitas yang diberikan papa.” Ethan hanya mendengarkannya.
“Karena itu, tujuanku kemari ingin meminta pekerjaan padamu.”
Mendengar itu Ethan mengelus dagunya berpikir. Kevin tampak berharap cemas. Saat ini hanya Ethan menjadi tujuan terakhirnya.
“Sebelumnya aku minta maaf padamu, Vin. Bukannya aku tidak mau memberikan pekerjaan padamu. Tapi, keadaan perusahaan yang tidak baik-baik saja. Aku bahkan harus mengurangi karyawan.”
Lagi-lagi Kevin mendapatkan penolakan. Ia yang merupakan lulusan luar negeri. Dengan pengalaman pekerjaan sebelumnya. Ia pikir itu akan memudahkan mendapatkan pekerjaan. Ternyata semuanya salah.
“Tidak apa, Than. Kalau begitu aku pergi dulu.”
Setelah kepergian Kevin. Tak lama Ethan mendapatkan telepon dari seseorang.
“Tenang, Om David. Semuanya berjalan lancar. Aku pastikan Kevin tidak akan mendapatkan pekerjaan.”
*****
Waktu telah menunjukkan sore hari. Kevin yang tak kunjung kembali membuat Vyora khawatir. Vyora tampak mondar-mandir di luar rumah menunggu kedatangan suaminya.
Saat melihat kehadiran Kevin. Senyum bahagia menyambut kedatangannya. Namun, senyumnya berubah sendu saat menatap keadaan Kevin. Kemejanya yang tadinya rapi. Kini telah berubah menjadi kucel.
Vyora menyambutnya dengan mencium tangannya. “Kau pasti sangat lelah.”
Tak ingin bertanya tentang pekerjaannya terlebih dulu. Vyora mempersilahkan Kevin masuk terlebih dulu.
“Duduklah,” ucap Vyora.
Kevin yang kelelahan hanya menuruti perintah Vyora. Vyora seorang istri yang sangat berbakti. Beruntung sekali ia memiliki Vyora sebagai istrinya. Sungguh orang tuanya akan menyesal telah menyiakan menantu sebaik Vyora.
Vyora melepaskan sepatu Kevin lalu memijat kakinya sejenak. “Kau pasti sangat kelelahan.”
Tiba-tiba air matanya menetes tak tega menatap Kevin yang menderita karenanya. Melihat air mata di pelupuk mata Vyora. Kevin menyeka dengan tangannya.
“Sayang, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu menangisiku,” ucap Kevin.
“Aku tak tega melihatmu menderita seperti ini. Seandainya saja kau masih tinggal dengan keluargamu. Pasti ini semua tidak akan terjadi padamu,” ujar Vyora dengan tangisnya.
“Husst...” Kevin menutup mulut Vyora dengan jari telunjuknya. “...ini sudah menjadi keputusanku. Kita sudah berjanji apa pun yang terjadi kita akan tetap bersama. Jadi, aku mohon jangan salahkan dirimu. Apa kau mengerti?”
Vyora mengangguk mengerti. “Em.”
“Aku akan membawanya ke dalam. Lebih baik sekarang kau mandi setelah itu kita makan malam bersama,” ucap Vyora yang diberi anggukan oleh Kevin.
Setelah Kevin masuk ke dalam kamarnya. Vyora membawa tas dan sepatu kerja Kevin untuk diletakkannya pada tempatnya. Sambil menunggu Kevin selesai mandi. Vyora mempersiapkan untuk makan malamnya.
*****
“Papa!” seru Isaac menyambut kedatangan Axel.
Melihat Isaac yang berlari padanya. Axel segera meletakkan tas kerjanya dan menggendong putranya dalam pelukannya.
“Ada apa? Sepertinya hari ini anak papa sangat senang. Bagaimana dengan sekolahmu?” tanya Axel.
“Semuanya baik-baik saja. Papa tahu? Hari ini ada murid baru yang baru saja pindah ke sekolahanku,” ujar Isaac dengan semangat.
“Benarkah? Apa dia anak laki-laki?”
Isaac menggeleng. “Bukan, Papa. Dia anak perempuan.”
Axel mengangguk berkali-kali mengerti. “Oh... Apa dia anak perempuan yang cantik?”
Dengan malu-malu Isaac mengangguk. Melihat itu Axel tersenyum.
‘Sangat seperti ayahnya. Masih kecil sudah pintar menggoda,’ batinnya.
“Papa, Papa,” panggil Isaac.
“Iya, sayang.”
“Isaac ingin belajar piano, Papa.” Isaac yang tiba-tiba ingin belajar piano membuatnya menatap heran putranya. Isaac dari kecil tak pernah suka bermain musik. Entah kenapa hari ini tiba-tiba Isaac ingin belajar piano.
Tiba-tiba Axel mengingat masa sekolahnya dulu. Terdapat sosok pemuda dengan tubuh gempal dan berkaca mata. Baju yang di masukkan ke dalam celananya dengan sangat rapi. Pemuda itu terlihat mengintip perempuan seusianya yang sedang bermain piano di dalam kelas musik.
Tuts yang di mainkan oleh jari-jemari lentiknya menghasilkan melodi nan indah. Pemuda itu tampak menikmati alunan melodi yang dimainkannya. Tiba-tiba seperti merasakan ada seseorang yang mengintipnya. Perempuan itu menghentikan jari-jemarinya dan menatap ke arah pemuda yang mengintipnya. Ketahuan mengintip. Pemuda itu segera bersembunyi.
“Papa, apa kamu mendengarku?” suara Isaac membuyarkan lamunannya.
“Iya, sayang. Papa mendengarmu,” ujar Axel.
“Apa papa boleh bertanya padamu?” lanjut Axel.
Isaac menatap Axel dengan penuh tanda tanya. “Apa yang ingin Papa Axel tanyakan pada Isaac?”
“Bukankah kamu tidak menyukai musik. Lalu, kenapa tiba-tiba kau ingin belajar piano?”
Isaac tersenyum lebar. “Karena Allea suka bermain piano.”
Kini giliran Axel yang menatap putranya penuh tanda tanya. “Allea? Siapa Allea?”
“Itu, murid baru yang Isaac ceritakan pada papa.”
Axel tak bisa berkata-kata mendengar pengakuan Isaac putranya. Bagaimana bisa anak kecil sepertinya ingin belajar piano hanya agar bisa dekat dengan murid baru itu. Axel hanya menggeleng tak percaya.