Bab 3

1346 Kata
Hari telah berlalu lebih cepat. Keuangannya yang bukannya membaik justru semakin memburuk. Vyora sudah mencoba untuk berhemat sedemikian mungkin. Namun, tetap saja pengeluaran yang dikeluarkannya tetap banyak. Vyora semakin sedih saat membuka tempat penyimpanan beras yang tinggal sedikit. Itu hanya mampu digunakan untuk makan satu orang. Saat Kevin keluar dari kamar mandi. Vyora segera menutupnya kembali. Vyora tak ingin menambah beban beratnya. Kevin yang masih belum mendapatkan pekerjaan. Di tambah beras yang habis. Vyora tak ingin membebani pikirannya. “Ada apa, sayang?” tanya Kevin. “Ti—tidak, tidak ada apa-apa. Lebih baik kau segera bersiap. Aku akan masak untukmu,” ujar Vyora. “Baiklah, aku bersiap-siap dulu.” Setelah kepergian Kevin. Vyora tak bisa lagi menahan tangisnya. Kesedihan menyambut pagi harinya. Dengan beras yang tinggal satu genggaman. Ia memasaknya dengan penuh kesedihan. Vyora sedang menunggu Kevin di meja makan. Tak seperti biasanya. Kali ini Vyora hanya menyiapkan satu hidangan untuk suaminya. Satu piring yang diatas-Nya hanya ada sejumput nasi dan satu telur. “Kau sudah selesai. Makanlah terlebih dulu,” ujar Vyora saat menatap Kevin yang telah berpakaian rapi. Kevin menatap meja makan heran. “Kenapa hanya ada satu hidangan? Lalu, bagaimana denganmu?” Vyora hanya tersenyum hangat. “Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku akan makan nanti. Saat ini aku belum lapar.” Tak mencurigai Vyora. Kevin hanya mengangguk mengerti. “Baiklah.” ***** Hari ini Vyora tidak membuat kue. Semua bahan makanan yang telah habis. Terpaksa ia harus menggunakan uang hasil jualannya untuk membeli bahan makanan. Vyora mendatangi warung tempat biasanya ia menitipkan kue-kuenya. Tidak seperti biasanya yang menitipkan kuenya. Hari ini Vyora datang hanya untuk membeli beras. Setelah menghitung uangnya. Uangnya hanya cukup untuk membeli beras. “Neng, mau nitip kue lagi?” tanya ibu itu. Vyora tersenyum mendapatkan sambutan hangat dari ibu itu sepeeti biasanya. “Tidak, bu. Hari ini libur dulu. Vyora ke sini ingin membeli beras,” ujar Vyora. “Ya, padahal banyak ibu-ibu yang suka kue Neng. Mau beli beras berapa kilo?” tanyanya. “Satu kilo saja, Bu.” Ibu itu mengambilkannya. “Sudah? Tak ingin menambah yang lain?” tanya ibunya. Vyora tampak ragu-ragu. Ibu itu yang bisa membaca situasi. Segera bertanya padanya. “Ada apa? Neng Vyora tak perlu sungkan sama ibu. Jika ada masalah katakan saja. Mungkin Ibu bisa membantu,” ujarnya. Sungguh sangat baik hati ibu ini. Vyora sangat bersyukur memiliki beberapa tetangga yang mengerti dirinya. “Uang Vyora hanya cukup untuk membeli beras saja. Bisakah aku hutang satu kilo telur dulu?” Vyora yang tadinya malu mengatakannya. Terpaksa ia harus tetap mengatakanya. Ibu itu tersenyum hangat. “Tentu saja, Neng Vyora tidak perlu sungkan.” Vyora tersenyum melihat kebaikan Ibu penjaga warung. Sungguh hatinya sebaik malaikat. “Ini Neng,” ucap ibu itu memberikan telurnya padanya. “Terima kasih, Bu. Vyora janji. Saat sudah ada uangnya nanti. Vyora akan segera mengembalikannya,” ucap Vyora. “Neng Vyora tidak perlu khawatir. Ibu percaya kok.” Vyora tersenyum dengan membawa kantong beras dan telur di tangannya. Beruntung Ibu itu mau menolongnya. Kalau tidak, Vyora tak tahu harus makam apa. ***** Saat dalam perjalanan pulang. Tanpa sengaja Vyora melihat selembar kertas yang sengaja di tempelkan di dinding. Vyora membacanya sejenak sebelum akhirnya menyobeknya. Ia segera memasukkan selembar kertas itu ke dalam kantong plastik. Setibanya di rumah. Vyora segera menaruh beras dan telur pada tempatnya. Kertas yang di masukkannya tadi. Vyora mengeluarkannya dan membacanya dengan saksama lagi. “Apa aku mendaftar saja? Gaji yang ditawarkannya lumayan buat memenuhi kebutuhan sehari-hari.” Saat pulang dari warung. Tanpa sengaja Vyora melihat tempelan kertas di dinding yang sedang menawarkan pekerjaan sebagai pianis di sebuah Cafe. Vyora rasa itu bisa menjadi kesempatan. Selain agar ia tetap bisa bermain piano. Ia juga bisa mendapatkan uang dari memainkan piano. Itu ide yang sangat bagus. Saat Kevin datang nanti. Vyora akan meminta izin padanya. ***** Langit telah berubah menjadi gelap. Kevin yang tak kunjung pulang membuat Vyora khawatir. Tak seperti biasanya Kevin belum pulang. Udara malam yang dingin. Vyora memutuskan ingin menunggunya di dalam. Baru saja Vyora melangkahkan kakinya. Ia dapat melihat siluet suaminya. Tapi, entah kenapa Kevin tak seperti biasanya. “Kevin, apa kau mabuk?” tanya Vyora saat melihat Kevin di depannya. “Tidak, aku tidak mabuk, sayang.” Mungkin mulutnya bisa mengatakan tidak. Tapi, dari tingkah lakukannya. Bahkan bau dari mulutnya. Vyora bisa menciumnya. “Kamu mabuk Kevin,” tuduh Vyora penuh kekecewaan. Kevin yang melangkah dengan gontai. Hampir saja ia terjatuh kalau saja Vyora tidak sigap membantunya. “Aku bisa sendiri.” Kevin menghempaskan tangannya. Mendapatkan penolakan dari Kevin. Vyora melepaskan tangannya yang tadinya membantunya memapahnya. Vyora hanya memperhatikan langkah gontainya yang memasuki kamarnya. Melihat Kevin yang telah terbaring asal di atas kasur. Vyora menangis melihatnya. Dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Vyora tetap melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri. Melepaskan sepatu dan dengan perlahan mengganti kemejanya yang telah berbau alkohol. “Kenapa kau jadi seperti ini, Vin.” Setelah selesai melakukan pekerjaannya. Vyora keluar dari kamarnya. Melihat makanan yang telah di masaknya. Itu membuat air matanya menggenang kembali. Vyora terduduk di meja makan mengamati hasil masakannya. Bahkan ia terpaksa harus berhutang. Ia sengaja menyembunyikan masalahnya agar tak semakin membebaninya. Tapi apa yang ia harapkan. Tadinya ia yang berharap bisa saling tukar pikiran. Tapi bukan itu yang terjadi. Justru ia melihat Kevin pulang dengan keadaan mabuk. Vyora menenggelamkan wajahnya di meja makan. Ia menumpahkan semua tangisnya. Vyora tak tahu hari yang mereka jalani seberat ini. ***** Suara keras dan berisik yang di timbulkan dari tuts piano menyambut kedatangan Axel. Semenjak putranya yang ingin bermain piano. Axel langsung membelikan piano berwarna putih nan indah. Namun, tidak dengan suaranya. Suara yang dihasilkannya membuat gendang telinganya ingin pecah. “Siapa yang bermain piano seperti ini?” ucap Axel mencari sumber suara. Mendengar suara ayahnya. Isaac menghentikan permainannya. Ia segera berlari menemui Axel. “Papa!” serunya menyambut kedatangan Axel. “Apa yang sedang kau lakukan, Isaac?” tanyanya. “Isaac sedang memainkan piano yang baru saja papa beli untukku.” Jawaban Isaac membuat Axel mengangguk mengerti. Jadi suara tak beraturan tadi yang memainkannya tak lain adalah putranya. Sungguh sangat ceroboh. “Jadi, itu kau yang memainkannya bocah.” Axel mengatakannya. Isaac menatap Axel dengan cemberut dan bersedekap tangan. “Ada apa?” tanya Axel. “Sudah berapa kali Isaac bilang pada Papa. Isaac sudah besar. Jangan pernah memanggilku bocah lagi.” Mendengar itu Axel tertawa. “Hahahah, baiklah anak Papa yang sudah besar.” “Jadi, apa kau sudah bisa memainkannya?” Axel bertanya pada putranya sambil matanya yang tertuju pada sebuah piano. Isaac menatap piano dan menggeleng sedih. “Tidak, itu sangat rumit, Papa.” “Betulkah? Bukannya anak papa sangat pintar.” “Ini berbeda papa. Bermain piano tak semuda yang Isaac pikirkan. Karena itu Isaac menyukai Allea. Ia anak perempuan pertama yang bisa bermain piano dengan indah.” Tiba-tiba Axel mendapatkan ide. “Kenapa kau tidak mengajaknya ke rumah saja. Nanti kalian bisa memainkan piano bersama.” Mendengar itu Isaac tersenyum senang. “Betulkah?!” Namun, tiba-tiba wajah Isaac berubah sedih. “Tapi, Allea membenciku, Papa.” Axel tak mengerti kenapa gadis kecil itu membenci putra tampannya. “Membencimu? Bagaimana bisa dia membencimu?” tanya Axel. “Dia sangat pendiam, Papa. Karena itu Isaac sering menjahilinya. Tapi, akhir-akhir ini dia menghindariku. Karena aku tidak tahu alasannya menghindariku. Aku bertanya padanya. Dan dia mengatakan langsung padaku kalau dia membenciku.” Isaac yang mengatakannya dengan sedih. Itu membuat Axel gemas. Bagaimana bisa putranya selucu ini. “Lalu, apa yang ingin kau lakukan agar gadis kecil itu tak membencimu lagi?” tanya Axel. “Papa harus mencarikan guru les piano untukku.” “Guru les?” tanya Axel sekali lagi. “Em.” Isaac mengangguk. “Baiklah, papa akan mencarikan guru les untukmu.” “Tapi...” ucap Isaac terpotong. “Tapi apa, Isaac.” “Isaac ingin guru lesnya lebih baik dari Allea,” ucap Isaac. Axel mulai pusing dengan semua permintaan putranya. Axel tak tahu seberapa bagusnya Allea dalam memainkan piano. Hingga membuat putranya begitu kagum padanya. Axel jadi penasaran dengan gadis kecil yang membuat putranya harus mau belajar memainkan piano.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN