Sinar mentari membuat matanya sakit. Kevin terbangun dari tidurnya dengan pusing yang menyerangnya. Ia terlihat memijat kepalanya yang sakit.
“Aw, kepalaku sangat sakit.”
Saat ia ingin beranjak dari kasur. Kevin menemukan obat pengar yang sepertinya sengaja di letakkannya di meja. Ia segera meminumnya sebelum akhirnya keluar mencari Vyora.
Saat ia mencari Vyora istrinya. Vyora terlihat duduk di meja makan. Vyora hanya melamun. Mengingat kejadian semalam. Pasti Vyora sangat kecewa padanya.
“Kau di sini, sayang.” Kevin menyapanya.
Vyora menatapnya. Ini pertama kalinya Kevin mendapatkan tatapan kecewa dari istrinya.
“Kau sudah bangun?” tanyanya tanpa ada senyuman menyambut paginya seperti biasanya.
“Apa kau marah padaku?” tanya Kevin. Bukankannya menjawab, Vyora sengaja berkata lain.
“Aku sudah memasak. Ayo kita sarapan dulu,” ajaknya.
Merasa di abaikan. Kevin merasa tak enak diabaikan seperti ini olehnya. Kevin tahu ia salah. Tapi, lebih baik Vyora memarahinya daripada hanya mendiamkannya.
“Aku tahu kau masih marah kan dengan kejadian tadi malam?” Pertanyaan Kevin membuatnya harus menghentikan aktivitasnya.
Vyora tak ingin pagi harinya di sambut dengan pertengkaran. Karena itu lebih baik ia memilih diam lebih dulu.
“Lebih baik kita sarapan dulu,” ucap Vyora.
“Tidak, aku tidak akan makan sebelum kamu mengatakannya, Vyora.”
Vyora memejamkan matanya sejenak. Ia terlalu capek. Sebenarnya Vyora tak ingin membahasnya. Namun, Kevin yang memulainya. Tak mau tahu akhirnya Vyora mengatakan kata yang tak seharusnya ia katakan.
“Ya, aku marah denganmu. Aku kecewa padamu, Vin. Puas kamu.” Vyora mengatakannya sambil menangis.
Mendengar ungkapan kekecewaannya. Kevin sadar ia sangat bersalah padanya. Tak seharusnya ia melampiaskan masalahnya dengan minum alkohol. Bukan hanya dirinya yang menderita. Tapi Vyora juga.
“Maaf, maafkan aku, Vyora. Aku janji aku tidak akan mengulanginya. Aku khilaf,” ucapnya.
Vyora menghapus air matanya. Menatap Kevin yang terus menunduk menyesal. Vyora kecewa padanya. Tapi, Vyora tak pernah menyalahkannya. Itu pasti sangat berat untuknya hingga harus melampiaskannya ke alkohol. Vyora tak ingin Kevin melakukan kesalahan yang sama. Karena itu Vyora sengaja mendiamkannya agar Kevin mengerti.
Menghembuskan napas berat. “Aku sudah memaafkanmu. Tapi berjanjilah kau tidak akan mengulanginya lagi.”
Mendengar Vyora yang memaafkannya. Senyum mengembang di bibirnya. Tadinya Ia yang terus menunduk. Kini matanya menatap Vyora.
“Ya, aku berjanji.”
“Apa kau sudah minum obat pengarmu?” tanya Vyora. Tanpa mengatakannya Kevin hanya mengangguk.
“Baguslah, sekarang makan makananmu.”
Meskipun pagi harinya sedikit ada pertengkaran kecil. Mereka berdua bisa mengatasinya. Di dalam rumah tangga sudah biasa dengan pertengkaran. Vyora berharap. Nantinya jika pertengkaran itu ada lagi. Ia berharap mereka berdua bisa membicarakannya dengan kepala dingin.
*****
“Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan guru les yang aku inginkan?” tanya Axel pada sekretarisnya.
“Sudah, Pak. Nanti siang saya pastikan ia akan datang ke rumah bapak,” ujar Dona sekretarisnya.
Menatap arlojinya. “Baiklah, Ini sudah waktunya aku menjemput putraku. Jika nanti ada masalah. Segera hubungi aku.”
“Baik, Pak.”
Karena hari ini ada guru les piano putranya yang datang ke rumahnya. Axel sengaja menjemput putranya sendiri. Axel ingin memastikan sendiri jika guru les yang dipilih sekretarisnya itu cocok untuk putranya.
Axel menunggu putranya di dalam mobilnya. Tak membutuhkan waktu lama Isaac terlihat keluar bersama dengan guru pendampingnya. Melihat itu Axel segera keluar menyambutnya.
“Isaac!” Axel memanggilnya.
Melihat kehadiran Axel membuat putranya tersenyum senang.
“Papa!” Isaac berlari ke ayahnya.
“Bukankah papa pernah bilang. Jangan lari nanti kau jatuh.” Mendapat teguran dari ayahnya Isaac hanya menyengir kuda.
“Terima kasih.” Axel tak lupa mengucapkan terima kasih pada guru pendamping putranya. Ia terus mendampingi putranya hingga Axel menjemputnya.
“Sama-sama, Pak. Itu sudah menjadi tugas saya.” Guru itu membalasnya dengan ramah.
Axel menganggukkan kepala sebelum pamit membawa Isaac kembali.
“Ayo, sayang!” seru Axel pada Isaac.
Dalam perjalanan pulang. Axel yang tampak sibuk dengan tabletnya. Tiba-tiba Isaac ingin pergi ke Taman.
“Pa!” seru Isaac sambil terus menarik jasnya.
“Apa sayang?” jawabnya tanpa menoleh ke arah Isaac.
“Aku ingin pergi ke Taman sebentar.”
“Lain kali saja. Hari ini ada guru les yang akan mengajarimu bermain piano,” ucap Axel tetap tak melihat Isaac.
“Hanya sebentar, Papa.”
Axel yang lebih memilih memperhatikan tabletnya daripada Isaac. Isaac yang kesal bersedekap tangan dan cemberut. Isaac yang tadinya berisik hanya diam menatap keluar jendela.
Tak mendengar suara berisik putranya. Axel menatapnya. Ternyata Isaac diam bukan tanpa maksud. Ia diam karena sedang kesal padanya.
“Baiklah, kita akan pergi ke Taman sebentar.”
Isaac yang tadinya cemberut langsung tersenyum lebar mendengar Axel menyetujuinya.
“Yeah... Isaac sa...yang Papa.” Isaac memeluk Axel.
Bagaimana bisa Axel menolak permintaannya. Bocah ini sangat pintar membujuknya. Melihat kelakuan putranya Axel hanya bisa menggeleng.
*****
Pikiran Vyora yang sedang kalut. Ia memutuskan jalan-jalan ke Taman. Ia berharap dengan berjalan-jalan bisa membuat perasaannya menjadi lebih baik. Jujur saja ia masih kecewa dengan perbuatan Kevin.
Saat ia terduduk di sebuah kursi Taman. Tiba-tiba ia mendengar melodi nan indah. Vyora berjalan mengikuti suara melodi yang dimainkannya. Dan benar saja. Suara indah itu tercipta dari piano yang di mainkan seseorang. Sepertinya piano itu sengaja di letakkan di Taman untuk sebuah acara pernikahan.
Vyora menatapnya penuh kekaguman. Pria yang sedang mencoba memainkan pianonya menghentikan permainannya. Pria itu sadar dari tadi Vyora menatapnya.
“Hai! Apa kau ingin memainkannya?” tanya pria itu tiba-tiba.
Vyora tak yakin pria itu berbicara dengannya. Vyora terlihat menatap sekeliling. Tapi tak ada orang lain selain dirinya.
“Aku mengatakannya padamu.” Seperti mengerti akan kebingungannya. Pria itu mengatakannya lagi.
“Aku!” Vyora menunjuk dirinya tak percaya.
“Ya, itu kau. Apa kau bisa memainkannya? Kebetulan hari ini ada acara pernikahan. Untuk itu aku mencobanya. Kalau kau ingin memainkannya. Kau bisa memainkannya. Aku lihat sepertinya kau menyukainya.”
Dengan senyum senang Vyora mengangguk. Sudah sangat lama ia tidak memainkannya. Semenjak menikah. Vyora memutuskan berhenti memainkannya.
“Kau benar aku sangat menyukainya. Seandainya saja aku menerima beasiswa itu. Pasti hari ini aku masih memainkannya,” ucap Vyora penuh penyesalan.
“Beasiswa? Apa itu dari universitas Jerman?” tanya pria itu.
Vyora mengangguk. “Em.”
“Wow, itu luar biasa. Kenapa kau menolaknya. Aku bahkan tiap tahun mencoba mendaftar tapi selalu saja ditolaknya.”
Vyora hanya membalasnya dengan senyuman.
“Kalau begitu aku tinggal dulu. Kau bisa memainkannya.”
“Terima kasih.”
Ini seperti mimpi. Vyora memegang tuts piano dengan hati-hati. Vyora bahkan memperlakukannya dengan lembut seolah-olah takut menggoresnya.
Vyora mulai duduk di sebuah Stool piano. Itu sangat nyaman. Dengan perlahan Vyora mulai menggerakkan jari-jemarinya menyusuri tuts piano. Nada-nada indah dari permainannya membuat semua orang ingin menyaksikan. Vyora yang terhanyut dalam permainannya tanpa sadar banyak orang menyaksikannya.
Di lain tempat Axel dan putranya telah berada di sebuah Taman. Saat ada penjual es krim. Isaac terus menarik tangan Axel untuk membelinya.
“Jadi, kita kemari hanya untuk membeli es krim?” tanya Axel pada putranya yang tak merasa bersalah sedikit pun.
“Em.” Isaac mengangguk. “Allea bilang es krim di Taman sangat enak.”
Allea lagi Allea lagi. Gadis kecil itu menjadi sumber masalah bagi Axel. Axel hanya memutar matanya tak habis pikir dengan kelakuan putranya.
“Baiklah-baiklah, papa akan membelikanmu.”
Setelah melalui adu mulut. Axel akhirnya menyerah. Lagi-lagi putranya yang selalu menang.
“Aku akan menunggu papa di kursi taman itu.” Isaac menarik-narik celananya dan menunjuk sebuah kursi taman. Setelah memikirkannya, akhirnya Axel mengangguk setuju.
Isaac berjalan ke kursi taman. Di usianya lima tahun. Isaac termasuk anak dengan tubuh yang tinggi. Tak perlu bantuan seseorang. Isaac dengan mudahnya telah duduk di atas kursi menunggu ayahnya.
Saat Isaac menunggu ayahnya selesai membeli es krim untuknya. Tiba-tiba anak kecil itu mendengar melodi piano yang dimainkan oleh Vyora. Mengikuti melodi yang melantun dengan indahnya. Isaac berjalan mencari seseorang yang memainkan piano.
Isaac menemukannya. Badannya yang kecil. Membuatnya dengan mudah bisa masuk dalam kerumunan penonton. Gerakan jari-jemarinya yang menari di atas tuts piano mengeluarkan melodi nan indah. Isaac sangat kagum padanya. Setelah melihat Allea yang memainkannya. Jika Allea tahu ada seseorang yang lebih bagus memainkan piano darinya. Allea pasti sangat kesal.
Tepukan gemuruh terdengar saat Vyora menyelesaikan permainannya. Saat selesai memainkannya. Vyora baru sadar banyak orang yang menontonnya. Vyora menunduk dan mengucapkan terima kasih pada penonton yang memberinya apresiasi.
Tiba-tiba ada anak kecil yang tampan menghampirinya. “Kau sangat bagus dalam memainkannya.”
Vyora tersenyum senang menatap anak kecil tampan dan lucu di depannya.
“Terima kasih. Siapa namamu?” tanya Vyora.
“Namaku Isaac.”
“Isaac? Nama yang tampan seperti orangnya.” Vyora mengatakannya dengan nada gemas.
Axel yang telah selesai membeli es krim untuk putranya. Ia segera menghampiri tempat Isaac duduk. Saat ia datang. Isaac sudah tidak ada di kursinya. Axel menjadi kalut saat tak menemukan keberadaan Isaac.
“Isaac, di mana kau?” Axel memanggil nama putranya sambil terus mengedarkan pandangannya sekeliling Taman.
Tak mendapatkan sahutan dari Isaac putranya. Axel mencarinya ke penjuru Taman. Axel terus memanggil nama putranya.
“Isaac, apa kau mendengar Papa?”
Axel terlihat khawatir tak juga menemukan putranya. Tiba-tiba pandangannya berhenti pada siluet seseorang. Axel menemukannya. Putranya sedang berbincang dengan seorang wanita yang tak di kenalnya. Mereka yang membelakanginya membuat Axel kesulitan mengenali wanita asing itu. Tidak dengan Isaac. Axel sang hafal dengan siluet putranya meski ia hanya melihatnya dari belakang.
Axel berjalan mendekati keduanya. Kakinya terus membawanya melangkah maju. Sepertinya wanita itu habis memainkan piano. Karena suara piano yang dimainkannya. Putranya yang penasaran akhirnya mendatanginya.
“Isaac.”