“Isaac.”
Merasakan namanya dipanggil. Isaac yang sedang berbincang dengan Vyora terpaksa menghentikan obrolannya.
“Itu pasti papa yang mencariku,” ucap anak laki itu.
“Kau harus segera kembali. Papamu pasti sangat mengkhawatirkanmu,” ujar Vyora.
“Em.” Isaac hanya mengangguk menurut.
Isaac melihat ke belakang dan benar itu ayahnya. Axel tampak berjalan mendekatinya begitu pula dengan Isaac yang berlari ke arahnya.
“Dari mana saja anak nakal, hmm. Apa kau baru saja menggoda wanita lain?” Axel menyamakan tingginya dengan putranya. Tak lupa menggodanya sambil menggerakkan dagunya menunjuk wanita yang masih terduduk di Stool piano.
“Papa tahu, wanita itu sangat jago dalam memainkan piano,” ucap Isaac dengan antusias.
“Benarkah? Lebih jago mana, wanita itu atau Allea.” Axel semakin menggodanya.
Isaac memberikan tanda dengan jari telunjuknya agar ayahnya mendekat. Axel tak membantah dan menuruti perintah putranya. Axel mendekatkan telinganya.
“Wanita itu lebih jago dari Allea. Tapi, ini hanya rahasia kita berdua. Jika Allea mendengar ini. Pasti Allea akan marah lagi padaku,” bisik Isaac.
Axel yang mendengar itu hanya bisa menggeleng. Putranya sangat nakal.
“Baiklah, sekarang kita pulang. Guru lesmu pasti sudah menunggu di rumah.” Hampir saja Axel melupakannya.
“Pa, tidak bisakah wanita itu saja yang menjadi guru lesku.” Tiba-tiba Isaac merengek dan menunjuk Vyora untuk menjadi guru lesnya.
“Tidak bisa Isaac. Bahkan kau baru mengenalnya. Kita tidak tahu apa dia orang baik atau tidak.” Axel menolaknya.
“Lalu apa bedanya dengan guru les itu. Aku bahkan belum mengenalnya,” ujar Isaac sambil bersedekap tangan yang sudah menjadi ciri khasnya saat kesal.
“Itu beda, sayang. Kalau guru lesmu ini, itu sudah pasti baik. Karena sekretaris Papa sendiri yang memilihkan untukmu.” Axel menjelaskannya.
“Kalau begitu Isaac akan mengenalkan Papa pada wanita itu. Isaac pastikan wanita itu lebih baik. Dan lihat saja. Saat Papa mendengarnya memainkan piano. Pasti Papa langsung jatuh cinta padanya.” Dengan pasrah Axel mengikuti permintaan putranya. Isaac terus menarik jarinya untuk membawanya menemui wanita itu.
Saat ia dan Isaac mulai mendekatinya. Wanita itu sedang menerima panggilan. Ia yang sudah hampir dekat dengannya. Tiba-tiba wanita itu berdiri dari duduknya. Setelah menerima panggilan dengan tergesa-gesa wanita itu segera pergi.
“Tunggu!” seru Isaac memanggil Vyora.
Vyora yang tergesa-gesa tak sempat mendengar panggilan Isaac.
“Yaa, dia sudah pergi. Aku bahkan belum bertanya namanya,” ujar Isaac dengan ekspresi cemberut.
“Sekarang, kita bisa pulang, kan?” tanya Axel pada putranya.
Dengan wajah pasrahnya. “Baiklah.”
*****
Vyora yang masih terduduk di Stool piano. Tiba-tiba ponselnya berdering. Vyora melihat nomor asing sedang memanggilnya.
Tatapannya menyipit. “Nomor siapa ini?”
Vyora yang tadinya ingin mengabaikannya. Tiba-tiba ia teringat Kevin. Takut sesuatu terjadi padanya. Vyora memutuskan menerimanya.
“Halo!” sapa Vyora ragu.
“Ya, Ini saya sendiri. Apa? Saya di terima. Baiklah, sekarang juga saya akan menuju ke sana.” Panggilan di matikan.
Vyora lupa kemarin ia telah mengajukan lamaran di sebuah Cafe sebagai pianis. Ia tak menyangka secepat ini dirinya di terima. Vyora sangat bahagia. Setelah menerima kabar itu. Vyora dengan tergesa-gesa pergi meninggalkan taman.
Isaac masuk ke dalam mobil masih dengan ekspresi cemberutnya. Axel yang melihat itu hanya bisa menggeleng. Ini salah dirinya yang selalu memanjakannya.
“Kau marah sama Papa?” tanya Axel.
Isaac menatapnya sebentar lalu menggeleng.
“Lalu kenapa cemberut, hmm?” ujar Axel.
“Aku kesal, Papa. Seharusnya tadi aku bertanya nama wanita itu. Bodohnya aku tidak menanyakannya.” Isaac menunduk lesu.
“Apa karena kau ingin dia menjadi guru les pianomu?” Dibalas anggukan pelan oleh Isaac.
“Sudahlah, lagian Papa sudah mendapatkan guru les untukmu. Percaya padaku. Mrs. Desi tak kalah bagus dengan wanita itu.” Tak ingin putranya cemberut. Axel mencoba menghiburnya.
*****
“Permisi!” ucap Vyora pada kasir Cafe.
“Ya, ada yang bisa saya bantu,” jawabnya.
“Manajer Cafe, apa ada ya mbak?” tanya Vyora.
“Apa kamu pegawai baru yang akan mengisi sebagai pianis itu?” tanya pegawai kasir yang dijawab anggukan oleh Vyora.
“Mari aku antarkan ke pak Darwin!” seru pegawai kasir itu dengan ramah.
Pegawai kasir itu membawanya ke ruang manajer Cafe. Vyora mengikutinya di belakang.
Tok! Tok!
Pegawai kasir itu mengetuk pintu. Tak lama seseorang di dalamnya mempersilahkan masuk. Setelah kepergian pegawai kasir tadi. Vyora kemudian memasuki ruang itu seorang diri. Di sana terdapat seorang pria yang telah berusia sekitar 40-an. Sepertinya dialah manajer yang di maksud pegawai kasir tadi.
“Apa kau Vyora?” tanya orang tersebut.
“I—iya,” jawab Amora dengan sedikit gugup.
“Silakan duduk,” ucapnya mempersilahkan Vyora duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Pria itu mengulurkan tangan untuk menjabat tangannya. “Perkenalkan saya Darwin. Saya manajer Cafe. Jadi, sudah berapa lama kamu bisa memainkan piano?”
Vyora menjawab semua pertanyaan yang di ajukan manajer tersebut. Dengan pengalaman yang cukup. Manajer itu terlihat puas dengan jawaban Vyora.
“Baiklah, hari ini juga kamu bisa mulai bekerja.”
Mendengar jawaban dari manajer itu membuat Vyora menutup mulutnya tak percaya. Ini seperti mimpi untuknya. Baru kemarin ia mengirim lamaran dan hari ini juga bisa memulai bekerja.
“Apa kamu bisa?” Manajer itu bertanya saat tak juga mendapat respons dari Vyora.
“Bisa, pak. Bisa.” Vyora mengangguk dengan senang.
“Baiklah, kalau begitu kau bisa memulai bekerja.”
“Terima kasih, Pak.” Vyora menjabat tangannya.
Vyora keluar dari ruang manajer dengan senyum yang merekah. Vyora sangat bersyukur di saat keuangannya yang tidak baik-baik saja. Vyora mendapatkan pekerjaan yang sangat ia sukai.
Tak lama pegawai yang mengantarkannya tadi mendatanginya. “Sepertinya pak Darwin menyukaimu. Apa itu benar?”
Vyora mengangguk. “Iya.”
“Siapa namamu?” tanya pegawai wanita itu.
“Aku, Vyora.” Vyora memperkenalkan namanya.
“Namaku, Nina. Mari aku antarkan ke tempatmu.” Vyora mengangguk setuju dan mengikutinya.
*****
Malam telah larut. Tapi Vyora tak kunjung pulang. Kevin mencoba menghubunginya namun hanya suara operator yang menjawab.
Kevin dari tadi terus mondar-mandir ketakutan. Tak seperti biasanya hingga larut malam Vyora tak berada di rumah. Kevin yang capek memutuskan menunggunya di dalam.
Sudah larut malam. Lampu dibiarkan menyala di bagian dapur. Tak lama suara pintu di buka. Kondisi rumah yang remang-remang. Vyora pikir Kevin belum pulang. Vyora tak tahu dari tadi Kevin menatapnya jengkel saat pertama ia membuka pintu.
“Dari mana saja kau?” tanya Kevin dengan amarah yang tertahan.
Vyora menyalahkan lampu. Ia melihat Kevin masih duduk di sofa sambil terus menatapnya. Tatapan Kevin seperti tatapan menahan amarah.
“Kevin? Kau... sudah pulang?” tanya Vyora.
“Dari mana saja kau. Apa karena aku yang kemarin berbuat salah sehingga kau ingin membalasku dengan pulang larut malam?” tanya Kevin yang lebih seperti memarahinya.
Vyora duduk di sofa. “Bukan seperti itu. Aku bisa menjelaskannya.”
“Apa yang perlu kau jelaskan? Aku dari tadi terus menghubungimu dan kau tak mengangkatnya. Sebenarnya dari mana saja kau, Vyora.” Suara Kevin semakin meninggi.
Vyora memegang tangannya dan mencoba menenangkannya. “Tenangkan dirimu. Aku akan menjelaskan.”
Kevin mengibaskan tangannya dengan kasar. Vyora yang tak siap menerimanya, sedikit terdorong ke belakang. Ekspresi Vyora kaget menerima perlakuan kasar Kevin. Ini pertama kalinya Kevin bersikap kasar padanya.
Kevin berdiri dari duduknya dan memarahinya. “Tenang, kau pikir. Mudah sekali kau menyuruhku tenang saat mendapati istrinya pulang larut malam. Sekarang, jelaskan padaku. Pulang selarut ini, kau dari mana saja.”
Vyora memejam matanya sejenak. Vyora harus tenang. Ia tak boleh terpancing emosi. Setelah tenang, Vyora mencoba berbicara.
“Maaf, ponselku baterainya habis. Aku tahu aku salah. Aku minta maaf sudah membuatmu khawatir. Aku baru saja pulang kerja,” jelas Vyora.
Kevin segera menatapnya bertanya-tanya. “Pulang kerja?”
Vyora mengangguk. “Ya, sebenarnya kemarin aku sudah ingin mengatakannya. Tapi, kau tahu sendiri kemarin kita sedang tidak baik-baik saja. Aku sendiri juga tidak menyangka mereka membalas lamaranku begitu cepat. Saat mendapatkan panggilan, aku langsung mendatanginya dan mereka menyuruhku langsung bekerja. Karena ini hari pertamaku kerja. Aku lupa mengecek ponsel hingga tadi waktu pulang aku baru sadar ponselku telah mati. Sekali lagi maafkan aku, Vin.”
“Di mana?” tanya Kevin dengan nada tak marah lagi tapi ekspresinya hanya datar.
“Di sebuah Cafe sebagai pianis,” jawab Vyora.
Kevin hanya mengangguk mengerti. Kevin tak mengatakan apa pun. Kevin bahkan hanya diam saja tanpa ingin mengatakan apa pun.
Tiba-tiba tak lama Kevin mengatakan sesuatu dan pergi meninggalkannya seorang diri. “Baguslah, jika kau mendapatkan pekerjaan.”
Vyora tak tahu itu ungkapan kebahagiaan atau ada maksud lain dari perkataannya. Dari ekspresi yang ditunjukkan Kevin tak ada kebahagiaan sama sekali. Air mata yang ditahannya dari tadi tumpah begitu saja.