Bab 6

1681 Kata
Hari yang sudah pagi. Vyora tampak telah bersiap pergi bekerja. Vyora tersenyum menatap Kevin yang masih terlelap dalam selimutnya. Seakan telah melupakan pertengkaran kecilnya. Vyora dengan hati-hati membangunkannya. “Kevin, bangun. Hari sudah pagi.” Kevin yang merasa tidurnya terusik. Ia sedikit memberontak kesal. Bukannya bangun justru ia tertidur lagi. “Kevin, aku harus segera pergi bekerja. Cepatlah bangun! Bukankah kau akan pergi mencari pekerjaan?” Mendengar istrinya membangunkannya untuk mencari pekerjaan. Perasaannya semakin memburuk. Kevin segera bangun dari tidurnya dan berbicara kasar padanya. “Baiklah-baiklah. Aku bangun, puas.” Kevin bangkit meninggalkannya ke kamar mandi. Vyora hanya bisa menghela nafas melihat perubahan suaminya. Vyora harus bersabar menghadapi perasaannya yang mudah tersinggung. “Aku harus segera pergi bekerja. Aku sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Jangan lupa kau memakannya sebelum pergi,” ujar Vyora pada suaminya yang sedang berada di kamar mandi. “Hmm.” Mendengar jawaban singkat darinya Vyora hanya bisa tersenyum pahit. “Aku pergi,” pamit Vyora yang tak mendapat respon dari suaminya. Vyora menghela nafas berat sebelum akhirnya memutuskan pergi. ***** Vyora berjalan dengan langkah yang berat. Ia berhenti saat telah tiba di halte. Vyora menunggu dengan sabar kedatangan busway. Sambil menunggu kedatangan busway. Tanpa sengaja matanya memandang pemandangan yang sangat di impikan tiap orang. Vyora tampak tersenyum memandangnya. Terdapat sepasang suami istri yang sedang menikmati hari tuanya. Di usianya yang telah memasuki usia lansia. Sepasang suami istri itu tetap terlihat romantis. Bagaimana sang suami yang terus merangkul istrinya dengan sayang. Vyora tampak menghela nafas. Bisakah ia hidup terus berdampingan dengan Kevin hingga hari tua? Bayangan ia yang akhir-akhir ini terus bertengkar. Umur pernikahannya yang baru seumur jagung. Ketakutan kadang merasuki hatinya. Seperti mengerti keadaannya. Wanita lansia itu menatapnya dengan senyum teduhnya. Vyora pun membalasnya dengan senyum hangat. “Hai anak muda. Apa kau akan pergi bekerja?” sapa wanita lansia itu. Vyora tersenyum dan membalas. “Iya, Nek.” Wanita lansia itu mengangguk mengerti. “Kalian akan pergi kemana sepagi ini?” tanya Vyora. Tak lagi wanita lansia yang menjawab. Kali ini pria lansia yang menjawabnya. “Nenek ingin pergi jogging. Karena capek, kita istirahat sebentar di halte,” jawabnya. Vyora tersenyum mendengarnya. Usianya yang sudah tak muda lagi. Tapi, mereka masih semangat olahraga. Kedatangan busway memotong pembicaraan keduaanya. “Ah, buswaynya sudah datang. Padahal aku masih ingin berbicara dengan kalian,” ucap Vyora dengan sendu. “Pergilah anak muda. Rumah kita tak jauh dari sini. Kita pasti bisa bertemu lagi,” ujar wanita lansia itu. Vyora tersenyum dan mengangguk padanya. Ia segera masuk ke dalam busway. Tak lama busway membawanya pergi meninggalkan halte. ***** “Sayang, bangun. Kau harus pergi ke sekolah.” Axel dengan lembut membangunkan putranya. Isaac terbangun mengucek matanya. Isaac segera turun dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi. Semenjak masuk sekolah. Isaac menolak di mandikan. Ia merasa dirinya yang sudah besar tak membutuhkan bantuan orang dewasa. Jika mengingat masa itu. Axel tersenyum. Isaac tumbuh menjadi anak yang pintar. “Papa, apa yang kau lakukan?” ucap Isaac malu saat tiba-tiba Axel masuk ke kamar mandi. Axel tersenyum hangat. “Kau melupakan handukmu.” Isaac mengangguk mengerti. “Berikan padaku dan keluarlah, Papa. Kau membuatku malu.” Axel menertawakannya. “Baiklah, bocah.” Axel semakin tertawa saat di balik pintu kamar mandi. Isaac berteriak marah saat dirinya memanggilnya bocah. “Papa, sudah berapa kali aku bilang. Jangan panggil aku bocah.” ***** Sebelum pergi ke perusahaan. Sudah menjadi rutinitasnya untuk mengantarkan Isaac ke sekolahnya dulu. Meski Axel sangat sibuk. Ia selalu akan menyempatkan waktu kalau itu berkaitan dengan putranya. “Kau sudah siap, Isaac?” tanya Axel pada putranya yang akan berangkat sekolah. “Siap, Papa!” Dengan penuh semangat Isaac memberi hormat pada ayahnya. Semenjak kematian kakaknya. Hidup Axel berubah 360 derajat. Di usianya yang masih muda ia dipaksa harus serba bisa. Berkat kelahiran Isaac. Anak itu menjadi malaikat kecilnya sekaligus penghiburnya. Axel tak tahu jika tak memilikinya. Mungkin hidupnya akan kosong. “Ayo! Kita berangkat sekolah...” Axel membawa Isaac berlari. Keduanya berlari dengan tawa menghiasi paginya. Saat sudah berada di depan rumah. Sopir telah menunggu keduanya. Keduanya masuk ke dalam mobil. Saat dalam perjalanan mengantar Isaac. Mobilnya terjebak lampu lalu lintas membuatnya mau tak mau harus berhenti. Axel yang tampak sibuk dengan benda tipis persegi ditangannya. Tiba-tiba Isaac berteriak dan menggoyangkan tangannya. “Papa, Papa, lihatlah! Itu dia. Itu dia.” Isaac menunjuk ke arah luar jendela mobil. “Sebentar, Isaac. Papa sedang mengecek jadwal meeting,” ujar Axel tak mengindahkan putranya. Tak mau menyerah. Isaac terus menggoyangkan lengannya. “Papa, cepat lihat itu!” Putranya yang masih terus mengganggunya. Akhirnya Axel menyerah dan mengikuti arah yang di maksud putranya. Saat ia menatap ke arah luar. Di sana terdapat busway yang berhenti di samping mobilnya. Namun sayang. Saat ia menatapnya, bersamaan lampu lalu lintas telah berganti. Semua kendaraan telah berjalan seperti biasanya. “Papa tidak lihat apapun,” ucap Axel. Isaac berubah menjadi cemberut dan kesal pada Axel. Axel yang sibuk dengan benda tipis perseginya. Itu membuatnya harus melewatkannya. “Kau marah pada Papa?” tanya Axel saat mendapat tatapan kesal dari Isaac. “Isaac marah pada Papa. Papa terus sibuk dengan benda itu,” ucap Isaac sambil melirik benda yang berada di pangkuan Axel. “Baiklah, Papa tidak akan bermain dengan benda ini lagi. Sekarang katakan. Sebenarnya, apa yang anak Papa lihat?” Axel mematikan benda perseginya dan fokus pada sang putra. “Aku tadi melihat wanita itu duduk di dalam busway,” ucap Isaac dengan semangat. Isaac yang tadinya marah padanya. Saat membahas wanita itu entah kenapa perasaannya menjadi membaik lagi. Sebenarnya siapa wanita itu hingga mampu membuat Isaac begitu menyukainya. Axel sangat tahu putranya. Isaac bukan anak yang mudah dekat dengan orang asing. Tapi kenapa wanita itu bisa cepat mengambil hati putranya. Memangnya sebagus apa wanita itu. Tiba-tiba Axel penasaran dengan wanita yang di maksud putranya. “Mungkin kau salah orang, Sayang.” Isaac menggeleng. “Tidak, Papa. Isaac sangat yakin orang itu wanita yang aku temui di taman.” “Lalu, apa yang kau inginkan?” tanya Axel. “Papa harus mengikuti busway itu. Isaac ingin bertemu dengannya.” Axel tak mengerti dengan jalan pikiran Isaac. Wanita itu hanya orang asing. Untuk apa ia mencarinya. “Untuk apa kau ingin bertemu dengannya?” tanya Axel. “Isaac ingin membawanya pulang. Isaac akan memaksanya mengajari Isaac bermain piano.” Axel hanya memutar bola matanya lelah. Isaac mewarisi sifat keegoisannya. “Sayang, kau sudah memiliki Mrs. Desy. Dia orang yang baik. Apa kau tidak kasihan padanya,” ucap Axel membujuk putranya agar tak lagi meminta mencari wanita itu. “Tidak, aku tidak suka dengan Mrs. Desy. Dia tak sepintar wanita itu.” Bukan Isaac kalau menyerah begitu saja. “Husst, kau tidak boleh mengatakan itu Isaac. Itu tidak sopan. Papa tidak suka kau mengatakan itu pada seseorang yang lebih tua darimu. Apa kau mengerti?” Isaac cemberut namun tetap mengangguk mengerti. “Sekarang, kau harus pergi ke sekolah. Tidak ada kata lagi untuk mencarinya,” ucap Axel tegas. Axel tahu harus bersikap apa pada putranya. Meski ia yang selalu memanjakan Isaac. Namun tak jarang Axel juga bersikap tegas pada putranya jika ia berbuat salah. Saat telah tiba di depan sekolahan putranya. Di sana telah berdiri guru pendamping yang menunggu kedatangan Isaac. Dengan wajah yang tertekuk. Isaac dari tadi hanya terus menunduk dan cemberut saat keluar dari mobil. “Selamat pagi! Tuan Maverick,” sapa guru pendamping Isaac dengan sopan. “Pagi,” balas Axel. “Aku titipkan Isaac padamu.” “Isaac!” seru anak perempuan memanggil Isaac. Suara anak perempuan itu menyela pembicaraan Axel dan guru pendamping Isaac. Isaac yang tadinya masih menunduk kesal. Saat melihat wajah anak perempuan itu. Tiba-tiba wajahnya kembali berseri-seri. Axel rasa anak perempuan itu Allea yang sering Isaac ceritakan padanya. Anak perempuan dengan rambut panjang hitamnya dan poni membuatnya terlihat lucu dan cantik. Sekarang Axel tahu kenapa putranya sangat menyukainya. Sebelum Isaac berlari ke anak perempuan itu. Isaac meminta izin pada guru pendampingnya. “Tuan tidak perlu khawatir. Isaac anak yang pintar. Banyak anak-anak yang suka padanya. Selain pintar, Isaac anak yang ceria,” jelas guru pendamping putranya sambil tersenyum menatap kepergian Isaac bersama teman perempuannya. “Apa anak perempuan itu bernama Allea?” tanya Axel. “Iya, dia Allea. Allea anak pindahan. Bagaimana Tuan bisa tahu?” tanya guru wanita heran. Axel tersenyum. “Isaac sering menceritakannya.” “Kalau begitu, aku akan pergi dulu. Aku akan menjemputnya seperti biasa,” ucap Axel yang pamit pergi. “Baik, Tuan Maverick.” ***** Hari ini Axel ada meeting yang harus ia datangi. Axel sengaja ingin bertemu di luar kantor. Sekarang Axel telah duduk bersama pengolah Cafe. Cafe itu tak terlalu besar namun bisa di bilang cukup mewah. “Terima kasih untuk pertemuan hari ini,” ucap Axel sambil menjabat tangannya. “Seharusnya saya yang berterima kasih. Anda sudah meluangkan waktu datang kemari dan mau mempercayakan Cafe ini pada saya.” “Anda tidak perlu sungkan. Saya sudah melihat hasil kerja Anda sebelumnya. Dengan waktu yang belum lama. Saya akui pengolahan managemen Cafe ini cukup baik,” balas Axel. Axel sengaja hari ini meeting di sebuah Cafe yang sekarang telah berpindah tangan menjadi miliknya. Selain bosan meeting di dalam perusahaan. Axel juga ingin mengecek secara langsung Cafe miliknya. Ia bermaksud ingin memperlebar lagi Cafe miliknya. “Apa Anda akan kembali sekarang?” tanya manager yang telah mengurus Cafe miliknya. “Ya, Saya harus segera kembali,” ucap Axel. “Sayang sekali, padahal sebentar lagi ada penampilan pianist baru dari Cafe kita. Dia sangat lihai dalam memainkan piano. Tuan Maverick pasti menyukainya,” ucapnya. “Pianist baru? Jadi, kalian sudah menemukan pianist barunya?!” tanya Axel. “Ya, itu dia.” Mata Axel memandang ke arah pandang manager Cafe. Disana sudah terdapat wanita yang duduk di Stool piano. Wanita itu memainkan tuts piano dengan lihai. Melodi yang dimainkannya terdengar sangat indah. Semua mata pengunjung seakan di hipnotis olehnya. Suara melodi mengalun begitu indahnya memenuhi Cafe. Axel memandangnya tak percaya. Seseorang yang Ia pikir telah pergi jauh berada di dekatnya. Kenapa ia baru mengetahuinya? Mulutnya menggumamkan sesuatu yang hanya mampu didengarnya. “Vyora?!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN