Bab 8. Pesan Mertua

1300 Kata
Selamat membaca! Setelah makan bersama, semuanya kini berkumpul di ruang keluarga. Di sana, Nilam dan Dina terlihat begitu akrab seperti sudah saling mengenal lama. Sementara Viola, selesai bercengkrama dengan mereka, gadis cantik itu kini tengah bersama sang ayah. Ya, Bimo sejak kecil memang sangat memanjakan putri semata wayangnya hingga rasanya sulit melepas Viola meski pernikahan muda sang putri memang sudah ia rencanakan sebelumnya. Namun, melihat sikap Devan saat makan bersama tadi, entah kenapa Bimo jadi merasa curiga jika pria itu terpaksa menikahi putrinya. "Vi, kamu harus jadi istri yang baik buat Nak Devan. Patuhi suami kamu dan kalau sampai dia nyakitin kamu, kamu harus bilang sama Ayah, ya!" Viola yang tengah menyeruput segelas lemon tea pun dibuat tersedak karena perkataan itu. "Ayah kok ngomong gitu. Bukannya Mas Devan itu laki-laki pilihan Ayah buat jadi suami aku? Jadi, Ayah enggak usah mikir aneh-aneh, ya!" Bimo pun tersenyum. Membenarkan apa yang Viola katakan. "Ya, tadinya Ayah yakin, cuma Ayah kok ngerasa Nak Devan itu kaya terpaksa nikahin kamu, ya?" Viola coba menutupi rasa kagetnya. Membuang sejenak pandangannya sebelum kembali melihat sang ayah. "Enggaklah, Yah. Kami saling cinta kok, apalagi kan Ayah tahu, Mas Devan itu dosen di kampus aku yang dulu. Jadi, aku tuh udah lama kenal Mas Devan." Bimo tampak menghela napas. Coba menepikan rasa cemas yang mungkin saja terlalu berlebihan dalam pikirannya. "Syukurlah kalau begitu. Pokoknya, selama kalian saling mencintai, pasti rumah tangga akan langgeng." "Ayah doain aja buat pernikahan aku ini. Aku tahu Ayah tuh khawatir sama aku karena aku nikah muda, tapi kan ini juga keinginan Ayah. Sekarang Ayah tenang aja, aku berani jamin kalau Mas Devan nggak akan pernah nyakitin aku. Jadi, Ayah nggak perlu mikir aneh-aneh, ya!" Viola tersenyum. Menatap sang ayah dengan rasa bersalah karena menyembunyikan alasan di balik pernikahannya dengan Devan. Bukan karena Devan mencintainya, tetapi karena terpaksa menuruti keinginannya demi menjaga rahasia besar sang dosen. "Ayah pasti doain kalian." Walaupun masih ragu, Bimo coba percaya dan tak lagi bertanya pada Viola. Ia tahu betul watak putrinya yang paling tidak suka jika terus ditanya-tanya, apalagi kalau ada pertanyaan yang menyudutkannya. "Yah, aku ke Mas Devan dulu, ya." Viola mencari alasan agar tak lagi ada di dekat Bimo. Bukan karena tidak ingin, tetapi Viola tidak mau jika nantinya ia akan terus membohongi sang ayah jika pria paruh baya itu terus bertanya seputar Devan dan pernikahannya. "Maafin aku ya, Yah. Viola tahu sebenarnya Viola nggak boleh bohong sama Ayah, tapi Viola rasa ini pilihan tepat yang harus Viola jalani. Viola tuh udah terlanjur jatuh cinta sama Pak Devan. Jadi, walau dia sempat menghilang tanpa kabar, begitu Viola ketemu lagi sama Pak Devan, perasaan itu tetap ada dan ternyata masih sama kaya dulu." Sambil bicara dengan dirinya sendiri, Viola semakin melangkah jauh dari Bimo. Meninggalkan pria paruh baya itu yang masih terus menatapnya. Ya, sang ayah terlihat memperhatikan dari tempatnya duduk. Di tengah keterdiamannya, Dina tiba-tiba datang. Menghampiri Bimo sambil mengusap bahu suaminya yang tampak sendu. Kesedihan yang tentu saja bisa dengan mudah dibaca oleh Dina. "Kamu kenapa? Kok sedih gitu?" Dina menyapa Bimo yang seketika mengalihkan pandangannya dari Viola, lalu menatap wajah istrinya dengan senyuman. "Nggak apa-apa, Bu. Aku cuma sedih aja karena harus pisah sama Viola secepat ini." "Kamu harusnya senang dong, Pak. Bukankah impian kamu sama sahabat kamu bisa terwujud dengan pernikahan ini. Terus, kenapa kamu harus sedih?" "Iya, Ibu bener, Bapak tuh harusnya bahagia ya bukan sedih kaya gini." Bimo mulai memaksakan senyuman terulas. Kembali melihat Viola yang saat ini sudah bersama Devan di depan sana. Pria paruh baya itu pun berniat akan bicara lagi dengan Devan. Sekadar mengingatkan sang menantu untuk lebih menjaga putri kesayangannya. *** Tak terasa hari telah berganti malam dengan begitu cepat. Kini Viola sudah berada di dalam kamar. Gadis cantik itu langsung mengganti pakaian untuk bersiap tidur. Viola mengenakan hot pants dan juga tank top berwarna putih. Stelan yang memang selalu ia kenakan saat di rumah. "Duh, badan gue pegel-pegel semuanya nih. Mana besok tetap harus masuk kampus lagi." Saat Viola baru saja naik ke atas ranjang, pintu kamar terbuka dan sosok Devan terlihat masuk dengan raut wajah yang kusut seperti banyak pikiran. "Eh, ngapain kamu tidur di situ?" Devan langsung bertanya dengan suara yang agak tinggi saat melihat Viola akan masuk ke dalam selimut. "Terus tidur di mana, Sayang? Eh ... maaf, maksudnya, Pak?" "Saya tidak sedang bercanda! Kamu harus ingat! Mungkin kalau di rumah, kamu boleh aja salah panggil, tapi kalau di kampus, jangan pernah kamu ngelakuin itu!" tegas Devan, raut wajah pria itu tampak begitu marah hingga membuat Viola yang sama sekali tak pernah diperlakukan seperti itu jadi merasa sedih. "Baik, Pak. Maaf ...." Viola yang tahu kesalahannya pun langsung beranjak dari atas ranjang. Gadis dengan wajah sendu itu mulai melangkah sambil membawa sebuah bantal dalam dekapannya. "Akhirnya, kamu sadar juga. Lagi pula ini kan kamar saya, kamu tidur di sofa itu aja!" Devan melangkah pergi menuju kamar mandi. Meninggalkan Viola yang mulai membaringkan tubuhnya di atas sofa dan meletakkan bantal yang dibawanya untuk jadi sandaran kepala. "Kenapa ya gue ngerasa sedih banget dibentak Pak Devan?" Seketika Viola jadi teringat akan pesan sang ayah. Namun, tentu saja gadis itu tak berniat mengadukan permasalahan tersebut karena mau bagaimanapun, Devan adalah pilihannya. Pilihan yang harus ia terima sekalipun rasa sakitnya begitu menusuk hati. "Lo harus kuat, Vi. Yakin deh, suatu saat Pak Devan pasti akan jatuh cinta sama lo." Viola coba meyakinkan diri sambil menekan dadanya. Menguatkan hati, walau rasa sakit hampir membuatnya menangis. Setelah merasa lebih kuat, tiba-tiba terbesit sebuah ide dalam pikirannya. Ide yang harus Viola lakukan karena ia merasa tak boleh lemah dalam menghadapi Devan yang tadi sudah membentaknya. "Gue punya ide." Viola bangkit dari posisi duduknya sambil mengulas senyum. "Buat dapatin hati Pak Devan, gue enggak boleh cengeng. Fighting, Vi!" *** Butuh waktu hampir dua puluh menit, Devan menyelesaikan aktivitas mandinya. Kini pria tampan itu baru saja keluar dengan handuk yang masih tersampir pada pundaknya. "Seger juga ya kalau udah mandi." Devan yang baru saja mengatakan itu tiba-tiba terkejut saat melihat keberadaan Viola sudah tertidur di atas ranjang tanpa mengenakan selimut. Membuat lekuk tubuh gadis itu tampak seksi di mata Devan. "Ya ampun, ini kenapa Viola jadi tidur di sini? Bukannya tadi dia udah pindah ke sofa. Mana dia ganti baju pake baju seksi lagi ... jangan-jangan dia sengaja begini ...." Devan yang setelah mandi ingin segera tidur, mulai merasa kesal. Namun, saat tangannya hendak mengguncangkan tubuh Viola dengan kasar, tiba-tiba perkataan Bimo terlintas dalam pikirannya. "Bapak minta tolong jaga Viola! Perlakukan dia dengan baik dan bahagiakan dia selalu. Kalau kamu sampe berani nyakitin dia, Bapak nggak akan pernah maafin kamu!" Seketika gerakan tangan Devan terhenti. Mengingat apa yang sebelumnya ia lakukan dan itu sudah melanggar janji yang sempat ia katakan pada Bimo, walau dengan terpaksa. "Berarti tadi gue salah karena udah bentak Viola." Devan begitu menyesal karena tak bisa mengontrol diri. "Kalau gitu, itung-itung gue nebus kesalahan gue, malam ini gue ngalah, biar gue yang tidur di sofa." Pria itu pun membungkuk, masih menatap seluruh tubuh Viola yang entah kenapa membuat bulu kuduknya meremang. Entah karena suhu ruangan yang kian terasa dingin atau hasrat dalam diri Devan mulai membuncah tatkala melihat pemandangan penuh hasrat di depan matanya. "Bahaya, kalau lama-lama gue ngelihat Viola, bisa-bisa nanti gue khilaf." Tanpa berlama-lama, Devan pun langsung menyelimuti tubuh seksi Viola dengan perlahan. "Maafin saya ya, Vi. Maaf karena tadi saya sempat bentak-bentak kamu." Wajah Devan tepat berada di atas wajah Viola. Saat ini, gadis itu masih memejamkan kedua mata meski sebenarnya ia hanya pura-pura tertidur. "Yes, rencana gue berhasil. Ternyata Pak Devan itu emang perhatian sama gue. Ya ... mungkin gue cuma perlu sabar aja biar bisa bikin dia jatuh cinta sama gue," batin Viola penuh kemenangan. Rasanya, ia ingin melompat kegirangan. Namun, Viola tak ingin sandiwaranya sampai ketahuan lagi seperti siang tadi. Bersambung ✍️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN