Selamat membaca!
"Bangun!" Suara teriakan itu membuat Viola terperanjat. Gadis itu pun seketika duduk. Melihat sosok Devan yang sudah rapi dengan mengenakan pakaian formal. Dan, hanya melihat penampilannya saja Viola sudah tahu jika saat ini gadis itu kesiangan untuk pergi ke kampus.
"Ya Allah, jam berapa ini, Pak?" Sambil mengusap kedua mata, pandangan Viola langsung tertuju pada jam dinding yang ada di sisi kirinya. "Jam 8?" Tanpa berkata apa-apa lagi, Viola bangkit dari posisi duduknya. Bergegas menuju kamar mandi meninggalkan Devan yang hanya melihatnya dengan sinis.
"10 menit, ya! Kalau lebih dari itu, saya akan tinggalin kamu."
Tanpa menjawab, Viola pun melengos masuk ke dalam kamar mandi sambil menggerutu kesal, "10 menit, emang mandi bebek apa? Ish, Viola, Viola, kenapa sih kebiasaan banget suka kesiangan?" keluh gadis itu merutuki kebiasaan buruknya.
"Ayo, cepat! Jalanan nanti macet! Seandainya aja nggak ada orang tua kita, saya pasti udah ninggalin kamu." Terdengar suara Devan dari luar kamar mandi. Membuat Viola semakin mempercepat gerakan mandinya hingga tak lama kemudian, tepatnya lima menit, kini gadis itu sudah menyelesaikan semua aktivitas mandinya.
"Ya ampun, gue lupa bawa handuk." Viola diam sejenak di ambang pintu yang sudah dibukanya. Kepalanya lebih dulu keluar. Mencari keberadaan Devan yang tak lagi terdengar suaranya. "Di mana dia? Apa dia nungguin gue di bawah?" Tak ingin membuat Devan semakin marah, Viola pun keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan handuk dengan tubuh yang masih basah mengucurkan air. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat pintu kamar terbuka dan sosok Devan masuk dengan kedua mata yang langsung tertuju padanya.
"Ya ampun, Vi!" Devan spontan saja langsung berbalik. Membuang pandangannya agar tak lagi melihat yang sudah sempat dilihatnya. Tubuh polos itu memang tak bisa membuat juniornya bangkit seperti laki-laki normal pada umumnya, tetapi dia masih bisa merasakan sedikit denyutan di sana dan itu sama rasanya saat kemarin Viola menggodanya.
"Pak Devan, masuk kamar tuh ketuk pintu dulu kali." Viola memarahi Devan masih dalam pose menutup bagian d**a dengan sebelah tangan dan sebelah tangan menutup bagian vital pada tubuhnya.
"Lah, ini kamar saya, kenapa juga saya mesti ketuk pintu? Kamu tuh yang salah, kenapa nggak pake handuk dan malah keluar telanjang begitu? Apa kamu sengaja mau godain saya lagi? Kamu tuh ya, dari kemarin apa kamu nggak bisa bersikap seperti wanita yang punya harga diri kalau di depan saya."
Viola tersentak. Hatinya bergetar. Rasanya menyakitkan hingga dadanya terasa sesak. Sejenak gadis itu berpikir jika rasanya mustahil bisa bertahan menjadi istri Devan. Seorang pria yang sama sekali tak pernah memikirkan perasaannya. Namun, itu hanya berlangsung sesaat. Ya, Viola kembali ingat dengan tekadnya. Tekad di mana ia akan bertahan dalam hubungan itu sampai Devan bisa mencintainya. Dan, sampai saat itu tiba, ia harus kuat, tak boleh lemah. Bukankah semua itu sudah jadi keputusannya? Itu artinya, seberapa pun pahitnya harus ia tanggung sendiri.
Tak ingin Devan tahu kesedihannya, gadis itu kembali mengangkat kepala. Melihat Devan yang masih membelakanginya. "Pak, bisa nggak sih, kalau punya mulut dijaga. Kenapa ya, Bapak itu kalau ngomong julid banget? Lebih julid dari ibu-ibu komplek kalau lagi nyinyir. Pokoknya, Lambe Turah tuh kalah dah."
"Kamu bilang saya apa?" Merasa kesal, Devan memutar tubuhnya lagi menghadap Viola. Kini, kedua matanya kembali melihat indahnya tubuh polos Viola tanpa sehelai benang pun. "Viola, cepat ambil handuk dan pakai, tutupi badan kamu!"
Viola diam sejenak. Tersenyum penuh kemenangan sambil menatap Devan, lalu menggoda Devan dengan mengedipkan sebelah matanya. "Nggak mau, ah ... maaf saya buru-buru." Gadis itu melenggang santai. Membiarkan tubuh polosnya bisa dilihat oleh Devan yang terlihat semakin kesal karena ulahnya.
"Dasar keras kepala." Devan mau tak mau menutup mata, walau lagi-lagi ia sempat melihat tubuh gadis yang sebenarnya sudah halal untuk dilihatnya.
***
Sepanjang perjalanan Devan terus saja menggerutu karena ia sudah terlambat datang ke kampus. Menunggu Viola nyatanya sudah membuang banyak waktunya.
"Ini semua gara-gara kamu. Kalau kamu nggak kesiangan harusnya saya nggak akan terlambat. Kalau gini, saya nggak enak sama pak Gunawan, apalagi ini pertama kalinya saya terlambat."
"Ya, lagian Bapak tuh aneh, orang baru nikah bukannya cuti kerja malah udah masuk kampus aja."
"Kamu lupa ya kalau mereka nggak akan pernah tahu kita menikah? Pokoknya kamu harus ingat! Jangan sampe ada yang tahu pernikahan kita, termasuk Tari sekalipun!" Pertanyaan itu seketika menyadarkan Viola untuk tidak bermimpi terlalu jauh. Mimpi agar diakui menjadi istri Devan, dosen di kampusnya.
"Kamu kenapa diam?" sambung Devan ketus saat melihat Viola tak menanggapi pertanyaannya.
"Nggak apa-apa, Pak. Iya, ya, Bapak tenang aja, saya bisa kok jaga rahasia kita."
Baru selesai mengatakan itu, tiba-tiba Devan menghentikan laju mobilnya jauh dari kampus yang menjadi tujuan mereka.
"Lho, kenapa berhenti di sini, Pak?"
"Kamu turun di sini karena nggak mungkin kalau kita ke kampus bareng."
"Tapi, Pak ...."
"Enggak ada tapi, tapian. Cepat, Viola! Saya udah terlambat buat ngajar, jam pertama saya di kelas udah lewat 10 menit."
"Tapi, kan, yang terlambat bukan Bapak aja, saya juga, Pak."
"Itu bukan urusan saya."
"Maju dikit lagi, Pak!" Viola masih enggan keluar dari mobil. Coba menawar karena ia merasa jarak dari tempat Devan menghentikan mobilnya menuju kampus masih lumayan jauh jika harus ditempuh jalan kaki.
"Nggak ada tawar-menawar, di sini tempat paling aman. Kalau saya maju ke depan lagi, di depan sana itu jalan utama ke kampus, bisa-bisa nanti ada yang ngenalin mobil saya dan ngelihat kamu pas keluar dari mobil saya. Cepat keluar, Vi!" Devan menunjuk jalan yang ada di ujung depan sana sambil melihat Viola dengan sorot mata yang tajam.
Saat itu, Devan tampak begitu menyebalkan di mata Viola. Entah kenapa di dalam hatinya ada sedikit penyesalan karena sudah menikah dengan pria yang nyatanya teramat dingin padanya.
"Dasar, dosen killer! Bahkan sama istrinya sendiri aja bisa setega ini." Viola menggerutu dengan suara yang pelan. Tentu saja ia tidak ingin jika Devan sampai mendengar apa yang dikatakannya.
"Kamu ngomong apa, Vi?"
"Enggak apa-apa, itu tadi ada kucing lewat sambil melet-melet." Viola menutup pintu dengan keras, lalu melangkah pergi begitu saja.
"Pelan-pelan dong, Vi! Emangnya kamu pikir mobil saya angkot?" teriak Devan yang tak digubris sama sekali oleh Viola, walau sebenarnya gadis itu mendengar keluhan sang dosen.
"Bodo amat ... ish, nyebelin banget deh, mana panas lagi. Makin kurus deh gue jalan sejauh ini." Viola terus melangkah di bawah terik matahari yang seketika terasa menyengat di kulitnya.
Tak lama kemudian, mobil Devan pun melintas, melewatinya dan pria yang ada di dalamnya tak menoleh sedikit pun padanya.
"Kenapa sih gue bisa begitu bodoh cinta sama cowok yang kayanya mustahil buat jatuh cinta sama gue? Awas aja, nanti Bapak pasti nyesel kalau cinta gue pindah ke cowok lain."
"Awas!" Suara itu tiba-tiba terdengar dari belakang tubuhnya. Suara dari seorang pria yang tiba-tiba datang dan menarik lengan Viola hingga menahan langkah kakinya yang hendak menyebrang jalan.
"Hei, kalau mau nyebrang hati-hati, ya!" Pria itu melepas kedua tangannya saat tubuh Viola sempat masuk dalam dekapannya dan hampir saja terjatuh.
Sementara itu, Viola masih terdiam. Mematung tanpa berkedip memandangi wajah pria yang ada di depannya itu. "Ganteng banget ...." Viola memuji dalam hati. Masih nyaman ada di dekat pria itu.
Dan, ternyata kejadian itu tak luput dari perhatian Devan yang sudah tiba di depan gerbang kampus. "Apa mereka sudah saling kenal sebelumnya?"
Di saat Devan masih terus memperhatikan Viola, tiba-tiba suara klakson mobil terdengar keras dari belakang. Ya, melihat Viola membuat pria itu seketika menghentikan mobilnya hingga menghalangi mobil lainnya yang ingin masuk kampus. Devan pun melajukan kembali mobilnya, tak lagi melihat Viola yang terlihat masih bicara dengan Arya.
Bersambung ✍️