bc

A Prince For Rented

book_age18+
29
IKUTI
1K
BACA
mystery
city
like
intro-logo
Uraian

Nada Fajria Salsabila tidak pernah menyangka bahwa kaburnya dia ke Bali karena menghindari perjodohan dengan seorang Kakek, justru membawanya pada bonus seratus ribu dolar hasil menjual sebuah properti jutaan dolar. Namun ketika menelpon orangtuanya, Nada justru dipaska pulang dan segera menikah, membuatnya asal bicara kalau dia sudah memiliki calon suami.

Jika saja masa lalu sudah tidak membayangi Nada, mungkin tidak sesulit itu untuk mendapat seorang lelaki. Sampai sahabtnya Vanesha, yang memiliki imajinasi terlalu liar, mengusulkan Nada mencari seorang lelaki untuk disewa. Dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, lelaki itu hafus import, produk luar.

Dan siapa sangka, satu-satunya lelaki yang masuk semua kriteria dan menyetuji semua syarat-syarat tertulis adalah seorang pangeran dari UEA yang keluarganya menguasai salah satu Emirat paling kaya.

Alden Caecar Al Arkhan, tidak pernah tertarik dengan kekuasaan. Dia berniat menyerahan tahtanya pada sang Adik Tiri. Tapi ternyata keputusan itu membuat wanita yang dari kecil dicintainya berpaling. Wanita itu memilih menikah dengan Kalven, adiknya demi menjadi istri sang penguasa. Dan seorang wanita putus asa yang ditemuinya dalam pelarian memberikannya ide balas dendam paling baik. Di hari penobatan adiknya menjadi Raja, Alden kembali bersama Nada yang telah menjadi istrinya, dan siap menerima tahta yang sebelumnya dia tolak.

"Kamu gila ya, Cha?! Dia bisa dapet banyak uang dengan jadi model atau simpenan tante-tante! Atau dengan wajah itu, langkahnya bakalan mudah jalan apapun yang dia ambil. Mana mau dia repot-repot pura-pura nikah demi duit!"

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG
 Bonus seratus ribu dolar sudah di tangan! Nada tidak pernah menyangka jika dia bisa mendapatkan uang sebanyak ini! Tapi Tuhan memang memiliki caranya sendiri untuk mengubah nasib umatnya. Siapa yang sangka, kaburnya dia ke Bali menjadi jalannya meraih seratus ribu dolar, atau setara dengan satu miliar tiga ratus juta rupiah jika mengikuti harga dolar saat ini.    Tapi sayang, bukannya membagi kesenangan itu pada keluarganya, malah untuk kesekian kalinya dia bertengkar dengan bapaknya.    Dia tertegun, menatap ponsel yang beberapa saat lalu jadi alat komunikasi dengan bapaknya. Dia menelpon untuk membagikan kabar yang sepertinya tidak dapat dipercaya ini, tapi belum sempat dia memberikan kabar baik itu, Bapak langsung mendampratnya dengan serangkaian omelan yang memanaskan telinga.    “Nada! Ngapain ngelamun aja? Kamu udah telpon orangtuamu?” Vanesha, teman satu kostnya, masuk ke dalam kamar, dan langsung duduk di sisinya, di pinggir tempat tidur.    “Cha... aku dalam masalah!”    Temannya itu mengerutkan kening. “Masalah apa lagi?”    “Kamu tau kan aku ke Bali untuk kabur dari perjodohan yang Bapak atur?”    “Dan wajar kamu kabur, kalau lelaki yang mau dijodohkan sama kamu itu lelaki tua bangka!”    “Waktu itu aku udah 27 tahun, Cha, dan tinggal di kampung. Bukan perkara mudah denger omongan orang kampung kalau anak perawan mereka belum laku, belum menikah juga. Aku ngerti itu, tapi aku tidak bisa menuruti perkataan Bapak. Tadi, waktu aku telpon untuk kasih kabar kalau aku dapat bonus besar, Bapak marah-marah. Ada tetangga lagi yang ngomong kalau aku gak laku karena orangtuanya yang nggak bener. Aku udah cerita kan, Cha, kalau dulu Bapak itu pemabuk dan penjudi?”    “Tapi kan bapakmu udah lama nggak kayak gitu.”    “Iya, tapi kadang perbuatan buruk seseorang itu lebih diingat dari pada perbuatan baik.”    “Lalu, apa masalahnya kali ini?”    “Aku kesal dengan omelan-omelan Bapak, terlebih dengan omongan-omongan orang tentang Bapak. Aku... aku bilang... kalau aku udah punya calon suami, dan bulan depan akan pulang bersamanya….”    “Apa?!”    Nada menghela nafas frustasi. “Aku tau itu konyol, Cha! Gimana bisa pulang bawa calon suami kalau calon pacar aja gak punya!” Nada menangkup kepalanya karena frustasi.    Echa berdiri mulai berjalan mondar-mandir di dalam kostan petak seluas 5x5 meter itu. Khas Echa kalau lagi berpikir. “Kamu harus mulai cari pacar dari sekarang.”    “Satu bulan, Cha! Cari pacar sih mungkin, tapi kalau calon suami? Bapak pasti sudah sesumbar ke tetangga, kalaung gak lama lagi aku akan nikah.”    “Kamu gila ya, Nada? Gimana bisa...”    “Makanya... aku bilang aku dalam masalah!” Nada mengerutkan wajahnya, setengah bingung, setengah lagi meminta pertolongan. Echa hanya bisa menghela nafas.    Lama mereka terdiam, berkutat dalam pikiran masing-masing. Nada memang kurang beruntung, pikir Echa pahit, lahir di keluarga awam yang berpikir jika perempuan lahir hanya untuk dapur, sumur, dan kasur. Tapi lebih tidak beruntung lagi karena seluruh warga desanya berpikiran yang sama. Dijodohkan dengan Bapak Haji Tua yang waktu itu sudah dua tahun ditinggal mati oleh istrinya, membuat Nada berontak dan kabur. Echa menampungnya di sini, di kostnya di daerah Jimbaran, Bali. Membantunya mencari pekerjaan, dan setelah dua tahun berjalan, keberuntungan menimpanya ketika berhasil menjual sebuah properti jutaan dolar.    “Aku ada ide!” ujar Echa tiba-tiba, mengagetkan Nada yang sedang tertegun. “Tapi, ini membutuhkan modal yang tidak sedikit.”    Nada mengerutkan keningnya. Modal? “Katakan, apa idemu?”    “Kamu sedang di Bali, Nada! Di sini banyak bule muda yang kere. Bagaimana jika... kau menyewa mereka untuk kamu bawa pulang dan menikah denganmu!”    “Apa sih maksudmu?”    “Beri mereka sepuluh ribu dolar untuk kamu bawa pulang. Menikah dan tinggal denganmu selama satu bulan. Bapakmu pernah bilang kan, jika lebih baik menikah lalu bercerai, dari pada melihatmu menjadi perawan tua. Kamu bisa membuat kekhawatiran orangtuamu hilang, membuat dirimu terbebas dari Pak Haji tua yang sampai saat ini masih setia menunggumu, bisa membungkam mulut orang-orang dengan membawa seorang bule ganteng. Semua masalahmu bisa selesai, Sayang!” Untuk sesaat, Nada kehilangan kata-katanya, dia hanya membuka mulut tak percaya. “Aku tau kalau kamu seorang penulis, Cha. Dan idemu ini bagus sekali... untuk bahan tulisanmu selanjutnya. Sekarang, mulailah menulis. Aku yakin cerita ini akan jadi best seller, melangkahi novel-novelmu yang lainnya!” katanya setelah berhasil pulih dari keterkejutannya. Echa itu benar-benar…. “Jangan sarkartis begitu.” Echa kembali duduk di sisi Nada. “Pikirkan baik-baik, kamu bisa bilang jika suamimu harus kembali pulang ke negaranya untuk bekerja. Lalu, kamu bisa bilang jika uang yang kamu punya sekarang ini adalah pemberian suamimu. Seandainyapun suamimu tidak lagi kembali, orang-orang tidak akan membicarakanmu lagi, karena tidak penting orangnya ada atau tidak, tapi uangnya yang ternyata bisa membuat kehidupan keluargamu jadi jauh lebih baik. Setelah beberapa lama, kamu bisa bilang jika suamimu meninggal karena kecelakaan, dan kamu bisa berpura-pura pergi ke negara suamimu untuk beberapa lama. Selesailah sudah. Semua masalahmu teratasi, kan?” Nada tertegun, mencoba mencerna setiap ide-ide gila temannya. Tapi bagaimanapun dia memikirkannya, itu terasa tidak masuk di akal. “Kenapa harus orang bule? Kamu tau bahasa Inggris-ku tidak begitu bagus. Walau dua tahun di Bali membuatku bisa berkomunikasi pada turis cukup baik, tapi tidak sebaik itu. Kenapa tidak orang Indonesia saja? Lebih mudah.” “Pemikiramu salah! Jika kamu bersama dengan orang Indonesia, kamu sulit membuat alasan jika pada akhirnya suamimu tidak kembali. Lagi pula kita ambil amannya saja, ada kemungkinan orang itu akan memerasmu jika dia tamak. Pikirkan, jika bule, dia tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk memerasmu. Dia bahkan tidak bisa berkomunikasi dengan keluargamu.” Echa mungkin benar. Tapi perkara ini tidak semudah ucapan Echa pastinya. Bagaimana dia mencari lelaki yang sempurna, yang bisa menjadi jawaban atas setiap do’a-nya? “Aku harus memikirkannya dulu.” “Pikirkanlah, tapi waktu kita tidak banyak. Kita harus mencari lelaki yang tepat untuk misi ini, dan itu tidak akan mudah.” Echa meraih tangan temannya. “Aku akan selalu ada di dekatmu untuk membantu. Lagi pula, ini pasti menyenangkan! Biasanya, aku memikirkan adegan untuk tokoh-tokoh novelku. Sekarang, aku bisa memikirkan adegan untuk dirimu yang lebih nyata.” Echa tersenyum, dan Nada memukul pundaknya gemas. “Berbahagialah di atas penderitaan temanmu…” Echa mengaduh dengan cara berlebihan, sebelum mereka akhirnya tertawa bersama. Entah apa yang lebih lucu. Mungkin, kenyataan tidak ada wanita yang mempunyai pikiran seperti Echa, atau kenyataan jika tidak ada wanita yang semalang Nada.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.3K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K
bc

Pacar Pura-pura Bu Dokter

read
3.1K
bc

Desahan Sang Biduan

read
54.1K
bc

Silakan Menikah Lagi, Mas!

read
13.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook