Pemuda dengan helai rambut yang tidak lagi berwarna hitam itu menatap Chairey dengan tatapan bengong dan seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Zen mengerjapkan matanya perlahan dan belum juga menjawab ucapan Chairey, sementara Rei yang mendengar hanya sibuk menahan tawanya sebisa mungkin. "Apa?" Zen mengulangi pertanyaannya pada Chairey. Pemuda kikuk itu tidak yakin dengan apa yang ia dengar. Chairey yang berdiri di hadapannya kini tampak memasang wajah sebal dan mulai menarik-narik wajah Zen dengan jari-jari kurusnya. "Masa aku harus ulangi ucapanku? Zen ini menyebalkan sekali, aku bahkan sudah menahan malu mengucapkannya satu kali di depan Zen," sungut Chairey dengan kening berkerutnya. Chairey melepaskan jari-jarinya dari wajah Zen dan melipat tangannya di depan d**a. Berdi

