6. Surat Terakhir Dari Ibu

3145 Kata
        Langit biru menjulang tinggi menghiasi cakrawala. Matahari mulai menampakan cahayanya. Sengat matahari terasa di kulit Rena saat Melati membuka gorden jendela kamarnya. Perlahan dia membuka matanya. Rena langsung beranjak dari tempat tidur Melati. "Selamat pagi Rena," sapa Melati ramah sambil mengelus rambut Rena. "Pagi tante," balas Rena sambil tersenyum. "Kita turun ke bawah yuk sayang! sarapan pagi sama Bunda dan Ayah," ucap Melati. Sontak membuat Rena kaget dan terdiam dengan panggilan itu. Rena hanya tersenyum canggung. Karena Rena belum siap untuk menjadi anak angkatnya Melati, meskipun dia sahabat almarhum Ibunya. "Rena kenapa diam? Kamu belum mau jadi anak angkat tante, ya sayang?" tanya Melati sendu. Melati sangat berharap kalau Rena mau menjadi anak angkatnya. Terlebih, sudah sembilan belas tahun dia tidak memiliki anak. Kalau pun ia mempunyai anak pasti anaknya seumuran dengan Rena sekarang yang berumur 19 tahun. "Emh ... ti..tidak apa-apa kok tante," jawab Rena canggung. "Yasudah Rena, tante tidak akan memaksa. Tapi tante sangat berharap kalau kamu jadi anak tante sayang dan memanggil tante dengan sebutan Bunda," ucap Melati dengan meneteskan air matanya. Rena langsung memeluk Melati karena tidak tega melihatnya menangis. Melati begitu baik kepadanya. Dia sudah mengizinkan Rena tinggal di rumahnya. "Nah lho, tante cengeng ya sayang? Hehehe ... udahan ah nangisnya! Sekarang kamu mandi habis itu turun ke bawah! Kita sarapan pagi, tante udah siapin makanan spesial buat kamu," ucap Melati sambil melepas pelukan Rena dan memegang kedua pipi Rena. Rena hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian Melati turun ke bawah meninggalkan Rena. Dan Rena pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi. ※※※         Selesai mandi, Rena langsung turun ke bawah menemui Melati dan Rafa. Rafa sudah mengenakan jas dokternya sedangkan Melati masih mengenakan ghamis beserta hijab syar'i. Sementara Rena ia mengenakan kaos lengan panjang beserta celana jeans dan rambut di kuncir.        Seketika hati Melati iba kepada Rena yang belum bisa mengenakan hijab, ia ingin Rena mengenakan hijab syar'i seperti dirinya. Rena sangat cantik apalagi kalau memakai hijab gumam Melati di dalam hatinya.  Ia langsung menghampiri Rena dan mengajaknya untuk duduk serta sarapan pagi bersamanya.      Setelah itu Rena duduk di sebelah Melati. Rafa mulai memimpin doa makan, kemudian mereka mulai melahap makanan. Sarapan pagi bersama Melati dan Rafa, jadi teringat Ayah dan Ibunya dulu. Semasa ia menginjak di bangku SMA. Rena selalu sarapan pagi dengan kedua orangtuanya, akan tetapi sekarang semuanya sudah sirna. Tidak ada sarapan pagi bersama apalagi sekarang Rena membenci Ayahnya.        Melati yang melihat Rena terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu dia pun memegang pundak Rena dan menyadarkan Rena dari lamunannya. "Sayang kamu kenapa? Tidak enak ya masakan tante?" tanya Melati. "Eh ... enak kok tante," Rena kembali menyuap satu sendok nasi ke dalam mulutnya. Melati hanya tersenyum melihat Rena makan.         Jam tangan yang melingkar di tangan Rafa sudah menunjukan pukul 08.00 WIB ia pun bergegas untuk berangkat ke rumah sakit. Melati langsung menyalami tangan Rafa, kemudian Rafa mencium kening Melati. Melihat pemandangan itu seketika hati Rena sakit, dia teringat lagi dengan kebiasaan Ayahnya dulu sebelum berangkat ke kantor selalu mencium kening Ibunya.       Kemudian Rafa menghampiri Rena dan mengelus puncak kepala Rena, "Rena! Om berangkat kerja dulu ya ... titip tante Melati," Rena hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia menyalami punggung tangan Rafa.       Rena mengikuti Melati yang mengantarkan Rafa samapai masuk ke dalam mobilnya. Setelah mobil itu berlalu pergi, mereka kembali masuk ke dalam rumah. Melati mengajak Rena untuk duduk di ruang keluarga, Rena pun menuruti titahnya.       Sesampainya di ruang keluarga, Melati mengajukan beberapa pertanyaan seputar Rena. Dia ingin lebih tahu tentang Rena. "Sayang, boleh tante bertanya beberapa hal?" tanya Melati mengawali pembicaraan. "Boleh kok tante," jawab Rena. "Kamu cantik, tapi akan lebih cantik jika memakai hijab. Bukannya almarhumah Ibu kamu memakai hijab? Kenapa kamu tidak?" "Emh ... Rena belum mau memakai hijab tante," "Tante harap semoga suatu saat nanti kamu memakai hijab ya sayang, besok tante akan mengajak kamu ke acara pengajian. Kamu ikut ya!"          Seketika Rena terdiam, dia memikirkan bagaimana ia mengikuti acara pengajian sedangkan dirinya sama sekali belum pernah mengikutinya. Terlebih mendengarkan ceramah, yang ada telinganya panas. Mendengar ceramah dari Adnan saja dia enggan apalagi dari seorang ustadz atau ustadzah dia pasti tidak kuat. Apalagi memakai kerudung berjam-jam pasti yang ada gerah. Rena tidak bisa membayangkan itu semua. "Bagaimana Rena, kamu mau ikut kan?" tanya Melati lagi. "I..iya tante aku ikut, tapi aku ajak sahabat aku Kayla, tidak apa-apakan?" "Boleh kok sayang, sekalian perkenalkan sahabat kamu itu ya!" Rena pun mengangguk.        Rena akhirnya memilih ikut, walaupun dia enggan ikut pengajian. Tapi dia ingin membahagiakan hati Melati. Bagaimana pun Melati sudah sangat baik kepadanya.      Rena melihat jam dinding sudah menunjukan pukul 09.00 WIB seketika ia teringat dengan kuliahnya. Tapi kalau aku lanjut kuliah siapa yang akan membiayai kuliahku? Terus yang menjaga tante Melati di rumah siapa? pikir Rena. "Rena, kamu kenapa?" tanya Melati. "A..aku mau kuliah tante," Rena pun berkata jujur. "Masyaallah kenapa baru bilang sekarang sayang? kamu mau daftar kuliah apa sudah kuliah?" "Aku sudah kuliah sekarang semester tiga Tante, tapi ..." Rena menggantungkan kalimatnya. "Tapi kenapa? Apa ada masalah sama biaya perkuliahan kamu?" tanya Melati seolah mengerti perasaan Rena. Rena pun mendongakkan kepalanya. "Ti..tidak tante, soal biaya kuliah Rena bisa membiayai sendiri, akan tetapi sehabis pulang kuliah Rena akan bekerja di kafe sampai malam. Tante, ti..tidak apa-apa kalau di rumah sendirian?" "Jadi kamu membiayai kuliah kamu dari hasil kerja di kafe?" Rena pun mengangguk. Melati tidak habis pikir kalau Andi ayah Rena tidak memikirkan anaknya itu, "Terus ayah kamu tidak membiayai perkuliahan kamu?" Rena pun menggelengkan kepalanya. "Sekarang kita pergi ke kampus kamu yuk! kamu mau kuliah kan sayang? Tante yang akan mengantar kamu pergi kuliah," "Ta..tapi tante tidak apa-apa di rumah sendirian kalau aku pulangnya malam gimana?" "Tidak apa-apa kok sayang, asal sepulang kamu kerja, pulangnya ke rumah tante ya," "Siap tante, makasih ya." Rena langsung memeluk Melati karena sangking senangnya di beri izin untuk kuliah dan kerja. "Sama-sama sayang, sekarang kamu siap-siap ya! Tante tunggu di ruang tamu!" seru Melati. Rena langsung bergegas ke kamarnya yang berada di atas. Sedangkan Melati dia menyiapkan mobilnya untuk mengantarkan Rena.       Setelah semuanya sudah siap. Rena langsung memasuki mobil Melati. Dia duduk di sebelah Melati. Melati yang mengendarai mobilnya, sebenarnya Rena juga bisa mengendarai mobil akan tetapi saat Rena menawarkan dirinya untuk mengendarai mobil itu Melati menolaknya. Rena pun menuruti titah Melati. ※※※      Hanya membutukan waktu dua puluh menit untuk sampai ke kampus Rena. Mereka pun sekarang sudah sampai. Rena langsung turun dari mobil Melati begitupun Melati. Teman-teman Rena yang melihat Rena turun dari mobil mewah itu terbelalak kaget, termasuk Dewi. Sementara Kayla yang melihat seseorang turun dari mobil mewah itu adalah sahabatnya dia mengerjapkan matanya berkali-kali. Kemudian Kayla langsung berlari menghampiri Rena. "Renaaaa!" ucap Kayla antusias sambil memeluk Rena. "Lepasin Kay, malu tau!" Kayla pun melepaskan pelukannya. "Semalem kamu kemana saja Ren? gak bisa dihubungi. Aku kira sekarang kamu gak akan kuliah," "Ekhem," deheman Melati membuat Rena tersadar kalau dirinya belum memperkenalkan Melati kepada Kayla. "Oh, iya Kay aku lupa! Kenalkan ini tante aku Tante Melati sahabat almarhumah Ibuku," ucap Rena memperkenalkan Kayla kepada Melati.         Kayla langsung menyalami punggung tangan Melati dan memperkenalkan dirinya. Melati sangat tertarik dengan Kayla yang berpakaian syar'i seperti dirinya. Dia mulai berencana meminta Kayla untuk menyuruh Rena mengenakan hijab. Mungkin dengan sahabatnya, Rena mau berhijab. "Kayla, kamu besok ikut ke pengajian di kompleks perumahan tante ya bareng Rena," ucap Melati mebuat Kayla menantap ke arah Rena. Masa iya Rena mau ikut ke pengajian?  Dengerin ceramah kak Adnan aja enggan apalagi ceramah ustadz? Sebenarnya ada apa sih? Wah ada yang gak beres nih! pikir Kayla. "Kayla mau kok tante, ya kan Kay?" ucap Rena sambil tersenyum dan melirik Kayla. "Eh... I..iya tante, Kayla akan ikut," "Oh ya Kay, tante minta kamu ajari Rena untuk memakai hijab dan berpakaian syar'i seperti kamu ya," ucap Melati sontak membut Rena kaget. Sementara Kayla hanya tertawa kecil. "Tante, Rena itu keras kepala. Aku udah beberapa kali nyuruh dia pake hijab tapi dia gak mau tan, gimana dong?" ucap Kayla terkekeh. Lantas Rena mencubit lengan Kayla.         Pikiran Melati ternyata salah, sahabat dekatnya juga tidak bisa mengajak Rena untuk memakai hijab. Dia berharap besok setelah ikut pengajian, semoga Rena mau berhijrah dan memakai hijab. "Yasudah Kay, tidak apa-apa. Nanti juga Rena pasti hatinya luluh dan mau berhijab," ucap Melati. "Aamiin..." Kayla pun mengaminkan doa Melati. Sementara Rena hanya mampu tersenyum.         Rena dan Kayla pun memasuki kelasnya. Sementara Melati dia pergi ke ruang bagian registrasi Mahasiswa untuk membiayai kuliah Rena tanpa sepengetahuan Rena. ※※※      Melati mulai memasuki ruangan bagian registrasi Mahasiswa yakni mengunjungi pegawai yang mengelola keuangan Mahasiswa tersebut. Pegawai tersebut menyambut Melati ramah dan mempersilahkannya duduk. "Ada yang bisa saya bantu bu?" tanya pegawai itu yang tak lain seorang perempuan. "Saya ingin melunasi biaya kuliah anak saya," "Atas nama siapa bu?" "Renata Putri Marcelia," pegawai itu mulai membuka daftar penerimaan uang SOP atau SPP. "Biaya kuliah Renata sudah lunas Ibu. Baru saja tadi Ayahnya kesini melunasi biaya kuliah Rena sampai lulus wisuda nanti," ucap pegawai keuangan itu, sontak membuat Melati kaget. Ternyata Andi masih peduli dengan Rena. Melati pun pamit pergi kepada pegawai itu, dan hendak mencari keberadaan Andi di kampus ini. Ia ingin bertemu dengannya. ※※※       Melati menemukan sosok Andi di koridor kampus. Dia segera mempercepat langkahnya. Dan memanggil nama Andi. Lantas Andi berhenti dan menengok ke arah Melati. Andi sontak kaget, karena sudah lama dia tidak bertemu dengan Melati. Akhirnya sekarang ia bertemu kembali dengan sahabat baik almarhumah istrinya. "Melati ... Kau?" "Iya! Aku Melati sahabat Almira!" "Ngapain kamu di kampus ini, apa sodara kamu kuliah di sini?" "Bukan tapi anak angkatku!" "A..anak angkat? Kamu punya anak angkat? Siapa?" "Renata Putri Marcelia, dia anak angkatku dari putri sahabatku Almira!" "Tidak Melati. Dia anak kandungku, aku masih menganggapnya anakku," "Kalau kau masih menganggap dia anak! Kenapa kau menelantarkan Rena? Bahkan kau menikah lagi disaat istrimu meninggal belum satu hari. Ayah macam apa kau?" Melati mulai emosi. Sebisa mungkin ia menahan amarahnya.        Saat Andi hendak menjelaskan semuanya, tiba-tiba handphone nya berdering. Dia mendapatkan telepon dari manajernya untuk segera ke kantor. Andi sekarang sudah menjabat kembali sebagai Direktur, akan tetapi dia menjadi seorang Direktur dari perusahaan istri barunya yaitu Sinta. Sinta mempercayakan perusahaan kepada Andi. "Maaf Melati, aku harus pergi. Di lain waktu aku akan menjelaskan semuanya kepada kamu. Titip Putriku," ucap Andi. Ia pun berlalu pergi meninggalkan Melati. Begitupun Melati dia memilih untuk pulang. ※※※          Rena sedang berada di taman kampus bersama Kayla duduk di atas gazebo. Kayla meminta Rena untuk menjelaskan kenapa dia bisa bertemu dengan tante Melati. Karena Kayla terus-menerus memaksanya untuk bercerita. Rena pun menceritakan semuanya dari mulai ia diusir dari kontrakannya sampai tinggal bersama Melati dan Melati memintanya untuk menjadi anak angkatnya. "Oh, jadi begitu Ren. Menurut aku sih,  kenapa gak terima aja tante Melati sebagai Bunda kamu. Toh dia sangat baik sama kamu Ren, bahkan dia sangat perhatian dengan urusan akhiratmu Ren," ucap Kayla setelah mendengar penjelasan Rena. Rena mengernyit bingung. "Urusan akhirat? Memangnya tante Melati perhatian dengan urusan akhiratku?" ucap Rena bingung. "Masyaallah Rena, kamu belum paham? Gini ya Ren, tadi kan tante Melati menyuruhku untuk mengajarkanmu berkerudung dan berpakaian syar'i selain itu juga besok dia akan mengajakmu ke acara pengajian. Kamu tau maksud itu semua apa?" tanya Kayla. Rena hanya menggelengkan kepalanya. "Maksud dari itu semua yaitu tante Melati ingin kamu berhijrah Ren, supaya kamu lebih dekat dengan Allah. Dengan kamu berpakaian syar'i, lantas kamu menutup aurat kamu. Dan itu salah satu syarat untuk masuk surga Ren! Surganya Allah tidak akan menerima perempuan yang tidak menutup auratnya. Karena menutup aurat itu sudah kewajiban kita sebagai muslimah, dan soal tante Melati mengajak kamu ke pengajian yaitu supaya wawasan dan ilmu pengetahuan kamu mengenai agama islam luas Rena. Selain itu kamu bisa mengambil sisi positif dari acara pengajian itu. Beruntung banget kamu Ren, bisa menjadi anak angkat tante Melati. Urusan dunia kamu saja dia peduli apalagi urusan akhirat dia sangat peduli. Itu tandanya tante Melati sayang sama kamu Ren, dan dia ingin hidup bersamamu baik di dunia maupun akhirat kelak." jelas Kayla panjang lebar. Sementara Rena ia mencoba mencerna perkataan Kayla.        Niat hati Rena besok ikut ke pengajian bersama Melati dan ia mengajak Kayla supaya Kayla dapat membantu misinya itu yaitu kabur pada saat acara pengajian berlangsung tapi Kayla nampaknya ia tidak akan mau melakukan misinya itu. "Aku tahu akal busuk kamu Ren!" ucap Kayla seolah mengerti pikiran Rena. Lantas Rena memalingkan wajahnya. Itu anak punya indra ke enam kali ya? Tahu banget isi pikiran aku! gumam Rena di dalam hatinya. "Mana mungkin dengan gampangnya kamu ikut acara pengajian, dengerin ceramah kak Adnan aja risi. Apalagi ceramah dari ustadz beneran ya kan? Kamu pasti punya rencana kan?" ucap Kayla sambil mencolek hidung mancung Rena. "Hem ... Iya deh iya aku punya rencana. Tapi rencananya udah gagal toh pasti kamu gak akan bantu aku Kay!" "Rencana apa memangnya?" "Kabur dari acara pengajian!" ucap Rena membuat Kayla tertawa,"Memangnya ada yang lucu ya?" lanjut Rena. "Rencana kamu konyol tau, mana bisa aku kabur dari acara pengajian itu yang ada aku seneng Ren. Kalau kabur dari diskotik baru aku setuju," ucap Kayla terkekeh geli. Rena hanya mendengus kesal dan mencubit pipi Kayla. ※※※        Langit malam serta taburan bintang-bintang menghiasi malam ini dengan cahaya rembulan yang memancarkan cahaya keindahannya.        Waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB. Rena dan Kayla baru selesai bekerja di kafe. Mereka pun bergegas untuk pulang. Kali ini Kayla mengantarkan Rena pulang dengan menaiki motor kesayangan Kayla. Tentunya pulang ke rumah Melati. Kayla ingin mengetahui tempat tinggal Melati. Setelah sampai di depan gerbang rumah Melati. Kayla terbelalak kaget melihat rumah Melati yang sangat megah. Namun bagi Rena, rumah Melati tidak sebanding dengan rumahnya dulu. Bila dibandingkan dengan rumah Rena dulu yang sekarang menjadi rumah Adinda tentu lebih megah rumah Rena. Akan tetapi, Kayla belum mengetahu rumah Rena dulu. Kayla hanya mengetahui rumah kontrakan Rena saja. "Masyaallah Ren, ini rumah apa istana?" ucap Kayla. "Istana Kay! Ya rumah lah!" jawab Rena. "Dari luar saja bagus, apalagi dalamnya pasti lebih bagus," puji Kayla lagi. Rena pun memaklumi Kayla, karena rumah Kayla hanya sederhana tidak mewah dan megah seperti ini.           Melati yang mendengar sepeda motor berhenti di depan rumahnya. Lantas ia membuka pintu rumah pasti Rena sudah pulang. Tebakannya benar, Rena sudah pulang. Sedari tadi dia menunggu kedatangan Rena dan suaminya. Akan tetapi suaminya, untuk malam ini dia tidak bisa pulang karena ada jadwal operasi. Ia pun langsung menghampiri Rena dan Kayla. "Rena kamu sudah selesai sayang kerjanya?" ucap Melati sambil mengelus rambut Rena. "Sudah tante," ucap Rena sambil tersenyum. "Sayang kok kamu bisa pulang bareng Kayla? Kamu yang nyuruh Kayla buat anterin pulang ya? Kenapa gak telepon tante saja?" tanya Melati. "Maaf tan, Kayla juga bekerja di kafe bareng Rena. Jadi Kayla yang mengantar Rena pulang, karena Kay ingin tahu rumah tante," jawab Kayla. "Kalau begitu kita masuk yuk, nak Kay!" ajak Melati. "Em ... Maaf tante. Kebetulan sudah malam, Kayla pamit pulang saja. Takutnya Ibu nyariin. Inshaallah besok setelah acara pengajian Kayla main di sini," "Yasudah nak Kayla, makasih ya udah mau mengantarkan Rena pulang!" "Iya tante sama-sama, Kayla pamit ya. Assalamualaikum," Kayla langsung menyalami punggung tangan Melati. "Waalaikumsalam," jawab Melati dan Rena serempak. Setelah Kayla pergi. Rena dan Melati pun masuk ke dalam rumah. ※※※        Malam ini hujan deras kembali turun. Rena teringat dengan Ibunya. Sesak di d**a kembali ia rasakan. Hujan disaat malam seakan membawa rindu. Rindu kepada Ibunya. Seakan-akan hujan tak kunjung reda. Seperti luka yang ia rasakan. Meskipun menemukan sosok pengganti Ibu yang baik seperti Melati, akan tetapi Rena belum bisa mengikhlaskan kepergian Ibunya.      Seketika pikiran Rena teringat dengan amplop surat yang tergeletak di kamar rumah kontrakannya itu. Dia langsung membuka tas nya dan mencari amplop itu. Akhirnya amplop itu dapat ditemukan. Dia langsung membuka amplop itu dan ternyata berisi sebuah surat. Lantas dia membukanya dan membacanya. Dia membaca surat itu dengan membekam mulutnya sambil terisak menangis. Ternyata surat itu surat terakhir dari Ibunya. Assalamualaikum wr. wb. Renata Putri Marcelia. Putri kesayangan Ibu sama Ayah. Jika surat ini berada di tangan kamu dan kamu membacanya berarti Ibu sudah pergi nak. Pergi meninggalkanmu untuk selamanya. Ibu minta sama kamu, jika Ibu pergi. Kamu jangan bersedih. Ibu percaya kamu anak yang kuat. Tersenyumlah sayang. Ibu akan lebih senang dan tenang jika kamu tersenyum bahagia. Rena sayang, ketahuilah nak. Ibu sangat sayang padamu begitupun dengan Ayah. Ibu yakin Ayah masih sayang padamu, meskipun kini ia tidak peduli denganmu. Tapi Ibu tahu, dibalik itu semua Ayahmu masih peduli padamu nak. Rena, berbaktilah kepada Ayah nak. Jangan pernah membenci Ayah. Jaga Ayah selama Ibu pergi. Ayah membutuhkanmu nak, meskipun dia mempunyai istri baru tapi Ibu yakin Ayah membutuhkanmu untuk berada di sampingnya. Sayang, maafkan Ibu tidak bisa membahagiakanmu. Maafkan Ibu, tidak bisa membelamu disaat Ayah kamu memarahi kamu. Ibu yakin suatu saat nanti kamu akan hidup bahagia nak. Ibu teringat di kala kamu kecil, kamu selalu tersenyum bahagia dan ceria. Kamu tidak pernah cengeng, kamu selalu kuat. Dan Ibu percaya, bahwa kamu akan menemukan kebahagiaan kamu.     Bersabarlah sayang, dekatkan dirimu kepada Allah swt. Ibu minta sama kamu, tolong kamu cari tante Melati. Tinggalah bersamanya nak, dia pasti menyayangimu. Dia akan membawamu untuk mendekatkan dirimu kepada Allah. Belajarlah dengannya untuk berhijrah menjadi sosok muslimah yang baik. Ibu berharap setelah kamu bertemu dengan tante Melati, kamu mau jadi anaknya. Karena dia tidak memiliki anak. Ibu sangat sayang kepadanya, turuti semua permintaan tante Melati jika kamu sanggup dan tidak melarang aturan Allah. Sayang,  Ibu mau kamu untuk berhijrah menjadi sosok muslimah yang senantiasa bidadari-bidadari surga iri melihatmu dengan kecantikan akhlakmu. Ibu tidak memaksamu untuk memakai kerudung, tapi Ibu minta perlahan-lahan kamu coba memakai kerudung dan tutuplah aurat kamu. Karena Ibu sayang padamu. Betapa pun gelapnya hidupmu, sesungguhnya kesempatan untuk menjadi lebih baik dan lebih berbahagia selalu ada di dekatmu. Kamu tidak harus menunggu tahun berganti untuk jadi pribadi yang lebih baik. Kamu memiliki kemampuan untuk berubah, kapanpun kamu mau! Tidak pernah ada kata terlalu terlambat untuk memulai. Tangisilah harapan yang tak kau perjuangkan. Ambil pelajaran dari masa lalu, tinggalkan sisanya. Jangan biarkan belenggu kesedihan menutup jalanmu menuju masa depan. Hati akan menemukan kedamaiannya saat kita mampu memaafkan. Jadilah pribadi yang anggun diatas ketulusan. Ibu sangat menyangimu nak, sungguh sangat menyayangimu. Wassalamualaikum wr. wb. Almira.           Rena menangis tersedu-sedu setelah membaca surat dari Ibunya. Dia akan menuruti amanat Ibunya yaitu menjadi anak angkat Melati. Dan memakai kerudung dia akan mencobanya. Akan tetapi soal Ayahnya, entah dia belum bisa memaafkan kesalahan Ayahnya. Maafkan aku Ibu, Rena belum bisa memaafkan Ayah. Tapi Rena janji, Rena akan menjadi anak angkat tante Melati dan Rena akan mencoba memakai kerudung. ucap Rena di dalam hatinya. Kemudian Rena mengambil pena dan menuliskan puisi untuk Ibunya di secarik kertas surat itu sambil menangis. Tak ada sutera yang begitu lembut seperti belaian seorang Ibu Tak ada tempat yang paling nyaman selain pengakuan seorang Ibu Tak ada bunga yang lebih cantik selain senyuman Ibu Tak ada jalan yang berbunga-bunga seperti yang tercetak oleh langkah Ibu Ibu engkau adalah alasanku Kenapa aku ada di sini. _Aku Rindu Ayah_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN