Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran yang kamu jalani, yang akan membuatmu terpana. Sehingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit.
~Ali bin Abi Thalib~
Angin malam menerpa wajah cantik Rena. Namun mata indah nya sembab, sedari tadi dia terus menangis. Hatinya seakan teriris. Malam ini malam yang menyesakkan untuknya. Rena menengadahkan wajahnya ke atas menatap langit-langit ruangan rumah sakit. Dia sedang duduk di kursi penunggu di depan ruangan ICU.
Rena yang membawa Ibunya ke rumah sakit, dengan bantuan dari Pak RT menaiki mobil Pak RT. Tetangga Rena melihat Rena menangis sebegitu jadinya di rumahnya, lalu mereka menawarkan bantuan kepada Pak RT untuk membawa Ibunya ke rumah sakit dengan menaiki mobil Pak RT. Kini Pak RT bersama tetangga yang mengantarkan Rena sudah kembali pulang, tinggal hanya dia seorang diri.
Sudah kurang lebih dua jam Rena menunggu Ibunya yang sedang tidak sadarkan diri di ruangan ICU. Dia semakin khawatir, dia benar-benar takut jika Ibunya pergi meninggalkan Rena. Karena dia akan hidup seorang diri, Ayahnya sudah tidak peduli lagi padanya.
Dokter yang menangani Ibunya akhirnya keluar, Rena langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri dokter itu. Melihat muka dokter itu terdiam, Rena bingung sekaligus dia takut, dia tidak ingin sesuatu terjadi pada Ibunya.
"Ba..bagaimana keadaan Ibu saya dok?" ucap Rena dengan suara parau.
"Maaf, saya beserta yang lain sudah berusaha. Akan tetapi takdir sudah berpihak kepada Ibu kamu. Ibu kamu mengalami pneumonia atau paru-paru basah sekaligus jantungnya melemah. Sehingga, sekarang ia tidak bisa terselamatkan. Allah telah memanggil Ibu kamu. kamu harap sabar, kalau begitu saya permisi dulu. Pihak rumah sakit akan mengantarkan jenazah Ibu kamu." jelas dokter itu.
Rena yang mendengar penjelasan dokter itu ia menggeleng lemah, dia tidak percaya dengan ucapan dokter itu. Air mata Rena berlinang membasahi kedua pipi tirus Rena. Isak tangis pun lolos dari bibir tipis Rena. Dia segera berlari memasuki ruangan ICU itu, melihat Ibunya untuk terakhir kalinya. Ia lagi-lagi menangis dengan sebegitu jadinya.
"IBU..." jeritan Rena dengan suara memilukan. Suster mencoba menenangkan Rena, namun Rena bersikekeh terus menggoyang-goyangkan tubuh Ibunya yang berbaring tanpa nyawa. "Ibu bangun, bu!" ucap Rena lirih.
Petugas pengantar jenazah sudah tiba, mereka membawa tubuh Ibunya Rena ke dalam mobil ambulance. Seorang suster menuntun Rena berjalan. Rena terus-menerus menangis. Dia tidak peduli orang-orang di rumah sakit ini melihatnya dengan tatapan iba ataupun lainnya.
Kini Rena sudah berada di mobil ambulance bersama petugas itu. Mobil ambulance berlaju dengan sangat cepat.
Tidak berseling lama, Rena sudah sampai di rumah kontrakannya itu. Warga yang melihat mobil ambulance di depan rumah kontrakan Rena. Mereka langsung menghampiri Rena. Membantu Rena untuk menyiapkan segala keperluan untuk Ibunya di tempatkan ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Ibunya Rena akan di makamkan besok pagi pukul 07.00 WIB. Tetangga kontrakan Rena sangat baik terhadapnya, mereka menenangkan Rena untuk tetap bersabar. Tapi ada saja tetangga yang membencinya yaitu Dewi dan Ibunya. Mereka hanya melihat Rena dari luar rumah, tidak peduli dengannya. Dewi langsung memberitahu Adinda lewat pesan kalau Ibunya Rena meninggal.
Sementara Rena dia sedang mencoba menghubungi Kayla. Dia butuh sahabatnya itu untuk berada di sampingnya.
※※※
Kayla sedang melaksanakan sholat tahajud di sepertiga malamnya. Usai shalat dia kepikiran Rena, hatinya merasa cemas dengan Rena. Tiba-tiba handphone yang ia simpan di atas nakas itu berdering. Ia segera mengambil handphone nya itu ternyata dari Rena. Dia pun langsung mengangkatnya. Kayla mendengar isak tangis Rena. Dia semakin khawatir.
"Hallo, Ren kamu kenapa?"
"I--ibu Kay, Ibu aku meninggal,"
"Innalillahi wainalillahi rajiun," Kayla yang mendengar Ibunya Rena meninggal ia pun ikut menangis.
"Aku butuh kamu Kay! Kamu kesini ya!" ucap Rena parau.
"Hiks... Hiks... Iya Ren, aku akan kesana!" ucap Kayla dengan isak tangis.
Kayla langsung bersiap-siap untuk pergi ke rumah Rena. Dia langsung mengambil kunci motornya itu, Sebelum pergi Kayla meminta izin kepada Ibunya terlebih dahulu dan Ibunya pun mengizinkannya serta turut berduka cita kepada Rena.
※※※
Adinda tersenyum senang, melihat pesan yang dikirim dari Dewi itu. Ia langsung menghampiri Papanya memberitahu pesan yang pastinya akan membuat Papanya senang.
Adinda berlari menuju ke ruangan kerja Papanya yang mana sekarang Papanya sedang bersama Andi yakni Ayahnya Rena. Ia pun masuk tanpa permisi langsung memeluk Papanya.
"Ada apa sayang?" tanya Anton Papanya Adinda itu.
"Pa, tante Almira meninggal! Mayatnya akan di makamkan besok jam tujuh pagi! Papa akan kesana?" ucap Adinda yang membuat Anton dan Andi kaget. Terlebih Andi dia tidak percaya istrinya itu meninggal.
"Tidak mungkin! Darimana kamu tahu Almira meninggal?" ucap Andi sambil menggeleng lemah seakan tidak percaya.
"Sudahlah Andi, dia itu sudah bukan istrimu lagi. Besok kamu akan menikah dengan Sinta," ucap Anton.
"Dia masih istriku Anton! Aku akan kesana sekarang juga!" tegas Andi.
"Andi! Kau sekarang sudah jadi budakku! Kau harus menuruti semua titahku! Kalau kau tidak mau menikah dengan Sinta, maka Rena akan aku bunuh!" ucap Anton dengan nada meninggi.
"Pa, jadi bagaimana? Kita datang tidak ke pemakaman Tante Almira?" ucap Adinda.
"Kita tidak usah ke sana sayang, kita hadiri saja pernikahan Om Andi dengan Tante Sinta! Bilang sama Mama mu, cepat urusi kebutuhan Om Andi!" ucap Anton, Adinda pun hanya mengangguk dan menuruti titah Papanya itu dan berlalu pergi.
Hati Andi sangat hancur, terlebih mendengar istri yang di cintainya meninggal. Andi mengusap mukanya dengan kasar. Dia benar-benar lelaki bodoh. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia belum sempat minta maaf kepada anak dan istrinya itu. Kata andai yang sekarang menguasai hatinya. Andai dia dulu tidak melampiaskan kebencian terhadap adiknya itu kepada anak dan istrinya. Mungkin dia tidak akan seperti ini. Dia menyesal telah berbuat kasar kepada anak dan istrinya. Penyesalan lah yang sedang ia rasakan. Dia benar-benar telah menjadi sosok Ayah yang tidak baik dimata anaknya itu.
※※※
Matahari mulai menampakkan cahanya. Rena belum juga mengikhlaskan kepergian Ibunya. Dia terus menangis di dalam pelukan Kayla sahabatnya itu.
"Rena sayang, ikhlaskan ya Ibu kamu. Biar Ibu kamu tenang di sana," ucap Kayla sambil mengusap rambut Rena.
"Semua gara-gara Ayah, Kay! Lelaki b*****t itu penyebab kematian Ibu! Dia penyebab kematian Ibu, Kay! Aku benci Ayah! Hiks... Hiks..." racau Rena sambil terisak.
"Istighfar Ren! Istighfar!" ucap Kayla menenangkan Rena.
Pak Ustad beserta Pak RT sudah datang, Ibunya Rena sudah siap untuk dikuburkan. Kemudian mereka mengangkat jenazah Ibunya Rena ke dalam keranda jenazah. Mereka menggotong jenazah Ibunya Rena sampai ke pemakaman. Dan memasukan ke dalam liang lahat serta menguburnya dan mendoakan kebaikan untuk Ibunya Rena.
Rena ikut ke pemakaman Ibunya ditemani Kayla. Dia tidak kuat melihatnya, ia hanya memeluk Kayla dengan sangat erat. Kepergian Ibunya seakan ujian hidup untuknya.
Warga yang ikut ke pemakaman Ibunya Rena, kini mereka kembali pulang. Sementara Rena dan Kayla masih tetap di pemakaman.
"Rena sudah ya jangan menangis terus, kasihan mata kamu sampai bengkak begitu!" ucap Kayla membuat Rena sedikit tersenyum.
"Ren, Allah berfirman dalam surat al-anbiya ayat 35. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan yang sebenar-benarnya. Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan. " ucap Kayla membuat Rena terdiam.
"Setiap kita, dalam keadaan apa pun, sedang dalam ujian Allah Swt, baik atau buruk hasil yang kita terima nanti di akhirat dengan memperoleh imbalan. Akan tetapi, kita harus ingat bahwa Allah maha pengampun dan maha penolong. Kasih sayang-Nya amat besar kepada hamba-hambanya. Karena itu, lebih baik di dunia ini kita mengetahui bahwa kita telah gagal dalam ujian. Dan kita coba memperbaikinya ke arah yang lebih baik. Kita harus yakin, selama hayat masih di kandung badan, Allah bersedia menolong kita kejalan yang benar." jelas Kayla panjang lebar mencoba menenangkan Rena. Rena masih terdiam mencerna perkataan Kayla lalu dia pun tersenyum ke arah Kayla.
"Aku sungguh beruntung mempunyai sahabat sepertimu Kay. Padahal aku belum begitu baik seperti dirimu, yang juga luas pengetahuan ilmu agamanya." lirih Rena.
"Rena, dalam hidup itu butuh proses. Aku masih proses berhijrah dan aku fakir ilmu. Aku tidak akan seperti ini kalau dulu orangtuaku tidak memasukanku ke pesantren Ren,"
Rena hanya mampu tersenyum, dirinya sangat malu. Dia tidak bisa menjadi seperti Kayla. Dirinya diliputi dosa bahkan diliputi rasa benci kepada Ayahnya itu. Dan dia menaruh kebencian terhadap Ayahnya di dalam hatinya. Dia tidak mau memaafkan Ayahnya.
※※※
Adnan sangat risi harus menemani Ayahnya itu menghadiri acara pernikahan dari kakaknya Papanya Adinda. Dia risi karena dia harus ketemu Adinda, dan harus mendampinginya. Sementara Adinda dia sangat senang.
"Aku senang, kak Adnan datang ke acara pernikahan Om Andi sama Tante Sinta," ucap Adinda.
"Hem ... kalau bukan karena Ayahku, aku gak akan datang kesini," ucap Adnan membuat Adinda kesal. Adnan pun menghindari Adinda.
Adnan memang patuh kepada Ayahnya itu, dia tidak bisa membantahnya. Ayahnya bernama Hendra yang mana menjabat sebagai wakil direktur perusahaan Papanya Adinda yakni perusahaan Andi dulu. Hendra sangat mengetahui Andi bahkan dia sahabat Andi dan wakil direktur Andi dulu. Namun apadaya, Anton merebut aset perusahaan Andi sehingga Hendra sekarang menjadi wakil direktur Anton. Hendra sampai sekarang ia masih berpihak kepada Andi sahabatnya itu ketimbang Anton. Hendra sangat benci kepada Anton, karena Anton memperlakukan Hendra seperti budaknya. Sebenarnya ia ingin keluar dari perusahaan ini. Tapi dia sudah berjanji akan menjaga perusahaan ini untuk Andi. Sehingga ia masih bertahan di perusahaan Anton.
Hendra menghampiri kedua mempelai pengantin yang sudah sah menjadi sepasang suami istri itu ditemani istri dan anaknya Adnan. Mereka bersalaman, terlebih Hendra dia memeluk sahabatnya itu Andi.
"Aku titipkan perusahaanku kepada kau Hendra, jangan sampai Anton mengetahuinya. Kau harus memberitahuku kalau terjadi apa-apa dengan perusahaanku itu," bisik Andi kepada Hendra. Hendra pun mengangguk seraya berkata 'Siap' tentunya Andi sangat senang.
"Ini anakmu Adnan, Hendra?" ucap Andi.
"Ya Andi, dia anakku! Tampan bukan seperti Ayahnya?" ucap Hendra terkekeh. Adnan hanya tersenyum. Sementara Sinta yakni istri Andi sekarang dan Dian istri Hendra hanya tertawa.
"Rupanya kau sudah besar Adnan, tampan lagi. Kau mengenaliku bukan?" tanya Andi.
Adnan merasa bingung, dia seperti mengenali lelaki paruh baya itu dulu. Tapi dia lupa lagi dimana ia bertemu dengannya. Baru saja Adnan ingin mengatakan kalau dirinya lupa mengenali laki-laki paruh baya itu, tiba-tiba Anton dan Adinda menghampiri mereka.
"Hai Hendra calon besanku rupanya kau di sini, sekarang saatnya kita makan. Makanan sudah tersaji di sana," ucap Anton membuat Andi kaget.
"Maaf sebelumnya Om, Ayah. Adnan tidak mencintai Adinda. Jadi mulai sekarang Adnan ingin membatalkan perjodohan ini," ucap Adnan sontak membuat Anton kaget. Tapi tidak dengan Andi dan Hendra mereka senang, karena mereka berdua sudah menjodohkan anak mereka. Hanya saja Adnan beserta Anton dan Adinda tidak mengetahuinya. Hendra hanya pura-pura patuh kepada Anton.
"Bagaimana bisa Adnan? Adinda sungguh mencintaimu, kenapa kau tidak mencintainya?" ucap Anton dengan nada sedikit meninggi.
"Maaf Om, keputusan Adnan sudah bulat. Adnan tidak bisa melakukan perjodohan ini lagi." ucap Adnan beralu pergi. Sementara Adinda yang mendengar perkataan Adnan dia langsung menangis memeluk Mamanya itu.
"Adinda, maafkan anaknya Om ya. Dia memang keras kepala. Om sudah berusaha untuk tidak membatalkan perjodohan ini, tapi Om tidak bisa memaksa Adnan lagi. Jadi Pak Anton, saya dan keluarga minta maaf sebesar-besarnya. Karena tidak bisa melanjutkan perjodohan ini lagi." ucap Hendra, membuat Anton geram. Hendra dan istrinya pun pergi menyusul Adnan pulang.
Adinda sungguh sakit hati mendengar ucapan Adnan. Sementara Anton dia tidak habis pikir dengan Hendra wakilnya itu. Andi yang melihat percakapan mereka dia hanya tersenyum dan senang di dalam hatinya. Dan dia berkeinginan untuk menjodohkan Rena dengan Adnan.
※※※
Langit jingga menghiasi sore ini. Rena sudah kembali di rumah kontrakannya. Namun dia hanya seorang diri, tidak ditemani Kayla. Kayla sudah pulang tadi siang.
Rena sedang menatap sendu langit jingga yang bernamakan senja itu di luar rumahnya. Wajahnya menatap langit itu dengan tatapan sendu. Dia terus melamun, dia merasa kalau ini hanya sebuah mimpi dan bukan kenyataan. Entah yang harus dia lakukan, dia hidup sebatang kara dan seorang diri.
Tiba-tiba Ibu kontrakan Rena datang menghampiri Rena yang sedang duduk sambil melamun itu.
"Rena!" sontak membuat Rena kaget.
"Ada apa ya bu?" tanya Rena.
"Kamu sudah tiga bulan, belum juga bayar kontrakan! Kalau sekarang tidak bisa bayar. Sekarang juga kamu keluar dari rumah ini!" ucap Ibu kontrakan itu.
"Bu ... beri saya waktu, saya janji saya akan lunasi uang kontrakan itu,"
"Tidak ada tambahan waktu! Sekarang cepat kamu pergi dari kontrakan saya Rena!" tegas Ibu kontrakan itu. Mau tidak mau Rena pun memilih untuk pergi.
Rena masuk ke dalam rumah itu untuk mengambil pakaiannya dan memasukannya ke dalam tas gendongnya. Tiba-tiba amplop surat jatuh dari atas nakas tempat tidur Rena, lalu dia pun mengambilnya dan belum sempat membacanya. Kemudian Rena memasukan amplop itu ke dalam tasnya dan Rena pun pergi, entah kemana ia akan pergi.
※※※
Malam ini, rinai hujan pun turun membasahi kota Jakarta. Langit seakan mengerti dengan keberadaan Rena sekarang yang menangis menelesuri jalan. Malam ini hanya air hujan yang menemaninya dan lalu lalang kendaraan.
Dia terus menangis sepanjang jalan, dia tidak tahu kemana ia akan pergi. Dia tidak ingin menyusahkan Kayla sahabatnya kalau dia harus menginap di rumah sahabatnya itu.
Seketika tubuh Rena berdiri mematung melihat rumah megah bercatkan putih yang berada di hadapanya sekarang. Rumah megah itu rumah Rena, akan tetapi sekarang rumah itu bukan rumah Rena lagi melainkan Adinda sepupunya itu. Banyak kenangan manis selama tinggal di rumah itu, tidak seperti sekarang hanya luka yang selalu datang kepadanya.
Tubuh Rena tersungkur jatuh di hadapan rumah megah itu. Dia terus-menerus menangis. Dia merasa kalau Allah tidak adil kepadanya, Allah telah merebut semua kebahagiaannya termasuk Ibunya.
"Ya Allah, kenapa engkau ambil semua kebahagiaan dariku, kenapa engkau ambil Ibu dariku? Hiks ... Hiks ... Kenapa engkau tidak ambil saja nyawaku?" teriak Rena di selak isak tangisnya.
Mobil BMW berwarna hitam melintas ke arahnya, dan masuk ke dalam rumah itu. Rena langsung berdiri dan beranjak pergi. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat Ayahnya keluar dari dalam mobil itu bersama seorang perempuan. Seorang perempuan yang seumuran dengan ibunya itu. Dengan penuh emosi, Rena pun menghampiri Ayahnya. Tidak peduli Ayahnya marah atau apa. Dia langsung menghampirinya.
"AYAH!" teriak Rena, sehingga membuat Andi dan Sinta menengok ke arahnya. Andi langsung mendekati Rena.
Plakk! Rena menampar Ayahnya itu, dia benar-benar emosi. Sebisa mungkin Andi menahannya, dia tidak akan marah lagi kepada Rena. Dia tahu kalau anaknya akan membencinya.
"Putri! Berani-beraninya kamu menampar Ayahmu sendiri!" ucap Sinta membela Andi. Dia mengetahui bahwa gadis cantik yang dihadapannya itu putri tunggalnya Andi pewaris perusahaan Andi.
"Diam kau wanita perebut!" ucap Rena kepada Sinta, "Dan kau! Kau penyebab kematian Ibu! Gara-gara kau Ibu meninggal! Kau lebih memilih menikah dengan wanita munafik seperti dia! Kau lelaki pengecut! Mulai sekarang kau bukan Ayahku lagi, kau hanya seorang pengecut!" lanjut Rena menatap Ayahnya dengan penuh emosi.
"Putri! Aku ini Ayahmu, bisakah kamu berbicara lebih sopan?" ucap Andi. Andi selalu menyebut Rena dengan nama Putri. Putri adalah nama panggilan Rena saat ia kecil.
"Ayahku? Kau bukan Ayahku! Seorang Ayah seharusnya ia selalu melindungi dan menyayangi anak perempuannya bukan menelantarkan dan bersikap kasar kepada anak perempuannya!" ucap Rena sambil menangis.
"Putri! Jika kamu berkenan, kamu boleh tinggal bersamaku dan Ayahmu!" tawar Sinta.
"Ck! Sampai kapanpun aku tidak sudi tinggal denganmu dan juga lelaki pengecut ini!" ucap Rena sambil menghapus air mata yang jatuh membasahi pipinya itu. Kemudian Rena meninggalkan Ayahnya dan berlalu pergi.
※※※
Rena kembali menelusuri jalanan malam, hujan kini sudah reda. Dia tidak tahu akan kemana dia pergi. Dia terus berjalan. Seketika tubuh Rena lemas, begitupun dengan kepalanya berdenyut pusing dan pandangannya pun buram. Rena pun terjatuh pingsan di pinggir jalan.
Mobil Alphard berwarna putih berhenti ketika seseorang di dalam mobil itu melihat gadis cantik tekujur pingsan. Mobil itu berhenti tepat di samping Rena pingsan. Seorang wanita dewasa yang memakai kerudung syar'i berumuran sekitar tiga puluh lima tahun itu turun dari dalam mobilnya dengan suaminya yang berpakaian dokter itu berumur empat puluh tahun. Wanita itu seumuran dengan Ibunya Rena sementara suaminya seumuran dengan Ayahnya Rena. Kemudian mereka membawa Rena ke dalam mobilnya. Mereka membawa Rena ke sebuah kompleks perumahan elite yakni rumah mereka.
Suami wanita itu membawa Rena ke sebuah kamar diikuti sang istri. Wanita berpakaian syar'i ini sangat cemas, karena Rena belum sadarkan diri.
"Mas, gadis cantik ini belum sadarkan diri. Aku takut dia kenapa-napa!"
"Tenang sayang, dia tidak apa-apa, dia hanya kelelahan. Nanti kalau dia sadar, kita beri makan dia." ucap sang suami.
Tidak berseling lama, Rena mulai membuka matanya pelan. Kepalanya masih berdenyut pusing, tubuhnya merasa lelah. Dan Rena pun tersadar dari pingsan.
"Dimana aku?" tanya Rena saat melihat seorang lelaki berpakaian dokter dan wanita dewasa berpakaian syar'i di hadapannya. Rena benar-benar tidak mengetahui kedua orang tersebut.
"Alhamdulillah, kamu sadar nak. Sekarang kamu ada di rumah kami," ucap wanita itu tersenyum ramah ke arah Rena.
"Kenapa aku bisa ada di sini?" tanya Rena sambil bangun dari tempat tidurnya.
"Kamu tadi pingsan di pinggir jalan, karena sudah larut malam dan tidak ada siapa-siapa, kami memutuskan untuk membawamu ke rumah kami," ucap lelaki berpakaian dokter itu.
"Memangnya malam-malam begini, kamu mau pergi kemana nak?" wanita berpakaian syar'i itu kembali bertanya kepada Rena. Rena hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Bagaimana kalau kamu tinggal di sini saja nak, bersama kami. Tante akan senang jika kamu tinggal di sini," tawar wanita itu. Rena hanya diam.
"Oh ya, namamu siapa? Orang tua kamu memangnya kemana?" kini suaminya bertanya kepada Rena.
"Namaku Renata Putri Marcelia. Ibuku sudah meninggal dan Ayahku sudah menikah lagi," ucap Rena sambil tertunduk.
Mendengar nama lengkap Rena, wanita itu langsung memeluk Rena sambil menangis. Rena semakin bingung, sebenarnya apa yang terjadi dengannya?
"Ka--kamu Rena anak dari Almira dan Andi?" ucap wanita itu.
"Iya tante. Memangnya tante siapa?" Rena benar-benar bingung.
"Aku Melati sahabat Almira, dan ini Om Rafa suami tante sayang, Tante senang bisa bertemu denganmu. Tante turut berduka cita atas kepergian Ibu kamu," ucap Melati sambil menangis dan memeluk Rena.
"Tapi tante, setahu aku sahabat Ibu tinggal di Bandung bukan di Jakarta," ucap Rena.
"Memang dulu kami tinggal di Bandung, tapi sekarang kami tinggal di Jakarta." jawab Rafa suami Melati.
Melati adalah sahabat baik Almira Ibunya Rena semenjak SMA. Namun mereka berpisah saat mereka sudah berumah tangga. Melati harus ikut dengan suaminya tinggal di Bandung, sementara Almira tetap di Jakarta bersama Andi. Dan sekarang mereka tinggal di Jakarta karena Rafa bertugas sebagai dokter di RSCM Jakarta. Namun sayang, keluarga mereka tidak diberi keturunan. Karena Melati tidak dapat hamil, sehingga mereka sampai sekarang tidak mempunyai anak.
"Rena sayang, bolehkah tante mengangkat kamu sebagai anak tante?" ucap Melati sambil memegang kedua tangan Rena.
"Me--memangnya anak tante kemana?" tanya Rena bingung.
"Tante tidak mempunyai anak, tante akan senang jika kamu mau jadi anak tante," Rena terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa, karena Ibunya belum bisa tergantikan oleh siapapun.
"Rena sayang, tante tidak akan memaksa kamu kok. Insyaallah tante akan menjadi Ibu yang baik seperti Ibu kamu. Tante juga tidak akan melarang kamu buat bertemu Ayahmu, bagaimana pun dia juga Ayah kandungmu sendiri," ucap Melati sambil memegang kedua pipi Rena.
Kemudian Rena tidak dapat menahan air matanya itu, air matanya itu pun membasahi pipinya lagi, ia teringat dengan Ibunya. Perlakuan Melati sama seperti Ibunya. Sontak membuat Rena memeluk Melati. Melati pun mengelus rambut Rena dengan lembut dan membiarkan Rena menangis di pelukannya.
"Rena sayang, Ali bin Abi Thalib berpesan yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran yang kamu jalani, yang akan membuatmu terpana. Sehingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit." ucap Melati menenangkan Rena. Rafa yang melihat istrinya itu menyayangi Rena seperti anaknya itu dia hanya mampu tersenyum sekaligus terharu.
Ibu, bagaimana pun juga Rena akan selalu menyanyangi Ibu. Ibu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. ucap Rena di dalam hatinya.
_Aku Rindu Ayah_