Rena berjalan menelurusi koridor kampusnya dengan buru-buru. Karena hari ini ia datang terlambat dan sekarang mata kuliah dosen killer semua. Kalau sampai ia terlambat ia bisa kena hukuman dari dosennya itu. Ia terlambat karena membereskan pekerjaan Ibunya di rumah. Rena yang melihat Ibunya sedang sakit ia langsung mengambil alih pekerjaan Ibunya dan membiarkan Ibunya istirahat. Ibunya Rena mencegahnya namun Rena tetap ingin menyelesaikan pekerjaan rumah.
Rena tidak peduli dosennya bakal menghukumnya atau tidak. Yang terpenting bagi Rena sekarang ia sudah menyelesaikan pekerjaan rumah, dan sekarang Ibunya sedang beristirahat membuat hati Rena tenang.
Saat Rena hendak berbelok ke kiri memasuki kelasnya. Tiba-tiba Rena terpeleset dan hampir jatuh. Adnan yang secara tidak sengaja lewat dan melihat Rena hampir jatuh ia langsung menahan tubuh Rena sehingga ia tidak terjatuh. Rena menelan ludahnya sendiri saat menatap wajah Adnan secara dekat sementara Adnan ia langsung berpaling.
"Astagfirullah," ucap Adnan. Kemudian ia langsung melepaskan rangkulannya karena Rena bukan mahram nya, sehingga membuat Rena terjatuh dan meringis kesakitan.
"Woy, kalau mau nolong harus ikhlas dong!" ucap Rena kesal.
"Lain kali kalau jalan hati-hati." ucap Adnan sambil menggelengkan kepalanya, "Maaf ... tadi saya refleks ngerangkul kamu." lanjutnya dan berlalu pergi meninggalkan Rena.
Rena menatap jengah lelaki itu, baginya Adnan cuma cowok nyebelin yang berani-beraninya nyeramahin dia di depan teman-temannya pada saat di mushola waktu itu. Dan itu benar-benar keterlaluan bagi Rena. Kayla dan Ibu nya saja yang notabene nya orang terdekat Rena menyuruh Rena untuk berhijab ia enggan apalagi Adnan lelaki yang sama sekali tidak dekat dengan Rena.
Saat itu Rena dan Kayla melaksanakan shalat dhuhur di mushola kampusnya. Setelah selesai sholat Kayla pergi ke kamar mandi, karena dia terburu-buru ingin buang air kecil sehingga Rena harus menunggunya. Rena menunggu Kayla di dekat pintu mushola.
Pada saat itu juga Rena hanya memakai kaos putih lengan panjang dengan celana jeansnya dan rambut panjang yang lurus hitam itu tergerai indah karena tidak di ikat. Rena anaknya memang sedikit tomboy, ia tidak suka memakai dress apalagi long dress. Ia lebih suka memakai celana jeans dan kaos lengan panjang. Beda halnya dengan Kayla yang memakai ghamis serta khimar berwarna pink.
Meskipun ia terlihat sedikit tomboy tapi kecantikannya tiada tara, lelaki di kampusnya menyukai paras cantik wajah Rena. Bagaimana tidak? Rena sangat cantik, kulitnya putih bersih, bulu matanya lentik, bola matanya cokelat serta hidungnya mancung dan tentu pipinya tirus serta deretan giginya putih dan rapi. Lelaki yang melihat Rena lebih suka melihat Rena tersenyum, karena senyumannya sungguh manis. Namun, Rena risi dengan lelaki yang selalu memperhatikannya sehingga ia memasang muka garangnya. Seperti saat ini mahasiswa yang masuk ke dalam mushola untuk shalat dhuhur gagal fokus melihatnya.
"Kalau penjaga pintu musholanya bidadari seperti ini mah, gue tiap hari bakalan datang ke mushola," ucap seorang pria berbadan gemuk itu.
"Yee ... gue juga tiap hari bakalan kesini!" ucap seorang pria cungkring sambil menjitak kepala temannya itu yang berbadan gemuk."Hai cantik, nama kamu Rena ya? Anak fakultas manajemen itu kan? Kenalkan nama gue Dani," ucapnya sambil mengulurkan tangannya ke arah Rena.
"Eh k*****t! Lo kalau ngajak ia kenalan wudhu lo batal!" ucap pria berbadan gemuk. Kemudian cowok yang bernama Dani itu menurunkan tangannya. Rena yang sedari tadi cuek bebek sama kedua cowok tersebut akhirnya bersuara.
"Gue gak mau kenalan sama lo berdua! Lagian kalau mau sholat, sana masuk jangan godain gue terus!" ucap Rena jutek dan melotot kepada kedua cowok itu.
Tiba-tiba seorang pria berdehem cukup keras dari dalam mushola dan menghampiri Rena, membuat kedua cowok tersebut menoleh ke arah sumber suara, akan tetapi Rena ia tidak menanggapinya. Ia terus memegang handphone nya sekaligus menghubungi Kayla karena gadis itu belum juga keluar dari kamar mandi.
"Astagfirullah, kalau mau shalat buruan shalat!" ucap pria itu tegas kepada kedua cowok tersebut. Tanpa basa-basi kedua cowok tersebut langsung masuk ke dalam mushola karena mereka mengenali pria itu yang tak lain seniornya.
"Lain kali kalau menunggu teman jangan dekat pintu mushola! Orang lain yang ingin shalat jadi susah masuk selain itu kamu juga mengganggu pandangan laki-laki!" ucap pria itu kepada Rena. Rena yang merasa tersindir ia langsung mendongakkan wajahnya menatap pria itu dengan tatapan kesal.
"Heh, pintu mushola bukan di sini aja ya! Noh di samping juga ada! Tadi apa lo bilang gue mengganggu laki-laki tadi? Yang ada laki-laki tadi yang gangguin gue!" ucap Rena kesal.
"Jelas kamu mengganggu pandangan laki-laki tersebut, seharusnya kamu bisa menjaga aurat kamu dan menutupi aurat kamu juga menundukkan pandangan kamu karena kamu bukan mahramnya. Bukankah menutup aurat itu sudah kewajiban seorang wanita? Justru itu tutuplah aurat kamu itu dengan memakai hijab," balas pria itu. Pria itu sama sekali tidak menatap Rena yang ada disampingnya ia hanya bicara sambil menatap lurus tanpa menengok ke arah Rena.
"Apa hak lo buat nyuruh gue memakai hijab hah? Jangan caper deh!" tukas Rena.
"Saya sekedar mengingatkan, jagalah auratmu dari laki-laki yang bukan mahrammu. Pakailah jilbab yang menjulur ke seluruh tubuhmu dan menutupi d**a," balas Pria itu. Baru saja Rena ingin bicara, pria itu berbicara kembali.
"Allah berfirman dalam QS. Al - Ahzab ayat 59 yang artinya : "Hai Nabi , katakanlah kepada istri- istrimu, anak - anak perempuanmu dan istri - istri orang mukmin: Hendaklah mereka menjulurkan khimarnya (jilbab) ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". lanjut pria itu.
"Gue gak mau pake jilbab! Jadi lo gak usah urusin hidup gue!" balas Rena.
"Rasulullah SAW. bersabda : "Wahai putriku Fatimah! Adapun perempuan - perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam neraka adalah mereka yang di dunia nya tidak mau menutup rambutnya dari pandangan laki-laki yang bukan mahramnya". ( HR. Bukhari & Muslim).
Muka Rena menjadi merah padam, ia benar-benar kesal karena secara langsung pria itu menasehati dirinya di depan teman-teman Rena yang berada di mushola. Mereka melihat sekaligus mendengarkan penjelasan pria itu.
"Sudah puas lo nyeramahin gue di depan teman-teman gue?" ucap Rena kepada pria itu.
Pria itu sama sekali tidak menengok ke arah Rena, ia hanya tersenyum. Sehingga teman-teman perempuan Rena yang melihat pria itu tersenyum mereka langsung berbinar-binar matanya. Karena mereka lihat pria itu kalau tersenyum sungguh manis. Apalagi pria itu banyak dikagumi kaum akhwat, hanya saja Rena tidak mengetahuinya.
"Renaaa!!" ucap Kayla menghampiri Rena. "Masyaallah, ada kak Adnan juga. Kak Adnan kok bisa ada disamping kamu Ren?" tanya Kayla sambil menggoyang-goyangkan tangan Rena. Adnan hanya tersenyum sehingga Kayla menjadi salah tingkah sedangkan Rena ia masih marah.
Pria itu bernama Muhammad Adnan Alfarizi senior Rena yang banyak dikagumi kaum akhwat karena akhlaknya. Rena tidak mengenalinya, akan tetapi Adnan mengenalinya karena ia tahu kalau Rena mahasiswa berprestasi.
"Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki. (HR. Tirmidzi, shahih)" ucap Adnan.
"Gue gak butuh ceramah gratis lo!"
"Terserah, saya sekedar mengingatkan."
Sungguh demi apapun Rena benar-benar kesal sama Adnan bahkan ia enggan untuk bertemu dengannya.
Kini ada seseorang yang memegangi pundak Rena dari belakang sehingga membuat Rena kaget. Ternyata Pak Wisnu yang tak lain dosen yang mengajar mata pelajaran kuliah sekarang.
"Sedang apa kau Rena?" tanya pak Wisnu.
"Eh ... ini pak lagi benerin tali sepatu," jawab Rena asal.
"Cepat masuk kelas!" Rena langsung bediri meskipun pinggul nya sakit karena Adnan langsung melepaskan rangkulannya sehingga membuat ia terjatuh. Kemudian ia langsung masuk kelas karena Pak Wisnu sudah memperlihatkan mata tajamnya. Masih beruntung Rena dapat masuk kelas hari ini tidak mendapatkan hukuman dari dosen killer itu.
Seseorang tersenyum senang setelah berhasil mengabadikan moment Adnan menolong Rena dan merangkul Rena di handphone pribadinya tanpa Rena sadari.
※※※
Adinda sedang berkumpul di kantin kampusnya bersama teman-temannya. Adinda memang seumuran sama Rena, ia juga kuliah hanya saja beda universitas. Gadis ini juga cantik dan lebih feminin dari Rena. Bila dibandingkan dengan Rena jelas lebih cantik dan cerdas Rena.
Tiba-tiba muka Adinda menjadi merah padam setelah melihat kiriman foto dari Dewi yang tak lain foto Adnan yang merangkul Rena saat Rena terpeleset tadi. Teman-teman Adinda mengernyit bingung melihat ekspresi wajah Adinda.
"Lo kenapa Din?" tanya Rere temannya.
"Gue cabut duluan guys, ada urusan penting!" jawab Adinda.
Adinda langsung ke tempat parkir mobil untuk mengambil mobilnya, kemudian ia berlalu pergi untuk menemui Rena di kampusnya.
※※※
Setibanya di kampus Rena. Adinda langsung bertemu Dewi terlebih dahulu, kemudian mereka mencari keberadaan Rena. Setelah menemukan Rena di taman kampus, Dewi langsung memisahkan diri dari Adinda takut Rena curiga.
Riyan teman Adnan melihat Adinda berada di kampusnya, ia langsung memberitahu Adnan yang sedang fokus berkutat dengan laptopnya disampingnya.
"Nan, itu si Adinda ngapain ke kampus kita?" tanya Riyan penasaran.
"Salah lihat kali," ucap Adnan yang masih fokus dengan laptopnya.
"Adnan! Gue serius itu ngapain si Adinda nyamperin si Rena?" ucap Riyan sambil menunjuk Adinda yang sedang bertemu Rena.
Adnan langsung mendongakan wajahnya melihat Adinda bertemu Rena. Adnan mengernyit bingung bagaimana Adinda kenal dengan Rena? Ia langsung menaruh laptopnya kepada Riyan dan beranjak pergi untuk menghampiri Adinda. Karena Adnan merasa ada yang tidak beres dengan Adinda.
"Adnan, wah parah lo masa gue ditinggal sih!" ucap Rayan. Ia pun hendak menyusul Adnan. Sementara laptop Adnan ia masukan ke dalam tasnya.
※※※
Rena sedang duduk di kursi panjang taman di bawah pohon yang rindang bersama Kayla. Mereka sedang mengerjakan tugas bersama. Tiba-tiba seseorang memanggil nama Rena dengan nada suara tinggi sehingga Rena berdiri dan menghampiri seseorang yang memanggil namanya itu, Kayla pun ikut menghampiri seseorang itu yang tak lain Adinda.
"Ada perlu apa lo kesini?" tanya Rena.
"Sebentar-sebentar, kamu itu cewek yang kemarin di cafe bareng kak Adnan kan? Yang ngaku-ngaku calon istrinya?" kini Kayla ikut bersuara.
"Gue gak ngaku-ngaku! Tapi gue benar calon istri kak Adnan! Sebentar lagi gue akan tunangan dan menikah!" jawab Adinda membuat Rena tak percaya.
"Terus sekarang lo nemuin gue mau apa?" tanya Rena lagi.
"Gak usah pura-pura tidak tahu Ren! Maksud lo apa? Meluk calon suami gue kaya gini?" ucap Adinda sambil memperlihatkan foto Rena bersama Adnan di handphone nya. Kayla yang melihatnya kaget dan tidak percaya.
"Dinda dengerin gue! Apa yang lo lihat di foto itu tidak seperti yang lo bayangkan, Adnan ngerangkul gue karena dia hendak menolong gue saat gue terpeleset dan hampir jatuh! Dan asal lo tahu gue sama sekali tidak tahu kalau lo calon istri dia!" jelas Rena.
"Alah munafik lo! Gue tahu lo suka kan sama kak Adnan? Lo pengen ngerebut kak Adnan dari gue kan?Dari dulu sampai sekarang lo selalu ngerusak kebahagiaan gue Ren! Dulu lo punya segalanya, sedangkan keluarga gue hanya dikucilkan dari keluarga lo! Bahkan almarhum kakek lebih memihak keluarga lo termasuk Ayah lo dan lo yang selalu dibangga-banggakan, kakek selalu memberikan perhatian lebih kepada lo! Sedangkan gue, gue tidak pernah ngerasain perhatian dan rasa sayang lebih dari kakek seperti lo! Bahkan kakek lebih memilih Ayah lo untuk menjadi pemilik aset perusahaannya ketimbang Papa gue! Sekarang gue udah punya segalanya dan lo mau ngerebut kebahagiaan gue lagi hah?" jelas Adinda tersenyum getir.
"Adinda! Pemikiran lo itu sama sekali tidak benar! Kakek selalu peduli sama lo dan dia sayang sama lo! Bagaimana pun juga lo itu cucu dia! Lo itu cucu kesayangannya sama seperti gue, hanya saja kakek mempercayakan aset perusahaannya kepada Ayah gue karena Papa lo itu tidak mau mengurus kakek, papa lo malah menghambur-hamburkan uang kakek dan tidak pernah peduli sama kakek. Makanya kakek lebih memilih Ayah gue!" ucap Rena.
"Ck! Omong kosong!"
"Omong kosong kata lo? Seharusnya lo mikir Dinda! Lo bisa kaya raya seperti sekarang karena Papa lo udah ngerebut aset perusahaan Ayah gue! Papa lo itu jahat Adinda! Papa lo udah bikin Ayah gue berubah! Papa lo jahat! Gue benci sama papa lo!" Rena mulai meneteskan air matanya, Kayla langsung memegang bahu Rena. Sementara Adinda ia tersenyum sinis.
"Papa gue gak jahat! Lo dan Ayah lo yang jahat sama gue! Lo itu sama saja seperti Ayah lo, sama-sama PENGECUT! Bahkan sekarang terbukti Ayah lo itu seorang pencuri dan lo juga seorang pencuri yakni pencuri hati laki-laki layaknya seorang p*****r!!" tegas Adinda.
Plakk!! Rena menampar pipi kiri Adinda. Karena tidak terima dirinya disebut sebagai seorang p*****r. Adinda sungguh keterlaluan berkata seperti itu, sehingga mahasiswa yang berada di taman mendengar dan melihat obrolan mereka. Kayla berusaha menenangkan Rena. Rena kembali menangis, Adinda tersenyum getir dan memegangi pipinya menahan perih tamparan keras dari Rena di pipinya itu.
"Adinda! Asal lo tahu gue ikhlas, semua harta kekayaan keluarga gue menjadi milik lo! Tapi gue gak terima lo berkata seperti itu, lo udah ngerendahin harga diri gue! Dan soal gue ngerebut Adnan itu sama sekali tidak benar, gue gak ada hubungan apapun! Terserah lo mau percaya atau tidak!" ucap Rena lirih dan menghampus air matanya.
Tiba-tiba Adnan menghampiri Rena dan Adinda. Adinda melihat Adnan menghampirinya ia langsung mengaduh kesakitan dan pura-pura menangis.
"Kak Adnan ... " ucap Adinda sambil pura-pura terisak menangis dan memegangi pipinya. Ia langsung memeluk Adnan, dengan segera Adnan langsung melepaskan pelukan Adinda. Rena menatap jengah sementara Kayla melihat Adinda risi karena pura-pura menangis.
"Kak, Rena nampar aku! Dia gak terima kalau kita akan tunangan kak! Katanya aku seorang pelcur! Dia juga mau merebut kakak dari aku!" ucap Adinda berbohong. Apa yang diucapkannya sama sekali tidak benar. Kayla hendak berbicara ingin mengatakan sebenarnya, tapi Rena mencegahnya.
"Apa benar kamu menampar Adinda, Ren?" tanya Riyan teman Adnan.
"Iya gue yang menampar Adinda!" jawab Rena.
Adnan sungguh tidak percaya Rena berkata seperti itu. Dia melihat mata Rena memerah seperti habis menangis sedangkan Adinda ia hanya terisak menangis.
"Astagfirullah!" ucap Adnan sambil menatap kearah Rena, "Adinda mohon maaf sebelumnya, mulai sekarang kita gak ada hubungan apapun. Dari awal memang saya gak setuju dengan perjodohan ini. Dan soal pertunangan saya akan membatalkannya!" lanjut Adnan.
"Lho, kak! Kakak gak bisa batalin gitu aja dong! Apa gara-gara cewek ini, kakak batalin pertunangan kita? Kakak suka sama cewek ini?" tanya Adinda sambil menunjuk kearah Rena.
"Adinda bukan karena Rena, tapi karena kamu bukan pilihan saya." ucap Adnan dan berlalu pergi meninggalkan Adinda dan Rena serta disusul Riyan.
Plakk! Kini Adinda menampar pipi kiri Rena, ia sungguh tidak terima dengan perkataan Adnan. Gara-gara Rena Adnan membatalkan pertunangannya.
"Udah puas lo Ren? Lihat! Gara-gara lo kak Adnan jadi batalin pertunangan gue sama dia! Puas lo!" ucap Adinda sinis.
"Cukup! Mending sekarang kamu pergi dari kampus ini dan jangan pernah ganggu Rena!" kini Kayla ikut bersuara membela Rena.
Dibalik aksi tampar-menampar Rena dan Adinda seseorang mengabadikan moment itu yang tak lain Dewi. Dia akan melaporkan kepada Dosennya supaya Rena keluar dari kampus ini. Karena Adinda yang menyuruh Dewi untuk melakukan semuanya.
※※※
"Renata Putri Marcelia!! Ikut saya ke ruangan!" ucap Pak Watmo dosen killer serta galak itu memanggil Rena dengan cukup keras di kelasnya.
Rena bukan main kagetnya, ia sangat ketakutan melihat mata tajam Pak Watmo dengan suara meningginya itu. Mahasiswa yang lain menatap Rena seperti tersangka. Karena mereka tahu jika ada mahasiswa bermasalah pasti akan berhadapan dengan Pak Watmo dosen killer itu.
Rena akhirnya menuruti titah Pak Watmo, ia mulai memasuki ruangan Pak Watmo. Terlihat Adinda sedang duduk bersama Dewi di hadapan Pak Watmo. Pasti ini ada yang tidak beres. Pak Watmo mempersilahkan Rena duduk di samping Adinda. Adinda mulai memainkan aktingnya lagi dengan pura-pura menangis. Membuat Rena kesal, dan ia meras terpojokkan.
"Saya tidak menyangka Rena, mahasiswa berprestasi seperti kamu malah melakukan tindakan k*******n kepada mahasiswa dari universitas lain! Seharusnya kamu melakukan contoh yang baik bukan berbuat onar seperti menampar gadis ini!" ucap Pak Watmo.
"Maaf pak, saya ... "
"Selain gadis ini yang kamu tampar, kamu juga berantem dengan Dewi dan menjambak rambutnya serta menumpahkan minumannya di kantin kan?" lanjut Pak Watmo. Rena menganggukan kepalanya.
"Tapi pak, saya punya alasan dari itu semua..." ucap Rena.
"Saya tidak butuh alasan kamu! Semuanya sudah jelas dan ada buktinya! Mulai sekarang kamu bukan mahasiswa berprestasi lagi, beasiswa kamu akan saya tarik kembali!" seru Pak Watmo.
"Tapi pak, saya bisa jelasin dulu pak!" Rena mulai tidak menerima dengan keputusan dosennya.
"Keputusan saya sudah bulat dan juga akan saya pertimbangkan dengan dosen-dosen yang lain! Mulai besok jika kamu masih pengen kuliah di sini kamu harus membayar spp kuliah kamu, dan tidak mendapatkan biaya kuliah dari beasiswa kamu lagi karena sudah hangus!" jelas Pak Watmo, "Sekarang silahkan kamu keluar dari ruangan saya Rena!" lanjut dosennya itu.
Rena pun keluar dari ruangan Pak Watmo dengan tatapan sendu. Sementara Dewi dan Adinda keluar dengan senyum yang mengembang dari bibirnya. Mereka senang melihat Rena terpuruk.
Rena berjalan menelusuri koridor kampus dengan langkah gontai dan menyeka ujung matanya yang mulai meneteskan air mata yang membasahi pipinya. Ia sama sekali tidak terima dengan keputusan dosennya itu, ia ingin tetap kuliah di sini. Tapi beasiswa nya kini sudah hangus sementara semua tabungan Rena ia pakaikan untuk berobat Ibunya. Mungkin untuk sementara waktu dia akan menyicil spp kuliahnya. Bagaimana pun juga Rena ingin tetap kuliah, karena ia ingin menjadi orang yang sukses seperti Ayahnya dulu.
Dari arah lain seseorang melihat Rena menangis, ia ingin menghampiri sekedar menghibur namun percuma Rena pasti akan memarahinya karena dia tahu kalau Rena membencinya. Dan seseorang itu ialah Adnan. Adnan mendengarkan pembicaraan Rena dengan dosennya itu dan kini ia tahu semuanya.
"La tahzan Rena, insyaallah saya akan bantu untuk biaya kuliah kamu." ucap Adnan di dalam hatinya.
※※※
Mobil BMW berwarna hitam berhenti di depan kantor polisi. Seseorang berjas hitam itu keluar dari mobilnya dan memasuki kantor polisi. Setelah ia masuk, ia berbincang dengan polisi menanyakan seorang pencuri yang kepergok warga di rumah pak RT. Polisi langsung membawa orang yang memakai jas hitam itu kepada seorang pencuri tersebut.
Dibalik jeruji besi seorang pencuri memakai baju narapidana berwarna biru itu sedang duduk termenung. Pencuri itu Andi Ayah Rena dan seorang yang memakai jas hitam yaitu Anton adik kandung Andi. Anton bertepuk tangan senang dari luar, sehingga Andi langsung menoleh ke arah nya dan langsung berdiri.
"Apa kabar kau Andi?" sapa Anton.
"Anton! Pergi kau b******n! Jangan pernah menampakkan mukamu lagi di depan ku!" ucap Andi geram.
"Tempat ini memang pantas untukmu Andi!" balas Anton.
"Dan lebih pantas jika kau berada di sini! Seharusnya kau yang ada di sini!" ucap Andi.
"Aku akan mengeluarkanmu dari sini jika kau bersedia menjadi budakku! Kalau tidak mau, anak kau Renata Putri Marcelia, putri kesayanganmu itu akan mendapatkan kepedihan hidupnya!"
Andi menggelengkan kepalanya, dia tidak mau menjadi b***k Anton. Karena dia tahu adiknya itu sangat licik. Tapi dia merasakan kasihan kepada Rena bagaimana pun Rena putri kesayangannya. Andi sengaja berubah menjadi jahat kepada anak dan istrinya itu karena ia melampiaskan kekecewaan terhadap Anton kepada mereka. Sebenarnya ia mencuri uang di rumah pak RT semata-mata hanya membantu preman kampung itu. Namun s**l yang kepergok hanya dirinya sendiri.
Mungkin kini Rena anaknya telah membenci dirinya, ia terima karena dia sekarang telah menjadi sosok Ayah yang pengecut. Ya! dia Ayah yang pengecut, otaknya hanya dipenuhi rasa kekesalan serta kecewa kepada adiknya sehingga ia mengecewakan anaknya sendiri yang begitu menyayanginya. Sekarang ia tersadar bahwa ia tidak seharusnya memperlakukan anaknya seperti itu. Bagaimana pun seorang Ayah adalah panutan bagi anaknya.
"Aku akan tetap berada di jeruji besi ini daripada harus menjadi b***k kau!"
"Kalau kau tidak mau, aku akan memisahkan istri dan anakmu itu! Istrimu akan aku bunuh, sehingga anakmu itu akan menjadi putri yang malang!"
Pemikiran Anton benar-benar licik, sehingga Andi tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia pun setuju dengan menjadi b***k Anton. Ia akan menuruti segala kemauan Anton demi anak dan istrinya. Anton langsung menyuruh polisi untuk membebaskan Andi karena ia sudah menebus denda Andi di penjara. Dan sekarang Andi bebas.
"Sekarang kau bebas Andi! Aku senang kau menjadi budakku!" ucap Anton senang, Andi hanya diam.
"Sekarang kau ikut denganku Andi!" Anton menyuruh Andi masuk ke dalam mobilnya. andi pun menuruti titahnya.
※※※
Anton membawa Andi ke rumah kontrakannya. Di dalam rumah Rena dan Ibu nya sedang duduk. Anton langsung membuka rumah itu sontak membuat Rena dan Ibu nya kaget melihat Ayahnya bebas bersama pamannya yang jahat itu.
"Mau apa kalian datang kesini!" ucap Rena menatap benci Ayah dan Pamannya itu.
"Apa kau tidak senang Rena, Ayahmu bebas!" ucap Anton.
"Dia bukan Ayahku lagi! Dia seorang pencuri!" jawab Rena. Mata Rena mulai berkaca-kaca karena sungguh demi apapun Rena telah membenci Ayahnya itu. Andi yang melihat Rena berkata seperti itu ia pun terima karena dia pantas di benci anaknya itu.
"Bagus! Kalau kau membenci Ayahmu itu!" ucap Anton tersenyum sinis kepada Rena, "Sekarang Andi kau harus menceraikan istrimu itu dan menikahlah dengan Sinta wanita pemilik hotel berbintang lima yang dulu mencintaimu itu sekarang dia sudah menjadi janda, tentunya semua kekayaan Sinta akan menjadi milikmu dan milikku! Tanda tangani surat cerai ini Andi!" lanjut Anton sambil menyerahkan surat cerai Andi dan Almira.
Anton memang sudah merencanakannya itu karena ia ingin setengah saham dari Sinta. Karena Sinta menjanjikan kepadanya kalau Andi pria yang dulu ia cintai menikah dengannya ia akan memberikan Anton setengah saham perusahaannya. Anton pun tergiur dengan janji Sinta dan kini ia ingin Andi dan Almira bercerai.
Andi menatap geram Anton, bagaimana pun ia tidak ingin menceraikan istrinya. Namun ia sudah janji di dalam mobil saat di perjalanan tadi, kalau ia tidak menuruti titah Anton, maka Anton akan membunuh istrinya itu.
Andi menatap sendu ke arah Almira istrinya itu, dengan sangat terpaksa Andi menandatangani surat cerai itu. Rena yang melihat Ayahnya menandatangani surat cerai itu ia marah.
"Ayah! Kau benar-benar lelaki pengecut! Kau lebih tertarik dengan wanita yang kaya raya dibandingkan Ibu yang tulus mencintaimu! Aku benci Ayah!" isak tangis lolos dari bibir Rena, kemudian ia langsung memeluk ibunya yang juga menangis.
"Mas apa kau benar ingin menikahi wanita itu?" tanya Almira terbatuk-batuk karena sakit dan mata berlinang air mata. Andi langsung menganggukan kepalanya.
"Sudah cepat Almira! Tanda tangani surat cerai itu! Andi sudah tidak mencintaimu lagi!" tegas Anton.
Dengan tangan gemetar Almira menandatangani surat cerai itu, kini tubuhnya melemas. Hatinya merasa sakit, jantungnya seakan melemah dan kabut hitam menghalangi pelupuk matanya. Kemudian ia terjatuh dan tidak sadarkan diri.
"Ibu bangun bu! Bu ... Ibu bangun!" Rena menangis tersedu-sedu melihat Ibunya tidak sadarkan diri. "Ayah kau benar-benar jahat!" Rena menatap benci Ayahnya sambil menangis.
"Cepat, kita pergi Andi dan besok kamu akan menikahi Sinta!" ucap Anton. Andi menuruti titah Anton untuk pergi, saat di ambang pintu ia menolehkan kepalanya ke arah Almira dan Rena menatap kasihan. Ingin menolong namun ia tidak bisa.
Luka yang dulu saja belum sempat terobati karena Ayahnya berubah menjadi orang yang jahat, kini luka itu datang kembali bahkan membuat hati Rena dan Ibunya semakin sakit hati. Dengan tanpa alasan Ayahnya langsung menceraikan Ibunya tanpa berkata sepatah katapun. Apa yang membuat Ayahnya menjadi orang jahat? Mengapa Ayahnya kembali menyakiti hatinya dan Ibu nya? Pertanyaan itu selalu terekam dalam pikiran Rena. Ia sungguh benci melihat Ayahnya sekarang. Rena berhambur memeluk Ibunya yang tak sadarkan diri sambil menangis tersedu-sedu.
Maafkan Ayahmu Putri, maafkan Aku Almira. Ayah yakin suatu saat nanti kamu akan menemukan kebahagiaanmu. lirih Andi di dalam hatinya sebelum pergi meninggalkan Anak dan istrinya itu.
_Aku Rindu Ayah_