Hari demi hari terlewati, kini sudah satu tahun Ayah pergi meninggalkanku. Aku tahu ini sudah menjadi takdir Allah. Katakanlah aku pembohong! Aku terlihat baik-baik saja di depan suamiku, mertuaku, orang tua angkatku, Mama dan adik tiriku. Namun di belakang mereka, aku belum mengikhlaskan kepergian Ayah. Banyak sekali luka yang ku torehkan untuknya sehingga aku merasa bersalah kepadanya. Ya Allah ... Ya Allah ... Maafkan hambamu yang penuh dosa ini, hamba hanya ingin berbakti kepada kedua orang tua hamba. Kenapa engkau mengambil kedua orang tua hamba? Apa hamba tidak pantas untuk menjadi anak shalihah? Apa hamba tidak pantas untuk menjadi kebanggaan mereka? Air mata terus mengalir membasahi kedua pipiku. Aku duduk termenung sambil melihat langit dari jendela kamarku. Kini aku dan kak A

