1. Goresan Luka Masa Lalu

1216 Kata
     Dua tahun yang lalu saat Rena menginjak usia tujuh belas tahun dan masih duduk di bangku SMA kelas XII. Saat pulang sekolah Pamanya tepatnya adik kandung dari Ayahnya sendiri yang bernama Antonio Alexander membawanya pergi ke suatu tempat yang sepi yakni ke sebuah gudang. Rena diikat tangan dan kaki nya serta dibungkam mulutnya.  "Om.. Lepasin Rena!!" teriak Rena.  "Om, mau apain Rena? Om lepasin!" ucap Rena sambil menangis.  "Berisik! Diam kamu!!" bentak Anton lalu membungkam mulut Rena dengan kain.  Kemudian Anton menelpon Andi untuk datang ke tempat Rena disekap. Dengan alasan Rena diculik dan ditemukan oleh nya. Namun itu hanya rencana Anton agar Andi datang menemuinya dan menandatangani dan mengganti namanya sebagai penerima surat wasiat penyerahan Aset Perusahan dan semua kekayaan milik Andi yang kelak nanti diserahkan kepada Rena putri tunggal nya. Anton ingin memiliki semuanya karena ia iri dengan Kakak nya sendiri.  Tiba-tiba Andi sudah berada di ambang pintu dengan ditemani Istrinya yaitu Almira yakni Ibunya Rena. Almira menangis melihat putri nya di sekap begitu, ia berlari ingin menghampiri dan menolongnya namun tanganya dicekal oleh Anton. Kemudian Andi marah kepada Anton melihat tangan istrinya disakiti lalu dengan sigap Anton mengeluarkan pistol dari sakunya, diletakan dekat pelipis kepala Almira dan hendak membunuhnya. Rena yang melihat Ibu nya disakiti ia hanya menangis, ingin menjerit namun tak bisa. Sebisa mungkin Rena melepaskan ikatan tali ditanganya dan kakinya namun tetap ia tidak bisa.  "ANTON!  LEPASKAN!" bentak Andi dengan suara meninggi penuh emosi.  "Aku tidak akan melepaskannya!"  "Mau kau apa? Sampai nekat begitu?" tanya Andi.  "Aku akan membunuh anak dan istri kau! Kalau kau tidak menandatangani dan mengganti namaku Antonio Alexander sebagai penerima surat wasiat penyerahan Aset perusahaan dan semua kekayaan kau yang hendak diberikan kepada Anak kau. Tidak segan-segan aku membunuh anak dan istri kau sekarang juga!!" seru Anton. "Tidak akan pernah aku menyerahkan wasiat itu kepada kau!! Tidak akan pernah! Camkan itu!" Kemudian Anton menembakkan pistolnya ke arah Rena, untungnya peluru pistol tersebut melesat ke arah bangku disamping Rena.  "Kau sudah gila Anton!" ucap Andi. Almira dan Rena hanya menangis melihat ini semua. Kemudian Almira membuka suara dan sebisa mungkin melepaskan genggaman Anton.  "Mas! Tanda tangani saja surat wasiat itu, aku tidak butuh harta melainkan aku butuh nyawa putriku Rena!" ucap Almira sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian Almira menghampiri Rena dan membantu melepaskan ikatan tali di tangan dan kakinya. Lagi-lagi pistol itu ditembakan oleh Anton ke arah Rena dan Almira dan untungnya peluru tersebut hanya melesat ke arah bangku di samping Rena.  "Ayah! Tanda tangani saja surat itu yah! Hiks.. Hiks.. Aku gak mau Ibu celaka gara-gara surat wasiat itu!" ucap Rena yang kini bersuara dan memeluk Ibunya sambil menangis.  "Bagaimana Andi Wiratman? Apa kau bersedia menandatangani surat itu? Tadi tembakkanku sebagai pemanasan saja dan sekarang untuk ketiga kali nya aku akan benar-benar melesatkan arah peluru pistolku ke arah istri dan anakmu! Aku akan membunuhnya! Mereka akan MATI! Hahahaha..." jelas Anton sambil tertawa jahat.  "Mas! Aku mohon tanda tangani saja surat itu aku mohon mas!" ucap Almira.  "Sampai kapanpun aku gak rela semua hartaku berada di tangan Anton!"  "Ayah aku mohon yah!" lanjut Rena. Anton sudah menyiapkan peluru ketiganya untuk menembak Rena dan Ibu nya dan mengarahkan kepada mereka. Rena dan Ibu nya saling berpelukan dan menangis. Andi merasa kasihan melihat istri dan anaknya kemudian dia berubah pikiran dan mau menandatangani surat wasiat itu dan menggantikan penerima wasiat itu dengan bernamakan Antonio Alexander. ※※※    Beberapa bulan kemudian, Keluarga Andi mengontrak di kontrakan tempatnya di sebuah kampung yang jauh dari pusat keramaian kota Jakarta. Karena rumah dan semua fasilitasnya diambil alih oleh adiknya. Untungnya Rena sudah lulus SMA bulan kemarin dan biaya kelulusannya dibiayai dari Beasiswa Rena yang dulu tidak sempat dia ambil waktu mendapatkan juara olimpiade Matematika se-provinsi.  Dengan bergulirnya waktu, sikap Ayah Rena menjadi keras dan berhati kasar. Ayah Rena menyesali telah menandatangani surat wasiat itu, dan dia menyalahkan semuanya karena ulah istri dan anaknya yang memohon-mohon untuk menyetujui keputusan adiknya itu. Ayah Rena menjadi gila harta, ia selalu menyakiti Rena dan Ibu nya. Keluarga yang dulu harmonis dan baik-baik saja sekarang malah menjadi sebaliknya.  Setiap malam sepulang Rena dari tempat bekerjanya sebagai waitters di caffe. Ia selalu melihat Ayahnya sedang berjudi dengan preman-preman kampung dan meminum minuman keras.  "Ayah!"  "Pergi kau anak s****n! Jangan ganggu aku!!" bentak Ayahnya sambil mengusir Rena dengan mendorong tubuh Rena.  "Ayah cukup! Berhenti berjudi dan meminum minuman haram yah!" "Mana duit mu? Sini berikan kepadaku!" "Tidak ada yah! Ini buat berobat Ibu dan bayar kontrakan rumah!" Ibunya Rena memang sedang sakit, Ayahnya selalu minta uang hasil kerja Rena buat berjudi. Dengan bersikap keras Ayahnya mendorong tubuh Rena lagi. Rena langsung pergi meninggalkan Ayahnya tanpa memberi uangnya. Namun Ayahnya malah mengikuti Rena dan mengobrak-ngabrik isi lemari Rena untuk mendapatkan uangnya. Dengan hati emosi dan kebencian terhadap perilaku Ayahnya, Rena berani mengusirnya.  "Pergi kau! Aku tidak mau lagi melihat kau!" plakk satu tamparan mendarat di pipi Rena. "Anak s****n, berani-berani nya kau mengusirku! Memang kau siapa hah?!" bentak Ayahnya. Sedangkan Rena menatap tajam Ayahnya sembari memeluk Ibunya yang terisak.  "Kau tanya aku siapa? Aku anak yang punya Ayah yang suka berjudi, aku anak dari seorang pemabuk dan pencuri. Oh ralat kau bukan Ayahku tapi kau pencuri!!" Ayahnya pun tersenyum sinis.  "Cepat berikan uangnya anak s****n!" "Tidak akan pernah aku berikan uang itu. Karena itu hasil kerja kerasku sendiri!!" jawab Rena, lalu Ayahnya pun berjalan ke sebuah kamar dan membuka lemari serta mengacak-ngacak isinya sampai ia melihat beberapa lembar uang lalu bergegas pergi. Ketika dia hendak pergi dia melemparkan senyum kemenangannya.  "Aku sudah menemukannya anak bodoh!" ucap Ayahnya dengan senyuman kemenangannya. Rena hendak mengejarnnya tapi tangannya dicekal oleh Ibunya.  "Sudah nak, maafkan saja ayahmu." Rena tersenyum miris.  "Kenapa Ibu selalu membela pencuri itu hah? Kenapa bu?" Rena mulai menangis.  "CUKUP RENA! Bagaimana pun dia Ayahmu sendiri!" bentak Ibunya. Malam itu seperti memiliki waktu yang panjang bagi mereka. ※※※ "Hey.. RENA!! Bengong aja! Ada masalah? Cerita dong, kalau lagi ada masalah! Aku kan sahabatmu," Suara cempreng Kayla menyadarkan Rena dari kegiatan melamunya.  "Tidak, ya aku tahu kamu sahabatku yang paling cempreng dan pintar Kay," ucap Rena sambil tertawa. Kayla pun mendengus kesal. "Sebenarnya kamu niat memujiku atau menghinaku sih, Ren?" Rena pun terbahak mendengar ucapan Kayla.  "Hahaha... Hey sudahlah Kay, aku hanya bercanda! Coba lihat wajahmu sungguh konyol, hahaha.... " Kayla pun mencubit pipi Rena dengan kesal.  "Aww.. Maaf Kay. Oh, sudahlah aku mau bekerja dulu." "Yee.. Bentar dulu Ren!" "Ada apa lagi?" "Pulang kerja nanti, aku akan mengajakmu ke seseorang yang insyallah bisa menenangkan hati kamu. Aku tau kamu sedang ada masalah Ren! Please ya kamu ikut!" "Hmm..  Iya deh iya Kayla bawel!" "Yasudah sana kerja Ren, jangan bengong aja! Noh banyak pesanan makanan yang sudah siap diantarkan ke depan! Kasihan pelanggan Cafe kita kelaparan!" celoteh Kayla. "Iya.. Iya Kayla." ucap Rena sambil tersenyum lebar dengan menampakkan deretan gigi putih yang tersusun rapi. ※※※    Sepulang Rena dari tempatnya bekerja. Rena tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan ikut bersama Kayla teman kerjanya ke suatu tempat. Rena berteman dengan Kayla sudah satu tahun. Disaat Rena hendak mencari pekerjaan untuk menafkahi keluarganya dulu. Rena bertemu Kayla di halte mini bus. Dan saat itu juga Kayla mengajak Rena untuk bekerja di Cafe tempat bekerjanya. Hingga sekarang Rena dan Kayla berteman dengan baik, akan tetapi Rena belum bercerita tentang masa lalu nya kepada Kayla.  Malam yang dingin menerpa mereka saat di perjalanan. Kayla membonceng Rena dengan sepeda motornya. Tidak lama kemudian, sepeda motor yang di kendarai Kayla berhenti di suatu tempat, tempat yang asing bagi Rena, namun tidak bagi Kayla.  "Tempat apa ini Kay?" tanya Rena penasaran.  "Masa kamu tidak tahu?" ucap Kayla sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil. _Aku Rindu Ayah_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN