Tet! Tet! Tet!
Bel istirahat berbunyi menimbulkan suasana kelas menjadi berisik. Siswa siswi segera menutup buku-bukunya dan bergegas ke kantin untuk makan siang. Gera memasukkan buku-bukunya kembali ke ranselnya yang menggantung di sandaran bangku.
Banyak dari teman-teman sekelas Gera sudah keluar lebih dulu meninggalkan buku mereka di atas meja setelah guru yang mengajar keluar dari kelas.
Mereka takut tidak mendapatkan tempat untuk duduk karena pastinya ramai.
"Gera, yuk ke kantin bareng." Ajak seorang gadis teman sekelasnya sedang menunggu di depan pintu kelas.
Rona Ardiyana Putri, 17 tahun, 175 cm, model pakaian casual, dan berambut ikal panjang di kuncir satu.
Gera mengangguk lalu pergi bersama Rona ke kantin.
"Wili dan Senia kemana?" Tanya Gera karena tidak biasanya Rona pergi sendiri dan mereka bertiga selalu bersama.
Gera termasuk siswi yang bebas kemanapun dan tidak berada di kelompok apapun, jadi terkadang Gera pergi ke kelompok lainnya jika mereka mengajak.
Biasanya di dalam pertemanan perempuan di suatu kelas pasti ada kelompok-kelompok yang memisahkan satu sama lain. Kelompok tersebut terbentuk entah dari minat yang sama atau keahlian mereka yang mendukung. Sayangnya, Gera bukan seorang ahli dalam belajar maupun memiliki hobi yang tetap atau fanatik. Gera hanyalah sebagian kecil dari siswi yang memiliki karakter relatif, bisa masuk kemanapun dan diterima di manapun.
"Mereka sudah lebih dulu pergi mengambil tempat." Jawab Rona.
Rona dan Gera mempercepat langkahnya. Ketika mereka sampai suasana kantin sudah penuh dan tidak banyak tempat yang tersedia.
Dari kejauhan, Gera dan Rona melihat lambaian tangan Wili yang telah mendapatkan tempat terbaik yaitu di dekat jendela mengarah ke lapangan voli. Gera dan Rona menghampirinya lalu duduk di bangku yang telah di jaga baik-baik oleh Wili dan Senia.
"Wih, bagaimana kamu bisa dapat tempat terbaik ini?" Ucap Rona mengacungkan jempol pada Wili dan Senia.
"Iya dong, siapa dulu." Bangga Wili memamerkan kekuatannya.
Gera menatap Wili dari kepala hingga kaki. Wiliyandra Arsey atau Wili, 17 tahun, 174cm, atlet lari putri, rambut pendek seleher.
"Heh, pesan sana, keburu habis ntar." Ucap Senia mengingatkan.
Sekarang Gera menatap ke arah Senia yang duduk di sebelah Wili. Senia Aisyahrani, 17 tahun, 168cm, trainer XS entertainment, memiliki bola mata besar lentik, rambut pirang panjang tergerai.
"Gera, kamu mau pesan apa? Sekalian ku pesanin." Tanya Rona bangkit dari duduknya.
"Makasih, samain saja." Balas Gera tersenyum ramah.
Rona pun mengangguk dan pergi mengantri memesan makanan.
Wili dan Senia berbisik-bisik sambil melihat kakak kelas tengah bermain Voli di lapangan. Gera ikut menengok dan mengamati permainan mereka sambil menunggu makanannya datang.
"Kak Alex benar-benar ganteng." Ucap Wili dengan mata berbinar-binar.
"Lebih keren kak Vio." Ucap Senia membanggakan idolanya.
"Semuanya keren kok." Ucap Gera terkekeh.
Wili dan Senia menatap Gera tajam.
"Apa?" gugup Gera karena dia merasa tidak pernah mengatakan sesuatu yang salah.
Wili melipat kedua tangannya di d**a, "Gera, apa kamu gak memiliki tipe yang kamu suka gitu? tipe tertentu."
Gera tampak berfikir sejenak.
'Apa aku memiliki tipe seseorang yang aku suka?'
Gera menggelengkan kepalanya, "entahlah, aku pun tidak tahu."
Wili dan Senia terpukau, "wah, baru kali ini aku mendengar seseorang tidak memiliki tipe ideal." balas Wili.
"Benar, pasti ada deh. Masa gak ada haha," Senia terkekeh.
Tidak lama Rona pun ikut bergabung membawa pesanan dan meletakkannya di meja.
"Apa yang kalian bicarakan? sepertinya seru." Tanya Rona.
"Ini nih, Na. Gera gak punya tipe ideal katanya haha," Jawab Wili sambil tertawa.
Gera mengernyit heran, 'apakah tidak memiliki tipe ideal sesuatu yang lucu?'
"Eh, serius Ra?" tanya Rona tidak percaya.
"Aku gak percaya. Mungkin saja Gera belum memikirkannya." Ucap Senia mempertimbangkan.
"Aku juga tidak tahu. Memangnya punya tipe ideal itu wajib ya?" Tanya Gera polos.
Rona, Wili, dan Senia ikut berfikir.
'Apakah memiliki tipe ideal itu wajib?'
"Hm, kalau aku sendiri sih gak terlalu juga." Jawab Rona menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Wili dan Senia menggeleng kepala cepat tidak setuju dengan pendapat Rona.
"Gera, kamu harus memiliki tipe ideal!" sungut Wili disertai anggukkan Senia.
"Iya Gera, coba kamu perhatikan baik-baik di lapangan sana. Ada gak fisik cowok yang kamu suka atau jelaskan ciri-cirinya." Ucap Senia.
Gera berfikir sejenak menggambarkan sosok yang sempurna dia sukai, "Aku suka orang tinggi dariku, wajahnya enak di lihat, kulit putih, baik, pintar, gak nakal, dan..,"
Deg,
Gera terhenti karena tiba-tiba gambaran yang dia lukiskan di kepala berubah menjadi sosok Dion. Wajah Gera sukses memerah.
"Dan apa Gera?" tanya Rona penasaran melihat tiba-tiba wajah Gera memerah.
"Ehei, kamu lagi mikirin gebetan kamu ya haha," goda Wili.
Gera menunduk malu dan menyangkalnya, "eng-enggak kok. Aku hanya tiba-tiba teringat tugas dan harus cepat-cepat menghabiskan makanan."
Gera mulai menyuap makanannya karena salah tingkah. Rona, Wili, dan Senia tersenyum penuh arti.
*
Gera mengamati kantin yang tidak henti-hentinya ramai sambil menyuap makanannya sementara Rona, Wili, dan Senia sibuk dengan makanannya terkadang sekali-kali mengobrol.
Gera mendapati Dion dari kejauhan bersama Fero baru memasuki kantin. Gera melihat makanannya masih banyak dengan cepat dia habiskan.
'Jangan sampai dia kesini.' batin Gera.
"Ra, kamu kenapa buru-buru amat? Ntar keselek loh," ucap Rona mengingatkan.
"Ssst, diam. Nanti Dion datang dan tahu aku disini. Aku perlu melindungi sosisku untuk di makan paling akhir." Ucap Gera waspada sedikit melirik ke arah Dion yang tengah mengobrol dengan kakak kelas tidak jauh darinya.
Gera tipe orang yang menyisakan makanan paling enak terakhir untuk di makan. Gera tidak ingin Dion mengambilnya lagi karena setiap kali mereka makan bersama, Dion selalu saja mencuri makanan favoritnya itu.
"Haha, kamu lucu ya, Ra." tawa Rona, Wili, dan Senia.
"Eh, ngomong-ngomong kalian serius gak pacaran atau memiliki hubungan gitu, Ra?" Tanya Senia penasaran diikuti anggukkan Rona dan Wili.
Deg,
Gera dengan cepat menggelengkan kepalanya, "enggaklah, mana mungkin aku pacaran sama cowok kayak gitu. Jangan bercandalah."
"Hah serius? tapi kalian kelihatan sangat akrab seperti orang berpacaran."Ucap Senia.
"Iya Ra, kalian terlihat seperti pasangan, walaupun sedikit tidak cocok hehe," balas Wili membuat Senia menyenggolnya.
"Haha, gak lah. Aku dan Dion sudah temanan dari kecil. Jadi begitulah, emang sudah seperti saudara dan gak lebih. Lagipula kami tidak cocok juga." Elak Gera sambil tertawa kaku.
Gera merasakan sakit di hatinya, mengatakan diri sendiri bahwa dirinya tidak pantas untuk Dion.
"Hm, menurutku gak ada namanya hubungan temanan antara cewek cowok. Pasti salah satunya ada yang memendam rasa." Ucap Wili.
"Iya Ra, mungkin saja Dion punya rasa sama kamu atau jangan-jangan kamu." Ucap Rona dengan tatapan menyelidik diikuti oleh Wili dan Senia.
Gera kewalahan dengan desakan teman-temannya.
"Sudah ku bilang, gak lah. Kalian ini ada-ada saja. Antara aku dan dia gak ada cocok-cocoknya sama sekali. Mana mungkin aku suka sama dia."
Deg,
Keringat mulai membasahi dahi Gera dan Gera memang tidak pandai dalam berbohong. Jantungnya berdetak kencang karena gugup. Membayangkan teman-teman sekelas tahu atau seisi sekolah tahu dirinya menyukai Dion yang adalah salah satu laki-laki populer membuatnya takut. Takut bahwa dia akan di benci, di ejek, atau yang lebih menakutkan Dion menjauhinya. Menjadi temannya saja lebih dari cukup.
Gera terpaksa berbohong karena kenyataannya pula mana mungkin Dion menyukainya. Di lihat dari sisi manapun, Dion sama sekali tidak menganggapnya sebagai perempuan melainkan anak kecil. Bodoh, jika Gera berharap terlalu banyak.
"Siapa yang tidak cocok?" Bisik seseorang tiba-tiba di belakang Gera.
Deg,
Suara yang tidak asing itu membuat Gera merinding dan ingin melindungi sesuatu yang ada di piringnya. Gera kesal karena obrolan itu membuatnya melupakan makanannya yang harus segera dia habiskan sebelum Dion datang. Gera buru-buru mengambil sosisnya dan hendak memasukkan ke mulut namun gagal karena tangannya yang memegang sendok di tarik ke arah mulut Dion dan ia memakannya dengan senyuman puas. Gera menatap Dion kesal.
"Dion!!!" Teriak Gera kesal alhasil Dion menutup kedua telinganya karena suara nyaring Gera.
Semua orang di kantin menatap ke arah mereka.
'Sial, memalukan. Gara-gara Dion semua orang melihat kearahku.' Batin Gera.
Gera bangkit dari duduknya memukul Dion. Wili, Rona, dan Senia tertawa melihat aksi merajuk Gera begitupula Fero yang baru muncul di belakang Dion.
Dion menahan kedua pergelangan tangan Gera dengan erat membuat Gera sulit melepaskannya.
"Eits, jangan ngamuk dong. Bukannya kau tidak suka itu makanya di pisahkan." Goda Dion.
"Siapa bilang aku tidak suka. Aku baru mau memakannya tapi kamu merebutnya. Menyebalkan." Kesal Gera berusaha menarik tangannya kembali dari genggaman Dion karena jantungnya semakin berdebar kencang.
Deg,
Deg,
'Apa-apaan dia. ' batin Gera.
Dion menatap tajam Gera, membuatnya memalingkan wajah gugup dengan tangan yang masih di tahan oleh Dion.
"Dion, kira-kira tipe cewek yang kamu suka seperti apa?" Tanya Rona memecahkan suasana tegang antara Gera dan Dion.
Dion melepaskan genggamannya dari tangan Gera dan berfikir.
"Hm, mungkin tinggi 175cm dan cantik." Jawab Dion santai sambil mengacak rambut Gera gemas, membuat Gera kesal memukulnya.
Deg,
'Tuh kan. Gak mungkin Dion suka sama cewek pendek kayak aku.'
Gera kembali duduk dengan perasaan campur aduk.
"Oh, kirain kamu suka sama Gera. Kalian kelihatan akrab sih." Ucap Rona malu-malu.
Gera memandangi tingkah Rona menatap Dion, 'Sepertinya Rona suka sama Dion dan tingginya sesuai tipe idealnya, 175cm, dan Rona sangat cantik.'
Dion membalas ucapan Rona dengan kekehan. Gera merasa hatinya begitu sakit membayangkan bahwa Dion bersama Rona menjadi pasangan serasi.
Gera bangkit dari duduknya membawa piring kotornya untuk di letakkan ke tempat cucian, "aku duluan."
Gera melewati Dion dan Fero dengan kesal lalu keluar dari kantin.
'Bodoh, aku benci Dion.'
-To be continued-