Gadis Pendek
Cerita pertama yang di publikasikan ke Innovel "187cm VS 150cm"
***
Drrt..drrt..
Di sebuah kamar bernuansa biru muda, seorang tengah mengeliat dari tidurnya di balik selimut tebal bermotif awan dan langit biru. Dia terganggu karena bunyi getar alarm ponselnya di atas meja kecil di sisi ranjang. Dengan malas menjangkau ponsel tersebut untuk melihat pukul berapa saat ini. Dia melompat kaget melihat angka yang tertera di layar ponselnya dan tampak kewalahan menarik tirai kamar. Benar, matahari mulai naik.
"Mama, kenapa gak bangunin Gera!!!" Serunya melepaskan semua pakaiannya asal dan masuk ke kamar mandi.
***
Gera Akumilara, 17 tahun, siswi Sekolah Menengah Atas, bertubuh mungil dan pendek, tengah tergesa-gesa memakai sepatunya lalu mencomot roti bakar di atas meja dan membawa sekotak s**u stroberi.
"Mama, sepatu Nia dimana?"
"Mama, kaos kaki hitam kok belum di cuci?!"
"Huaa, dedek gak mau sekolah."
Mama tampak sibuk sana-sini mengurus anak-anaknya seperti itulah yang terjadi di rumah Gera Akumilara. Rumah yang seperti pasar ketika di pagi hari. Saudara-saudaranya yang belum mandiri dan mama yang terlalu memanjakan mereka.
"Papa, bangun!" Teriak mama membangunkan suaminya yang masih tidur padahal pagi ini dia harus pergi ke kantor lebih cepat karena ada rapat.
Gera Akumilara adalah anak ketiga dari empat bersaudara yaitu dua kakak perempuan dan satu adik laki-laki. Kakak pertama dan kedua masih duduk di bangku kuliah karena jarak mereka setahun, sementara adiknya yang paling bungsu menginjak bangku kelas dua Sekolah Dasar.
"Ma, Gera pergi dulu."
Gera lebih suka datang lebih awal karena udara masih begitu menyegarkan, jalanan tidak macet, dan sekalian olahraga pagi. Tapi di balik alasan itu semua, ada alasan yang paling utama yaitu hanya untuk menghindari keributan di rumahnya dan berniat melanjutkan kembali tidur di kelas.
Gera tengah berjalan menuju sekolah sambil mengemut lollipop. Dia menenteng ranselnya di punggung dan menatap pemandangan yang membuatnya kesal. Ini benar-benar hari sialnya, melihat pasangan kekasih tengah bermesraan di setiap jalan. Wajar saja karena langit masih cukup gelap.
'Sial, ini masih pagi dan mereka membuat hal yang menjijikkan seperti ini.'
Dia mendengus kesal melihat sepasang kekasih lain yang lebih tua darinya tengah duduk di bangku halte merangkul satu sama lain sembari berbisik mesra. Gera berdiri membelakangi pasangan itu sambil menunggu bus datang.
"Dek, pagi sekali ke sekolahnya? belum buat PR ya?" Ucap salah satu pasangan kekasih itu pada Gera.
"Iya kak." Jawab Gera sekenanya padahal dia bukan anak yang suka mengerjakan tugas di sekolah.
Gera adalah tipe gadis yang tidak suka bergaul dengan orang asing.
Tidak lama bus datang. Gera membuang tangkai lollipop nya ke tong sampah tidak jauh dari sana lalu masuk ke dalam bus. Gera mengambil tempat paling depan dekat pintu agar lebih mudah keluar karena sekolahnya tidak terlalu jauh. Gera melirik ke belakang, masih banyak bangku kosong dan jarak penumpang satu sama lain cukup jauh.
Deg,
Lagi-lagi Gera melihat sepasang kekasih yang tengah bermesraan di bangku belakang. Mereka tengah berciuman. Gera memutar kepalanya lalu menatap keluar jendela.
'Banyak orang sinting dan tidak punya malu dimana-mana.'
***
Gera bernafas lega ketika bus berhenti di halte depan sekolah. Gera segera turun dan masuk ke dalam pekarangan sekolah. Di depannya dia melihat pasangan lain tengah berpegangan tangan. Dia melihat tinggi mereka sangat serasi. Gera menggigit bibir bawahnya kesal meratapi tubuhnya yang belum tumbuh sejak di bangku menengah pertama.
"Kenapa cuma aku yang tidak tumbuh? Padahal mereka seumuran denganku." Gerutunya pelan.
Tiba-tiba seseorang merangkul bahu Gera dari belakang dan sedikit mencondongkan tubuhnya.
"Pagi anak TK." Ucap orang itu sambil cengengesan membuat Gera menatap nyalang, terlebih moodnya pagi ini sangat buruk.
Gera menginjak kaki orang itu, membuat orang itu mengaduh dan melepaskan rangkulannya. Gera melanjutkan langkahnya dengan cemberut dan orang itu tertawa puas mengejar Gera. Dia adalah Dion Alhemdrazi Verzio, 17 tahun, teman kecil dan cinta pertama Gera. Pria jangkung yang tingginya di atas rata-rata, 187cm, layaknya orang luar negeri. Wajar saja kerena memang dia keturunan campuran bukan asli Indonesia.
"Ra," panggilnya sembari memegang pengait yang terdapat di atas ransel Gera dan berjalan mengekori.
Gera hanya menghela nafas panjang karena sudah terbiasa di perlakukan seperti itu olehnya.
"Berhentilah mengekoriku. Aku benci sama tubuh jangkung mu." Ucap Gera.
Dion tertawa puas karena berhasil membuat Gera marah yang baginya sangat lucu, "Haha, ayolah. Ini masih masa pertumbuhan dan kau pasti bisa tinggi sedikit lagi."
Gera mendelik tajam karena ucapan Dion seolah mencemoohnya.
Deg,
Dion selalu saja seenaknya merangkul Gera dan membuat Gera selalu salah paham dengan perlakuan kecil itu. Dion mengacak rambut Gera gemas sembari berjalan di koridor.
"Berhenti membuat semua orang salah paham." Ucap Gera menepis tangan Dion di kepalanya karena melihat pandangan orang-orang di koridor menatap dirinya.
"Siapa yang salah paham? Gue tidak peduli." Balas Dion santai dan semakin merangkul Gera dengan erat membentur tubuhnya.
Gera merasa gugup menepis lagi dan lagi namun Dion tidak menyerah dan selalu menyentuhnya hingga sampai ke kelas.
"Wah, pasangan tidak cocok ini datang lagi bersama haha.," Seru Ferondi g***o, 178cm, laki-laki paling pencicilan di kelasnya, teman dekat Dion.
'Memang benar, orang jangkung pasti akan selalu bertemu dengan jangkung juga.'
Gera mengamati tinggi mereka berdua dan benar-benar bukan seperti siswa SMA di Indonesia pada umumnya.
Dion melepas rangkulannya dan melangkah ke bangkunya paling belakang bersama Fero yang tengah berdiri di sana. Dion menjitak kepala Fero sambil terkekeh lalu mengobrol satu sama lain yang tidak di mengerti oleh Gera.
Gera mengabaikan mereka lalu duduk di bangkunya paling depan sembari menaruh ranselnya di bangku. Gera merebahkan kepalanya di meja dan menenggelamkan wajahnya di sana melanjutkan tidur sebelum bel masuk berbunyi.
"Kapan Lo tembak dia?" Tanya Fero.
Gera yang belum sepenuhnya tertidur, diam-diam menguping pembicaraan mereka.
'Siapa yang di tembak Dion? Apa jangan-jangan ada cewek yang di sukainya?' pikir Gera.
"Haha, gak tahu lah." Balas Dion sambil tertawa.
"Lah, Lo mah. Trus gimana si Gera. Menurut Lo dia gimana?" Fero menyenggol bahu Dion di sampingnya.
Deg,
Gera refleks mengangkat wajahnya dan menoleh ke belakang karena mendengar namanya di bicarakan. Mata Gera secara otomatis bertemu dengan Dion yang tengah menatap kearahnya. Dion menarik sudut bibirnya.
Deg,
Gera menelan ludahnya gugup ketika Dion mulai menggerakkan bibirnya membuka suara.
"Haha, mana mungkin gue pacaran sama anak TK." Ucap Dion tertawa puas melihat ekspresi lucu Gera di sertai tawa Fero yang tertawa sambil memegang perutnya.
Gera melempar buku tulisnya ke arah Dion dan berhasil di tangkap lalu dengan sengaja dia sembunyikan ke dalam laci mejanya sambil menggoda Gera.
"Sialan kau Dion. Kembalikan bukuku." Teriak Gera emosi.
Dion menjulurkan lidahnya mencibir. Gera bangkit menuju meja Dion untuk merebut bukunya kembali namun Dion enggan mengembalikannya dan mempermainkan Gera.
"Dion, kembalikan ku bilang!" kesal Gera.
Dion mengambil buku tulis Gera yang dia sembunyikan ke laci lalu mengangkat buku itu ke atas dengan satu tangan membuat Gera melompat-lompat menjangkaunya.
"Dasar jangkung sialan. Balikin." Gera menarik seragam Dion namun itu tidak berefek sama sekali.
"Coba usaha haha," goda Dion.
"Haha sial. Kalian benar-benar lucu. Jadian sana," seru Fero melihat perdebatan Dion dan Gera.
"Ogah, siapa juga yang mau sama cowok jangkung kayak gini." Teriak Gera masih berusaha merebut bukunya.
Dion mendengar ucapan Gera menarik sudut bibirnya, berdiri dengan santai sembari mengangkat buku tersebut.
"Siapa juga yang mau sama anak TK."
Deg,
Sebenarnya jantung Gera berdetak tidak karuan saat ini karena beberapa kali tubuhnya menubruk tubuh besar Dion. Gera merasa sakit hati karena Dion sama sekali tidak menganggapnya sebagai perempuan dan selalu menjahilinya seperti anak kecil. Beberapa kali Gera hampir terjatuh karena melompat-lompat dan Dion dengan santai menahan pinggang Gera agar tidak terjatuh dengan tangannya yang bebas. Gera akhirnya menyerah dengan bibir di pautkan ke bawah menghentikan aksi lompatnya.
"Menyebalkan." Gumam Gera dengan mata berkaca-kaca merasa di permainkan.
Tubuhnya sudah penuh keringat padahal ini masih pagi.
"Kenapa? Sudah mau berhenti melompatnya?" Ucap Dion terkekeh.
Gera mendapati Dion sedikit lengah memanfaatkan kesempatan itu menginjak kakinya, membuat Dion mengaduh lalu merebut bukunya kembali sambil mencibir puas.
"Rasain uwekk," ledek Gera memeletkan lidah lalu kembali ke bangkunya.
Fero tertawa melihat seorang Dion berhasil di kalahkan dengan satu serangan dari Gera sambil menepuk bahu Dion, "Galak benar si Gera haha,"
-To be continued-