Bab. 18 Mencinta Lagi

3628 Kata
       Cerita kisah percintaan saya tidak berhenti sampai di sana saja, masih panjang alurnya. Tidak berhenti sampai di kisah bersama dengan Ryan saja. Membicarakan tentang Ryan, dia sudah tidak lagi tinggal di Indonesia melainkan dia tinggal di Australia. Saya dapat kabar itu dari seseorang yang saya minta untuk mencari tahu tentang Ryan. Saya tidak akan lagi bertemu dengan sosok seperti Ryan. Hampir sulit untuk dipercaya oleh saya kalau hubungan saya dengan dia harus berakhir. Berakhirnya hubungan saya juga tidak membuat saya merasa bahagia. Saya justru merasa hidup saya itu hampa tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa karena saya tidak akan bisa kembali lagi untuk memperjuangkan Ryan. Ryan yang sudah memperingatkan saya untuk tidak boleh kembali ke dalam kehidupannya dan apa yang sudah menjadi keputusan saya saat dulu tidak bisa saya putar kembali, untuk saya tarik lagi kata-kata saya. Ryan juga tidak akan mungkin mau menerima saya kembali ke dalam kehidupannya setelah saya menghancurkan harapan dia dan juga membuatnya sangat kecewa. Orang tuanya sungguh sudah mempercayai Ryan kepada saya. Saya memang tidak mengatakan janji apa-apa kepada mereka tetapi mereka menganggap saya sudah berjanji kepada mereka bahwa tidak akan meninggalkan Ryan. Nyatanya, apapun itu saya tidak bisa menepatinya. Saya tidak bisa mewujudkan harapan mereka semua.         Kadang-kadang diri saya ini mempertanyakan tentang keputusan saya saat itu. Memilih sebuah kesempurnaan yang sebenarnya mengapa tidak bisa membuat saya merasa bahagia. Setiap saya putus dari seseorang, saya pasti selalu berpikir, kalau saya nantinya akan mendapatkan seseorang yang lebih baik lagi. Saya akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dari yang sebelumnya. Nanti juga akan ada laki-laki lagi yang datang ke dalam kehidupan saya, begitulah saya menghibur diri saya. Saya merasa, seseorang tidak mungkin tidak mencintai diri saya, pasti mereka juga akan mengejar-ngejar saya. Tidak hanya satu orang saja melainkan banyak. Karena banyak laki-laki yang datang ke dalam kehidupan saya, saya menyadari kalau saya itu menjadi seseorang yang tidak bisa menghargai suatu hubungan. Saya memang ikut patah hati karena saya berpisah dengan orang yang saya cintai. Butuh waktu untuk menyembuhkannya tetapi tidak dalam waktu yang lama. Saya tidak pernah lama untuk menjomlo, untuk menyendiri. Saya selalu pasti akan mendapatkan seseorang lagi.         Entah dari mana saja jalannya, pasti selalu saja Tuhan akan mendatangkan seseorang di dalam kehidupan saya. Entah dari kejadian yang tanpa sengaja saya bertemu dengan seseorang itu seperti Ryan. Atau juga bisa lewat jalur dari teman saya. Saya bertemu dengan Vidya saat itu. Saya lagi main ke rumah dia karena saya merasa sumpek sekali di rumah ah dan dengan pekerjaan saya yang benar-benar membuat saya sangat stres. Akhirnya saya mencari teman ngobrol dan berakhirlah saya bertemu dengan Vidya. Soalnya hanya tinggal kami berdua saja yang belum menikah sedangkan kedua teman saya yang lainnya itu sudah berumah tangga dan tinggalnya pun juga sudah jauh karena mereka ikut dengan suaminya. Jadi, untuk intens pertemuan kami itu sangat berkurang.        "Gue sebenarnya mau kenalin Lo sama seseorang, Nay," ucap Vidya dengan mengeluarkan asapnya dari mulutnya. Dia sedang merokok di hadapan saya. Pertemuan saya dengan teman saya bukan berarti saya menceritakan tentang kisah percintaan saya yang harus kandas. Saya tidak pernah mau curhat sama teman-teman saya seperti kebanyakan perempuan perempuan yang lainnya. Mereka tetap bertanya tentang hubungan saya dengan seseorang lalu saya menjawabnya dengan simpel, saya sudah berakhir dengannya dan sudah. Mereka sangat paham watak saya yang tidak suka ditanya tentang hal pribadi. Setelah itu mereka tidak akan banyak bertanya tentang lebih jauh lagi. "Dia ini cowok dari keluarga konglomerat. Dia juga menjabat sebagai CEO di perusahaan keluarganya. Soalnya dia ini anak semata wayang dan penerus usaha bisnis yang udah dibangun lama oleh keluarganya," jelas Vidya. Saya saat itu lagi sedang membaca buku dari penulis-penulis yang saya sukai tetapi saya tidak ingat waktu itu saya membaca buku apa saat Vidya lagi sedang menceritakan tentang seorang laki-laki yang ingin dia kenalkan kepada saya.       "Emangnya perusahaan apa? Bergerak dibidang apa?" tanya saya serius sembari menutup buku yang saya baca tadi. Saya mulai serius untuk mendengar obrolannya dari Vidya. Saat itu saya merasa saya membutuhkan seseorang. Saya ingin kenal dengan laki-laki lagi dan saya tidak kapok dengan urusan percintaan saya yang sudah kandas. Yang berlalu biarlah berlalu. Saya sudah terbiasa untuk tidak larut dalam kesedihan saya saat saya dari kecil hingga sampai saya dewasa. Walau tak bisa saya pungkiri rasanya sangat sakit di hati saya, tetapi logika saya tetap berjalan untuk mengendalikan diri saya supaya saya tidak terlalu tenggelam dalam kesedihan yang tak berujung. Saya rasa saya harus mencari seseorang untuk menyembuhkan luka di hati saya. Saya mau move on dari masa lalu saya yang gagal dalam menikah. "Di bidang properti dan elektronik. Termasuk orang yang tajir banget, sih. Ganteng lagi sumpah. Gue kirimin ya fotonya dulu ke Lo, ya," kata Vidya sembari men-scroll layar di HP-nya sampai akhirnya dia menemukannya dan kemudian dia memberikan HP dia kepada saya. Saya perhatikan memang benar yang dibilang Vidya. Dia laki-laki yang cukup tampan dengan kulit putihnya dan juga mata sipit nya. Kalau Ryan yang sebelumnya wajahnya mirip seperti Hamish Daud menurut saya, laki-laki yang tidak saya tahu siapa namanya ini wajahnya turunan dari etnis Tionghoa. Nama dia itu, "Galang Vico Pangaribuan. Campuran antara Cina sama Batak. Kebanyakan dari keluarganya itu sebagai pengacara dan juga pebisnis. Dia sendiri lulusan dari Amerika, loh," jelas Vidya menjabarkan latar belakang dari temannya ini. "Tapi Lo tahu Nay, dia itu punya nasib yang sama kayak Lo," ucap Vidya lagi dan kali ini tentu membuat saya langsung terkejut. Bagian dari hal yang menarik untuk saya memberikan perhatian saya sepenuhnya kepada Vidya. Saya mau mendengar maksud yang dia katakan itu apa? Vidya melihat tatapan saya yang menjadi penasaran. Dia kembali meneruskan perkataannya. "Dia juga gagal nikah kayak Lo. Kalian itu punya kisah yang sama. Dia juga ditinggalin sama calon istrinya, karena katanya, sih, calon istrinya itu lebih milih balikan sama mantannya," seru Vidya dan ia sibuk mematikan pemantik api di rokoknya. Saat Vidia menceritakan tentang kisah percintaan dari laki-laki yang bernama Galang Vico Pangaribuan itu saya langsung teringat tentang kisah saya sendiri yang meninggalkan Ryan di saat dia sedang terpuruk-puruknya. Ketika Vidya bilang bahwa calon istrinya itu meninggalkan Galang Vico Pangaribuan, saya merasa tersinggung karena saya pernah berada di posisi si perempuan tersebut walaupun dengan alasan yang berbeda kita meninggalkan laki-laki yang akan menjadi suami kita nantinya. "Gue rasa dengan kalian yang punya kisah yang hampir sama karena gagal menikah walaupun dengan posisi yang berbeda, mungkin ini cara Tuhan untuk membuat kalian saling mengenal dengan gue sebagai perantara kalian. Siapa tahu aja kalian itu berjodoh. Gue juga udah kenalin Lo ke Galang dan dia mau kenalan sama Lo. Well, sekarang tinggal Lo sendiri. Lo maunya gimana?" Saya terdiam sebentar untuk memikirkan sesuatu hal yang sangat penting. Saya ingin move on dari kisah saya yang lama dan ingin segera melupakan tentang bayang-bayangan Ryan dari kehidupan saya. Ryan sudah pergi dan tidak lagi tinggal di Indonesia melainkan dia tinggal di Australia. Ryan sendiri sudah memulai kisah hidupnya yang baru dan pasti ia hidup bersama dengan perempuan lain yang dia cintai, yang dapat menerima dia dengan sepenuh hati dan setulus hati. Tidak mungkin tidak ada perempuan yang setulus itu untuk menerima keadaan Ryan. Saya sendiri semakin buruk saja karena belum bisa menjadi perempuan yang dapat menerima seseorang dengan apa adanya saat itu, tetapi lagi-lagi saya mengabaikan perasaan yang hanya bisa memberatkan beban dalam hidup saya saja. Memikirkan tentang Ryan yang pastinya dia juga melangkah jauh sekali dari masa lalu saya pun ingin melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan. Laki-laki tidak akan mungkin hanya berdiam saja pada masa lalunya dan tidak mau bergerak ke masa depan. Sangat mustahil kalau Ryan masih mencintai saya. saya harus melupakan cinta saya pada Ryan dan menggantikannya dengan cinta yang lain dengan hati yang lain juga tentunya. Saya harus melangkah maju lebih jauh dari siapapun. Saya akan membuka hati saya untuk seseorang yang memang mau masuk ke dalam kehidupan saya. Karena itulah saya mengiyakan ajakan dari Vidya untuk bertemu dengan Galang Vico Pangaribuan.  Di suatu club malam saya menemui Galang Vico Pangaribuan bersama dengan Vidya. "Lo tenang aja Nayla, kita datang ke sini itu karena diundang sama Galang buat acara ulang tahun dia. nggak bakalan ada yang maksa Lo minum juga. Kalau emang Lo nggak suka minum, ya, udah, nggak apa-apa," tutur Vidya tetap menarik tangan saya yang sebenarnya enggan saya itu untuk masuk ke dalam club tersebut karena saya itu bukan anak yang suka keluyuran malam-malam sesuatu bar cafe atau ke tempat-tempat diskotik. Saya juga bukan seorang peminum. Berbeda dengan ketiga saudara saya, yang bagi mereka itu, tempat-tempat seperti ini sudah biasa di dalam kehidupan mereka. Sering mereka kunjungi untuk bersenang-senang apalagi kalau dalam keadaan yang lagi sedang suntuk-suntuknya pikiran. Saya sendiri, punya cara saya sendiri untuk bagaimana saya, tidak yang namanya melibatkan hal-hal yang dapat merugikan diri saya. Lagian bagi saya, minuman alkohol juga tidak baik untuk kesehatan tubuh. Begitu masuk dalam klub, yang menyambut saya adalah keramaian. Gemerlap lampu diskotik sedikit mengganggu penglihatan saya. Vidya menarik tangan saya untuk masuk lebih dalam lagi. Ada di suatu tempat di mana banyak orang yang ikut sedang merayakan acara ulang tahun dari seseorang yang saya duga, laki-laki yang saya lihat saat itu adalah Galang Vico Pangaribuan. Dia hanya memakai kemeja berwarna merah marun.  "Haiii Langggg!!!" sapa Vidya, agak meninggikan nada suaranya supaya dapat terdengar oleh orang yang dia panggil. Saya sendiri berdiri kikuk di dekat Vidya karena saya tidak mengenal siapa-siapa di sini. Sudah menjadi watak saya bila berada di tempat yang ramai orangnya, saya tidak terlalu banyak bicara karena memang itu sudah bagian dari diri saya. "Hai Vid! Datang juga Lo, gue pikir Lo nggak bakalan dateng. Nungguin lo tau gue dari tadi," dumel cowok tersebut kepada Vidya yang badannya udah tidak bisa diam lagi. Dia sibuk gerak sana sini. Pasti ia ke pengen ikutan menari bersama dengan yang lainnya. Bagi Vidya tempat-tempat seperti ini sudah tidak asing. Dia sangat menyukainya karena setiap malam pun dia juga suka main ke sini. Bersama dengan kedua teman saya yang lainnya hanya saja mereka sudah pada menikah. Jadi Vidya merasa ada yang kurang, merasa tidak punya teman, terlebih saya memang tidak suka datang ke sini.  "Ya, gue pasti bakal datang lah. Nggak mungkin gue nggak bakal datang ke acara ulang tahun kawan gue sendiri, yang ada Lo bakal semprot gue lagi," balas Vidya dengan seraya terkekeh. Yang memberikan kado ulang tahun kepada temannya itu. "Eh, by the way kenalin, nih, kawan gue. Namanya Nayla, yang pernah gue ceritain itu, loh," kata Vidya lagi. Saya sebagai orang yang tidak mau dinilai sebagai perempuan yang sombong, dengan lebih duluan saya mengulurkan tangan saya untuk mengenalkan diri saya kepadanya. "Nayla," kata saya Dan disambut dengan senang hati oleh laki-laki tersebut. "Galang," balas ia. "Oh iya, ini kado ulang tahun untuk kamu. Selamat ulang tahun, ya. Semoga karir kamu makin sukses," doa saya. Dia terlihat sangat bahagia dalam menerima kado yang saya berikan untuknya juga dia orangnya murah senyum sekali. "Eh, iya, makasih loh untuk doanya. Senang ya bisa ketemu dan berkenalan sama kamu," tutur Galang seperti orang yang salah tingkah. Vidya tiba-tiba batuk berdahak. "Eh, gue hausssss banget, nih!!! Pengen mabokkkk dululah!" seru Vidya heboh, sampai-sampai perempuan yang memiliki rambut panjang di curly itu menepuk-nepuk dadanya sambil lidahnya dikeluarkan dari mulutnya seperti orang yang mau memuntahkan sesuatu. Dan saya tahu, sebenarnya dia itu hanya berpura-pura saja untuk segera melarikan diri di antara kami. Vidya sebelum pergi menepuk lengan Galang sambil berkata, "tolong, ya, jagain temen gue. Dia enggak biasa ada di tempat kayak gini." Saya sudah mau menyumpah serapah dia karena pergi begitu saja dengan orang yang belum benar-benar saya kenal. Saya paling tidak bisa ditinggalkan begitu saja bersama dengan seseorang yang belum akrab sekali sama saya. Saya orangnya sudah kaku dan tidak bisa mencairkan suasana sehingga saya merasa canggung dan saya takut orang yang bersama dengan saya itu, merasa terintimidasi atau merasa tidak nyaman berada di dekat saya. Dan terbukti saja, di antara kami berdua hanya ada kebisingan suara dentuman musik yang memekakkan telinga. Tapi tetap saja walau begitu kami berdua merasa sama-sama canggung. Hanya saling melempar tersenyum tapi bingung harus berkata apa. Kalau boleh jujur saya mau pergi dari tempat ini karena saya merasa sangat tidak nyaman. Saya ingin mencari tempat yang benar-benar membuat saya merasa tenang. Keramaian yang ada di klub ini sangat mengganggu saya. Saya tidak terlalu suka tempat-tempat yang berisik. Dan sepertinya Galang menangkap ketidaknyamanan saya. "Mau saya ajak rooftop gimana?" ajak Galang tiba-tiba. Sedikit terkejut mendapatkan ajakan darinya. "Tempatnya nggak terlalu bising dan enak juga sambil melihat pemandangan kota," ucap dia. Ajakan dari dia menarik perhatian saya untuk ikut bersama dengannya. Saya menerima ajakannya dan tidak mungkin saya mengatakan untuk berpamitan pulang. sangat tidak sopan kalau saya harus pulang di saat acara ulang tahun dia masih berlangsung bersama dengan teman-temannya dia habiskan waktunya. Namun karena dia sedang bersama dengan saya, dia tinggalkan teman-temannya untuk sementara. Menemani saya berada di rooftop. Tempatnya sungguh cantik dari atas ini untuk memandangi pemandangan kota Jakarta. Kebisingan-kebisingan tadi tidak terlalu terdengar di telinga saya. "Kamu kayaknya introvert banget, ya. Nggak suka di tempat yang rame-rame gitu," tutur Galang menjadi pembuka awal pembicaraan kita berdua. Saya mengangguk dan tersenyum tipis. Sebenarnya saya lagi sedang tidak mau banyak bicara karena saya ingin menikmati suasana pada malam hari itu. Tanpa saya tanyakan kepada dia, saya sudah bisa menebak bahwa Galang memiliki kepribadian yang berbanding terbalik dengan diri saya.  "Dan kamu sendiri orang yang ekstrovert. Sudah ketara banget kalau kamu suka tempat-tempat yang ramai," ujar saya langsung mengutarakan saja tebakan saya. Saya tidak ragu kalau tebakan saya itu akan menjadi salah karena memang Galang sangat kentara sekali bahwa dia anak-anak yang ekstrovert dan mudah bergaul dengan siapa saja.  "Kata siapa? Baru pertama kali kita ketemu saja, kamu sudah pintar banget nebak aku. Kelihatannya emang aku ini ekstrovert, ya, padahal sebenarnya nggak tahu," jelasnya. Ia menurunkan pandangannya pada botol bir yang sedang dia pegang. Sedikit dibungkukkan punggung badannya dan kedua tangan dia bertumpu pada pembatas yang ada di rooftop. Angin yang menyapu wajah saya, menerbangkan tiap helai rambut saya sampai menutupi setengah wajah saya. Saya menyelipkan kembali rambut saya yang menghalangi pandangan saya ketika sedang melihat diri dia. "Kamu bukan ekstrovert? Tapi nggak mungkin kamu anak introvert?" tebak saya lagi masih meragukan yang dia katakan kepada saya. Rasanya tidak mungkin kalau dia itu cowok introvert karena saya tahu tipikal orang yang introvert itu seperti apa dan Ryan juga termasuk orang yang introvert juga. Ryan orangnya sangat pendiam dan juga kalem berbeda halnya dengan Galang. Namun, ngomong-ngomong mendengar suara dia itu dan perawatan wajahnya mirip seperti Boy William. Astaga! Setiap laki-laki yang dekat sama saya, pasti auranya dan wajahnya itu terlihat seperti artis. "Aku itu aslinya introvert tahu. cuman emang aku kelihatannya itu bisa haha hihi sama banyak orang, kan? Cuman tetap aja, suka capek gitu kalau ketemu banyak orang. Iya, tapi aku lagi emang pengen keluar dari zona nyaman aja. Kadang kalau kita keluar dari zona nyaman itulah yang membuat kita merasa berbeda dari kita yang sebelumnya," ucap dia. Kadang, kadang, dan kadang. Satu kata dari kata-kata yang mewakili kalimat bijak. Saya paling tidak bisa atau bahkan tidak suka dengan keluar dari zona nyaman saya sendiri. "Aku tebak kamu pasti nggak pernah yang namanya keluar dari zona nyaman kamu sendiri, ya, kan?" tanya dia selalu bersama dengan senyuman lebarnya. "Buat apa? ada hal yang lebih penting daripada hanya sekadar untuk melakukan hal seperti itu," jawab saya  Terlalu menyusahkan dan untuk apa juga? Sejak dari dulu saya lebih nyaman dengan diri saya sendiri. Saya merasa tidak ada yang salah dan saya tidak perlu yang namanya keluar dari zona nyaman saya hanya untuk mencari sesuatu hal yang malah nanti justru akan merepotkan diri saya sendiri.  "Eheyyyy!!! C'mon? Kamu kalau keluar dari zona nyaman kamu itu, ya, aku kasih tahu ke kamu, bakal ada banyak perubahan yang kamu rasain kalau kamu keluar dari zona nyaman kamu. Kamu bakal banyak menikmati proses yang bisa kamu dapatkan sendiri dan bakal banyak pandangan baru yang lain, yang bisa membuka kaca mata kamu jadi lebih luas lagi," ucap dia membara penuh dengan kobaran semangat dan dia merasa, apa yang dia katakan itu benar, dia mengatakannya itu berusaha juga untuk meyakinkan diri saya supaya saya dapat mengikuti apa yang dia ucapkan. "Kamu hidup cuma sekali tapi kamu tetap stay di zona nyaman kamu sendiri. Oh my God!!! Itu sih orang-orang yang merugi banget, ya, enggak mau belajar sama sekali!" seru dia sangat ekspresif saat mengatakannya. Saya merasa tersinggung dengan yang diucapkan sehingga ketidaknyamanan yang saya rasakan itu dapat terlihat jelas dari ekspresi wajah saya. Dia seolah-olah seperti menjelma sebagai seorang guru kehidupan yang tengah mengajari orang lain. Dia seolah-olah seperti sudah yang paling tahu tentang kehidupan dan makna dari kehidupan itu sendiri. Saya tidak menyukai orang seperti dia yang terlalu sok tahu sekali. Lantas dari yang dia ucapkan itu membuat saya merasa, saya tidak cocok dengannya. Dia orangnya terlalu ekspresif sekali sedangkan saya itu pendiam. Kita punya corak perbedaan yang begitu melekat. Saya tak peduli walau dia itu mau introvert atau ekstrovert juga, tapi yang dari dia katakan itu kepada saya bahwa saya tidak mau belajar sama sekali membuat saya itu sangat tersinggung. hal pahit apa yang sudah saya terima di dalam kehidupan saya itu sudah banyak dan saya tahu akan kehidupan saya sendiri tanpa saya harus keluar dari zona nyaman saya. keluar atau tidaknya dari zona nyaman itu masalah tetap saja datang silih berganti dan tidak ada kata berhenti selagi saya masih menjalani kehidupan saya dan selagi Tuhan masih memberikan saya kesempatan untuk bernafas. Kesempatan untuk masih bisa memiliki kehidupan di dunia ini. Dan dia, orang yang baru saja saya kenal, orang yang baru pertama kalinya kami bertemu, sudah mengatakan hal yang jauh sekali. Seperti dia berada di atas saya dan saya ada di bawahnya, tengah menonton dia sedang berkutbah, tentang kehidupan, tentang proses, dan tentang segalanya.  "Eh, loh, eh, jangan pergi dulu, Nay. Sorry, sorry, aku terlalu banyak omong, ya, sama kamu? Sorry banget sumpah! Saya, bukan bermaksud aku menggurui kamu," tutur dia sudah berada di hadapan saya setelah mengejar-ngejar saya. Hampir saja saya sudah mau keluar dari rooftop ini tetapi karena dia menghalangi saya, saya hentikan langkah kaki saya. Saya masih mau mendengarkan dia berbicara tetapi saya paling tidak suka kalau ada orang yang sok-sokan menggurui saya. Siapapun tidak tahu apa-apa. Pahit, manis, hidup itu udah saya rasakan. Jadi tidak perlulah berkata begini, begitu, berteori seperti ini, seperti itu. Saya tidak sama sekali membutuhkannya.  "Aku bukannya nggak mau belajar sama sekali, ya. Tapi aku tahu mana bagian yang harus aku pahami, dan mana bagian yang tak perlu harus aku pikirkan," ucap saya ya dengan ekspresi wajah yang dingin dan serius sekali. Saya tidak peduli bagaimana pandangan dia terhadap saya. Saya tidak peduli first impression dia ketika bertemu dengan saya dan berbicara langsung dengan saya. Apalagi perbincangan kita sudah diawali dengan bumbu-bumbu yang tidak enak, yang mana, saya sendiri tidak terlalu menyukai orang yang sok tahu. Dan Galang Vico Pangaribuan ini termasuk golongan yang sangat tidak saya sukai. Saya rasa saya tidak akan cocok sama dia.  "Jujur Nayla, aku kepengen banget bisa kenal sama kamu lebih jauh lagi," ungkapnya, hari itu dia lebih tenang bicaranya dan terkesan hati-hati sekali. Saya sendiri sudah terlalu merasa biasa saja ketika mendengar seseorang ingin begini, ingin begitu kepada saya. Laki-laki mana yang tidak pernah saran sama saya? Laki-laki mana, sih, yang tidak mau kenal sama saya lebih jauh lagi? Yang ingin dekat sama saya dan menjalin hubungan dengan saya? "Aku tahu, aku tadi sudah melakukan kesalahan dan ada hal yang memang tidak kamu sukai. Tapi siapa tahu, ada sesuatu hal di antara kita yang bikin kita cocok. Nggak ada salahnya, kan, kalau kita tetap berlanjut berkenalan?" tanya dia yang lama saya berpikir untuk memberikan jawaban kepada dia. Mengingat latar belakang dia itu bagus dan fisik dia juga menarik. Okelah, tadi ada kesalahan misleading di mana saya tidak menyukai orang yang sok tahu dan dia menunjukkan diri dia sok tahu di hadapan saya, di awal pertemuan kita berdua yang belum berlangsung lama. dia masih tertolong dengan dua hal yang masih menjadi patokan saya untuk menerima seseorang. Maka saya putuskan untuk memberikan dia kesempatan. Saya ingin tahu sejauh mana dia berusaha untuk berjuang mendapatkan hati saya. Apakah dia bisa menggantikan posisi Ryan di dalam hati saya? Atau dia bisa memberikan warna lain yang berbeda dari apa yang saya telah dapatkan dari Ryan? Dan bisakah dia dapat memperlakukan saya bahkan lebih dari bagaimana Ryan memperlakukan diri saya sehingga membuat saya benar-benar jatuh cinta kepadanya? Ketika saya mengizinkan seseorang untuk masuk ke dalam kehidupan saya, saya ingin mendapatkannya yang lebih dari apa yang telah saya dapatkan dahulu di masa lalu, bukan yang berada di bawahnya. Saya tidak mau gagal lagi dalam menjalani suatu hubungan. Jadi, saya harus sudah pastikan bahwa tidak ada kesalahan dari orang yang saya pilih. kesalahannya itu ada pada pasangan saya sendiri yang membuat hubungan saya jadi berakhir terus. Selalu saja saya mendapatkan suatu kekurangan yang sulit untuk saya terima. Waktu dulu saya pernah jatuh cinta kepada Mahesa dan saya akui itu pada diri saya sendiri tetapi fisik dia yang kurang tinggi, menjadi suatu halangan saya untuk mempertahankan dia, terlebih keluarga saya, terutamanya Mamah tidak mengizinkannya. Mahesa dinilai tidak sebanding dengan diri saya karena ukurannya seperti seorang kakak dan adik dan bukannya pasangan. Saat saya sudah mulai jatuh cinta lagi kepada seorang laki-laki yang lain yaitu Ryan, dia harus mengalami kelumpuhan total dan akhirnya ia harus cacat seumur hidup. Dan sekarang saya mengenal sosok laki-laki yang lain. Saya tidak tahu bagaimana dan apa yang sedang Tuhan rencanakan nantinya? Tapi yang jelas, saya akan pastikan tidak ada lagi kesalahan. Saya tidak ingin ada kesalahan yang membuat hubungan saya dengan siapapun itu pasangannya, akhirnya kacau balau dan berantakan. Kenapa untuk seseorang bisa bersanding dengan diri saya itu rasanya sulit sekali sehingga membuat akhirnya hubungan saya terus kandas. Sangat menyebalkan dan sangat melelahkan. Entah siapa yang harus saya salahkan? Mereka atau diri saya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN