bc

Tiga Wanita dan Krisis kehidupan mereka series - 3

book_age18+
460
IKUTI
1.6K
BACA
second chance
self-improved
inspirational
drama
tragedy
sweet
coming of age
first love
spiritual
like
intro-logo
Uraian

Kekurangan adalah hal yang tidak mungkin bisa diterima oleh Nayla dari segi apapun. Didikan dari kedua orang tuanya membuat pandangan sebuah definisi 'sempurna' adalah tanpa ada kecacatan apalagi kekurangan. Melupakan jika manusia tidak ada yang sempurna di dunia ini. Sulit untuk Nayla menerima kenyataan ketika tahu ia tak dapat hamil sementara pandangan orang-orang jika perempuan yang sempurna adalah perempuan yang bisa mengandung dan melahirkan. Belum lagi, jika Nayla tak menemukan support apapun karena dirinya dituntut banyak hal termasuk pada suaminya, Mahesa. Menurut Nayla, perceraian adalah solusi untuk mengakhiri masalah semua ini dan Nayla lebih memilih untuk mengasingkan diri ke Manado sebelum persidangan akan ditentukan. Dan selama di sana Nayla menemukan hal-hal yang tak Nayla sangka-sangka begitu bertolak belakang pada apa yang dia pikirkan dan nilai yang dia anut dalam hidupnya. Apakah yang Nayla temukan di sebuah desa di Manado adalah hal yang selama ini Nayla cari di dalam perjalanan hidupnya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab. 1
Masa-masa yang paling indah bagi seseorang adalah masa kecilnya. Kata orang begitu. Pun menurut saya juga sama. Ketika orang-orang pada akhirnya sudah tumbuh besar, sudah tumbuh dewasa atau seseorang yang tengah beranjak dewasa pasti akan sangat merindukan masa-masa kecilnya. Saya pun begitu. Melihat anak-anak tengah bermain seluncuran, tengah bermain ayun-ayunan, juga tengah bermain kejar-kejaran, membuat saya teringat pengalaman masa kecil saya.             Ah, ini karena saya harus menjemput keponakan kecil saya yang masih menjalani pendidikan di taman kanak-kanak. Dan mama dia yang merupakan kakak saya yang paling tua alias anak pertama di keluarga saya---meminta saya untuk menjemput anaknya. Saya tidak masalah jika harus menjemput keponakan saya karena keponakan saya ini adalah keponakan yang paling saya sayang dan saya sangat senang jika harus berkunjung ke sekolah taman kanak-kanak. Karena cuma di sini, saya bisa mengingat kenangan-kenangan yang pernah ada di dalam hidup saya. Kenang-kenangan masa kecil saya. Saya sangat merindukan masa-masa yang membahagiakan itu pada saat saya masih kecil.            Tidak ada masalah yang harus di hadapi oleh anak-anak yang umurnya masih sangat muda. Paling-paling menangis karena tidak bisa dibelikan mainan atau juga menangis karena terjatuh tanpa sengaja dari sepeda. Iya, menangis karena hal sepele. Karena hal-hal kecil yang tak perlu di pikirkan berlarut-larut.            "Auntyyyyyyyy!!!!"            Lamunan saya buyar secara tiba-tiba begitu keponakan saya datang berlari dengan sambil memanggil nama saya. Saya mengulas senyum kepadanya. Bangun berdiri dari duduk saya dan kembali berjongkok ketika keponakan saya sudah ada di depan saya. "Aku seneng auty yang jemput aku," ucap anak perempuan ini yang rambutnya dikepang dua. Nama dia Salsabila tapi di rumah biasa dipanggilnya Caca.            "Kenapa begitu?" tanya saya. Mengerutkan dahi saya sembari merapikan helaian rambut dia yang berantakan. Kening ia berkeringat banyak. Saya rasa, dia habis banyak bermainnya tadi. Sampai-sampai wajahnya saja memerah begitu. Cantik. Caca selalu tetap cantik dengan kulitnya yang sehalus kapas.          "Kalo sama aunty, kita bisa jalan-jalan dulu, main, makan es krim, jalan ke taman...." Caca terus berceloteh dan saya lebih fokus menggandeng tangan ia sambil menuju ke mobil saya yang terparkir. Di tengah perjalanan itu, Caca juga masih terus mengatakan hal-hal yang sering kali dilakukan bersama dengan saya jika sudah selesai sekolah. Saya hanya mendengarkannya saja sambil menyetir dan fokus pandang saya di depan sana. "Gak enak kalau mami yang jemput. Mami pasti bakalan sibuk lagi buat bekerja. Mami sama papi itu sama saja. Mereka emang suka gonta-gantian jemput aku, tapi setelah itu, aku gak bisa menghabiskan waktu banyak sama mereka karena mereka sama-sama sibuknya." Sekilas melihat Caca, sesekali untuk juga tetap fokus pada jalanan di depan sana. Caca memasang muka cemberutnya kala menceritakan tentang kesibukan orang tuanya itu. "Padahal, kan, aku mau cerita banyak sama mereka tentang pengalaman pertama aku sekolah." Aku menoleh sebentar padanya. Tak pernah hilang senyuman dariku untuk keponakanku yang satu ini. Iya memutar tubuhnya, duduk menghadap ku.             "Aunty tau, itu keinginan aku dulu, begitu, pas pertama kali masuk TK, tapi aku gak sempat cerita. Soalnya, mami habis anterin aku pulang ke rumah, langsung pergi lagi ke kantor. Papi juga, sama begitu, langsung buru-buru pergi ke luar kota. Aku, kan, jadi bosen, sering ditinggal-tinggal terus sama mami dan papi," papar Caca sambil memainkan hp yang aku punya untuk ku pinjamkan kepadanya. Dia paling suka bermain game.             Apa yang dia bilang tadi sebenarnya, ya, hal yang sudah tidak buat saya kaget lagi jika ia mendapatkan perlakuan seperti itu dari kedua orang tua dia sendiri.             Saya tidak heran kenapa orang tuanya begitu sangat sibuk dengan apa yang mereka lakukan. Sehingga mengabaikan Caca. Mamanya adalah kakak pertama saya yang bernama Nana. Dia orang yang sangat ambisius dalam menciptakan suatu proyek, suatu karya, suatu hal yang bisa dia investasikan. Dia adalah wanita yang penuh dengan rencana-rencana di dalam otak kepalanya. Dia selalu mewujudkan semua itu tanpa batas dan tanpa suatu kegagalan. Jika pun ia gagal, dia gak akan semudah itu menyerah namun efek lainnya adalah dia malah semakin gencar hingga melupakan dunia yang lain seperti seolah-olah dunia dia adalah hanya sebuah pekerjaan saja dan di tambah lagi, dia lebih emosional jika merasa proyek yang ia buat itu gagal dan ia harus menerima banyak kerugian. Efeknya pasti ke Caca yang akan kena marah. Dan lebih parah lagi, jika Caca mengganggu ibunya itu. Dia memang penggila dalam urusan pekerjaan. Workaholic sekali.             "Kamu jangan sedih, Caca. Apapun yang mereka kerjakan itu, untuk diri kamu, kebaikan kamu dan masa depan kamu, yah. Kamu jangan bersedih atau berkecil hati. Mereka ingin hidup kamu ke depannya terus bisa dijamin, orang tua kamu tidak mau membuat kamu hidup dalam kesusahan, makanya harus ada yang dikorbankan," jelas saya. aku yakin penjelasan aku ini tidak dipahami oleh Caca tapi apa yang bisa saya katakan selain hanya itu saja saya tidak mau Caca beranggapan hal yang lain karena apapun yang orang tuanya lakukan itu adalah untuk kebaikan anak-anaknya meskipun itu dilihat dari sudut pandang materi, tidak dengan yang lainnya.              Dan mengerti atau tidaknya Caca pada yang saya bilang ke dia, zaya hanya mengatakan apa yang ada di dalam isi kepala saya saja. Saya tidak menyalahkan antara kedua orang tuanya.             Caca hanya butuh perhatian dari kedua orang tuanya saja tapi bagi Mbak Nana dan suaminya, perhatian yang mereka berikan adalah dengan apa yang Caca dapatkan dari bentuk materi untuk menyenangkan buah hati mereka.           Saya belum menikah, tapi saya juga pernah ada di ketika masa-masa Caca. Hanya saja berbeda kasusnya. Caca dari secara materi, tidak kekurangan sama sekali, dia hidup dalam keadaan yang serba berkecukupan. Hanya saja rasa perhatian kasih sayang itu tidak sepenuhnya bisa dia dapatkan dari kedua orang tuanya.  Lebih buruk dan lebih susah diriku sebenarnya daripada Caca. Bila dibandingkan dengan kehidupan saya yang dulu, saya hidup dalam kehidupan yang sederhana, dengan segala apapun terbatas dengan apa yang saya inginkan tidak mudah saya dapatkan. Dan kedua orang tua saya memenuhi kebutuhan anak-anaknya dengan bekerja keras se-giat mungkin, dengan serajin dan setekun mungkin. Tapi, iya, itu, balik lagi harus ada yang dikorbankan. saya tidak mendapatkan perhatian harus selesai dapatkan dari kedua orang tua saya.          "Memangnya apa Aunty yang harus dikorbankan itu?" tanya Caca, ia mengalihkan perhatiannya dari game yang ia mainkan dari layar bentuk persegi itu. Menatap aku dengan tatapan yang polos. Saya menjawabnya saat sudah berada di depan Mall untuk mengajak Caca makan siang.          "Waktu," jawab saya setelah menghentikan mobil di parkiran. Kedua tangan saya langsung melemas begitu saya mengatakan hal tersebut kepada Caca. * * * *            Waktu buat mbak Nana itu sangat penting. Tidak akan dia sia-siakan dengan semudah itu. Saya menatap mbak Nana itu masih sibuk dengan laptop dan berkas-berkas yang entahlah, saya tidak paham. Saya berada di ruang kerja ia. Kaca mata yang ia kenakan masih bertengger sampai sempat menurun di batang hidungnya itu tapi ia naikkan kembali dan fokus matanya tak pernah lepas dari segala dokumen-dokumen yang ia buat di laptopnya. "Sibuk banget, sih, Mbak," komentar aku. Aku sebenarnya mengeluh karena kehadiran aku di sini malah di abaikan oleh beliau. Setidaknya Mbak Nana itu bicara basa-basi, kek, kepada aku.            Setelah mengajak Caca jalan-jalan di Mall dan menemani Caca makan siang di sana, aku mengantarkan ia pulang. Tidak lama dari itu, ternyata mamanya sudah datang. Saya pikir, dia akan pulang larut malam.            "Iya, itu kenapa aku itu minta kamu buat jemput Caca. Papanya aja gak bisa jemput," kata dia masih tanpa mengalihkan tatapan dia dari layar laptop. "Kamu tahu, kan, Nay .... ini, tuh, hari ini jadwalnya dia yang jemput anak, jemput si Caca. Eh, trus seenaknya aja dia malah nyuruh aku yang jemput Caca. Emangnya yang sibuk dia doang apa!?" celoteh mbak Nana sampai kedua alisnya terangkat. Dia lalu menatap aku. "Aku itu kesel, loh, sama dia. Nggak ada konsistennya banget jadi laki. Kalau sudah jadwalnya dia yang jemput, harusnya dia yang jemput anak. Jangan main seenaknya aja nyuruh-nyuruh orang. Kamu tahu, kan, aku paling males kalau disuruh-suruh, paling males yang nggak konsisten juga sama perjanjian di awal, sama kesepakatan yang sudah disepakati di awal," sambung Mbak Nana marah-marah seperti biasanya, dan aku harus menjadi orang yang mesti siap mendengarkan seluruh curhatan-curhatan dia mengenai keluhan dia pada suaminya mengenai ini dan itu, pokoknya segala macem.            Saya menutup majalah yang saya baca tadi ke atas meja yang ada di depan kaki saya ini. "Memangnya, Mas Broto ke mana?" tanya saya kepadanya. Mbak Nana lalu melepas kaca mata ia dan menyandarkan punggungnya kepada kepala kursi. Kelihatan banget wajah dia itu menampakan rasa kelelahan. Ia merenggangkan kedua tangan ia yang dirasa-rasa itu semua terasa kaku.            "Mas Broto lagi pergi ke Lombok. Katanya ada pekerjaan di sana. Mau ada pembukaan pabrik baru," jelas ia. Saya cuma ber'o' ria saja sebagai untuk menanggapi ucapan dia. Saya menatap mbak Nana yang memejamkan matanya dengan sedikit tubuhnya condong ke belakang.            "Mbak," panggil saya. Mbak Nana cuma berdeham saja. Saya itu sempat kepikiran dengan yang Caca ceritakan kepada saya dan juga ibu-ibu yang tadi menjemput anak-anaknya. Saat saya sedang menunggu Caca, saya sempat diajak berbincang dengan ibu-ibu yang ada di TK sana.            "Jemput siapa Mbak?" tanya ibu-ibu yang memakai kerudung syar'i berwarna creame. Wajahnya masih muda. Tapi, saya rasa umurnya sudah tiga puluh tahun ke atas. Penampilan ia seperti dari kalangan atas. Rapi dan elegan. Saya melihat dari fisiknya juga dia memiliki kulit putih yang bersih. Sekolahan TK ini taraf standarnya adalah internasional. Yang jelas pastinya, anak-anak yang di sekolahkan di sini adalah anak-anak yang berasal dari keluarga yang kaya raya.         "Jemput keponakan saya, Bu," jawab saya. Tersenyum tipis kepada beliau.         "Oh, kirain saya, anak Mbak gitu," seru beliau. Aku cuma merespons dengan senyuman saja. Saya memang bukan orang yang terkesan ramah dan langsung akrab dengan orang baru. Saya cenderung terlalu malas untuk banyak bicara terlebih dengan orang yang tidak saya kenal.         "Siapa memangnya keponakan Mbak namanya? Siapa tau saya kenal. Soalnya saya sering akrab dengan anak-anak di sini," kata beliau. Saya awalnya sedikit agak heran. Gimana bisa beliau bisa akrab dengan anak-anak yang sekolah di sini?         "Caca, Bu, Salsabila nama dia cuman sering dipanggil Caca," jawab saya kepadanya. Saya sebenarnya sedang tidak mau banyak bicara tapi ibu ini selalu mengajak saya ngobrol. Sebenarnya agak risih dan malas tapi kalau tidak diladeni, bisa-bisa saya dianggap anak muda yang tidak sopan kepada beliau.          "Oooohhhh!!! Cacaaaaa!! Iya-iya, saya itu suka bener nemenin Caca kalo dia belum ada yang jemput. Kadang yang jemput dia itu suka lama, loh, Mbak datangnya. Saya itu bukannya apa, ya, cuman, kan, jaman sekarang itu agak serem. Anak-anak itu gak bisa dilepas atau dibiarin sendirian aja di luar rumah. Takut-takutnya ada hal pait yang gak kita sangka-sangka, kan, bisa kenapa-kenapa nantinya," jelas beliau. Saya paham dan bisa menangkap maksud beliau itu apa tapi ya mau bagaimana lagi, kesibukan orang tuanya itu tidak bisa yang namanya ditolerir dengan hal apapun sekalipun dengan Caca sendiri. Bagi mbak Nana terlebih, pekerjaan adalah prioritas buat dia bukan keluarga lagi. Kalau pekerjaan bisa ia utamakan, otomatis untuk kehidupan anak-anaknya, semuanya bisa terjamin dengan adanya uang yang mereka cari, yang mereka simpan untuk masa depan anak-anaknya. Entah nomor ke berapa keluarga itu di mata Mbak Nana atau pun suaminya, miris sekali pada kehidupan Caca dan Karel.           Saya sendiri merasa sangat bertanggung jawab untuk kehidupan Caca dan Karel, sayang sekali kedua orang tuanya tidak dapat melihat tumbuh kembangnya kedua anaknya. Perkembangan, tumbuh kembang Caca dan Karel ini, keduanya masih sangat membutuhkan kehadiran dari kedua orang tuanya. Tapi, saya tahu kesibukan kedua orang tuanya tidak dapat bisa mengalahkan apapun. Saya harus memberikan perhatian dan kasih sayang saya kepada Caca dan Karel. Walaupun diri saya baru hanya sebatas tante dari keduanya.  Mengapa saya bisa berpikiran seperti ini? Karena melihat Caca dan kakaknya yaitu Karel yang masih duduk di bangku kelas lima SD itu, seperti membuat saya berkaca. Dulu saya pernah begitu, pernah ada di posisi mereka, dan rasanya itu tidak enak sekali. Saya sendiri sudah terbiasa hidup sendiri karena kedua orangtua saya sibuk bekerja saya tidak punya teman karena ada satu permasalahan yang menimpa saya dan itu sangat fatal sekali.          "Heh!" Saya tersentak kaget begitu mbak Nana sekarang malah sudah berdiri di depan saya. Ia juga menoel jidat saya dengan tiba-tiba membuat saya mendengus saja dengan sikap dia yang semena-mena ini. Sementang dia kakakku.          "Kenapa, sih, kok kamu malahan ngelamun gitu?" tanya ia. Saya memerhatikan mbak Nana yang entah sejak kapan, dia menuangkan bir ke dalam gelas ia.          "Masih minum kamu Mbak?" tanya saya. Dia mengangguk sambil terkekeh. "Baru tau saya kamu bisa minum di sini? Apa gak di marahin sama suami kamu?" tanya saya lagi, berturut-turut kali ini. Begitu sangat penasaran karena saya cukup dibuat terkejut, sebab mbak Nana malah minum minuman seperti itu di rumah sebesar ini. Yang di rumah ini bukan hanya dia saja yang tinggal atau pun suaminya atau pun pembantu-pembantunya, tetapi ada kedua anaknya juga Caca dan Karel yang umurnya masih sangat belia masih sangat muda, bagaimana bila mereka tahu kelakuan namanya seperti ini?          "Loh, kenapa? Ini, kan, rumah Mbak. Terserah Mbak mau ngapain aja," jawab dia sekenanya saja. "Kamu mau?" tawar dia. Aku menggeleng tegas.          "Aku nggak minum," tolak saya tak main-main tapi malah dijadikan bahan lelucuan oleh mbak Nana. Lalu, mbak Nana menjatuhkan punggung belakangnya kepada kepala sofa. Menaikkan satu kaki kanannya ke atas paha kirinya sembari minum dan tangan yang satunya sembari menghidupkan televisi dengan remote.             "Sekali-sekali, lah, kamu nyobain biar hidup itu nggak nolep banget," seru mbak Nana. Saya memutar bola mata saya dengan malas. Jengah dengan sikap dia yang seolah tak peduli. "Iya, saya tau. Bukan masalah itu juga sebenarnya," kata saya, menanggapi ucapan Mbak Nana yang bilang ini adalah rumah dia. Jadi, dia bisa bebas melakukan apapun yang dia mau.  Dia sedikit mengernyitkan dahi dia. Saya rasa, ia mulai merasakan efek dari minuman yang ia minum. Lalu, ia menaruh gelas tersebut ke atas dan kembali pada posisi ia dengan kedua tangan yang menyilang di depan perutnya. Ia menatap saya dengan sebelas alis yang terangkat. "Terus? Apa?" tanya ia, menatapku intens. Aku menghela napas berat. "Mbak, kamu bukannya udah janji sama suami kamu, kalo kamu pas udah nikah bakalan berhenti minum-minuman seperti itu. Kamu juga punya anak, loh, Caca dan Karel. Kalau mereka liat kamu minum beginian terus salah satu dari mereka bertanya ke kamu, kamu mau jawab apa?" tantang saya. "Gak mungkin kamu jawab----" "Ya, saya jawab yang seadanya, lah, Nay. Kamu pikir apa? Mau saya bohongin mereka?" sahut dia, percaya diri sekali.            Saya melotot tak terima dengan jawaban dia. Dia memalingkan wajah ia setelah itu dengan seraya memijat pangkal hidungnya lalu menopang kepala ia sembari memejamkan matanya. Seolah ia memang tak mempedulikan apa yang barusan dia bilang ke aku dan seakan-akan apa yang dia katakan itu sudah benar. "Kamu itu udah gila apa?" maki aku jengkel. "Kamu ini seorang Ibu, Mbak. Gak pantes juga kalo Caca atau Karel tau kamu masih suka minum. Kamu .... astaga." Saya menutup wajah saya dengan tak habis pikir sama kelakuan mbak saya yang satu ini.  Dia ini yang paling tua memang tapi gak pernah memberikan contoh yang baik pada adik-adiknya dan saya gak mau dia sampai memberikan contoh yang tidak baik juga kepada anak keduanya itu. "Kamu gak bisa kayak gitu sampe gak peduli banget sama anak-anak kamu. Karel dan Caca itu masih kecil. Seenggaknya, kamu cobalah berhenti minum minuman kayak gitu. Kamu itu udah menikah dan bukan anak muda lagi yang masih doyan nakal, minum minuman kayak gitu, nge-clubbing dan kebiasaan-kebiasaan buruk kamu pas di masa muda," ucap saya menasihati dia untuk kesekian kalinya. "Kalo kamu masih begini terus, saya bakalan----" "Bilang ke suami saya begitu?" sela mbak Nana langsung dengan suara yang berusaha ia kontrol untuk tidak berbicara dengan nada tinggi pada saya. "Kamu selalu mengancam saya dengan ancaman seperti itu, Nay. Kenapa kamu gak urus urusan kamu sendiri timbang ngurusin saya dan kehidupan saya," ujar mbak Nana menatap saya frustasi dan campur dengan emosi yang tertahan.              Saya pikir sebenarnya, jika saya sudah menasihati dia dan mengancam dia yang kemudian malahan dia mengemis-ngemis sembari menangis kepada saya agar saya tidak mengadukan kebiasaan jelek dia ini kepada suaminya, dia bakalan benar-benar berubah. Setidaknya ada perubahan dari diri dia untuk tidak lagi minum minuman alkohol. Tapi, ternyata dia masih sama saja. Masih tidak peduli dengan kepada anak-anak dia, Karel dan Caca yang seharusnya ia didik dengan baik, bukan malahan ia bertransformasi dengan statusnya saja menjadi seorang ibu tapi jiwanya masih sama seperti ketika ia belum menikah dulu. "Saya itu peduli sama kamu, Mbak. Sama anak-anak kamu juga," seru saya serius. Saya sebenarnya mau marah tapi saya gak bisa apa-apa. Sudah banyak hal yang saya lakukan untuk mbak Nana saya sudah menasihati dia sampai mulut saya berbusa-busa berulangkali saya mengatakan kepada dia Jangan melakukan ini, jangan melakukan itu demi anak-anaknya, tetapi ia sama sekali tidak mempedulikannya. Berbuat salah, meminta maaf namun dia tidak mencerna apa yang sudah dilakukan dan apa makna dari kata maafnya itu. "Nay," panggil ia. Suaranya terdengar lemah sekali. Kepala ia sandarkan kepada sofa, sepasang mata sipit nya itu mengerjap-ngerjap, seperti orang yang lagi kesilauan. "Mbak itu pusing, kamu tau itu? Pekerjaan Mbak itu menuntut Mbak untuk terus berada di depan layar laptop. Dengan berkas-berkas sialan itu. Saya jenuh, kamu tau, kan, betapa stressnya saya? Tapi, saya mesti giat cari uang untuk Karel dan Caca. Saya gak mau mereka punya kehidupan yang susah seperti ketika saya hidup dulu bersama dengan kedua orang tua kita. Saya gak mau seperti itu." Mbak Nana menarik nafas dalam-dalam berulang kali seperti itu mengembuskannya dengan helaan napas yang berat. Aku terus memperhatikan dia yang berbicara mengenang masa-masa dulu. Mengenang pernah hidup dalam keadaan susah. Pernah hidup dengan cara seperti ini dan cara seperti itu. Saya juga tahu betapa menderitanya Mbak Nana ketika dulu di masa kuliah dia di kampus, dia dihina hanya karena ia tidak memiliki hp saja. Diolok-olok oleh temannya sampai teman-temannya bilang ke dia, "pakai sepatu kamu saja, dijadiin hp."  "Makanya, saya gak punya banyak waktu dengan anak-anak bahkan dengan suami saya sendiri. Dia juga sama sibuknya dan kadang-kadang kita bisa gak komunikasian dalam waktu yang entah, dalam waktu yang lama yang gak wajar untuk suami dan istri," jelas mbak Nana. Saya rasa perasaan dia sedang sedih sekarang. Kehampaan itu benar-benar sampai rasanya ke hatiku. Hubungan keduanya, tidaklah harmonis. Sebenarnya apa arti dari kesempurnaan itu? Kenapa untuk menjadi sempurna harus banyak yang dituntut atau merasa tertuntut? "Mama dan papa bilang ke kita, uang itu bisa menjamin segala hal. Bahkan untuk kehidupan kita juga. Mbak cuman mau memberikan yang terbaik untuk anak-anak Mbak. Begitu, kan, hidup dengan segala berkecukupan secara materi membuat hidup kita jadi terlihat sempurna tanpa kekurangan materi sama sekali," lanjut mbak Nana, tersenyum ia kepada saya. Tapi, senyuman itu seperti menandakan bukan senyuman yang tulus tapi senyuman penuh kebohongan tanpa kebahagiaan di dalamnya. []        

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook