Bab. 2 Kepedulian yang Perlu Dipertanyakan

4004 Kata
      Baru sedikit kebahagiaan yang saya temui di dalam kehidupan saya. dimana kebahagiaan yang saya miliki saat ini adalah cara dari sudut pandang yang orang tua saya menilai. Orang tua saya yang mengukur kebahagiaan untuk anak-anaknya. Definisi dalam kesempurnaan yang masih saya pegang teguh sampai saat ini adalah apa yang telah diberikan orang tua saya kepada diri saya, dari segi materi, dari segi kualitas pendidikan, dari segi hal yang dapat membuat kehidupan saya jadi lebih baik dari pada yang lainnya. Pada intinya adalah sebuah pengakuan yang besar untuk dianggap 'namanya' dan keberadaannya oleh banyak orang, serta benar-benar dilihat dan benar-benar terpandang dari dan oleh siapa pun. Buat saya sendiri yang paling sangat berarti di dalam kehidupan saya adalah menciptakan kebahagiaan dari memanfaatkan seni yang saya miliki di dalam diri saya.        Saya sangat menyukai menggambar. dan saya mengimplikasikan hasil desainer yang saya punya ke sebuah karya di mana, terciptanya dari kedua tangan saya sendiri. Dari tekniknya yang saya pelajari selama saya kuliah, dari pemilihan bahan-bahan yang berkualitas tentunya, dan dari hasilnya itu adalah semua yang saya lakukan untuk orang-orang yang sangat mengharapkan akan mendapatkan bagian terbaik dari diri saya sendiri. Tentunya karya yang saya ciptakan.        Saya senang apabila melihat klien-klien saya bahagia, dapat merasakan kegembiraan, senang hatinya, dan puas karena saya telah memenuhi ekspektasi mereka. Di hari kebahagiaan yang mereka nanti-nantikan, ada banyak hal yang harus mereka persiapkan tentunya. Yaitu apalagi yang paling penting adalah apa yang mereka pakai saat pernikahan mereka nanti. Saya adalah seorang desainer terkemuka di Indonesia yang memang karya saya sudah diakui oleh banyak orang bahkan dari mancanegara juga. Saya juga memiliki channel YouTube sekaligus untuk memperkenalkan karya saya ke seluruh dunia yang diolah oleh tim-tim saya. Saya memiliki relasi pertemanan dengan artis-artis terkenal bahkan dari kanca internasional juga, selain itu juga dari orang-orang penting yang memiliki jajaran dan berada pada kelas-kelas atas. Saya juga membangun relasi hubungan kerjasama dengan para pebisnis. Dunia saya memang lekat pada ruang lingkup orang-orang yang berprofesi sebagai pengusaha.        Bukan hal asing lagi untuk diri saya sendiri memiliki ruang lingkup yang yang benar-benar bukan main-main atau saya tidak berteman dengan orang yang sembarang saja. Latar belakangnya benar-benar saya perhatikan dan saya ketahui sendiri, mana orang yang memang pantas untuk menjalin pertemanan dengan diri saya sendiri. Terlebih lagi memang kedua orang tua saya adalah sama-sama pengusaha mereka sukses di bidangnya masing-masing juga. Saya selalu diajak untuk bertemu dengan orang-orang besar yang memiliki kreadibilitas yang berkualitas, memiliki nama yang terpandang dari dunianya masing-masing, mau itu dunia bisnis, mau itu dunia politik ataupun mau itu dari dunia entertainment. Jadi, saya selama hidup memang hanya berkenalan dengan orang-orang yang latar belakangnya sangatlah baik.       Saya memang sudah dibiasakan oleh orang tua saya seperti inilah kehidupannya. Apalagi selama saya sekolah, mengenyam pendidikan juga ketika SMA saya pernah meminta orang tua saya untuk disekolahkan di tempat yang biasa-biasa saja. Kali itu adalah benar-benar permintaan saya yang saya inginkan dari orang tua saya. Kadang kala saya merasa jenuh dengan kehidupan yang serba mewah tetapi saya harus tetap memainkan peran saya di sini. saya belum bisa untuk keluar dari zona nyaman saya sendiri. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi dengan kehidupan saya nantinya. orang tua saya memang selalu membuat anak-anaknya untuk bergantung dengan mereka agar kehidupan kami tetap terjamin dan tetap terpantau oleh kedua orang tua saya. Supaya kami tidak benar-benar yang namanya merasa kekurangan.       Bicara-bicara soal 'kami', saya terlahir sebagai anak bungsu dari empat bersaudara. Yang pertama ada mbak Nana yang sudah menikah dan memiliki dua anak namanya Caca dan Karel. Dua keponakan yang yang sangat saya sayangi dan mereka lebih dekat kepada saya sebenarnya daripada sama mamanya sendiri. Seperti dari perbincangan yang sebelumnya, sudah tergambarkan sosok dari Mbak Nana sendiri. Dia memang seorang pekerja keras dan benar-benar ingin menjamin kehidupan anak-anak yaitu memiliki masa depan yang sangat cerah dan segalanya tercukupi dari kebutuhan ekonominya.        Dan dari kedua saudaraku yang lainnya, mereka ini adalah saudara kembar. Shena dan Joe. Mereka adalah kembar yang yang tidak identik namun hanya berbeda lima menit saja. Joe adalah anak kedua dari keluarga kami dan dia laki satu-satunya sedangkan Shena adalah anak ketiga. Joe adalah seorang aktor ternama yang akhir-akhir ini sibuk dengan perfilmannya sementara Shena. Kerjaannya cuman berfoya-foya saja dengan hasil uang yang yang diberikan oleh orang tua saya. Kadang kalanya saya suka bertengkar sama dia karena dia itu menjengkelkan. Tidak ada nilai poin plus yang dia miliki selain hanya kecantikan. Menurut saya kakak saya yang satu ini tingkahnya masih kekanak-kanakan dan belum dewasa. Umur saya juga tidak jauh berbeda dari Joe dan juga dari Shena.       Saya sehabis bertemu dengan klien-klien saya di butik, tiba-tiba saja saya dihubungi oleh nomor dari pihak kepolisian. Saya meringis kesal setelah menerima panggilan dari pihak kepolisian. "Jen tolong kamu handle klien-klien kita dulu, ya. Saya harus pergi dulu, ada urusan penting di luar," ucap saya kepada manajer yang saya percayakan untuk mengurus butik saya di Kota Bandar Lampung. Sebenarnya butik saya ini sudah membuka cabang yang besar di beberapa kota yang ada di Indonesia dan juga di luar negeri seperti di Prancis, di Amerika, dan di negara-negara besar yang lainnya. Saya sudah dikatakan terbilang sangat sukses dan sudah sangat bisa membanggakan kedua orang tua saya. Namun tidak dengan Shena. Dia selalu bermasalah dengan hukum. Saya tidak mengerti, apa yang dia inginkan di dalam kehidupannya dan mengapa di selalu berbuat ulah hingga merepotkan banyak orang.        Saya lagi-lagi harus berurusan dengan polisi hanya untuk mengurusi kakak saya sendiri yang saya tidak mengerti lagi, deh, tujuannya dia hidup itu untuk apa?       Bukan seorang diri saya datang ke kantor polisi melainkan saya membawa pengacara saya untuk mengurusi permasalahan yang melibatkan kakak saya ini. Selagi pengacara saya yang berhadapan langsung dengan pihak kepolisian, Saya melihat kakak saya yang duduk anteng-anteng saja seperti tidak terjadi apa-apa. Saya tegur dia dengan sikap dingin saya padanya. Jujur saya sangat tidak menyukai karakter dia yang memang suka tidak mikir dengan hal yang akan dia lakukan itu akan berdampak seperti apa ke depannya.       "Kenapa, sih, kamu itu nggak pernah berubah-berubah? Capek tau nggak ngurusin kamu doang ini. Kamu itu kakak saya tapi tingkah kamu itu seperti anak kecil. Pikir panjang kalau mau melakukan sesuatu, jangan punya pikiran yang pendek," marah saya kepada dia, sampai saya menunjuk-nunjuk kepala saya sendiri dengan bermaksud, supaya dia itu mau berpikir. Shena yang telah duduk di tempatnya sedangkan saya berdiri di hadapan dia sambil mulut saya ini komat-kamit marah-marahin dia di kantor polisi, atas sikap saya yang menasehati dia, tak terima dia dengan omongan saya. Digebrak nya kursi panjang yang diduduki dengan kedua tangannya dan kemudian dia langsung berdiri dengan matanya menatap saya setajam mata pisau. "Kebanyakan bacot banget, sih, Lo. Gue juga nggak minta Lo buat datang ke sini, kan? Enggak usah sok tua, deh, nasehatin gue segala. Nggak kenyang gue dengerin omongan Lo!" tukasnya sangat tidak tahu diri atas sikap dia kepada saya. Saya menggeleng kecil melihat tingkah dia. "Childish," gumam saya dengan suara pelan yang bermaksud untuk mengomentari dia. Deni sudah besar, umurnya udah 20-an. Sudah dewasa tapi tingkahnya masih seperti anak kecil. Itu mengapa saya mengatakan dia childish karena memang, di dalam diri dia sendiri, tidak ada perubahan dari sifat ataupun dari sikap dia, atau bahkan dari pemikirannya sendiri. Dia masih saja merepotkan banyak orang termasuk diri saya ini. Joe ataupun Mbak Nana nggak mungkin mau ngurusin dia. Apalagi mama dan papa yang sibuk dengan dunianya masing-masing. Dia ini memang tidak bisa terkontrol, harusnya dipantau terus. Terlebih dengan sifat dia yang tempramental dan tidak pernah mau berpikir panjang sebelum melakukan sesuatu, justru akan merugikan banyak orang termasuk dengan nama keluarga saya. "Lo bilang apa tadi? Childish?" seru dia mulai ingin menyerang saya. Dengan beraninya dan berlagak songongnya, dia mendorong bahu saya. "Lo sok dewasa banget. Hanya karena Lo lebih berhasil daripada gue? Iya?" cecarnya. "Tapi sebenarnya Lo iri, kan, dengan kehidupan gue?" Saya tersenyum meremehkan pada dia. "Apa yang harus diiriin dari Lo? Di mata gue, Lo itu nggak ada yang bisa dibanggakan. Jadi, salah orang kalau gue harus iri sama manusia yang udah jelas-jelas, otaknya itu ada di bawah gue," balas saya makin membuat dia merasa bakalan lebih-lebih insecure dari rasa dia yang sebelumnya. Kelemahan dia itu cuma satu, tidak percaya diri. Dan kalau urusan sebutan antara gue, lo, ataupun saya, itu memang sudah biasa di antara kami bersaudara. Kita dulunya berasal dari Manado, dan memang perkataan-perkataan kita masih terjaga, hanya saja karena kita sudah tinggal di perkotaan yang lebih besar, berbaur dengan banyak orang dan memiliki kehidupan yang modern, terkadang ada perubahan-perubahan dari bahasa yang kami gunakan. Terkadang terkesan santai ataupun juga terkadang terkesan lebih kaku. Terbukti dari yang saya katakan tadi, sudah dapat membuat dia terbungkam. Dia merasa malu, itu sudah jelas, dapat dilihat dari wajahnya. Pada kenyataannya saya lebih unggul daripada kakak saya yang satu ini. "Lo itu cuma cewek manja yang cuma misalnya mengandalkan orang tua aja tapi Lo nggak bisa mandiri cari duit sendiri, kan? Karena Lo itu nggak bisa apa-apa. Lo sendiri aja nggak tahu kemampuan Lo itu apa selain cuma bisanya berantem, nge-club, cari sensasi di sosial media, cari perhatian dari banyaknya orang dan selalu cuma bisanya cari pembelaan dari mamah dan papah. Malu, men. Lo itu payah, dan pencundang di mata gue," pungkas saya, tertata dari kata-kata saya kepada dia. Saya memang sangat emosi padanya namun saya masih bisa mengendalikan diri saya sendiri. Saya tidak perlu berbicara dengan nada keras dengan dia dan mempermalukan diri saya pada polisi polisi yang sedang bekerja dan berlalu-lalang di dalam kantor ini. Saya tidak peduli, apakah malam ini dia mau pulang atau tidak ke rumah, karena memang setelah bertengkar, dia bakalan kabur dari rumah dan entah kapan dia bakal balik lagi ke rumah. Sikap dia yang selalu kabur dari rumah setiap berantem sama orang rumah, bukan hanya pada aku saja, tetapi pada Joe juga. Dia bakalan kabur, hanya supaya dia bisa dicariin sama orang rumah, merepotkan saja dia ini kerjaannya.         Waktu yang tepat pengacara saya telah selesai menyelesaikan perkara Shena kepada pihak kepolisian. "Sudah selesai?" tanya saya.         "Kemungkinan orang yang dipukul sama Mbak Shena ini belum bisa diajak untuk berdamai. Kalau pun ingin berdamai, mereka meminta ganti rugi untuk biaya rumah sakit," jelasnya. Selain pengacara saya, ada juga memang perwakilan dari pihak keluarga dari, sih, orang yang dipukul oleh Shena. Kasusnya Shena itu adalah perkelahian di depan club. Saya tidak tahu pasti apa yang menjadi penyebab dari permasalahan mereka hingga baku hantam, tapi buat saya masalah ini sudah hal yang menjadi biasa karena memang, yang dilakukan Shena itu tidak jauh-jauh dari berantem terus sama banyak orang. Bulan yang lalu pun dia juga terlibat keributan sama entah dengan siapa, musuh dia itu memang banyak sekali.        "Saya percayakan sama kamu, ya. Kamu urus kakak saya ini dengan benar, yang jelas jangan sampai dia masuk ke penjara atau nama keluarga saya yang buruk. Kalau pun mereka minta ganti rugi, kamu bisa hubungi sekretaris saya aja. Saya masih banyak urusan karena saya ini orang yang sibuk, waktu saya nggak hanya mengurusi orang yang suka merepotkan saja. Apalagi yang tidak bisa menjaga nama baik keluarga. Buang-buang waktu," sinis saya terang-terangan saya katakan hal tersebut pada Shena. Biar dia itu bisa berpikir, kalau perbuatannya itu sudah sangat merugikan saya. Selesai saya bicara dengan pengacara saya, saya pun lekas pergi dari kantor polisi.       Saya memang sangat membenci kakak saya yang satu ini. Hanya saja saya tidak bisa membiarkan dia masuk ke dalam penjara. Bagaimana pun saya harus bisa menjaga nama baik keluarga saya sendiri. Saya selalu memegang tanggung jawab yang sudah diberikan oleh orang tua saya. Sebenarnya bukan hanya dari diri saya sendiri mainkan dengan saudara-saudara saya yang lainnya juga. Orang tua saya memberikan amanah kepada anak-anaknya untuk menjaga nama baik keluarga, meskipun segala sesuatu dari kita sendiri sudah terjamin masa depannya. Dan masa depan juga nama baik keluarga bisa hancur bila mana tidak ada yang bisa menjaganya.  Tanggung jawab itu bukan hanya saya saja yang memegangnya melainkan dengan ketiga saudara saya juga. Tetapi apakah ada yang mempedulikannya? Apalagi dengan kelakuan Shena. Tidak ada. Anak ini memang selalu harus dipantau seperti anak kecil. Saya sendiri jadi harus terbagi urusan saya dan waktu-waktu saya ini, hanya untuk mengurusi hal-hal yang benar-benar merepotkan saya. Sebenarnya, saya bisa saja meminta pengacara saya untuk mengurusi masalah ini tanpa saya harus turun tangan. Namun, saya sangat merasa lelah karena harus mendengar yang namanya kakak saya ini berurusan terus sama polisi. Pun saya turun tangan karena saya ingin bicara serius pada Shena, supaya otak dia itu bisa berpikir jernih, bisa dipakai untuk berpikir. *  Berpikir malam ini saya bakalan bisa istirahat ternyata saya salah besar. Di grup keluarga, orang tua saya sudah mendengar soal berita tentang Shena yang kembali berantem sama orang yang saya tidak tahu itu siapa. Orang tua saya itu sangat terkenal, jelas apa yang terjadi dengan kami akan menjadi bahan perhatian oleh masyarakat dan sangat menarik untuk dijadikan sebagai berita di televisi. Ini yang kata saya, anak-anak dari keluarga saya sangat bertanggung jawab untuk yang namanya bisa menjaga nama baik keluarga. Tidak mudah memang, tetapi itulah kenyataan yang harus diterima karena terlahir dari keluarga yang kaya raya. Dan Shena tidak bisa menjaga nama baik keluarga.         Saya baru pulang ke rumah, orang tua saya sudah duduk di ruang keluarga. "Hey, Nayla, ke mari sini, Nak," pinta mamah, saya langsung menurutinya meskipun rasa malas. Ada hal yang memang saya sendiri malas untuk meladeni orang tua saya. "Mama dengar kamu habis dari kantor polisi, ya?" tanya mamah, dengan tatapan penasaran sekali.        "Iya," jawab saya singkat sambil memijat keningnya saya. Kepala saya rasanya sudah mau pecah. Pusing sekali. Ini semua karena kelakuan Shena.        "Lalu, bagaimana keadaan kakak kamu? Dia baik-baik saja, kan? Apa ada yang terluka?" tanya mama bertubi-tubi.         Saya langsung memasang senyuman lebar saya dan menunjukkan bahwa saya membawa kabar gembira kepada mereka seolah-olahnya seperti itu. "Lebih baik dan jauh dari kata bonyok. Anak Mamah yang satu itu, kan, jago berantem, nggak mungkinlah dia terluka," balas saya sinis. Ada maksudnya saya mengatakan itu. Untuk apa harus menghawatirkan anak tersebut, toh, dia jago berantem. Dia jago kalau harus berkelahi sama siapa saja.         "Shena memang selalu berbuat masalah terus," seru papah dingin. Papah memiliki pemikiran yang sama seperti saya, berbeda halnya dengan mamah. Tidak lama dari yang dikatakan sama papah, muncullah orang yang lagi sedang dibicarakan. Shena muncul dalam keadaan yang kacau. Dirinya sebenarnya itu masih dalam pengaruh alkohol, hanya saja Shena masih bisa untuk mengendalikan dirinya sendiri. Dia itu peminum sama seperti mbak Nana. Shena menyadari keberadaan kami.         "Shena ke mari kamu!" perintah papah yang diabaikan langsung sama Shena dengan lambaian tangannya.        "Besok lagi .. besok lagi, aku mau tidur," ucap dia sangat tidak sopan pada orang tua. Pergaulan dia ini sangat bebas. Benar-benar anak malam yang suka menghabiskan waktunya di club. Bersama dengan teman-temannya yang bodoh-bodoh itu. Fake dan penuh dengan drama. Saya sangat tahu dia berteman dengan siapa saja, karena saya sendiri juga, selama bekerja, selama itu juga saya mengontrol dia. Dia pergi dengan siapa, bermain dengan siapa, berteman dengan siapa saya tahu. Dan saya sendiri, bukannya atas dasar keinginan saya untuk mau melakukan ini semua jika tanpa atas perintah dari papah saya sendiri yang memang sangat mengetahui kelakuan Shena itu sangatlah dapat merugikan nama baik keluarga. Jadi, istilahnya memang sebenarnya, Shena itu dikekang hanya untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak nama baik keluarga. Tapi, ya, semua terkadang ada titik di mana membiarkan Shena mau seperti apa jalannya. Terkadang tidak bisa harus dikontrol terus-menerus, saya katakan itu pada papah. Apalagi saya sendiri juga punya kesibukan saya yang tidak bisa terus-terusan harus menjaga Shena. Namun, papah masih mempercayakan Shena kepada saya. Artinya, papah memang masih membebankan Shena kepada saya yang entah sampai kapan, saya harus memegang tanggung jawab yang sangat membebani saya.        "SHENAAAA!!!!" bentak papah tiba-tiba. Saya sampai terkejut mendengarnya. Tetapi, sikap saya tidak berlebihan melihat kemarahan papah yang seperti ini. Saya sudah terbiasa melihat pertengkaran papah dengan Shena setelah di mana papah menyebut nama Shena dengan nada tinggi. Menghampiri Shena yang sudah berdiri dengan sikap menantang papah. Ekspresi wajah Shena tidak ada takut-takutnya.        "Pah," panggil mamah, kini ia sudah berdiri dengan sepasang matanya menyorot ketakutan. Saya tahu, dan dapat merasakan jika mama sangat khawatir anak kesayangannya bakalan diapa-apakan sama papah. Seharusnya, sikap mamah tidak seperti demikian yang seakan-akan tengah membela Shena meski saya tahu, mamah hanya berniat untuk melindungi Shena. Tapi pertanyaannya dari apa? Yang dihadapi oleh Shena itu adalah papahnya sendiri dan bukan orang lain. Papah juga tidak akan yang namanya menyakiti Shena karena saya tahu, papah juga sangat sayang pada anak-anaknya.       "Apa!? Papah mau marahin Shena? Begitu, ya? Aku ini udah besar, bukan anak kecil lagi. Udah nggak pantas Papah marah-marahin Shena lagi," katanya begitu. Buat saya malah tidak masuk akal dia bicara seperti itu. Dia dia sudah menyadari kalau dia bukan anak kecil lagi, tapi kenapa tingkahnya masih terus merepotkan banyak orang?       "Kalau kamu tidak mau dimarahin sama Papah, harusnya kamu mengerti, jangan pernah yang namanya terlibat sama hukum. Jangan bikin rusak nama keluarga kita dengan kamu berurusan sama polisi," tukas papah tegas. Bagi papah, papanya tidak ingin anak-anaknya terlibat dengan urusan hukum saja, terlebih jangan terlibat dengan polisi. Namun sayangnya, anak papa yang satu ini, anak perempuan yang paling susah diatur. Selalu berurusan dengan kepolisian. Dengan kasus yang terus sama berulang-ulang kali.       Saya terus mendengarkan perdebatan mereka berdua sembari memijat pangkal hidung saya dengan siku yang berpaku pada lengan sofa. "Oke, Papah tenang aja. yang perlu Papah lakukan adalah Papah memberikan izin kepada aku untuk tinggal sendiri di luar. Papah pasti udah tahu, kan, keinginan aku itu apa dan Papah tenang aja, di luar sana aku nggak bakalan melakukan sesuatu yang bikin rusak nama keluarga kita," kata dia yang mulai kembali lagi membahas pembahasan yang sama. "Aku ini udah dewasa, umur aku udah di atas 17 tahun bahkan udah masuk di umur 20-an ke atas dan aku pengen tinggal sendiri. Aku pengen tinggal mandiri," tambahnya lagi, tegas.       Meskipun itu, papah tidak memberikan izin kepada anak perempuannya untuk tinggal seorang diri. Papa tidak semudah itu melepaskan anak perempuannya terkecuali dia ikut dengan suaminya, seperti mbak Nana. Sedangkan anak perempuan yang seperti bagaimana dulu yang bisa dilepaskan oleh orang tuanya dan izinkan untuk tinggal seorang diri? Shena ini tidak bisa yang namanya mandiri. Dia masih bergantung sama orang tua. Okelah dia influencer tapi dengan citra dia yang buruk di sosial media, apakah dia dapat bisa mempertahankan namanya untuk tetap eksis?       Mama dan papa mengkhawatirkan masa depan dia. Saya tidak mau menambah opsi apapun tapi yang jelas, kalau pun Shena mau tinggal seorang diri, dia tidak akan bisa mendapatkan izin. Sudah dari umur 17 tahun dia bersikap menuntut banyak hal pada orang tua saya. Dia pernah meminta untuk tinggal seorang diri supaya dia bisa mandiri. Dia ingin tinggal sama pacarnya. Dia berpikir untuk menjalani kehidupannya seperti budaya orang barat. Namun, sedangkan dia tidak mengukur dirinya kalau dia tinggal di negara yang menganut budaya timur. Sebagai orang tua, tentu tidak akan mengizinkan anaknya untuk tinggal seorang diri ataupun tinggal bersama dengan pacarnya. Padahal dia tinggal di sini sudah dimanjakan dengan banyak fasilitas dan kebutuhan selalu dipenuhi oleh orang tua saya, tapi dia selalu saja bertengkar sama papah hanya karena hal yang dia inginkan ini tidak masuk akal. Dia selalu tidak bersyukur dengan apa yang sudah didapatkan dan justru tidak bisa menjaga apa yang dia punya sekarang ini. Kenapa dia harus selalu mencari hal-hal yang tidak mungkin bisa terjadi untuk diri dia sendiri? Bagaimana jadinya kalau dia nanti hamil dan pacarnya meninggalkan dia? Apakah itu tidak akan yang namanya membuat nama keluarga jadi buruk atas perbuatannya sendiri?       Dan sekarang dia memperdebatkan hal yang masih sama saja. "Memangnya kamu udah bisa apa? Hah?" tantang papah. Saya melihat mereka berdua kembali yang saling melempar adu tatapan perang.        "Eh, Papa nggak usah khawatirin kehidupan Shena. Shena udah besar. Shena udah punya pacar, dia yang bakal jagain Shena," katanya yang masih saja membawa-bawa soal pacar dia. "Lagian ini kehidupan Shena, terserah Shena mau ngapain. Papa nggak usah kebanyakan ngatur, deh. Shena cuma mau cari kebahagiaan Shena sendiri," pungkas Shena.       Papa udah kepalang emosi karena Shena, berani bicara seperti itu kepada papa. Dia seolah lupa sedang bicara dengan siapa dan berhadapan dengan siapa. "Oh, lu udah merasa bisa ngatur kehidupan lu sendiri ya? Lu udah nggak nganggap gue sebagai orang tua lu!?" Saya membulatkan mata saya ketika papa memegang lehernya Shena. Shena sendiri, berusaha bersikap setenang mungkin, meskipun dia juga sedang menahan emosinya. Saya tahu kalau memang Shena itu sengaja sedang memancing-memancing emosinya papah supaya Shena bisa diusir dari rumah ini, itu yang dia inginkan. Kalau pun Shena kabur, ada banyak orang yang bisa papah suruh untuk mencari keberadaan dia. "Dari elu umur 17 tahun udah kepengen tinggal sama cowok, tinggal sama pacar, lu pikir gue ngenakin kalian ini, bakalan lepas anak-anak perempuan gue gitu aja. Gue masih nahan-nahan, ya, lu pulang mabok, dibawa sama cowok. Lu gue izinin bisa senang-senang sama temen-temen lu, pulang sampai jam 4 pagi, nggak ada gue ngelarang-larang lu. Lu kepengen apa aja gue turutin. Sekarang lu ngelempar kotoran di muka gue. Kok lu dikasih hati mintanya jantung? Ngotot banget mau tinggal sama laki-laki. Lu dinyemeh sama laki-laki baru tau rasa lu. Ditinggal pas lagi susah-susahnya. Gue ngekang elu bakalan kelihatan salah, tapi dilepas juga lu malah keterlaluan. Malah makin jadi lu. Lu pikir gue bakalan kasih izin lu buat tinggal sama laki-laki? Lu mabok-mabok lah sana silakan, tapi lu punya otak itu dipake!" tandas papa. Emosi papa yang saya khawatirkan di sini. Saya takut, papa mengikuti hawa nafsu dalam emosinya, membuatnya kehilangan akal hingga melakukan hal yang di luar batasannya pada anak perempuannya sendiri.       Saya harus merasa kasihan dan marah dalam waktu bersamaan. Melihat Shena yang sama sekali tidak bisa bersyukur dengan apa yang dia punya saat ini dari Papa yang sudah berjuang untuk anak-anaknya. Papa sudah berbaik hati memberikan kebebasan untuk anak-anaknya tapi papa juga tidak akan memberikan izin kepada anak perempuannya untuk tinggal bareng sama pacarnya, apalagi tidak ada ikatan hubungan pernikahan yang resmi. Di sini, karena hanya bisa menghasilkan uang dari endorse saja dan itu pun tidak banyak, apalagi dengan kasus-kasus dia yang membuat namanya jadi buruk, tentu siapa yang mau mempercayakan diri dia untuk menjalin kerja sama yang bisa menguntungkan.       "Ya, aku udah dewasa! Aku pengen tinggal sendiri. Aku juga masih bisa jaga diri sendiri!"       "GUE BILANG NGGAK! YA NGGAK!!!!" teriak papah di depan muka Shena sampai Papa mengeluarkan kata-kata kasar padanya. Mamah langsung berlari menghampiri mereka berdua. tangan Papa satunya sudah terangkat mau menampat wajahnya Shena. Namun karena adanya mama yang melindungi Shena, niat papah untuk menamparnya pun diurungkan olehnya. Papa masih bisa menahan emosinya menghadapi kelakuannya Shena, tapi saya sendiri yang melihatnya sudah benar-benar jengkel. Justru saya yang datang menghampirinya dan mewakili tamparan dari papa.       "NAYLA!!" Kini sekarang mama yang membentak saya karena sudah menampar wajahnya Shena.        "Parasit Lo!" maki saya kepada Shena. Shena tentu tidak terima atas hinaaan dari saya.        "Urusan Lo apa sama gue? Gue nggak ada urusan sama Lo, ya!" seloroh Shena sampai ia berani menunjuk-nunjuk muka saya. Walaupun dia ini kakak saya, saya tidak benar-benar menganggap dia sebagai kakak saya. Saya nggak takut dengan sikap dia yang barbar, dengan sikap dia yang tempramental. Dia sampai membanting vas bunga ketika gagal dia mau melemparinya ke saya. Gagalnya yang ingin dia lakukan kepada saya karena ada mama yang menahannya bahkan mamah sendiri sampai berteriak kencang untuk menyudahi keributan di antara kami. Kita terlibat percekcokan di sini. Dan saya masih geram sama tingkah lakunya Shena yang sangat menyebalkan di mata saya. Saya masih diam di mana Shena masih terus berteriak memaki-maki saya. Sampai akhirnya, papah yang sudah tidak tahan merasakan sakit pada jantungnya. Dia merasakan sesak nafas yang hebat sampai akhirnya pun dia terjatuh pingsan di atas lantai.       Saya dan mamah diserang ketakutan dan kekhawatiran yang luar biasa melihat papah yang sudah terbaring lemah di atas lantai. Saya langsung menghubungi ambulans, dan orang-orang yang bekerja di rumah, membantu mamah untuk membawa papah ke rumah sakit. Setelah itu, saya menyusul mereka. Dan belum saatnya saya benar-benar pergi, melihat Shena yang berdiri mematung di tempatnya, menjadi makanan buat saya untuk menyerang mentalnya. "Kalau terjadi sesuatu sama papah, gue nggak bakalan segan bawa Lo masuk ke dalam penjara," ancam saya kemudian langsung pergi dari hadapannya. []        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN