Bab. 3 Kilas Balik Hidup

2638 Kata
Saat ini sebenarnya kami lagi tinggal di Jakarta. Seharusnya mudah saja untuk Mbak Nana dan mas Joe buat datang ke rumah sakit untuk menjenguk Papa yang sedang dirawat sekarang. Tetapi setelah aku hubungi mereka berdua berkali-kali, rasanya mereka sulit sekali untuk datang ke rumah sakit. Terlebih jawaban dari Mbak Nana itu adalah, "aku masih sibuk di kantor ini dan mesti buru-buru mempersiapkan bahan-bahan untuk dipresentasikan di luar kota nanti. Sori, ya, aku nggak bisa datang. Pokoknya kamu kabarin aja ke Mbak kalo Papa kenapa-napa. Aku percayakan ke kamu, ya. Kamu jagain mama juga biar mama itu nggak banyak pikiran. Kamu tahu sendiri, kan, mama itu orangnya overthinking banget." Saya sudah berdiri dengan kedua kaki yang lemas. Sekarang saya berpindah untuk duduk sembari menghubungi saudara saya yang lainnya. Kecewanya diri saya adalah tidak bisa membuat mbak Nana untuk datang ke sini. Lalu dengan Mas Joe, dia sendiri sangat sibuk dengan kegiatan promosi filmnya. Dan saat ini, dia sedang tidak berada di Jakarta, melainkan lagi berada di Surabaya untuk menyelesaikan pekerjaannya. "Tapi apa iya nggak bisa ditinggalkan dulu Mas, kegiatan Mas itu? Papa ini lagi sakit, loh. Dia kepengen anak-anaknya itu datang ke sini, semua ngumpul. Mas emangnya nggak mau ketemu sama Papa apa?" tanya saya mulai emosi mendapati kedua kakak saya sama sekali tidak ada pedulinya pada orang tua mereka sendiri. Mereka lebih mementingkan kegiatan mereka daripada urusan orang tua, sudah saya katakan jika sudah mengenai orang tua ya artinya urusannya sudah sangat mendesak.  Apalagi, padahal mereka tahu, kalau papa punya penyakit riwayat masalah jantung. Seharusnya mereka sebagai anak mengerti keadaan orang tua lagi sedang membutuhkan anaknya, mereka harusnya datang. Bukan malah bersikap acuh tak acuh begini. Masa iya saya harus sampai ngemis-ngemis dulu sama mereka berdua supaya mereka mau datang ke rumah sakit hanya untuk menjenguk papah, hanya untuk melihat keadaan papah saat ini? "Nay, kamu harusnya yang bisa ngertiin Mas kamu ini dong. Mas lagi sibuk tour buat promosi film Mas. Kan, di sana ada kamu ada Mama, ada Shena juga," saya meminjamkan mata saya sejenak ketika mendengar nama orang itu disebutkan. Saya sangat membenci kakak saya yang satu itu, "ya, udahlah, kalian bisa urus papa, kan? Kalau Mas ada di sana pun Mas bakalan jengukin papa. Cuman, kan, Mas lagi sibuk. Mas lagi sibuk shooting, Mas lagi sibuk promosi film, Mas harus bertemu dengan fans Mas. Ada banyak yang harus Mas kerjakan. Ya, kamu paham sendirilah kesibukan Mas ini sebagai aktor itu gimana, nggak perlu harus Mas jelasin ke kamu lagi. Intinya Mas harus bisa bekerja profesional. Itu yang lebih penting." Saya tidak mau banyak bicara lagi soal papa kepada kedua saudara saya yang sama sekali tidak mempedulikan papa. Saya rasa akan sangat percuma saja dan hanya bisa membuang-buang energi saya saja. Saya duduk terdiam di lorong rumah sakit sunyi. Saya tidak tahu, siapa yang salah. Mereka atau cara orang tua saya yang mendidik mereka termasuk kepada diri saya sendiri. Dan jika boleh memutar kembali ingatan saya pada masa kehidupan saya ketika masih kanak-kanak. Dulunya saya ini tinggal di Manado. Papa orang Manado sedangkan mama asli orang Jawa. Kami dulu, sering kali berpindah-pindah tempat. Kadang menetap di Jawa dan kadang juga menetap di Manado. Jika di Manado yang hanya masih saya ingat adalah, rumah saya berada dekat di danau Tondano yang letaknya di wilayah Sulawesi Utara. Dulu saya masih tinggal di daerah pedesaan. Saya ingat sekali hal yang paling saya suka itu adalah setiap sore saya menyusuri tepian danau sambil menikmati pemandangan dari panorama gunung dan juga bukit yang ada di sekeliling danau Tondano. Rumah saya masih di kelilingi dengan pemandangan dari tiga gunung dan satu bukit yang mengelilingi area sekitar di danau. Dulunya saya sama papa, suka sekali pergi mendaki Gunung Kaweng, Gunung Masarang, dan Gunung Lembean. Dari ketiga gunung itu, kami sering sekali berburu mencari rusa. Dan kadang, saya bersama dengan teman-teman saya pergi ke Bukit Tampusu. Di daerah rumah saya, ada satu gunung yang terlihat paling menjulang tinggi dari tepi danau daripada gunung-gunung yang lainnya yaitu Gunung Kaweang yang sering didatangi juga oleh saya dan papa juga dengan Mas Joe.        Saya baru tinggal di Manado itu ketika saya masih berusia lima atau enam tahun. saya sedari kecil memang memanggil kakak-kakak saya dengan sebutan Mbak dan Mas karena memang mamah menyebut mereka dengan panggilan itu, juga di rumah terkadang mamah suka bicara pakai bahasa Jawa. Tidak penting tetapi sedikit info saja.        Dulu saya itu berasal dari keluarga yang sederhana-sederhana saja kehidupannya, tinggal di Manado pun rumah tersebut adalah milik dari rumahnya nenek, ibu dari papah. Papa ketika itu masih bekerja sebagai buruh di pabriknya orang sedangkan mama menjalani usaha yang dimiliki oleh nenek. Warteg yang yang berada di sebelah sekolahan SMA. Saya sering banget membantu nenek saya memasak di rumah. Sedangkan ketiga saudara yang saya yang lainnya membantu mama di warteg. Menu andalan kami tentu saja makanan-makanan khas dari Manado yang dibalance dengan makanan khas dari tanah Jawa.       Menu andalan kami itu ada makanan dabu-dabu, sambal roa dan juga ayam tuturuga. makanan yang paling laku di daerah Manado, sebenarnya masih banyak lagi makanan-makanan yang lainnya. Tapi hanya itu yang baru saya ingat.       Saya paling dekat sama nenek. Iya, karena memang orang tua saya itu pada sibuk bekerja. Sedangkan saya di rumah hanya bersama dengan nenek karena saya belum sekolah. Dan sementara dengan saudara-saudara saya yang lainnya juga, mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, setelah pulang sekolah baru mereka membantu mama saya.       Saya teringat lagi di mana masih sederhana-sederhananya kehidupan kami tapi kita bisa menikmatinya. Sederhananya, kita masih bisa makan malam bersama. Kadang kalanya saya melihat Mas Joe dan juga kak Shena berantem merebutkan makanan. Karena memang nenek tidak masak banyak ayam soalnya perekonomian kami juga lagi sedang tidak baik. Biasanya nenek selalu masak banyak untuk mencukupi makanan buat cucu-cucunya. Setiap makan malam, nggak mungkin Mas Joe dan juga kak Shena tidak bertengkar. Sampai nenek yang biasa saya panggil Oma itu harus melerai mereka berdua. Kak itu, letak kesalahannya adalah pada Mas Joe yang mengganggu kak Shena yang sedang makan dengan mengambil sembarang daging babi yang dimiliki kak Shena. Kak Shena merengek kesal akibat ulah dari mas Joe. Oma memukul tangan mas Joe yang hendak mau menggigit daging babi yang yang diambil dari piringnya kak Shena dengan tiba-tiba.       "Eh, kau jangan begitu. Sudahlah. Kau jangan mengambil punya adik kau punya Jo. Kau ambil saja daging Oma punya," omel Oma pada kakak saya, Joe. Tapi, itu justru hal yang sangat saya suka. Soalnya mas Joe yang suka iseng gitu orangnya jadi kena marah sama Oma. Inilah yang menjadi keseruan dari makan bersama dengan keluarga. Saya sangat menikmatinya.       "Oh, tidak apa-apa lah Oma. Aku masih mau makan," katanya sambil mengelus-elus perut dengan ekspresi memelas. Padahal dia sudah makan daging babi punya bagiannya.        "Tapi jangan kau makan punya adek kau. Kau makan saja sudah punya Oma." Oma dengan baik hatinya memberikan daging babi miliknya kepada Mas Joe.        "Joe, kamu udah makan punya bagian kamu masih saja serakah," seru mamah akhirnya dapa marah sama mama, artinya dia kena marah sama mama. Mamah juga pasti tidak enak hati kepada Oma karena Oma hanya makan sedikit saja. Mas Joe memang orang yang serakah. Yang dimarahi malah memasang ekspresi sedih. Padahal saya tahu, kalau itu hanyalah sebuah jurus dari Mas Joe supaya bisa dikasihani sama Oma karena Oma itu orangnya tidak tegaan sama cucu-cucunya sendiri.           "Sudah jo, tidak apa-apa. Kau bole makan punya Oma. Kau makan saja sampai kenyang," kata Oma seraya mengusap-usap bahu Mas Joe dengan tertawa, dengan menunjukkan ketulusannya kepada cucunya. Tidak ada keberatannya sama sekali berbagi makanan kepada cucunya, meskipun saya lihat, Oma belum makan milik bagiannya sendiri.       Saya bahagia sekali bila mengingat masa-masa pada kehidupan saya yang dulu. Sederhana saja tapi dapat dinikmati. Melihat orang yang saya kenal, berbagi miliknya kepada orang yang lainnya dengan perannya adalah oma saya kepada cucunya sendiri. Oma itu memang bukan orang yang modern. Dia selalu hidup dengan caranya sendiri. Di hidup di tengah-tengah kesederhanaan. Masih bisa bertahan hidup di umurnya yang sudah sangat tua. Masih bisa dapat bekerja walaupun tubuhnya sudah tidaklah sekuat seperti dulu. Dia adalah orang yang sangat membuat aku terinspirasi dan orang pertama yang membuat saya itu itu jatuh cinta pada sebuah kehidupan. Dia adalah orang pertama yang mengajarkan saya banyak arti dalam menjalani kehidupan. Namun, ada di suatu ketika saya melihat realitanya dan merasakannya pada kehidupan saya sendiri, terkadang mempertanyakan apakah benar, apa yang dikatakan oleh Oma tentang nilai-nilai yang diajarkannya kepada saya? Oma memang tidak banyak berbicara tentang hal-hal yang sebenarnya, ketika saya masih kecil itu, saya masih belum bisa memahami banyak hal, namun saya hanya melihat apa yang ada di depan mata saya saja dan mencontoh perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan oleh orang. Kalau pun saya bingung akan sesuatu hal, saya akan mempertanyakannya kepada Oma. Di suatu malam, saya pernah kesulitan untuk tertidur. Saya tidur bersama dengan mbak Nana dan kak Shena, jadi satu ranjang kita tidur berbagi tempat, jadi ada tiga orang yang mengisi ranjang tidur yang tak seberapa besarnya ini. Malam itu saya merasa kegerahan, panas rasanya. Maklum di tempat oma tidak ada kipas angin ataupun AC seperti di rumah saya sekarang ini. Kehidupan saya jauh berbeda dari yang pernah Oma dan saya jalani ketika dulu.       Ada masanya saya pernah benar-benar merasa susah kehidupannya. Seperti ketika di mana saya keluar dari kamar di malam hari. Niatnya saya mau ke kamar mandi cuman berhubung saya melihat orang tua saya lagi sedang berbincang di depan rumah, tepatnya mereka berdua lagi duduk di teras rumah yang menghadap danau Tondano dengan pintu rumah yang sengaja dibuka. Saya tertarik untuk mendengar percakapan orang tua saya. "Papa dipecat Mah, ini uang pesangon dari perusahaan." Saya melihat Papa memberikan amplop berwarna coklat kepada mama. "Papa dipecat kenapa?" tanya mama, terdengar ia sangat gelisah.       "Ada pengurangan karyawan Mah. Perusahaan juga udah mau bangkrut. Pabrik udah mau ditutup juga," kata papa menjelaskan keadaan terburuk saat di mana, keluarga saya harus menerima cobaan yang memberatkan keluarga kami.       Mama terdengar menghela napas berat. "Uang pesangon ini cuma cukup untuk biayain sekolahnya anak-anak, Pah. Tidak cukup untuk buat biayain Nayla masuk sekolah," jelas mama dengan suara pelan ia berbicara, mungkin ia tidak mau perbincangannya didengar oleh siapa-siapa.       "Tahun ini Nayla masuk sekolah, ya?" tanya papa, saya mendengarnya, papa senang saya tahun ini bakalan sekolah.       "Iya Pah, Nayla tahun ini daftar sekolah harusnya. Tapi kalau Papa sudah dipecat begini, uang pesangon pun belum cukup. Kita mesti cari hutangan lagi dong buat biaya Nayla masuk sekolah."       "Apa kita minjem aja ke bank?" usul papa.       "Terus jaminannya apa?" tanya mama, lemas. Dan saya benar-benar melihat mama sudah kebingungan.       Papa terdiam setelah mendengar pertanyaan dari mama yang saya rasa, papa juga tidak tahu jawaban apa yang harus ia berikan terlebih papa terlihat sedang berpikir keras. "Mau sama siapa, lah, Pah kita ngutang, kita minjem ke sana sini pun enggak ada yang mau minjemin uang ke kita, belum lagi Papa udah tidak kerja, kita nekat minjem ke bank, mau ganti dari mana kita kalau menghutang," keluh mama.       "Kalo dari hasil warteg gimana?" tanya papa lagi, ia terlihat masih berharap akan sesuatu hal.       "Pah, Pah, kita mengurus warteg punya ibu kamu juga uangnya tidak bakalan cukup. Kebutuhan kita semakin hari semakin banyak Pah," jawab Mama mematahkan semangat papah. Terlihat tampak kecewa sekaligus bingung dalam waktu bersama setelah mendengar jawaban dari mama. Sempat terjadi keheningan di antara mereka berdua sampai akhirnya Mama mengeluarkan suara.       "Mama itu nggak pengen Nayla nggak sekolah tahun ini. Mama kepengen anak-anak Mama itu pada sekolah semua. Kita harus jadi orang yang sukses Pah," ungkap mama bersungguh-sungguh di tengah-tengah keputusasaannya.        "Bukan cuma kamu aja, lah, Mah yang pengen anak-anaknya jadi orang sukses. Papa juga kepengen mereka itu bisa meraih cita-cita mereka," seru papa yang menginginkan hal yang sama.       "Itu dia. Kalau kita tinggal terus-terusan di kampung, kita nggak bakal bisa maju Pah. Kita mesti pergi ke kota, kita nggak bisa terus-terusan tinggal di sini aja. Kamu juga sudah tidak bekerja, kan, di sini. Lebih baik kita pindah, kita cari kehidupan yang baru, kita buat usaha kalau bisa," seru mamah penuh keyakinan. Kita pergi ke Manado karena Papa tidak menemukan pekerjaan di Jawa. Soal gagal apa yang diusahakan Papah di Jawa. Lalu teman lama papa menawarkan pekerjaan di Manado sehingga kita semua berbondong-bondong pulang dan menetap di Manado. Dan kami harus lagi pergi merantau ke tanah Jawa. Saya membayangkannya saja sudah sangat merasa lelah.       Saya tidak lagi mau mendengar perbincangan mereka. Tanpa mereka sadari, saya sudah langsung masuk ke dalam kamar dan tidur berbaring membelakangi kedua saudari saya. Anak-anak seusia saya sudah berbondong-bondong mendaftar sekolah dasar sedangkan saya sendiri belum. Saya tidak tahu, saya bakalan sekolah atau tidak, namun naluri hati saya mengatakan, saya yakin jika orang tua saya akan menyekolahkan saya. Mereka tidak akan membiarkan saya terlantar tanpa pendidikan. Saya percaya mereka berdua akan benar-benar memperjuangkan cara supaya saya bisa sekolah sesusah-susahnya kami hidup. Bahkan, ada yang lebih buruk dari itu. Hal wajar apa yang saya rasakan bukan. Saya memang kadang mengirikan kakak-kakak saya selalu bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Tapi, jika melihat ke diri saya sendiri saat itu, saya merasa sedih. Saya belum bisa melakukan hal yang sama seperti mereka. Pasti akan sangat menyenangkan bisa menjalani hari-hari di sekolah. bisa saling tunggu-tungguan supaya berangkat ke sekolah bareng.        "Eh, tungguin saya Joeeeee!!!!"       "Toleeeeee!!! Tunggguiiinnnnn!!! Mbak Nana jangan tinggalin aku."       "Ayo, cepattttt!!!"       Kak Shena sudah selesai mengikat sepatunya. Kemudian dia berpegangan tangan bersama dengan mbak Nana, pergi dari rumah setelah berpamitan dengan mamah. Mengejar Mas Joe yang sudah berlari duluan. Mereka bertiga bisa berangkat sekolah bersama-sama sedangkan saya seorang diri di sini. Tidak, Saya memang tidak benar-benar sendiri di rumah ini, namun rasanya tetap saja sendirian. Sebab saudara-saudara saya yang lainnya pergi ke sekolah dan saya mempertanyakan nasib saya sendiri, bisa kapan saya dapat merasakan yang namanya bangku sekolah?        Saya sebagai anak bungsu yang terakhir, memang tidak selalu bisa mengungkapkan perasaan saya. Itu mengapa saya terkesannya dingin ketika sudah dewasa. Saya benar-benar bertekad, saat besar saya harus menjadi orang yang sukses. Saya tidak mau hidup dalam kesusahan terus-menerus karena mau apa-apa pun jadi susah. Saya mau sekolah saja jadi sulit. Mama melihat saya yang masih berdiri di tempat saya. Dari tadi saya asyik memperhatikan ketiga saudara saya.        "Nayla," panggil mama lembut. "Jangan bersedih, ya, Mamah bakal usahakan kamu supaya bisa sekolah seperti saudara-saudara kamu, itu janji Mama sama kamu." Saya melihat mata mamah. Mata mama tidak pernah berbohong. Matema menyiratkan kejujuran. Ia benar bersungguh-sungguh pada kata-katanya. saya perhatikan tatapan mama berubah arah, melirik kepada seseorang yang ada di belakang saya. Saya menoleh ke belakang dan rupanya ada papa. Saya tahu, papa juga sedih. Tapi papa tidak mau menunjukkannya. Papa menghampiri saya dan memeluk saya bersama dengan mama. Saya berpikir, papa hanya tidak mau terlihat lemah. Saya benar-benar merasakan perjuangan orang tua saya untuk bagaimana caranya, anak-anaknya bisa mendapatkan kehidupan yang lebih layak lagi. "Kamu yang sabar, ya, Nayla, Papa akan usahakan semuanya. Kita nggak bakalan hidup terus-terusan susah. Papa bakal usahakan untuk memperbaiki kehidupan kita." Apa yang terucapkan oleh papa dapat menghibur saya sejenak dan menyemangati saya tentunya. Saya mengangguk dan memberikan senyuman tulus kepada mereka berdua supaya mereka tidak bersedih ketika melihat saya juga bersedih dengan nasib saya ini. Saya tidak mengatakan kepada mereka kalau saya mengetahui papa Sudah dipecat dari tempat ia bekerja. Saudara-saudara saya juga tidak tahu mengenai keadaan orang tua saya. Orang tua saya tidak menceritakan jika papa sudah dipecat. Saya mengerti sekali perasaan mereka. Orang tua saya tidak ingin membuat anak-anaknya terlalu berpikir lebih dalam lagi, tidak mau anak-anaknya punya banyak pikiran, dan tidak mau membuat anak-anaknya bersedih hati. Karena itu, mereka berusaha untuk tetap kelihatan baik-baik saja dan menutupi permasalahan yang ada. Saya sendiri cukup tahu saja dan tidak perlu saya harus mengatakannya lagi kepada mereka berdua. Saya orangnya memang pendiam dan sangat pintar untuk menjaga rahasia. Saya tahu mana yang baik untuk dikatakan dan mana yang seharusnya lebih baik disimpan. Setidaknya dengan melakukan hal itu, saya tidak memperburuk keadaan yang sudah memang bertambah buruk keadaannya.      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN