Bab. 4 Kecacatan Hidup

4200 Kata
"Oma mau ke mana?" tanya saya saat lagi sedang bermain di halaman luar. Saya lihat nenek sudah bersiap-siap dengan bakul di belakang punggungnya dan sepatu boot yang dia pakai.  "Oma mau pergi naek gunung. Mau ikut?" tawar Oma. Saya melempar kayu ke sembarang tempat yang saya jadikan mainan saya tadinya. "Mau lah!!!!" sahut saya sambil berlari kecil menyusul Oma. Tidak sekolah tetapi saya bisa menghabiskan waktu saya bersama dengan nenek. Kita pergi ke gunung untuk mencari kayu bakar. Persediaan kayu bakar sudah habis sebab itu kita mencari kayu di gunung. Biasanya ada banyak kayu yang bisa dijadikan kayu bakar untuk memasak. "Kau tau tidak Nay, kita orang dulu itu bisa punya hidop dengan apa saja di alam. Artinya kau punya hidop nanti kau besar jadi biasa-biasa lah. Sederhana itu sempurna." Oma selalu bicara itu singkat saja tapi pemaknaannya sangatlah luar biasa. Dia bilang, jika orang dulu itu bisa hidup dengan apa saja yang ada di alam. Dia mengatakan ketika aku besar nanti, aku hidup cukup sederhana-sederhana saja, yang biasa-biasa saja karena sederhana itu adalah kesempurnaan. Dan sampai saat inipun saya masih mengingat nasihat dari nenek. Ketika berada di hutan, saya memang diajarkan sama nenek, hidup untuk menyatu dengan alam. Saya saat masih kecil masih bisa untuk mencerna hal itu semua. Dengan beranjak dewasa, rintangannya itu tidaklah semudah dilewati hanya dengan apa yang diucapkan oleh orang yang sudah memiliki pengalaman yang lebih banyak dari saya dan kalau pun itu, saat di mana seseorang berproses, pemikirannya pun pastinya tidak semuanya sama. Hanya prinsip yang menjadi penegak dan batasan ketika menjalani kehidupan. Saya pikir semua itu tergantung pada keadaannya seseorang. Seusai dari membantu oma mencari kayu bakar di gunung. Sekembalinya saya dari sana, saya dan oma dikagetkan dengan kedatangan dua orang warga yang yang membawa kabar buruk. Mereka terlihat tergesa-gesa setelah berlarian. Bicara kepada oma mengenai sesuatu yang dikabarkan. "Adoh! Kita orang musti ke sana!" teriak Oma penuh dengan rasa khawatir dan juga ketakutan. Saya tidak mengerti apa yang terjadi. Oma dan kedua laki-laki tersebut terlihat gelisah dan buru-buru kami menaiki motor mereka berdua. Saya masih ingat arah yang dilewati ketika waktu itu. Tujuannya pun saya tahu yaitu ke warteg Oma. Di jalanan besar itu, banyak orang-orang yang saling melempar batu, kayu, dan segala macamnya. Ternyata lagi sedang ada kerusuhan yang dilakukan oleh warga dan juga ada aparat dari kepolisian untuk melerai warga yang lagi sedang bentrok. Ada warga-warga dari kampung yang berbeda. Saya bertanya kepada laki-laki yang membonceng saya dengan motornya. Dia memberitahukan kalau ternyata penyebab kerusuhan antara warga dari dua kampung yang berbeda, lagi sedang memperebutkan sebuah lahan sengketa. Kerusuhan yang ini benar-benar berdampak buruk pada orang yang lainnya. Apalagi terjadi di dekat sekolahan. Orang-orang yang tidak berurusan pada warga-warga di sekitaran sini jadi ketakutan. Mereka berusaha menghindari kerusuhan yang sedang terjadi. Ada kendaraan-kendaraan yang saya lihat sengaja dibakar. Dan satu motor dibakar di tengah jalan. Beberapa rumah di sekitaran dekat kejadian jadi kena sasarannya juga. Hal ini yang menyebabkan aparat kepolisian jadi turun tangan.  Saya sebenarnya tidak takut dengan keadaan yang terjadi melainkan saya hanya takut dengan keluarga saya. Tempat kerusuhan yang terjadi di dekat warteg milik Oma. Dari seberang jalan, saya melihat warteg Oma sudah dihancurkan padahal warteg tersebut adalah mata pencaharian di keluarga kami. Oma memberikan warteg itu dan dipercayakan kepada mama supaya dapat membantu biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Dan saya sudah melihatnya. Warteg omah telah dihancurkan dengan dilempari pakai batu. Jendela yang ada tulisan masakan Manado sudah hancur. Saya bingung sekaligus saya khawatir dengan keadaan mama dan saudara-saudara saya. Saya tidak peduli pada sekitar saya. Saya juga tidak hanya melihat oma sekilas saat dilindungi oleh laki-laki yang memberitahukan kabar buruk tadi. Oma di bawa pergi ke tempat yang aman. Keadaannya makin kacau dan orang yang membonceng saya dengan motornya hendak mau membawa saya pergi menjauh juga. Sebenarnya tujuan kami ke sini itu untuk mencari keluarga kami, tetapi keadaan yang kacau seperti ini membuat orang yang membawa kami takut kami kenapa-napa. Di tengah ketidaksadaran laki-laki yang duduk di depan saya ini, mungkin terlalu fokus dengan kerusuhan yang terjadi. Saya mengambil kesempatan untuk menerobos di tengah-tengah kerusuhan yang terjadi, ketika sepasang mata saya menangkap figura saudara-saudara saya dan mama saya keluar dari warteg tersebut dengan kepala menunduk dan punggung yang membungkuk.  Saat itu, saya tak menghiraukan panggilan dari oma saya dan kedua laki-laki yang membawa kami ke tempat ini sebab yang ada di pikiran saya adalah hanya memikirkan keadaan keluarga saya saja. "Papa!!!" teriak saya berlari dari seberang jalan, begitu melihat papa yang keluar terakhiran dari dalam warteg. Yang saya pikirkan itu adalah saya ingin menghampiri mereka saja, saya tidak mau mereka kenapa-napa. Papa melihat saya setelah saya panggil. Dia terkejut. Mulut papa itu mangap-mangap, terbuka seolah lagi sedang berbicara kepada saya namun saya tidak dapat mendengar suaranya. Di sini terlalu berisik. Dan saya juga lagi fokus untuk tetap menjaga diri saya karena memang ada banyak lemparan-lemparan batu yang yang berasal dari dua arah. Papa saya hendak ingin menghampiri saya yang masih terjebak di tengah-tengah jalan. Saya cukup kesulitan untuk menerobos kerusuhan tersebut karena banyak orang juga yang saling baku hantam. Begitu nekatnya saya sementara saya tahu sendiri, jujur, saya juga merasa ketakutan yang luar biasa. Sampai akhirnya saya tidak dapat bisa melihat karena gas air mata dilemparkan, asap pekat menutupi pandangan saya. Saya tidak bisa melihat keberadaan papa. Ditambah asap dari kobaran api akibat amukan massa yang membakar beberapa pertokoan dan rumah-rumah jadi bercampur. Teriakan dari seluruh penjuru membuat saya ketakutan untuk bergerak kembali menuju ke tempat papa berada. Sulitnya juga, tubuh saya selalu nyaris terjatuh karena sempat tertabrak oleh tubuh-tubuh orang dewasa. Saya ingin merasa aman. Di sini keberanian saya jadi menciut karena saya tidak bisa melihat orang-orang yang saya kenali. Di tengah-tengah rasa ketakutan saya, saya mendengar ada yang memanggil nama saya tiba-tiba. Saya tadinya berjongkok sembari menutupi kedua telinga saya akibat dari suara tembakan yang berasal dari aparat kepolisian dan bikin jantung saya rasanya mau copot saat itu juga. Mengenal suara yang memanggil nama saya adalah keluarga saya sendiri, saya segera berdiri dari tempat saya. Saya mencari-cari keberadaan mereka. Namun, saya sangat kesulitan dari asap tebal ini yang menghalanginya. Dan ketika saya melihat sekelebat saudara saya melambai-lambaikan tangannya. Detik itu juga saya dapat tersenyum, namun detik berikutnya lagi, saya merasakan benda keras menghantam mata kiri saya dan juga benda keras yang lainnya menghantam kepala saya. Saya tumbang di tempat saya berdiri. Terakhir yang saya lihat adalah batu yang mengenai mata dan kepala saya. Batu tersebut tergeletak di samping kepala saya yang menyentuh aspal. Dan apa yang terjadi setelahnya? Dari kejadian dan musibah yang menimpa saya. Saat kecil, saya dengan terpaksa dan berat hati, harus menerima mata kiri saya mengalami kebutaan. Saya merasa aneh pada diri saya sendiri. Saya memiliki watak yang diam dan saya jadi semakin diam karena rasa trauma saya dari pasca kerusuhan itu terjadi. Semua keluarga saya selamat dan tidak terluka apa-apa. Hanya saya saja yang harus mengalami musibah ini. Saya tidak bisa melihat dengan mata kiri saya, membuat saya benar-benar merasa drop dan saya tidak bisa bermain dengan teman-teman desa saya karena saya takut, teman-teman saya tidak bisa menerima keadaan saya yang justru, saya takutnya malah ada yang mengejek saya lagi nantinya. Saya memikirkan selalu hal buruk tersebut di dalam kehidupan saya. Saya jadi merasa tidak buruk dengan diri saya sendiri dan keadaan pada fisik saya. Yang saya lakukan juga di rumah adalah membanting barang-barang yang berada dekat dengan saya bila emosi saya sedang tidak terkendali. Saya marah karena fisik saya harus seperti ini. Saya sudah tidak bisa sekolah lalu mata saya pun harus buta. Perban putih menutupi mata saya layaknya membuat saya seperti seorang bajak laut. Hanya saja, bajak laut terlihat menyeramkan dan sangar sedangkan saya terlihat mengenaskan dan bahkan dengan fisik saya yang seperti ini, membuat orang menjadi merasa iba dan kasihan jika melihat keadaan saya, masih kecil sudah mengalami kebutaan dan hanya bisa melihat dengan satu kata saya saja. Saya dari kecil sangat tidak suka dikasihani apalagi ketika bagaimana orang tua saya merawat saya dan berusaha untuk menghibur saya, saya tidak menyukainya. Setiap saya ingin disuapi makan saya menepis tangan mama dengan kasar. "Sayang kamu makan dulu, ya, kalau kamu nggak makan, bagaimana kamu bisa minum obat?" Mama masih terus membujuk saya namun saya menghiraukannya. Saya mendengar suara papa, dia ada di sini, Dmdi kamar saya. "Tolong ambilkan sendok yang baru," perintah papa pada mama. Mama menyerah untuk membujuk saya supaya saya mau makan dan akhirnya peran diganti oleh papa yang kini berada dekat dengan saya. Saya mau, kontras dengan keinginan saya. Yang saya lakukan adalah mengontrol diri saya sekuat mungkin agar tidak menangis. Saya mencoba untuk menekan perasaan sedih saya agar bisa merasa biasa-biasa saja Saya tidak mau menangis di depan orang tua saya. Saya tahu, masa-masa saat itu adalah masa yang terberat untuk keluarga kami. Bukannya saya mau sok kuat saat itu. Tetapi hati saya tidak tega bila menunjukkan kelemahan saya kepada orang tua saya dan saudara-saudara saya. Terlebih lagi orang tua saya sedang kebingungan mencari uang harus seperti apalagi. Warteg sebagai mata pencaharian kami sudah dihancurkan saat kerusuhan terjadi dan oma merasa trauma melihat keributan besar terjadi di hadapannya. Dia juga merasa sedih sekali. Warteg yang dirusak oleh massa adalah warteg di mana Oma dan dan suaminya yaitu kakek saya harus berjuang mati-matian untuk membangun warteg itu. dan dalam waktu sekejap saja apa yang sudah dibangun bertahun-tahun harus hancur dikarenakan sebuah permasalahan yang tidak ada kaitannya dengan para korbannya, namun harus memakan banyak kerugian yang tidak terlibat pada permasalahan tersebut. Yang ada di pikiran saya, mengapa orang-orang itu begitu egois? Memperdebatkan sebuah masalah dan membesarkannya hingga merugikan banyak orang. Oma bukan hanya shock tapi dia juga sangat sedih harus menerima kenyataan bahwa usahanya sudah hancur. Padahal, warteg itu bukan hanya semata-mata sebagai mata pencaharian saja, melainkan juga warteg itu dijadikan sebagai kenang-kenangan dari almarhum kakek. Saya sangat tahu sejarah warteg itu akhirnya bisa berdiri. Oma yang sering menceritakannya kepada saya. Saya juga ikut sedih dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk Oma. Kehilangan warteg itu sama saja kehilangan kenang-kenangan antara dirinya dengan suaminya yang sudah meninggal. Oma dan opa dulunya suka sekali memasak. Banting tulang mereka untuk mengumpulkan uang sampai akhirnya bisa mewujudkan usaha mereka sendiri. Saya Lebih sedih lagi karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk Oma. Dan masalah bertubi-tubi dalam satu waktu. Bukan hanya satu, tapi lebih dari itu. Belum lagi saudara-saudara saya tentunya harus terpaksa berhenti sekolah. Mereka juga sama capeknya, kan, harus berpindah pindah sekolah untuk kedua kalinya. Dan dengan keadaan saya yang benar-benar menyusahkan mereka, membuat saya merasa menjadi beban sekali di keluarga ini. Uang tabungan mama dan papa habis untuk membiayai perawatan saya saja di rumah sakit. Bukankah saya sudah membebani mereka semua yang seharusnya uang tabungan itu bisa saja dipakai untuk hal yang lebih penting daripada saya? Tapi justru uang itu harus keluar untuk biaya rumah sakit saya.  "Nayla makan dulu, ya. Makanannya jangan dibuang, nanti mubazir," kata papah pelan. Saya tahu, dia hati-hati sekali dalam berbicara kepada saya, mungkin dia takutnya nantinya saya akan merasa marah dan tersinggung bila salah-salah bicara. Saya tidak akan menyusahkan papa. Karena itu, saya mengambil alih sendok yang dipegang oleh papa kemudian saya makan seorang diri. Makan dengan tangan saya sendiri tanpa disuapi oleh papa saya. Saya menunjukkan ke mereka kalau saya bisa melakukan apapun dengan sendiri, mandiri, dengan tindakan yang saya lakukan ini. Padahal saya masih kecil saat itu. Cuma memang, pemikiran saya itu sudah aneh, berbeda dari saudara-saudara saya. Entah bagaimana pandangan papa ke saya saat lebih memilih makan sendiri. Yang jelas, saya tidak mengatakan apa-apa kepada orang tua saya, saya lebih memilih untuk memendamnya seorang diri. Cukup membingungkan untuk berada di keadaan sekarang ini di usia saya yang masih kanak-kanak dan masih belum tahu banyak hal. Papa dengan penuh kasih sayangnya mengelus puncak kepala rambutku. "Maafin Papa yang nggak bisa datang tepat waktu saat kejadian hari itu," lirihnya sedih dan terlihat dari wajah papa, beliau merasa sangat bersalah. Saya tidak menanggapi apa yang barusan papa katakan kepada saya, menurut saya papa tidak perlu meminta maaf untuk masalah yang kemarin. Saya rasa, papa tidak bersalah sama sekali. Semua itu hanyalah kecelakaan. Saya juga tidak menyalahkan orang tua saya atau saudara-saudara saya yang tidak bisa menyelamatkan saya, ini murni karena keinginan saya untuk menghampiri mereka sangking khawatir dengan keadaan mereka. Nyatanya saya yang harus terkena musibah. Dan kejadian sudah terjadi, tak perlu ada yang harus meminta maaf untuk keadaan yang sedang saya alami. Itu yang saya pikirkan saat itu dan dan perasaan itulah yang saya rasakan. Pada suatu malam. Tidur saya harus terganggu.  "Jadi kita pindah sekolah?" Saya membuka mata saya ketika sepasang telinga saya menangkap suara dengan nada di-gas.  "Kalau kita pergi dari sini, kita mau ke mana Pah?" Saya mulai mendengar suara Mas Joe yang kebingungan dengan sesuatu yang belum saya tahu, mereka sedang bahas apa. Tapi, hati kecil saya berkata, mengenai hal yang memang sedang dihawatirkan oleh orang tua saya kemarin malam. "Papa kenapa nggak bilang, sih, nggak cerita ke kita kalau Papa udah dipecat!?" Di awal ada suara kak Shena yang bicaranya dengan nada keras dan tinggi pada orang tua. Lalu sekarang ada suara dari Mbak Nana. Pada malam hari itu, saya diminta untuk tidur lebih dulu, saya diminta untuk beristirahat lebih dulu supaya keadaan saya bisa lebih baik. Saya menuruti apa yang diperintahkan oleh mama. Dia meminta saya untuk tidur, lalu bagaimana caranya saya bisa tidur kalau telinga saya mendengar perbincangan mereka semua di depan kamar. Saya tanpa pikir panjang lagi, memutuskan untuk keluar dari kamar. Mereka seketika itu pada berhenti berbicara, saudara-saudara saya yang tadinya kelihatan marah jadi bingung saat melihat saya keluar kamar. Mama sendiri lagi sedang duduk sambil memegang kepalanya dengan sikutnya bertumpu pada pahanya. Dia hanya melihat saya saja sekilas tanpa menghampiri saya, justru papa yang mendekati saya. "Sayang, Nayla kenapa tidak tidur?" tanya papa, penuh perhatian.  "Nayla nggak bisa tidur. Nayla mau ikut diskusi sama kalian," kata saya untuk seumuran saya yang masih 6 tahun, public speaking saya sudah bagus. Soalnya papa sering mengajak saya untuk berbicara. Papa melatih komunikasi saya sehingga saya memiliki keterampilan pada public speaking saya di umur saya masih 6 tahun. Mbak Nana ketika itu, dia sudah masuk sekolah SMP, mungkin umur dia sudah 14 tahun atau 15 tahun kala itu, saya lupa. Sedangkan untuk saudara kembar saya, mereka masih duduk di bangku SD. Sekiranya mungkin umur 11 tahun atau 12 tahun. "Kamu itu masih kecil. Kamu ngapain mau ikut diskusi bareng kita. Mending kamu balik tidur aja deh," seru Mbak Nana sinis. Saya tidak tahu, dia ini kesal sama saya atau memang bawaannya saja dia lagi sedang bad mood. Soalnya yang saya tahu, mbak Nana ini orangnya kalau lagi kesal selalu melampiaskannya kepada orang lain. "Iyaaaa nih!!!" sahut kak Shena. "Kamu tidur aja, deh. Bisa apa, sih, anak kecil kayak kamu itu." Kak Shena tambah mengompori saja. Saya malah diusir oleh kedua kakak saya yang buat saya malah merasa sakit hati sekali karena saya dianggap seperti anak yang tidak tahu apa-apa, padahal dibanding mereka, saya yang lebih tahu duluan kalau papa sudah dipecat. Tanpa menunggu bujukan dari papa, saya lebih duluan masuk ke dalam kamar dengan perasaan marah. Memangnya yang anak kecil itu siapa? Apa hanya diri saya saja? Padahal, kan, kak Shena juga termasuk masih anak kecil. Apakah mereka sudah termasuk orang dewasa yang bisa menyelesaikan masalah dan menemukan solusi dari permasalahan? Kan, tidak. Mereka sama seperti saya. Justru saya rasa, merekalah yang membebani pikiran orang tua karena mereka hanya bisa menuntut saja tanpa memberikan jalan keluar dari yang saya dengar tadi.  Cuman perkataan dari kedua kakak saya, sungguh sangat menyakiti hati saya. Hal yang wajar dirasakan oleh seorang anak bila merasa diasingkan sebagaimana mereka meminta saya untuk lebih baik tidak ikut bergabung dengan mereka. Saya paling bungsu di sini dan saya merasa mereka merasa iri dan marah karena papa lebih memperhatikan saya. Hubungan saya memang lebih dekat sama papa dibanding dengan mamah, apakah hal itu yang membuat mereka jadi merasa cemburu sehingga begini cara mereka memperlakukan saya sebagai adik mereka dan sebagai anak terakhir dari keluarga ini? Saya bisa berpikir kalau saya tidak dianggap penting juga karena saya anak bungsu, anak terakhir yang dianggap sepele oleh mereka semua. Rasanya tidak adil jika anak-anak yang lainnya di ikut libatkan pada permasalahan yang seharusnya dihadapi bersama-sama sedangkan saya sendiri tidak mendapatkan kesempatan itu. Rasa bagaimana saya tidak mendapatkan ketidakadilan dan merasa diasingkan adalah saat di mana, pada keesokan harinya, orang tua saya dan saudara-saudara saya sudah bersiap mau pergi. Papa jadi orang pertama yang menjelaskan maksud dari apa yang mereka ingin lakukan. "Papa, mama, dan saudara-saudara Nayla harus pergi ke kota. Kita harus pulang ke Jawa tapi Nayla tinggal di sini saja sama Oma ya. Nayla harus lebih memulihkan keadaan Nayla dulu." Penjelasan Papa tidak dapat saya terima dengan akal pikiran saya, saya tidak mau ditinggalkan oleh keluarga saya dan di satu sisi pun juga saya tidak mau meninggalkan oma saya sendirian di sini. "Apa kalian tidak mau membawa Nayla dan Oma untuk pergi bersama dengan kalian?" tanya saya dengan besar harapan, mereka bakalan memboyong saya dengan Oma juga pergi ke Jawa. Apakah mereka tega meninggalkan kami berdua di sini? Betapa sepinya rumah ini tanpa keberadaan mereka semua. Itulah yang saya pikirkan dan yang membuat saya merasa sangat sedih. Saya tidak mau berjauhan dengan keluarga saya. "Oma nggak mau pergi dari rumahnya dan kita juga nggak mau bawa beban untuk memulai usaha di sana," kata kak Shena tiba-tiba. Omongan kak Shena itu selalu bikin hati aku sakit, dia kalau bicara tidak suka memikirkan perasaan orang lain, asal blak-blakan saja. Apalagi pandangan sinisnya pada saya. Kelihatan sekali dia memang sangat tidak menyukai saya. "Shena!" Papa membentaknya. "Jaga bicara kamu," tukas papa, tegas. Saya perhatikan rahang tegas wajah dari papa. Papa benar-benar kelihatan sedang marah sama kak Shena bukan kepura-puraan. "Kenyataannya, kan, Lah, kalau dia kita bawa, yang ada malah cuma nyusahin doang. Nambahin biaya aja kalau dia kenapa-napa sedangkan aja, kita lagi kesusahan," ucap kak Shena, memperjelas alasannya yang sekiranya memang yang dia katakan masih masuk akal. "Mama juga nggak bisa, kan, ngurusin Nayla dan juga mengurus usaha kita nanti di sana dalam waktu yang bersamaan," tambah kak Shena, dia bicara kepada mama yang baru muncul dari kamar oma, bersama dengan mbak Nana dan Mas Joe juga dengan omah. "Bukannya Mama dan Papa yang bilang begitu semalem? Lebih baik Nayla tinggal di sini, kan, sama Oma, biar ada yang rawat dia."  "Shena! Mulut kamu itu nggak bisa dijaga banget!" omel mbak Nana, memarahinya. Dari bagaimana sikap mbak Nana kepada kak Shena dengan memarahi kak Shena setelah mengatakan hal tersebut, itu sudah menandakan bahwa yang dikatakan sama kak Shena itu benar. Cukup jelas dari apa yang dibilang sama kak Shena. Jujur saja, yang saya dengar itu sangat membuat saya merasa kecewa dengan keadaan dan dengan keputusan dari keluarga saya tanpa meminta persetujuan juga dari saya. Saya tahu, saya ini anak kecil saat itu dan keadaan saya juga memang sangat membebani mereka, namun saya merasa tidak adil. Saya juga sudah berusaha membuktikan kalau saya bisa melakukan apapun dengan tangan saya sendiri, meskipun mata saya buta sebelah, tetapi mata saya yang satunya masih bisa melihat. Saya tidak ingin menyusahkan kedua orang tua saya atau pun dengan saudara-saudara saya. Hanya saja, mengapa keputusan mereka sangat tidak adil untuk saya. Saya memutuskan untuk pergi dari rumah. Saya pergi keluar, berlari menyusuri danau. Jujur, rasa sakit hatinya tidak bisa hilang dalam sekejap waktu, saya juga tidak bisa mengerti, mengapa mereka bisa mengambil keputusan seperti itu?  Saya tidak dibiarkan pergi sama papa dan juga dengan mas Joe. Mereka berdua mengejar saya sampai akhirnya mereka mendapatkan saya dan menahan saya untuk tidak lagi pergi berlari. "Yang katanya, membiarkan Nayla di sini supaya kondisi Nayla bisa lebih pulih lagi, itu bohong, kan? Nayla cuman beban untuk kalian. Makanya kalian semua nggak ada yang mau bawa Nayla ke kota. Kenapa nggak jujur aja dari awal Pah? Kenapa harus pakai bohong segala? Apa kalian melakukannya untuk menjaga perasaan Nayla? Tapi sama saja Nayla merasa sedih karna kalian pergi tanpa membawa Nayla," ungkap saya tak lagi bisa saya gambarkan kesedihan yang luar biasa saya rasakan saat itu. Perasaan saya kala itu benar-benar campur aduk. Saya marah karena saya tidak dibawa pergi ke kota bersama dengan keluarga saya, juga saya marah dengan keadaan fisik saya yang membebani keluarga saya. Di lain sisi pun juga, saya merasa tidak bisa untuk bersikap egois di saat seperti ini. Saya berusaha untuk mengerti keputusan dari mereka meskipun melakukannya itu tidak mudah dan terasa sangat sakit. Sakitnya adalah tidak bohong kalau saya merasa memang saya disingkirkan untuk sementara waktu. Karena keadaan saya yang tidak bisa diterima. Karena kekurangan saya yang menjadi beban untuk keluarga saya sendiri. "Maafin Papa Nayla, bukan maksudnya apa yang dibilang sama Shena itu bisa dianggap benar seratus persen. Tidak. Di sini oma mau merawat kamu, Nak. Oma lagi sedang berusaha untuk mencari ramuan supaya bisa mengobati mata Nayla. Bukan cuma itu saja, Papa juga sudah berjanji sama diri Papa sendiri untuk mencari uang sebanyak-banyaknya, supaya bisa membawa Nayla operasi mata. Papa butuh waktu untuk mewujudkan semua itu Nay. Papa mau memberikan yang terbaik untuk anak-anak Papa. Jadi, Papa minta tolong sama Nayla, Jangan salah paham sama keputusan Papa. Papa tidak membenci Nayla. Papa tidak menganggap Nayla sebagai beban Papa tapi Papa berusaha memberikan yang terbaik untuk sementara waktu ini. Papa memberikan kesempatan kepada Oma untuk mengobati mata kamu, bila memang tidak berhasil di sini, Papa akan berusaha untuk mencari cara lain supaya bisa membuat mata kamu itu bisa melihat lagi. Papa janji, di sana Papa bakalan sukses dan membawa kamu segera ke rumah sakit yang terbaik, kalau bisa di luar negeri sekali pun." Papa benar-benar menjelaskannya dengan bersungguh-sungguh, dari sorot matanya dia tidak mengisyaratkan kebohongan apapun. Dia bicara dengan kesungguhan hatinya. Betapa jahatnya bila saya tidak mempercayai usaha papa saya sendiri untuk memberikan kebahagiaan, dan kehidupan yang layak, yang terbaik untuk anak-anaknya. Untuk saat itu, saya hanya berusaha untuk mempercayai dan mendengarkan saja apa yang papa bilang. Saya lebih memilih untuk mendengarkan omongan dari orang yang tidak ada niatan untuk menyakiti hati saya daripada mendengarkan perkataan kakak saya yang terus-terusan menyakiti hati saya. Saya lebih peduli pada hati saya sendiri untuk bagaimana saya bisa melindunginya.  Dengan perasaan hati saya yang sudah mulai tenang dan tidak ada kemarahan seperti tadi, tidak ada emosi yang memendam dalam hati saya. Semua emosi saya sudah luluh dan hilang karena janji papa kepada saya, yang pasti saya percaya, akan dia tepati suatu hari nanti, dan tidak ada kebohongan sama sekali dari yang dia katakan kepada saya, meskipun memang belum kejadian. Semuanya itu butuh proses dan tidak bisa instan. Papa hanya butuh dukungan dari anak-anaknya dan kepercayaan dari anak-anak dan istrinya, dari keluarga kecilnya. Saya mengangguk paham dengan yang diinginkan papa kepada saya. Tapi tak bisa dipungkiri juga, pikiran jelek masih suka menghantui saya.  "Kamu tenang aja, Nay. Kita gak bakal lupain kamu. Sampe nanti Papa sama mama sukses dengan usahanya, kita bakal jemput kamu di sini," ujar mas Joe, seketika dapat menenangkan pikiran dan hati saya. Pikiran jelek saya tentang nantinya mereka bakalan mengabaikan, menyingkirkan saya dan lain sebagainya itu hilang, sirna saat di mana mas Joe mengatakan akan ke sini lagi nantinya untuk menjemput saya.  Saya dan oma hanya berdua saja, berdiri di depan pintu rumah, menyaksikan kepergian keluarga saya yang sudah masuk ke dalam mobil. Mereka melambaikan tangannya kepada saya dan saya melambaikan tangan saya, rendah, ke arah mereka. Rasanya sedih sekali harus ditinggalkan oleh keluarga saya sendiri. Mereka pergi tanpa saya. dan saya ketika itu harus mengerti keadaan dari keluarga saya sendiri. Saya setiap harinya tidak boleh overthinking. Saya setiap harinya selalu berusaha untuk tetap memiliki pikiran yang positif. Dan saya selalu berdoa kepada Tuhan, supaya keadaan keluarga kami jadi lebih baik dari sebelumnya. Yang sangat saya harapkan adalah saya ingin bisa berkumpul lagi bersama dengan keluarga saya. Saya tidak bisa berjauhan dengan keluarga saya. Dan ketika saya berusia masih kecil, di mana saya masih membutuhkan kedua orang tua saya, saya harus ditinggalkan. Mereka melakukan itu demi untuk anak-anaknya. Orang tua saya mau bekerja keras demi bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk anak-anaknya. Dan untuk bisa mendapatkan itu semua, ada sesuatu yang harus dikorbankan, yaitu waktu. Waktu antara saya dengan keluarga saya, terutama pada orang tua saya yang harus dikorbankan. Saya harus bisa menerima konsekuensi dan risikonya. Saya hanya percaya, akan ada masanya waktu yang indah untuk saya bersama dengan keluarga saya bisa berkumpul kembali. Demi mengobati rasa kerinduan yang mendalam untuk keluarga saya, saya hanya bisa meminta tolong kepada tetangga untuk mengirimkan surat saya kepada mereka melalui kantor pos. Zaman saat itu, teknologi belum secanggih sekarang. Saya juga tidak punya alat elektronik untuk menghubungi mereka. Sulit untuk bertukar kabar kecuali melalui surat. Dan di setiap malam, saya selalu membaca surat-surat yang dikirimkan oleh keluarga saya. Hanya itu selalu yang saya lakukan setiap malamnya. Kadang menangis dan tersenyum haru bila tahu keadaan mereka baik-baik saja. menangisnya adalah karena sedih saya tidak bisa melihat wajah mereka satu persatu. Tetapi, kembali lagi pada risiko yang harus diterima dan pada waktu yang harus dikorbankan. Saya hanya cukup percaya saja kepada Tuhan kalau Tuhan pastinya akan memberikan yang terbaik untuk keluarga saya dan untuk diri saya sendiri. Itu pasti dan Tuhan tidak akan pernah ingkar dengan janji kepada umat yang berharap kepada-Nya. Saya percaya untuk itu semua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN