Singkat waktunya, tak terasa umur saya kala itu sudah udah 14 tahun. Selama itu saya tidak sekolah. Saya tidak bisa mengikuti kegiatan sekolah seperti anak-anak yang lainnya. Tetapi saya tidak mau putus asa pada nasib saya ini yang tidak bisa sama seperti anak-anak yang seumuran dengan saya. Selama saya bertahun-tahun itu tinggal di Manado bersama dengan oma saya, keluarga saya masih berjuang di pulau Jawa. Saya sendiri juga berjuang di sini untuk tetap bisa belajar seperti teman-teman saya. Ketika mereka bersekolah, ketika mereka belajar di dalam kelas, saya juga ikut belajar di luar kelas mereka, sesekali saya mengintip dari jendela dan mendengarkan penjelasan dari guru yang sedang memberi materi. Saya belajar hanya bermodalkan dengan satu buku saja dan pensil. Saya sangat bersyukur pada Tuhan karena telah dianugerahi otak yang bisa mencerna mata pelajaran yang dianggap sulit untuk anak-anak seusia saya, namun saya bisa menjalaninya, saya bisa melakukan apa yang terbaik untuk diri saya sendiri. Saya tidak mendapatkan kesulitan apa-apa terkecuali hanya saya tidak bisa menikmati sarana fasilitas pendidikan yang dirasakan oleh teman-teman saya. Tidak ada kata alasan untuk saya tidak bisa menunjang pendidikan untuk kehidupan saya sendiri. Saya orangnya tidak mau berpasrah diri pada nasib saya. Saya mau mengubah nasib saya, intinya itu. Dimulai dari saya harus bisa menimba ilmu dalam keadaan apapun, bukan harus menyerah pada keadaan. Tidak, itu bukan watak saya. Dari kecil, saya bakalan terus berusaha apa yang bisa saya lakukan, akan saya lakukan, jikalau pun saya harus menghadapi kegagalan seperti halnya saya tidak bisa bersekolah. Lalu, apakah saya harus menggantikan hak saya dengan yang lain? Tidak mungkin dan tidak bisa.
Pendidikan tidak bisa digantikan dengan apapun dan pendidikan tidak bisa dihentikan dengan alasan apapun juga. Saya mencari cara, bagaimana caranya saya bisa mendapatkan apa yang saya mau. Tak peduli dengan keadaan yang tidak mendukung keinginan saya.
"Mengerti semuanya?" tanya sang guru tersebut.
"Mengerti buuuu!!!!" jawab mereka semua dengan serempak.
Saya tersenyum dan mulut saya pun bergerak menjawab pertanyaan guru tersebut hanya saja tanpa suara sebab karena saya sudah selesai mencatat materi yang diberikan oleh ibu guru yang ada di dalam kelas. Mendengar seruan dari anak-anak di dalam kelas tersebut, membuat saya sebenarnya merasakan keirian yang mendalam, di mana saya pun ingin merasakan bangku sekolah seperti mereka, hanya saja saya tidak bisa mendapatinya.
Mau mengeluh dan terus mempertanyakan nasib saya saat itu pun rasanya, hanya akan berujung sia-sia saja dan membuat saya akan merasa sangat kelelahan. Lelah dalam menerima kehidupan yang sulit saat itu. Yang saya pikirkan adalah hanya ingin menemukan cara, bagaimana saya bisa sama seperti dengan yang lainnya, dengan anak-anak seusia saya. Walaupun caranya berbeda, tetapi setidaknya saya masih bisa mendapatkan hasil yang sama dengan teman-teman saya yang lainnya. Dan kalau bisa, saya lebih unggul dari pada mereka.
"Nayla," panggil seseorang yang tak lain dan tak bukan adalah seorang guru yang mengajar di kelas, di mana saya berada di depan kelasnya sambil sesekali mengintip lewat dari jendela untuk melihat apa yang dituliskan olehnya di papan tulis dan kemudian saya tuliskan kembali di buku saya sendiri. Pasti dia tidak sekali, dua kali melihat aktivitas yang saya lakukan saat itu.
Saya sempat terkejut ketika dia menghampiri saya. "Ngapain belajar di sini? Ayo, ikut belajar bersama di dalam kelas," ajak beliau. Wajahnya ayu sekali, tutur katanya pun lembut dan pelan. Dia bersikap baik kepada saya, mungkin supaya saya tidak merasa takut. Beliau merupakan guru dari pulau Sumatera yang dipindah tugaskan ke daerah Manado. Itu yang saya dengar ketika pertama kali ia mengajar dan memperkenalkan diri dan biografinya sedikit.
Ajakan dia ini adalah kali pertamanya buat saya sendiri. Saya sendiri tidak menyangka kalau saya bisa diajak untuk belajar bersama ke dalam kelas, sedangkan saya bukan murid dari sekolahan ini. Tentu saja saya tidak langsung menerima ajakan dari beliau. Meskipun saya tidak bisa memungkiri perasaan senang saya sendiri untuk mau menerima ajakan beliau, namun saya menyadari diri saya sendiri, saya merasa tidak pantas, terlebih saya tidak memakai seragam sekolah yang sama dengan teman-teman saya yang lainnya. Saya merasa malu, teramat malu tentunya. Saya bakalan merasa aneh karena saya berbeda sendiri dengan yang lainnya. Sekolahan yang saya datangi memang bukan sekolah yang elit, justru sekolah yang biasa-biasa saja dan tempatnya pun masih terpencil dari daerah-daerah yang lainnya. Tetapi, tetap saja, saya merasa amat malu, minder dengan yang lainnya dan dengan keadaan saya yang seperti ini, saya rasa belajar di luar kelas saja, itu sudah lebih dari cukup untuk saya lakukan.
"Tidak usah Bu, saya udah mau pergi, kok, mau bantu Oma saya dulu, saya pamit dulu, ya, Bu." Buru-buru ketika itu saya melenggang pergi dari hadapan guru tersebut. Saya cukup merasa malu karena harus berhadapan langsung dengan guru tersebut dan kepergok secara terang-terangan saya ikut belajar bersama dengan yang lain, walaupun saya berada di luar kelas. Saya tidak tahu sebelumnya kalau guru tersebut mau keluar dari kelas, biasanya ketika guru tersebut keluar dari kelas, saya sudah langsung buru-buru pergi karena saya tidak mau mengganggu aktivitas sekolah anak-anak yang lain karena kehadiran saya atau saya juga takut sebenarnya, nanti saya bakalan diusir sama guru mana pun yang sedang mengajar.
Selepas saya pergi terburu-buru dari hadapan guru tersebut, saya pulang ke rumah, saya menemui oma saya dan hendak membantu dia berjualan di pasar. Warteg yang menjadi mata pencaharian kami sudah tak lagi bisa kami gunakan, tidak ada biaya untuk memperbaikinya. Oma juga sudah tidak bisa memasak banyak. Tenaga Oma tak sekuat saat ia masih muda. Makanya ia meminta mama untuk yang mengelola warteg itu. Mama juga sangat pintar memasak dan Oma ikut membantunya juga, setidaknya bebannya bisa lumayan berkurang. Akhirnya dengan cara lain supaya kita bisa bertahan hidup adalah berjualan cemilan di pasar dan saya membantu oma yang sudah tua tapi harus bekerja keras untuk menghidupi cucunya ini. Tubuh ringkihnya ini sebenarnya tak bisa bertahan kuat dan mudah kelelahan, namun harus bagaimana lagi? Oma di sini berjuang untuk diri saya sendiri.
Ketika saya melihat Oma saya kelelahan, saya ikut merasa sedih sebab dia sudah menua. Namanya tubuhnya tak lagi kuat seperti dulu tapi pada saat itu harus mati-matian mencari uang supaya bisa makan, supaya kita bisa bertahan hidup di tengah-tengah penderitaan kami, di tengah-tengah perjuangan kami. Hebatnya omah tak sekali pun menunjukkan keluhannya dan tak menunjukkan kelelahannya dia di hadapan saya, meskipun sebenarnya saya tahu oma itu sedang merasa lelah. Yang tidak bisa saya habis pikir adalah omah tetap menunjukkan bahwa itu baik-baik saja, ia masih bisa bercanda gurau bersama dengan pedagang-pedagang lainnya, ia masih bisa ngobrol dengan tanpa beban, tak perlu terlalu memikirkan kesulitan-kesulitan kami. Oma lebih mengalir saja menjalaninya saja. Saya sangat mengagumi sosok Oma di dalam kehidupan saya. Dia wanita hebat yang terhebat, yang pernah saya lihat di usianya yang sudah tak lagi muda. Oma selalu merasa dirinya itu masih muda, tubuhnya memang sudah tua tetapi jiwanya itu adalah jiwa anak muda yang harus tetap bekerja keras, tak pandang dengan umur selagi masih bisa mampu untuk melakukannya ya harus dilakukan. Tak boleh bermalas-malasan. Oma selalu memberikan saya contoh dengan perilaku-perilaku yang positif untuk diri saya sendiri.
Tinggal bersama Oma, saya diajari hidup yang serba sederhana. Tak perlu mencari apa yang tidak ada, kalau yang ada saja sudah bisa untuk mencukupi. Sayangnya hal itu tak lagi bisa saya rasakan. Saya melupakan apa yang diajarkan oleh Oma kepada saya. Kepada ketika keluarga saya kembali ke Manado untuk menjemput saya.
Ada dua kabar sekaligus yang saya dapatkan. Yang pertama, begitu bahagia ketika saya melihat keluarga saya datang ke rumah. Saya langsung berlari memeluk kedua orang tua saya dan pelukan saya dibalas oleh kedua orang tua saya juga. Penampilan mereka begitu jauh daripada saat mereka pergi dari rumah ini. Keadaan mereka jauh lebih baik dari yang saya bayangkan, rupanya mereka sukses di sana, di kota besar dan bisa membawa penghasilan yang sangat banyak, bahkan lebih dari untuk bisa mencukupi kebutuhan hidup.
Saya dan keluarga saya, juga dengan saudara-saudara saya, berbincang-bincang di ruang tamu di rumahnya Oma.
"Nayla senang akhirnya kita bisa berkumpul lagi," ungkap saya dengan mata yang berbinar-binar mereka semua satu persatu dengan alangkah rasa bahagia yang luar biasa. Terlebih melihat saudara-saudara saya dengan penampilan mereka yang begitu modis. Benar-benar memperlihatkan perbedaan yang kontras antara saya dengan mereka semua. Sudah jauh lebih baik keadaannya dan tentu saja mereka pastinya sudah tak lagi merasa kesusahan dan kesulitan dalam hidup. Kebutuhan segalanya sudah terpenuhi dan setelah keberhasilan diperoleh, maka kewajiban harus dilakukan untuk diri saya. Mereka pulang ke sini bertujuan untuk menjemput saya. Saya senang saat mendengar kabar saat saya bakal diboyong ikut pergi bersama dengan mereka dan tidak lagi ditinggalkan seperti dulu.
"Papa bawain kamu mainan boneka kesukaan kamu Nay," ucap Papa lalu boneka-boneka tersebut diberikan oleh Mas Joe kepada saya. Saya sangat bahagia menerima pemberian boneka ini dari orang tua saya dan saya langsung duduk di pangkuan Mas Joe sambil bermain boneka tersebut. Saya saat itu masih polos-polosnya, masih kecil, sudah bahagia banget bisa mendapatkan mainan baru untuk menemani saya. Selagi saya lagi bermain bersama dengan mas joe dan kedua saudara saya yang lain lagi sedang membantu Mama di dapur. Papa bicara bersama Oma di dekat saya dan juga dengan Mas Jo.
"Mama saya kasih uang ini untuk kebutuhan Mama sehari-hari, ya. Mohon diterima." Saya mengalihkan perhatian saya pada Papa. Saya lihat papa memberikan uang dalam amplop kepada Oma. Tidak lama setelah itu, muncullah Mamah dengan dua anak perempuannya, membawa cemilan untuk kami semua. "Dan satu lagi Mah, mulai hari ini Nayla kita bawa ya ke Jakarta. Nayla bakal mulai sekolah di sana ambil paketan karena dia sudah terlambat masuk sekolah SD," jelas papa. Saya sudah berhenti bermain karena fokus saya adalah mendengarkan penjelasan dari Papa kepada Oma bukan hanya kepada oma saja melainkan ke saya juga sebenarnya.
Mendengar saya bakalan disekolahin sama papa, saya bersorak gembira lagi, bersorak riang sampai melompat-lompat di hadapan mereka semua. Saya jadi sangat bahagia sekali akan disekolahkan oleh kedua orang tua saya di tempat yang sekiranya memang benar-benar sekolahan yang terbaik untuk saya. "Yeay! Oma juga bakalan pergi ke Jakarta, kan, Pa sama kita?" tanya saya penuh dengan rasa antusias. Saya sangat berharap, kita semua bakalan pergi ke Jakarta dan kita bakalan hidup lebih bahagia lagi di sana setelah sebelumnya kita mengalami kesulitan yang benar-benar sulit untuk diatasi.
"Tapi sebelum itu sendiri, sebelum kamu sekolah, kita bakal menjalani operasi dulu, ya, untuk mata kamu," ucap Mama memberitahu saya untuk satu hal yang lebih penting dari kesehatan saya sendiri. Mata saya bakalan dioperasi. Wah! Sungguh tak disangka-sangka saat itu saya mendapatkan kabar gembira berkali-kali lipat. Bisa sekolah dan mata saya bakalan dioperasi juga. Mengingat kembali, dulunya saya sempat terpukul karena keadaan saya yang membuat keluarga saya jadi terbebani dan saya sempat merasa diasingkan karena keadaan saya yang seperti ini. Karena mata saya buta, tentu saja apa yang pernah dikatakan kak Shena itu ada yang masuk akal, saya bisa saja merepotkan mereka semua karena keadaan mata saya yang buta sebelah.
Saya kembali lagi bersorak gembira karena dapat membayangkan, akhirnya saya bakalan bisa melihat dengan normal, mata kiri saya nanti bakalan bisa melihat lagi. Tidak lagi buta, ini adalah kabar yang sangat membahagiakan buat saya. Tentu saja setelah bertahun-tahun saya menunggu, menanti-nanti waktu di mana saya akan merasakan kebahagiaan dengan keadaan saya yang berubah dan fisik saya yang nantinya jauh lebih baik lagi dari yang sekarang, itu jelas saja membuat saya sangat bersyukur pada tuhan, akhirnya saya nanti bisa melihat lagi dan orang tua saya benar-benar membuktikan janji mereka kepada saya.
Saya berlari kecil kemudian saya duduk di pangkuan oma. "Oma, nanti pas Nayla operasi, Oma temenin Nayla, ya. Nayla nggak mau sendirian," pintaku kepada Oma, beliau mengelus-ngelus kepala saya dengan penuh kasih sayang. Apa yang saya katakan adalah permintaan saya yang harus Oma kabulkan, saya tidak mau saat operasi mata berlangsung tidak ditemani oleh Oma. Intinya apapun itu Oma harus ada untuk saya, saya hanya mau dekat dengan oma saja. Sebab selama ini, Oma lah yang selalu menemani saya dan rasanya akan sangat berbeda jika Oma tidak menemani saya.
"Tapi Nak, oma tidak ikut sama kita," ucap Mama tiba-tiba, mengejutkan saya dengan kata-katanya yang jelas membuat saya juga langsung bingung secara bersamaan.
"Oma nggak ikut sama kita?" tanya saya, bingung. "Kenapa Mah?" tanya saya lagi.
"Karena Oma itu sudah tua, lebih baik home tinggal di sini aja nggak perlu ikut sama kita ke Jakarta," sahut kak Shena tiba-tiba, seperti biasanya. Mas Joe dan mbak Nana, memberikan isyarat delikan mata yang tajam pada kak Shena atas ucapan dia yang menurut saya, dia itu tidak berbohong. Kak Shena memang orangnya suka ceplas-ceplos dan mulutnya suka sekali tidak bisa direm kalau berbicara. Suka nyakitin dari ucapannya tapi apa yang dia bilang tidak pernah ada kata-kata bohong. Dia itu orang yang termasuk jujur karena suka blak-blakan dan tidak suka ngomong di belakang. Justru saya meragukan orang tua saya sendiri. Mereka bisa saja berkata manis tapi saya rasa semua Itu bohong.
"Apa benar yang dikatakan sama kak Shena?" tanya saya, meminta jawaban yang jelas dari kedua orang tua saya. Kini, saya benar-benar mengintimidasi kedua orang tua saya sendiri dengan cara saya melihat mereka yang tidak biasa.
"Nak, Oma memang sudah tua, dan lebih baik Oma tinggal di sini aja. Kalau tinggal di sana, kan, Oma nggak terbiasa. Udara di sana juga nggak baik untuk orang yang sudah lansia. Tapi, beda, kan, kalau di sini Oma sudah terbiasa. Dan Oma kamu juga jadinya masih bisa buat melakukan aktivitas yang dia suka selama tinggal di sini seperti biasa," jelas mama. Apakah bisa saya katakan, penjelasan mama itu masuk akal? Tentu saja, tidak sama sekali. Masa tega kedua orang tua saya menelantarkan Oma, hanya tinggal seorang diri di sini dalam kesederhanaan hidupnya dengan segala apa yang tersedia di sini tetapi saya dan keluarga saya sendiri, bisa hidup nikmat, enak dengan segala kemewahan yang didapatkan. Apakah itu adil untuk Oma sendiri? Nggak sama sekali!
"Apa itu saja cukup buat Nayla untuk mengerti jalan pemikiran kalian?" tanya Nayla balik. Kedua orang tua saya keheranan melihat saya yang berani bicara seperti itu dan dengan bahasa yang tidak sesuai dengan anak seusia saya. Maksudnya, kata-kata saya itu lebih pantas diucapkan oleh orang dewasa dari pada sama anak kecil, namun saat itu saya memang sudah memiliki cara pandang saya sendiri. Saya sendiri merasa aneh dengan diri saya ini, tapi saya tidak mau menekan diri saya untuk menahan apa yang seharusnya saya sampaikan kepada kedua orang tua saya sendiri.
"Nayla nggak terima dengan alasan itu. Oma harus ikut sama kita, Mah, pah. Nayla dari kecil sama oma, lalu kenapa ketika kita sudah sukses, kita meninggalkan oma. Pada saat kita susah, kita numpang tinggal di rumah oma, kita numpang hidup di sini. harusnya kalian bisa ingat pada masa-masa kesulitan kita. Oma yang membantu kita, Mah, pah. Harusnya kalian bisa lebih mengerti dari pada Nayla sendiri," pungkas saya. Saya melihat mereka semua pada terdiam ketika saya berbicara. Tidak ada yang salah dari perkataan saya. Saya hanya mengatakan sesuai dengan faktanya. Mengapa oma harus di tinggalkan seorang diri di rumah ini? Jikalau kehidupan oma di sini jauh berbanding terbalik dengan kehidupan keluarga saya yang lebih dari segala-galanya.
"Nayla, ini keinginan oma kamu sendiri. Jangan bicara yang seolah-olah kita di sini jahat meninggalkan oma di saat keadaannya seperti ini. Kalau kamu tidak percaya, kamu tanya saja pada Oma kamu langsung," marah mama kepada saya. Beliau tidak suka dengan kata-kata saya. Padahal yang saya lihat itu seperti itulah kenyataannya. Dari pada bicara panjang lebar dan berdebat tanpa menemukan ujungnya dan juga jawaban yang sangat saya harapkan. Saya duduk mendekat pada oma yang sedari tadi hanya diam dan menyaksikan saya yang terus berbicara, memperjuangkan Oma supaya bisa ikut pergi ke Jakarta juga. Senyuman yang ada, tak pernah hilang dari wajahnya oma. "Oma mau ikut kan sama Nayla ke Jakarta? Kita bakal hidup bareng-bareng di sana. Oma mau, ya, nemenin Nayla juga operasi mata." Saya mohon-mohon sekali pada Oma, berharap Oma memiliki keinginan untuk mau pindah ke Jakarta dan oma saya rasa dipaksa untuk tetap tinggal di sini. Saya harap pikiran saya itu benar. Dan pada saat itu, sebenarnya oma juga ingin pergi ke Jakarta, namun ada yang menghalanginya dan dari keluarga saya sendiri. Saya bisa sangat yakin, karena setiap malam saya tidur bersama dengan oma, kita pasti suka berbicara banyak hal dan menghayalkan sesuatu berharap bisa terjadi. Salah satunya di mana ketika saya berbicara tentang keluarga saya yang nantinya akan menjemput saya, omah bakalan ikut dengan saya dan mau menerima ajakan dari saya. Oma juga memiliki keinginan yang sama untuk pergi ke Jakarta dan hidup bersama dengan cucu dan anak-anaknya, itu saja yang diinginkan.
Tapi sayangnya harapan saya itu gagal. Apa yang saya pikirkan itu tidaklah benar dan segala khayalan yang kita bayangkan itu itu tadi wujudkan sama sekali dengan Oma padahal sudah ada kesempatannya.
"Oma Lebih baik tinggal di sini saja Nayla. Kau pergilah bersama dengan keluarga kau. Oma berat untuk meninggalkan tanah kelahiran oma karena di sini banyak kenang-kenangannya. Apalagi bersama dengan opa kau. Oma tidak bisa meninggalkan rumah peninggalan opa kau," katanya omah dengan mata yang terpejam-pejam. Penglihatan dia sudah berkurang, tenaganya juga sudah tak kuat seperti dulu. Lalu, siapa yang akan mengurus oma di sini kalau oma tinggal sendirian sedangkan saya bersama dengan keluarga saya di sana hidup enak, senang, bahagia, sejahtera, dan oma sendiri? Bagaimana nasibnya? Saya tidak mungkin bisa meninggalkan oma, terlebih dengan perasaan saya yang tidak enak, kalau terjadi sesuatu dengan oma bagaimana?
Seakan tahu batin saya lagi sedang tidak tenang. Oma mengerti raut dari wajah saya ini menyiratkan kekhawatiran yang sungguh luar biasa besarnya terhadap Oma. Oma hendak berbicara, tapi mama sudah lebih dulu yang bicara duluan, sehingga omah menutupinya dengan menundukkan kepalanya. Tapi saya peka dan tahu. Meskipun Oma berusaha untuk menutupiny dari saya.
"Kamu dengar sendiri kan Nayla? Jadi jangan punya pikiran yang buruk sama orang tua kamu sendiri. Bukan berarti kita mau menelantarkan oma, cuman itulah keinginan oma. Dia mau tinggalnya di sini, masa iya mau kita paksa." Mama terus mengomeli saya, memberitahukan kepada saya mengenai soal oma, sampai akhirnya di tengah perjalanan pun, mama masih membahas hal tersebut.
Melihat saya yang bersikap dingin kepada mereka semua, melihat saya yang hanya diam saja dan tidak mau ikut berbicara, tidak mau ikut nimbrung ngobrol apa pun yang lagi sedang mereka bahas, karena saya tidak mengerti apa yang sedang mereka bahas tersebut. Sebelum mama mengomeli saya, mereka tertawa-tertawa dulu. Entah apa yang mereka tertawakan. Saya merasa asing pada keluarga saya sendiri, jujur saja itu yang saya rasakan. Bahkan saya merasa ada sesuatu yang hilang dari dalam hidup saya. Yang hilang itu adalah kebersamaan saya dengan oma. Meninggalkan oma seorang diri di rumah sana, dia itu paling suka jika rumahnya dalam keadaan yang ramai dan banyak orang. Oma sendiri yang sebelumnya pernah mengatakannya kepada saya. Banyak sekali yang Oma ceritakan kepada saya. Dia sangat bahagia bisa membantu anak dan cucunya yang dalam masa kesulitan. Dia bahagia dapat menampung keluarganya untuk berada tinggal di rumahnya karena dia membutuhkan kehangatan dari keluarga. Dia senang sekali bisa makan malam bersama seperti dulu. Dan sekarang, suasana sepi dan hanya dia seorang diri saja tinggal di rumah yang masih berciri khas rumah adat Manado. Mengapa mereka tega bisa meninggalkan oma meskipun dengan alasan oma yang menginginkan untuk tetap tinggal di sana?
Saya tidak habis pikir, seharusnya mereka membujuk oma, untuk ikut pergi ke Jakarta. Saya yakin pasti Oma mau dan tidak mungkin, oma menolak ajakan dari anak dan cucunya.
Saya melirik dua kakak saya yang perempuan ini, lagi tengah membahas, membicarakan tentang idola-idola mereka sembari memegang iPad yang dibelikan oleh kedua orang tua saya pastinya. Saya tidak paham sama sekali dari yang saya dengarkan dan sedangkan Mas Joe sedang tertidur di jok bagian belakang. Serta Mamah yang kembali sibuk dengan hp miliknya yang saya rasa dia sibuk dengan pekerjaannya, sampai ia sambil juga meletakkan iPad di atas kedua pahanya. Sementara papa yang mengendarai mobil tersebut. Semua orang yang ada di dalam mobil ini pada sibuk masing-masing dengan aktivitas mereka sendiri sedangkan saya merasa kesepian sekali. Biasanya di waktu-waktu seperti ini, saya lagi sedang sibuk membuat makanan bersama dengan oma untuk makan malam kami.
Dengan sembunyi-sembunyi, saya menghapus air mata saya lagi ketika mengingat nanti malam, oma harus makan sama siapa. Sepasang mata saya yang berair hanya bisa memandangi pemandangan dari luar jendela yang terus dilewati dengan cepat. Oma pasti makan seorang diri. Nggak ada yang nemenin oma dan tidak ada teman ngobrolnya juga. Oma pasti benar-benar merasa kesepian. Padahal di masa-masa tua seperti ini, moment dan orang-orang yang sangat pantas untuk menemani oma adalah anak dan cucunya. Tetapi semuanya sudah pada pergi, tidak bersama dengan oma lagi.
Sakit sekali hati saya, harus membayangkan bagaimana oma menjalani kehidupannya seorang diri di sana. Sedangkan saya melihat satu-persatu dari keluarga saya, tidak adakah mereka merasakan kehilangan juga? Tidak adakah mereka merasa kasihan kepada oma, padahal tempat di mana ketika mereka merasakan kesulitan dan lari untuk mencari bantuan adalah orang pertama yang di datangi itu oma.
Hanya karena Oma yang umurnya sudah tua, mereka beralasan oma lebih baik tinggal di sana saja dengan alasan-alasan yang tidak masuk akal juga Saya rasa, hanya karena mereka ini tidak mau merawat oma saja sebab mereka merasa sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, sehingga mereka mengabaikan orang yang lebih tua dari mereka, orang yang harus di rawat. Itulah mengapa, saya masih bisa menangkap pemikiran yang lebih jauh bukan karena saya yang berprasangka buruk pada keluarga saya sendiri, tapi saya melihat faktanya dan hati saya kuat dengan pendapat dan pemikiran saya sendiri. Jadi itulah yang saya rasakan.
Mamah menolehkan kepalanya pada saya yang duduk di tempat saya dekat jendela kursi kedua. "Kamu masih mikirin oma kamu?" tanya ia, pertanyaan mama menarik perhatian dari kedua saudara saya seketika, dan juga papa tentunya.
"Oma kamu masih bisa ngurusin diri dia sendiri, kenapa kamu harus khawatir? Jujur saja tidak ada yang bisa merawat oma Nayla, oma kamu tidak bakalan kepegang. Akan sangat merepotkan untuk kita semua Nay. Kamu lihat sendiri kesibukan orang tua kamu itu seperti apa, jadi tolonglah kamu seperti saudara-saudara kamu, nurut saja apa kata orang tua," jelas Mama dengan nada frustasi.
Baru saja saya pikirkan tentang hal tersebut, mama sudah berkata jujur duluan. Kesibukan adalah alasan utama mereka menolak untuk membawa oma, juga merasa akan sangat merepotkan seperti halnya saya dulu dengan mata kiri saya yang buta. Siapa tahu itu juga alasan di mana mereka tidak bisa merawat saya atau tidak mau. Sungguh saya tidak mengerti bagaimana jalan pikiran orang tua saya sendiri bahkan dengan saudara-saudara saya sendiri.