Saya tidak mau membicarakan tentang rumah keluarga saya. Sudah pastinya, jelas rumahnya begitu mewah dan besar. Apalagi berada di perumahan elite. Mobil-mobil mewah pun juga terparkir di bagasi dan lebih dari satu, lebih dari dua juga, dan lebih dari tiga sewaktu saya lihat. Saya diantar ke kamar saya oleh mamah saya. Kamar saya di d******i dengan warna krim pastel, kamar saya dibuat minimalis dan elegan, tertata rapi semua barang-barang yang ada di dalam kamar saya. "Ini kamar kamu Nayla, mulai sekarang kamu bakal tidur di sini. Bagaimana," mama melangkah maju, berdiri di depan saya dengan kedua tangannya bertolak pinggang. Matanya menyisir tiap sudut dari kamar saya. Nampak puas sekali kelihatannya. "Kamu suka kan dengan kamarnya?" Lalu mama berbalik badan. "Nggak seperti kamu tidur di tempat oma, di sini kamu bisa tidur lebih nyaman lagi," sambung Mama, senyum puas dapat saya lihat jelas di wajahnya.
Reaksi saya sewaktu mendengar ucapan mama itu kaget saya di sini itu. Mama membandingkan antara kamar yang ada di rumah ini dengan kamar yang ada di rumah Oma. Apakah hal tersebut pantas untuk di katakan di depan anak remaja seusia saya? Apakah sangat pantas bila rumah Oma dibandingkan dengan rumah sebesar ini yang dimiliki oleh mereka berdua? Menurut saya, tidak pantas sekali dibicarakan, terlebih keluarga saya berhutang budi atas jasa yang telah oma berikan kepada keluarga ini, bahkan jasa Oma tidak bisa dibalas dengan harta atau apapun yang mereka punya, tidak sama sekali.
Jika saja Oma tidak membantu kita saat dulu, mungkin kita bisa bakalan jadi gelandang, kita bakalan jadi gembel yang tidak memiliki tempat tinggal, kita gak bakalan bisa makan dan tidak bisa bakalan bertahan hidup, seandainya oma tidak membantu kita dan mamah seakan lupa diri atas apa yang telah oma lakukan kepada keluarga ini dan atas apa yang mama barusan ucapkan kepada saya. Saya sungguh sangat kecewa dengan sikap arogan dari keluarga saya sendiri seolah kacang lupa kulit pada orang yang sudah membantu mereka.
"Mama seharusnya nggak bilang begitu," balas saya memperingati mama. Saya tidak merasa takut kalau yang saya katakan itu bukanlah sebuah kesalahan, tetapi memang kebenaran karena tidak melulu orang tua saja yang bisa memperingatkan anak-anaknya ketika mereka melakukan sebuah kesalahan, tetapi anak pun memiliki kewajiban jika orang tuanya telah melenceng dari jalan yang benar, maksud saya telah bersikap yang buruk dan anak berkewajiban untuk memperingatkan hal tersebut.
Saya tidak mau mendukung sikap dari kedua orang tua saya sendiri, juga dari saudara-saudara saya sendiri. Saya tidak mau ikut kesalahan dari mereka tetapi apa yang saya lakukan ini tidak diterima oleh mamah. Mamah itu seolah sudah termakan oleh harta yang membuat dia jadi lupa segala-galanya. Mereka yang berada di atas awan, melupakan diri mereka berasal dari mana.
"Nayla, Mama peringatkan sama kamu, ya, kalau kamu tidak suka untuk tinggal bersama kita, kamu silakan tinggal di Manado, tinggal sama oma kamu. Coba kamu pikirkan, siapa yang mati-matian cari uang bertahun-tahun untuk biaya operasi mata kamu dan juga untuk pendidikan kamu juga. Harusnya kamu pikirkan itu, jangan yang ada di pikiran kamu itu, oma, oma, dan orang saja. Oma kamu tidak membantu banyak untuk diri kamu ini. Apa oma kamu bisa mencarikan uang untuk biaya operasi mata kamu? Nggak Nayla, orang tua kamu yang mencari. Harusnya kamu menghargai kami, perjuangan kami, usaha kami. Jangan raga kamu ada di sini tapi pikiran kamu ke mana-mana. Kamu anggap orang tua kamu ini dan saudara-saudara kamu ini apa? Kamu anggap apa keluarga kamu ini?" papar mama di setiap kalimatnya, terdapat tekanan intonasi dari emosi yang beliau tahan-tahan. Saya hanya bisa terdiam saja dan memperhatikan setiap tutur kata yang mama ucapkan kepada saya. Perasaan saya sungguh bercampur aduk saat mendengarkan mama bicara. Rasa takut yang paling lebih mendominasi di dalam diri saya ketika melihat mama yang benar-benar marah kepada saya. Padahal saya tidak tahu letak kesalahan saya itu ada di mana. Apa memangnya yang salah dari kata-kata saya? Saya tetap bertahan pada persepsi dan pendapat saya sendiri, begitu pun juga dengan mama. Lantas, untuk seorang anak remaja yang masih belasan tahun, bisa apa untuk membalas ucapan dari orang tua saya sendiri? Jikalau saya masih dipandang seperti anak kecil, saya yakin sekali tidak akan didengarkan pendapat saya, mau sebesar apapun dan seberarti apapun itu menurut saya. Maka, saya lebih putuskan untuk lebih baik diam saja tanpa bicara apa-apa, tanpa membalas ucapan mama, dan membiarkan mama tetap bertahan dengan pandangan dia seorang diri, tak perlu lagi dibantah.
Sesudah Mama memarahi saya, Mama kemudian tak mengatakan apa-apa lagi setelah bicara panjang lebar. Mama pergi dari hadapan saya dengan kemarahan yang masih melingkupi isi hatinya. Apakah saya telah melakukan sebuah kesalahan sehingga Mama semarah itu kepada saya sampai mama seolah tidak menyukai bagaimana cara saya berpikir? Untuk sekian kalinya saya mulai bertanya pada diri saya seorang diri.
Dari penjelasan mamah kepada saya, kenapa mama harus mengatakan soal materi? Soal uang? Tentu oma tidak mungkin bisa melakukan semua itu, kalau pun oma memiliki banyak uang, saya yakin oma bakal membantu saya. Masalahnya jika mama membandingkan oma dengan mereka, tetap saja tidak akan bisa. Kemampuan omah sampai segini dan kemampuan mereka sampai segitu. tidak bisa dibandingkan dan mengapa saya merasa seolah materi itu menjadi tolak ukur dari semuanya. Saya bukan berarti tidak menghargai perjuangan usaha yang orang tua saya lakukan untuk saya dan anak-anaknya yang lain, tapi lain halnya. Berbeda persepsi yang saya maksudkan, namun dianggap lain oleh mama saya sendiri yang malah justru mama membicarakan ke arah yang berbeda dari yang saya maksudkan, dari tujuan saya mengatakan hal tersebut tadinya. Lama saya bergelut pada pikiran saya sendiri di dalam kamar sendirian. Saya baru menyadari, akhirnya malam hari pun tiba. Hari itu adalah hari untuk pertama kalinya saya akhirnya bisa makan bersama lagi dengan keluarga saya setelah sekian lama kita berpisah. Dulu malam, saya hanya makan bersama dengan oma saya, kini sekarang gantian. Saya makan bersama dengan keluarga saya, tapi sebagai gantinya, saya tidak bisa merasakan lagi makan bersama dengan Oma dan Oma harus makan seorang diri di sana.
Saya tidak ada nafsu untuk makan. Saya tidak berselera untuk menyentuh makan malam hari ini walaupun hidangan yang ada di depan mata saya itu, semuanya enak-enak sampai saudara-saudara saya saja makannya lahap dan penuh nafsu.
"Nay, kamu makannya dikit banget, nambah lagi dong," ujar papa. Respond ku datar dan tak aku gubris sama sekali. "Tuh, kamu lihat, tuh, saudara-saudara kamu. Mereka makannya semangat betul udah kayak lomba 17 agustus-an aja," kelakar papa lagi sambil tertawa. Mbak Nana dan Mas Jo tersipu malu sedangkan kak Shena malah sibuk nambah lagi. Ia sampai merengek-rengek seperti anak manja dan mama yang melayani dia dengan sepenuh hati, memanjakannya dengan sepuas hati.
"Biarin aja Pa, kebahagiaan kita itu kalau melihat anak-anak kita itu bisa tertawa, bisa merasa bahagia, bisa merasa tercukupi, tidak seperti dulu yang mau makan enak aja susah. Sekarang tinggal enak mau makan apa aja selagi ada uangnya, mah, ya kan, Pah?"
"Iya, Mah," balas papa, senyum lebar masih terpatri di wajahnya.
"Ayo, nambah lagi sayang," kata mamah, bikin aku merasa janggal saja dengan kata-kata dia. Mama selalu mengatakan uang, uang, dan uang. Dari pertama kita berdebat pun, mama lebih suka membahas tentang materi, sekarang pun, ketika makan juga membahas soal uang dan mengungkit soal kesulitan yang dulu.
Saya tidak bernafsu makan bukan hanya karena tidak ada oma di sini, bukan hanya karena saya tidak bisa lagi makan bersama dengan oma. Tetapi lebih dari itu, saya memikirkan apa yang oma makan malam ini karena kita terbiasa makan-makanan yang sederhana saja. Memang makan makanan khas buatan tangan orang Manado ya makanan khas Manado juga, tetapi saya itu tidak sampai hati juga, tidak sampai tega membayangkan Oma makan seorang diri dan makanannya itu sederhana saja, tidak semewah dan sebanyak yang ada di hadapan saya. Mengapa mereka bisa hidup bahagia tanpa adanya kehadiran Oma di sini? Saya tidak habis pikir. Itu loh yang saya bingung kan saat masa remaja saya menyaksikan keluarga saya bisa tertawa bahagia tanpa satu anggota keluarga yang dibiarkan hidup seorang diri di tanah kelahirannya, yang padahal orang itu mengharapkan sekali keluarganya ada untuk dia. Tapi tidak ada satu pun orang yang memiliki pemikiran yang sama dengan saya. Apakah hanya saya seorang saja yang memikirkan Oma di tanah Manado?
Ketika mama lagi sedang melayani Kak Shena yang ingin selalu dimanjakan oleh Mama, mama kemudian melirik ke arah saya dari ujung matanya dengan teramat sinis. "Makan kamu Nayla, jangan cari yang nggak ada," tukas mama tegas.
"Pasti dia lagi mikirin oma itu Mah," sahut kak Shena yang ikut campur, padahal tidak ada urusannya sama dia. Apalagi bicaranya sambil makan, tidak ada sopan santunnya. Aku menatapnya dengan perasaan tidak suka, seakan dia memang tidak benar-benar peduli kepada oma.
"Nay, oma kamu itu sudah Papa berikan uang dengan jumlah yang banyak, cukup untuk kebutuhan dia. Jadi kamu jangan menghawatirkan oma kamu. Kamu tenang sajalah, oma kamu itu termasuk orang tua yang mandiri, dia bisa ngurus diri dia sendiri," ujar papa yang tambah buat suasana hati saya ini makin runyam, makin tidak tenang karena kemarahan melanda diri saya sendiri. mereka mengandalkan uang yang sudah mereka berikan kepada oma, sedangkan, apakah itu yang dibutuhkan oma dari mereka?
Oma tidak membutuhkan uang dari anak-anaknya, melainkan oma membutuhkan mereka yang bisa selalu ada untuk dirinya, karena hanya itu saja yang dia butuhkan. Orang tua itu sudah tidak lagi memikirkan uang, itulah yang saya pikirkan saat itu. Mengapa begitu kejamnya ketika seseorang memiliki kekurangan atau seseorang yang di anggap adalah beban, malah di singkirkan dan bukannya di rangkul? Seperti saya yang pernah merasakannya saat dulu. Meskipun mereka berusaha menjelaskannya dengan baik-baik, tetapi saya sudah tak lagi bisa mempercayai sepenuhnya. Mengapa? Karena saya pun saat itu merasa sakit hati ketika oma memang benar-benar sengaja ditinggalkan dengan alasan yang tidak masuk akal, itu yang membuat saya tidak bisa menerimanya.
Sungguh sangat ironis.
Saya juga tidak sepenuhnya memandang orang tua saya itu di bagian yang terburuknya, yang saya anggap yang tidak saya sukai. Justru saya masih bisa menilai seseorang itu dari sisi baiknya juga. Seperti ketika di mana orang tua saya yang berusaha memperjuangkan kehidupan yang lebih baik untuk diri saya, terutama mereka ingin mata saya bisa kembali normal dan bisa melihat lagi, tidak lagi buta sebelah. Sebelum menjalani operasi. Saya merasa nerveous dan takut sendiri. Operasi adalah pengalaman pertama saya di dalam hidup saya. Saya sudah mulai overthinking pada kejadian nantinya, dan bagaimana dengan hasilnya nanti. Saya memiliki pikiran yang buruk akibat dari ketakutan saya yang benar-benar mendominasi diri saya. Saya hanya takut hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi saya dan kedua orang tua saya. Saya benar-benar takut nantinya akan malah tambah buruk keadaan saya. Saya tidak tahu, orang tua saya itu mendapatkan donor mata untuk saya dari siapa dan saya juga tidak diberitahukan secara detail. Yang terpenting adalah saya tetap fokus saja pada operasi mata nanti dan tidak perlu takut untuk hal lain, yang tidak perlu harus dipikirkan juga.
"Papa di mana?" tanya saya kepada mama. Ia tengah duduk di sebelah brankar saya. Tangan mama saya mengusap-usap punggung tangan saya dan telapak saya yang sudah sangat dingin.
"Katanya lagi sedang bicara sama dokter dulu," jawab mama dengan seulas senyum tipis. Mama sudah tidak lagi marah kepada saya. Hal yang wajar memang kalau orang tua marah kepada anaknya ada orang tua pun juga tidak mungkin marah berlama-lama kepada anak kandungnya sendiri. Apalagi saat itu saya sudah harus menghadapi operasi untuk pertama kalinya dan saya masih sangat membutuhkan semangat dan juga dukungan.
"Nay takut, ya?" tanya mama, pelan suaranya.
"Nay memikirkan hasilnya, Mah. Bagaimana kalau hasil nantinya tidak sesuai dengan harapan kita?" tanya aku pesimis. Saya tak lagi bisa untuk berpikir positif kemudian. Emosi saya masih suka labil. Naik turun, termasuk dengan semangat saya. Walaupun sudah ditata pikiran saya untuk tetap memikirkan hal baik dan yakin juga menyerahkannya saja semua kepada Tuhan yang memiliki rencana paling indah, tapi tetap saja, saya masih memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi nantinya. Pun walau orang tua saya ada untuk saya saat itu, tetapi juga, saya masih tetap merasakan tidak tenang dan perasaan yang kacau balau.
"Nayla sudah berapa kali Mama bilang sama kamu? Jangan pikirkan hal yang buruk lagi. Mamah bakal pastikan, kamu mendapatkan yang terbaik. Kamu paham? Mama akan membuat kamu kembali sempurna tanpa ada satu pun kekurangan. Pegang omongan Mama, itu bukti Mama. Janji Mama sama kamu dan anak-anak yang lain. Kamu tidak akan membuat kamu cacat lagi. Mama pastikan itu, kamu tahu sendiri, kan, kalau mama tidak mau punya anak yang cacat? Mama mau punya anak-anak yang sempurna hidupnya dan Mama tidak mau lagi seperti dulu. Kamu paham itu?" papar mama, kemudian Mama bangun dari duduknya. Mama bersiap-siap untuk pergi. "Sudah, Mama mau keluar dulu, Mama mau temui papa kamu. Kamu jangan mikir yang macam-macam lagi," sambung mama sembari menaik turunkan telunjuk tangannya di depan muka saya. Saya sedari tadi hanya mendengarkan mama bicara dan ia selalu menekan tiap intonasi kata-katanya yang benar-benar menyatakan kesungguhan dia, yang benar-benar dia sangat yakin dengan yang dia katakan. Mama sendiri bilang tidak mau cacat anaknya, tidak ingin memiliki anak yang cacat. Saya sendiri merasa, sebenarnya tersinggung dengan kata-kata mamah yang sungguh, di luar dugaan saya, saya tidak menyalahkan apa yang mama katakan, hanya saja saya merasa saya tidak benar-benar mendapatkan semangat dari orang tua saya. Hanya Saya melihat sebuah ambisi yang benar-benar nyata di perlihatkan oleh mama saya sendiri, oleh kedua orang tua saya sendiri. Bagaimana mama mengatakan hal tersebut kepada saya, itu saya benar-benar merasakan sebuah ambisi dari mamah. Dia tidak ingin anak-anaknya hidup dalam kekurangan. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan hal itu. Justru terlihat bagus karena menunjukkan tanggung jawabnya sebagai orang tua, tetapi di sini saya merasa, mamah ingin anak-anaknya hidup dalam kesempurnaan. Definisi sempurna yang saya tidak paham itu apa? Sempurnanya itu dari sudut pandang mana? Dari perspektif mana? Diukur dari tolak ukur yang mana? Saya tidak paham dan saya tidak tahu. Saya hanya bisa mencerna saja, apa yang di katakan oleh mama kepada saya. Saya sebagai anak ya tugasnya hanya menuruti apa yang diucapkan oleh orang tua saya, walau terkadang saya tidak mengerti caranya dan jalannya itu seperti apa dan bagaimana melakukannya, sulit untuk di pahami oleh saya.
Orang tua saya memperjuangkan kehidupan yang layak untuk saya dan semua berawal dari mata kiri saya yang harus di operasi dan operasi itu telah berjalan dengan lancar. Tidak ada kendala sama sekali ketika perban di buka dengan perlahan-lahan oleh dokter. Orang pertama yang saya lihat saat itu adalah kedua orang tua saya. Mereka hampir mau menangis terharu dan bahagia melihat saya akhirnya bisa melihat lagi. Mereka berdua memeluk saya dengan sangat erat. Saya sendiri waktu itu pernah bilang sama Oma saya, orang pertama yang ingin saya lihat itu adalah oma dan orang tua saya, dan ternyata orang tua saya yang pertama, yang saya lihat, namun saya juga ingin melihat oma saya. Saya ingin melihat wajah oma ketika tersenyum kepada saya, tetapi setelah dari orang tua saya, kemudian melihat dokter yang telah membantu saya, dan kemudian saya melihat saudara-saudara saya yang juga ikut bahagia melihat saya akhirnya bisa melihat lagi, tetapi kebahagiaan saya pasti berkurang. Tidak ada oma di sini. Saya jujur merasa sedih, merasa kecewa tetapi saya tidak mau mengungkapkannya kepada keluarga saya. Saya takut mereka bakalan marah sama saya karena saya mencari seseorang yang tidak ada di sini. Saya mengabaikan orang-orang yang ada di sekitar saya. Saya takut mamah akan memikirkan hal seperti itu, walaupun saya tidak bermaksud mengabaikan keluarga saya tetapi oma adalah bagian dari kehidupan saya, bagian dari keluarga saya, dan bagian dari diri saya sendiri. Sayangnya saya tidak bisa mewujudkan keinginan saya untuk yang satu itu. Sehingga, saya hanya mampu menerima apa yang sudah menjadi keputusan dari kedua orang tua saya. Saya hanya berpasrah diri saja dan saya mulai menjalani kehidupan saya sebaik-baiknya.
Dan kehidupan saya selanjutnya, yang harus saya jalani adalah pendidikan saya. Saya mengambil paketan karena saya sudah telat masuk sekolah juga. Sampai akhirnya, SMP pun saya bisa menjalani dunia pendidikan seperti teman-teman yang lainnya. Hingga waktu SMA, kami sekeluarga berhijrah ke Bandar Lampung. Mama saya itu orangnya dulu suka sekali menjual produk-produk kecantikan. Dan dia belajar dari tempat kerjanya yang ternyata, ilmu yang dia dapat masih bisa dia terapkan. Perlahan-lahan walau di awal, mama mengalami kesulitan namun lambat laun, akhirnya ia berhasil menjual produk-produk kecantikan dia sendiri. Mulai dari ruang lingkupnya yang kecil hingga ke ruang lingkup yang besar. Papa juga mulai mencoba berbisnis di bidang properti. Kesuksesan papa sampai memiliki aset transportasi darat, laut, dan udara. Kehidupan kami yang tadinya serba susah jadi bisa membaik, sedikit demi sedikit, dan secara perlahan-lahan. dan hasil yang telah mereka dapatkan benda-benda tidak menghianati dari usaha yang mereka kerahkan selama ini. Perjuangannya telah membuahkan hasil namun masih ada perjuangan yang lain lagi jadi itu bukan bentuk dari materi melainkan perjuangan itu berasal dari dalam diri sendiri, tentang sesuatu hal dalam memaknai kesempurnaan hidup.