Bab. 7 Bukan Kapasitasnya

4117 Kata
Di suatu pagi hari, rumah saya itu walau ramai orangnya, tetap saja rasanya sunyi dan hambar. Sepi dan seolah tak berpenghuni sama sekali. Tidak terlalu banyak obrolan karena di keluarga saya, tradisinya itu memang selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Tradisinya itu, ya, jarang ada kebersamaan seperti keluarga yang harmonis. Keluarga yang penuh cinta. Padahal saya rasa, saya punya kehidupan yang sudah lebih baik dari pada saat dulu. Hidup saya bergelimang dengan harta, materi yang tidak pernah kekurangan sama sekali. Saya juga memiliki rasa bangga pada kesuksesan dari kedua orang tua saya sampai keluarga saya itu dianggap sebagai keluarga terpandang.  Apalagi ditambah Mbak saya yang sudah bekerja di perusahaan multinasional telah dianggap oleh kedua orang tua saya, ia telah menyempurnakan nama baik di keluarga kami.  Sayangnya, kesempurnaan yang diangung-agungkan itu, mengorbankan banyak sekali waktu yang bisa kita pakai untuk bercengkrama, bercanda gurau, membahas banyak hal, mengobrol ringan sambil minum teh di pagi hari atau kopi hangat. Harus tergantikan dengan hal kesibukan yang nyata pada pekerjaan yang dilakoni masing-masing. Mbak Nana, jadi terbiasa sibuk dengan gadgetnya, begitu juga dengan Kak Shena yang selalu bermain HP sambil mendengarkan musik dengan headsetnya. Ia sangat asyik sekali dengan kehidupannya. Kemudian Mama dan Papa juga, ya, sama saja dari keduanya juga. Mereka sangat sibuk dengan masing-masing aktivitasnya.         Saya yang masih sekolah SMA tidak suka yang namanya makan sambil bermain HP, atau melakukan aktivitas di luar yang sedang saya lakukan seperti sarapan. Saya di sini menekankan etika sopan santun. Tingkah laku yang baik ketika sedang melakukan sesuatu di meja makan dan berkumpul bersama dengan keluarga. Jika bermain hp saat sedang makan itu, rasanya tidak etis bagi saya, kalau makan tapi pada sibuk main HP semua dengan melakukan hal yang ada di dalam layar gadget.    Saya rasa masih bisa di lakukan di lain waktu, bukan di waktu ketika sedang sarapan bersama.       Saya juga sudah sering berkomentar untuk permasalahan ini dan mereka semua malah abai dengan saran dari saya, dengan kritik dari saya, dengan pendapat dari saya. Itu yang membuat saya jadi malas untuk bicara dengan keluarga saya sendiri karena mereka memang terlalu mengabaikan hal-hal yang saya rasa itu cukup penting. Mana yang baik untuk di lakukan dan mana yang tidak baik untuk di lakukan, yang rupanya lebih baik untuk tidak di lakukan.         Saya tidak suka dengan yang mereka lakukan dan sangat sungguh menganggu penglihatan saya. Saya tidak mau mata saya jadi rabun gara-gara ulah mereka. Akhirnya saya memilih untuk berangkat saja tapi sebelum itu, saya berpamitan lebih dulu kepada mereka. Lagi-lagi untuk tetap mengedepankan etika, hanya saja mereka mengabaikan saya. "Aku pamit," ucap saya untuk kedua kalinya dan nadanya lebih tinggi lagi. Sengaja saja aku menekankan suara saya, supaya mereka dapat mendengar saya sedang bicara dengan mereka. Saya paling tidak suka dikacangin. Mama hanya bilang, "hati-hati, ya, sayang." Sudah, itu saja, tetapi matanya tidak menatap saya sama sekali saat merespon kata-kata saya. Beliau malah masih fokus pada layar HP-nya. Saya bete, saya jengkel sama tingkah laku dari keluarga saya ini. Cuman, saya hanya bisa bersabar saja. Mereka terlalu sibuk mencari materi dan saya merasa jenuh akan hal tersebut.        Baru saja saya bangun dari tempat duduk saya, Mas Joe sudah datang keluar dari kamarnya. Dia memang paling suka terlambat dan tidak suka tepat waktu. "Mau berangkat langsung? Bareng aja sama mas. Mas juga mau berangkat, nih, ke tempat shooting," tawar Mas Joe. Saya hanya mengangguk singkat. "Kamu hari ini mau syuting Joe?" tanya papa, akhirnya papa mengangkat pandangannya juga dan kemudian menaruh gadgetnya di samping gelasnya. "Iya Pah, Joe ada shooting hari ini. Biasalah mau kejar tayang juga sinetronnya, jadi waktunya udah mepet banget," katanya dengan cengiran yang luar biasa ia tunjukkan. Mas Joe akhirnya berpamitan juga kepada orang tua saya dan mas Joe sebelum pergi, sempat isengin kak Shena juga. Saya berjalan sambil kedua bahu saya dipegang sama Mas Joe. Tidak lama dari saya dan Mas Joe menjauh dari tempat meja makan, saya sempat dengar Mbak Nana juga ikut berpamitan kepada kedua orang tua saya sedangkan kak Shena, dia itu masih kuliah, hanya saja dia tidak bisa memanfaatkan fasilitas yang sudah diberikan oleh orang tua sayam Dia masih suka bolos kuliah makanya dia nggak pernah lulus-lulus. Kalau pun itu, dia selalu meminta kuliah ke kampus swasta yang bergengsi banget dengan biaya kuliahnya itu sangat menguras kantong. Tapi tetap saja, dia tidak lulus juga. Sudah saya katakan kalau Kak Shena itu cuma mau buang-buang uang saja. Entah apa yang dia pikirkan, padahal di luar sana banyak sekali orang yang mau kuliah tapi terhalang oleh biaya sedangkan dia hidupnya enak-enak saja. Apa pun segalanya terpenuhi, di cukupi terus pokoknya sama orang tua saya. Tetapi, ia malah tidak bisa memanfaatkan itu semua. Kesibukannya cuma main-main sama temen-temennya, foto-foto buat memenuhi di i********:-nya yang benar-benar ingin mengejar popularitas sebagai influencer. Yah, walaupun dia belum tenar-tenar banget, masih manjat dari bawah. Tapi ya sudahlah, itu hidup dia juga, tetapi saya rasa, selagi dia masih berada di atas langit, dia tidak akan belajar untuk melihat ke bawah. Bagaimana susahnya untuk mencari uang dan bagaimana untuk bisa menghargai apa yang sudah bisa di nikmati. *       Saya sendiri sebagai remaja tidak kaku-kaku juga walaupun kepribadian saya ini memang pendiam dan cuek. Maksudnya, kan, orang-orang seperti itu biasanya lebih condong seperti anak kutu buku yang sukanya itu lebih berdiam diri di dalam perpustakaan dan jauh dari keramaian, meskipun saya ini introvert, tapi saya masih bisa untuk berbaur ke semua orang walaupun terkadang saya akhirnya merasa lelah sendiri setelah bersosialisasi dengan banyak orang.   Tetapi, jangan salah kalau saya ini sebenarnya yang paling aktif di sekolah terutama di kegiatan-kegiatan yang memang bisa menunjang nama saya juga. Saya akan selalu memanfaatkan apa yang bisa saya manfaatkan untuk kebaikan saya sendiri dan memanfaatkan apa yang saya suka untuk mendapatkan kebahagiaan saya sendiri, salah satunya saya mengikuti kegiatan cheeleders.  Di tengah perjalanan Mas Joe mengajak saya ngobrol sedangkan saya masih baca-baca buku.  "Nay," panggil ia. "By the way, Mas, kan, tau, nih, kamu itu sangat populer di sekolah bahkan kamu punya banyak kenalan di luar sekolah kamu sendiri. Terus juga, kamu ini, kan, leadernya chiliders, ya? Banyaklah yang ngejer-ngejer kamu pastinya," katanya dan saya hanya meresponnya dengan berdeham saja. "Itu berarti, kan, Mas rasa kamu ini punya aura bintang, ya. Kamu nggak mau tertarik ikut casting apa? Kamu itu punya nilai jual yang lebih, loh, daripada kakakmu itu si Shena. Mas yakin, deh, kalau kamu ikut casting, pasti kamu bakalan bisa, tuh, jadi artis. Jadi aktris yang terkenal. Kamu cocok kok kalau main sinetron, kek, atau main film, kek? Kayak Mas Joe gini. Mas sudah dapat tawaran bermain film dan ini awal karir Mas, nih, di dunia perfilm-an. Nah, kamu itu sering, loh, dapat tawaran sebenarnya dari teman-teman Mas Joe ini yang tertarik buat ngajakin kamu casting. Malah ada yang sampai pengen jadiin kamu model brand dari teman-teman Mas, loh. Emang kamu nggak mau apa terjun di dunia entertain?" ujar Mas Joe panjang lebar. Dari nada bicara ia, dia itu kelihatan banget lagi sedang berusaha mau merayu saya.       Saya sendiri itu sudah tahu, arah pembicaraan Mas Joe itu mau ke mana sedari awal dia sudah membahas soal dunia entertainment. Dan benar saja tebakan saya itu. Saya sebenarnya itu tidak terlalu tertarik dengan pembahasan yang dia bicarakan saat itu. Apalagi, yang saya rasakan adalah bete luar biasa kalau saya lagi baca buku malah membahas hal yang nggak mau saya dengar sama sekali. Saya sendiri masih dengan memegang buku bacaan non fiksi yang isinya tentang pemikiran-pemikiran luar biasa dari penulis-penulis terkenal di luar negeri dengan kutipan-kutipan yang saya sukai seperti buku favorit saya yang saya suka baca dari penulis Rupi Kaur.  "Enggak, ah. Aku nggak suka. Lagian aku nggak ada bakat akting juga," tolak saya mentah-mentah. Mungkin akan ada yang bilang saya ini bodoh kali, ya, karena saya telah menolak rejeki yang sangat di inginkan, hampir semua orang untuk zaman sekarang ini, karena siapa juga yang tidak mau menjadi artis yang uangnya itu saja bisa membuat seseorang hidup kaya. Itu juga asal dia laku di dunia pertelevisian. Kalau tidak, ya, paling-paling cuma jadi artis figuran saja yang tidak di kenal banyak orang namanya. Jadi, meskipun sudah memiliki status profesi sebagai artis, bukan berarti sudah langsung bisa hidup enak dan langsung di kenal oleh banyak orang. Setidaknya, masih tetap butuh usaha untuk mendapatkan popularitas.   Dan penolakan dari yang saya katakan itu memang dari hati saya sendiri dan saya memang bersungguh-sungguh. Tidak ada niatan sama sekali untuk terjun ke dunia entertainment. Mas Joe sambil mengendarai mobilnya, dia masih sibuk saja membahas hal tersebut. Bukannya ia fokus mengendarai mobil saja, tetapi saya tidak sopan dong kalau saya meminta dia untuk tidak berbicara dengan saya. Nanti yang ada, saya dianggap tidak menghargainya sama sekali. "Aduh sayang banget. Kenapa, sih, kamu nggak ikutin jejak Mas Joe aja. Lagian gini, ya, dengan kamu terjun ke dunia entertainment, kamu itu bakalan bisa sukses kayak Mas Joe. Kamu nggak ingat apa yang pernah mamah bilang ke kita. Hiduplah dalam kesempurnaan yang memang sangat jelas dipandang sama semua orang. Harta, popularitas, kekayaan dan nama yang dikenal oleh banyak orang dengan prestasi-prestasi yang kita punya dan lain semacamnya. Kesempurnaan yang nggak semua orang itu bisa mendapatkannya tapi kita mesti bisa buat dapetin itu semua. Dan Mas Joe sangat berambisi buat mendapatkan itu semua. Untuk itu, Mas Joe mengejar karir mas Dan Mas itu kepengen ngepush kamu itu biar sama kayak Mas Joe juga," kata dia menggebu-gebu. Sudah seperti semangat patriotisme saja.       Dan dia makin kesal ketika saya mematahkan ucapan dia. "Ya, itu, kan, Mas bukan aku."       "Kamu, tuh, aduh! Jangan keras kepala bisa nggak, sih? jangan terlalu payah-payah banget gitu, loh, gak usah jadi orang yang susah diomongin kayak Shena. Ikutin aja kenapa, apa kata Mas Joe. Serius, deh, yakin Mas Joe, kamu itu punya nilai jual yang bagus dan kamu bakalan langsung bisa punya nama di dunia entertainment," jelas dia benar-benar membuat telinga saya itu panas sekali karena Mas Joe ini punya watak yang pemaksa. Suka banget yang namanya maksa-maksa orang dan sukanya itu mengatur kehidupan orang. Kita itu harus mengikuti apa kata dia selagi menurut dia itu benar dan dia tidak pernah mau mendengarkan pendapat orang lain. Terlalu egois banget jadi orang. Saya yang sudah kesal, langsung menutup buku yang saya sedang baca tadinya. Kemudian saya menolehkan kepala saya kepada Mas Joe dan menatapnya sangat serius juga dengan kemarahan yang berusaha untuk tidak saya keluarkan sepenuhnya.  "Mas, nggak semua, ya, harus sesuai dengan apa yang Mas inginkan. Mas enggak bisa menyamaratakan kemampuan orang lain harus sama seperti Mas. Apalagi aku. Aku itu punya pendirian aku sendiri, aku punya prinsip aku sendiri, dan Aku punya mimpi aku sendiri. Aku tahu aku mau apa dan aku tahu aku harus melangkah ke mana. Aku tahu, aku ingin apa di masa depan aku dan aku nggak perlu harus melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan sama Mas Joe. Aku bisa, kok, mendapatkan kesempurnaan aku sendiri dan tidak harus sama dengan apa yang Mas Joe lakukan. Mas Joe punya bakat akting, okelah akting Mas Joe luar biasa dan bagus. Mas Joe punya bakat di dunia entertainment, tapi aku yang paling tahu diri aku sendiri. Aku tahu kemampuan aku itu di mana dan Mas enggak bisa maksain pendirian Mas ke aku. Kita beda dan nggak sama," pungkas saya panjang lebar bicara kepada dia dan itu semua dari hati saya sendiri. Saya benar-benar serius dengan yang saya katakan dan saya tidak pernah main-main dengan yang saya ucapkan. Tidak ada nada bercanda dari ucapan saya dan aura dingin saya benar-benar menyelimuti keadaan dari dalam mobil ini. Suasana jadi terasa canggung sekali tapi yang saya lihat Mas Joe malah tidak terima, dia malah marah kepada saya. "Dan, oh, ya, Mas Joe jangan pernah menyamakan aku sama Kak Shena karena aku berbeda dari dia," tambah saya lagi dan kali ini, saya menekankan intonasi nada bicara saya. "Halah kamu mah Nay, emang paling susah kalau dikasih tahu sama kakaknya sendiri. Kamu itu merasa paling pintar tau gak?" balas mas Joe malah semakin saya kesal dibuatnya. dia itu memang tidak pernah menghargai apa yang saya bicarakan ataupun siapa pun yang bicara dengan dia karena dia hanya ingin mendengarkan pendapat dia saja dan dia hanya ingin mendapat dia saja yang di dengarkan. "Turunin aku aja sekarang. Aku males debat sama Mas Joe," titah saya jengkel. Mood Saya sudah benar-benar buruk sama omongan mas Joe yang benar-benar bikin saya itu kesal. Kalau tahu begini, saya lebih memilih untuk berangkat bareng sama pacar saya.  "Oke, oke. Mas gak bakal buat kamu kesel lagi," kata dia sambil mengangkat kedua tangannya sebentar. Lanjut setelah itu, mas Joe mengantar saya sampai ke sekolah dengan keadaan tenang meskipun hati masih dongkol. Tapi tak masalah. Karena saya juga bakal jarang bertemu dengan dia. Saat itu saja dia kebetulan memang lagi sedang syuting di Bandar Lampung. Minggu depan dia juga bakalan pergi ke Jakarta lagi.        Saya melihat rutinitas dia itu benar-benar sibuk seperti sulit untuk bernafas saja, untuk sejenak saja. Ia harus pergi keluar kota, ke tempat yang jauh juga dan benar-benar melelahkan pekerjaan dia yang saya lihat itu. Semarah-marahnya saya kepada kakak saya sendiri, saya tetap menjaga etika saya untuk berterima kasih kepadanya telah mengantarkan saya ke sekolah meskipun sebelumnya kita bertengkar lebih dulu hingga membuat perasaan saya kesal sama dia. Jengkel banget sama dia, cuman saya mewajari watak dia yang memang seperti itu dan saya tidak bisa menuntutnya untuk berubah atau berbuat apa-apa. Saya sama sekali tidak bisa.       Yang hanya bisa saya lakukan adalah menjaga pikiran dan hati saya, juga perasaan saya sendiri untuk tidak terlalu larut pada emosi. Saya tidak mau suasana hati saya rusak hanya karena dengan masalah sepele ataupun perdebatan yang tidak ada gunanya sama sekali untuk saya.        Saya ingat saat itu ketika keluar dari mobil, saya dihampiri oleh teman-teman saya. Mereka memanggil nama saya ramai-ramai. Bisa dibilang mereka ini gengnya saya.  "Gue mau tau dong gimana rasanya ketika kalau diantar sama kakak yang notabene adalah artis terkenal." Vidya mulai heboh sendiri. Terus ditambah Meisya menimpali. "Iya. Sumpah Kakak Lo itu ganteng banget Nay! Aduh nyesel, deh, tadi nggak ketemu dulu sama dia." "Eh, tapi, by the way, mas Lo itu, kan, lagi syutingnya di Bandar Lampung, ya? Pulang sekolah gimana kita temuin dia aja? Kita samperin ke lokasi syutingnya. Sumpah gue pengen banget ketemu sama dia, Bay. Gimana Lo mau, kan, nememin kita, ya, Nay?" sahut Ola yang mengusulkan untuk bertemu sama mas saya. Ya beginilah teman-teman saya yang sangat menyukai dan nge-fans banget sama kakak saya. Saya akui memang mas Joe punya wajah yang tampan. Ya, saya sudah terbiasa dengan teman-teman saya yang selalu membicarakan mas saya ketika mereka tahu saya di anterin sama artis yang saya akui prestasinya itu tidak main-main. Dia memiliki akting yang bagus, bakat yang tidak seharusnya di sama ratakan sama diri saya karena saya memiliki bakat saya yang lain. Dan bakat saya bukan ada pada di dunia entertainment sebagai artis, seperti yang dikatakan oleh Mas Joe. Dan kalau pun memang saya, memiliki bakat seperti Mas Joe Saya tidak akan terjun ke dunia entertainment.       Saat kita lagi sedang ngobrol-ngobrol menuju kelas, kita pasti bakalan melewati lapangan. Namun, di tengah-tengah kita berjalan, tiba-tiba saja bola basket memantul ke arah saya dan dengan sigap saya tangkap bola basket tersebut. Teman-teman saya kaget ketika ada bola basket itu juga mengarah ke arah kami dan orang yang memainkan bola basket ini adalah seseorang yang yang pernah ada di dalam hidup saya, Mahesa.  Ketika saya mengenang Itu semua, saya tidak menyadari apa-apa. Mengapa saya tiba-tiba teringat dengan Mahesa saat di mana saya bertemu dengan dia, kala ketika kita masih SMA dan satu sekolah saat itu, karena saya sendiri di beritahukan kepada mama, bahwa dokter yang menangani papa tadi adalah dokter Mahesa. Saya penasaran, apakah Mahesa yang dimaksud itu adalah Mahesa yang saya kenal waktu di masa lalu saya?  * Saya sendiri akan selalu menuntaskan rasa penasaran saya dengan cara saya mencari dokter tersebut. Saya tadi tidak melihat, siapa dokter yang menangani papah karena saya tiba-tiba saja menerima panggilan dari butik saya dan saya harus pergi ke sana. Ketika saya kembali ke rumah sakit, mama baru memberitahukannya dan karena itu saya mencari sosok yang bernama dokter Mahesa. Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk menemukannya karena saya tanpa sengaja, berpapasan dengan dia, dengan orang yang saya cari dari tadi.  Dia sangat saya perhatikan gesturenya tanpa saya harus sembunyi-sembunyi. Dia tengah berbicara dengan suster yang ada di sebelahnya dan tidak lama dari itu, suster tersebut pergi membawa berkas-berkas yang tadi di bicarakan oleh Mahesa bersama dengan suster tersebut.  Ketika ia berjalan dan menoleh ke depan, saya tidak terkejut ketika melihat dia karena saya sudah memiliki firasat, kalau yang bernama Mahesa adalah orang yang saya kenal. Tetapi lain halnya dengan Mahesa yang sangat terkejut, ketika melihat saya berdiri tak jauh darinya, berada di depannya. Saya tanpa rasa takut, menghampiri dia, pun juga dengan dia yang menghampiri saya juga. Lama kita saling bersitatap, menilai satu sama lain di mana sudah lama kita tak lagi bertemu pasca saat saya sudah lulus lebih duluan saat itu. * Saya diajak ngobrol sama Mahesa di kantin rumah sakit. "Udah lama banget, ya, nih kita nggak pernah ketemu-ketemu lagi," kata dia sebagai pembuka. Memecahkan keheningan dan kecanggungan di antara kita berdua. Sedari tadi, tidak ada percakapan yang dimulai antar saya atau pun dengan dia. sayang lebih memilih untuk diam dan dia memang sudah tahu watak saya yang dingin dan cuek. Saya cuma menganggukkan kepala saya saja, singkat tapi tetap saya bersikap ramah kepadanya dengan tersenyum tipis. "Kamu sekarang kerja di mana?" tanya ia sebagai mantan saya, saya tak heran jika dia akan bertanya hal seperti itu, karena itu sudah menjadi pertanyaan umum untuk orang-orang yang sudah lama tak bertemu. Saya juga tahu, kalau itu hanya sebuah pertanyaan basa-basi saja, tapi tidak masalah. Saya akan tetap menjawab pertanyaan darinya dengan senang hati. "Saya kerja sebagai desainer," jawab saya dan saya tidak perlu mengatakan kalau saya memiliki cabang di mana-mana, kecuali dia sudah bertanya kepada saya untuk hal yang lebih mendalam soal pekerjaan saya. Karena saya tidak mau terkesan memamerkan kesuksesan saya sendiri kepada orang lain. Saya lain dari saudara-saudara saya yang memang terlihat menonjol. Tetapi saya tidak perlu melakukan hal yang sama, karena saya sendiri cukup sudah merasakan kesempurnaan di hidup saya tanpa ada satu pun kekurangan dan saya akan menjaga kesempurnaan itu tak terkecuali apa pun itu. "Wow! Keren juga, ya, kamu. Nggak nyangka, ya, yang dari cuma sekedar hobi aja malah jadi pekerjaan buat kamu," puji dia. Saya tersenyum malu mendengar hal tersebut karena memang benar kenyataannya, semua itu berasal dari hobi saya, berawal dari kesenangan saya, ya, pada menggambar. Itu adalah seni yang saya sukai, paling saya sukai. "Pekerjaan kalau dilakukan dengan senang hati dan ikhlas, rasanya bakal ringan aja buat dijalaninya. Sepusing apapun itu, apalagi pekerjaannya dari hobi. Gagal atau gimana, saya bakalan terus tetap melakukan hobi saya dan keuntungannya adalah memang saya berhasil pada bidang saya sendiri yang saya tekuni dari dulu," jelas saya kepadanya. Walaupun saya ini terkenal orangnya itu cuek dan lebih bersikap dingin, bukan berarti saya pelit bicara. Saya akan mengatakan panjang lebar jika itu menyangkut hal yang menurut saya itu berkualitas untuk di bahas, bukan sekedar pembicaraan omong kosong saja dan saya tidak menyukai hal-hal tersebut. Karena saya selalu ingin bicara dengan hal-hal yang berkualitas, dengan hal-hal yang dapat membuka mata dan pikiran. Memang terkesan kaku tapi itu adalah diri saya sendiri. Mahesa tetap sama saja, dia menunjukkan rasa kagumnya kepada saya. Sedari dulu kerja selalu begitu kepada saya. Selalu terkagum-kagum dengan diri saya sendiri, tetapi dia merasa canggung kali itu untuk pertemuan kami.  Saya dapat merasakannya. Dia seolah sedang bingung, sedang memikirkan sesuatu hal untuk dibicarakan kepada saya, karena saya sendiri orang yang termasuk peka. Saya tidak akan menyulitkan dia, saya akan lebih leluasa untuk bicara kepada dia dengan saya ya banyak mengatakan hal kepadanya untuk memancing topik pada dia. Tetapi bukan saatnya untuk membicarakan hal-hal yang ringan ketika saya bertemu dengan dia, saya langsung terpikirkan tentang papa saya sendiri sebab itu saya menanyakan kabar papa saya kepada dia dan bagaimana solusinya supaya Papa saya itu bisa sembuh. Saya tidak mau, papa saya kenapa-napa, hanya itu saja. Jadi pertemuan kita lebih banyak membahas hal tentang Papa saya, kesehatan papa saya, dan keadaan papa saya, supaya papa itu bisa pulih kembali.       "Papa kamu terkena serangan jantung tapi kamu tenang saja, aku bakalan usahain semaksimal aku supaya keadaan papa kamu bisa kembali pulih Lagi.papa kamu hanya merasa tertekan saja pada stress dan akhirnya menyerang jantungnya," jelas Mahesa. "Apa mungkin sempat terjadi sesuatu yang memicu serangan jantung pada papa kamu?" tanya Mahesa. Saya membenarkan apa yang dia ucapkan. "Iya, papa sempat bertengkar sama Kak Shena. Dia saja sampai teriak-teriak dan karena itu juga, akhirnya dia terkena serangan jantung," kata saya tanpa menatap matanya. "Tapi kalian sangat beruntung, untungnya kalian membawa Papa kalian secepat mungkin. Jadi papa kalian bisa ditangani dengan cepat," ucap Mahesa.       Sebenarnya saya sedang merasa sedih karena memikirkan Keadaan papa saya sendiri, tetapi saya tidak mau menunjukkan kesedihan saya di depan Mahesa. Cukup saya saja yang merasakannya. Saya memang sangat tidak terbiasa untuk berekspresi, untuk menunjukkan perasaan saya kepada orang-orang. Baik itu senang atau pun sedih, baik itu bingung atau pun saya merasa sedang gelisah. bahasa halusnya saya bisa menyembunyikan perasaan saya sendiri dari banyaknya orang. Makanya, orang-orang beranggapan kalau saya itu adalah perempuan yang datar-datar saja dengan sikap saya yang seperti itu, kaku.       Pertemuan saya dengan Mahesa akhirnya berujung kita saling tukar nomor untuk saling berhubungan lagi. Itu yang dia harapkan. Saya tidak mempermasalahkan hal tersebut, saya dengan senang hati memberikan nomor HP saya kepada dia setelah kita berdua sedang berjalan menuju ruangan papa. Setelah Mahesa memeriksakan keadaan papa saya, kita sempat berbincang-bincang lagi walau hanya sebentar saja. Saya pede-pede saja kalau saya menganggap Mahesa ingin mendekati saya lagi. Saya sudah bisa membaca dirinya, tetapi saya lagi sedang tidak fokus untuk hal tersebut karena yang saya pikirkan adalah keadaan papa saya sendiri sampai akhirnya papa saya pulih nanti, mungkin masih bisa saya pikirkan soal Mahesa.        Papa saya akhirnya keadaannya sudah mulai membaik setelah beberapa hari dari kejadian tersebut yang membuat papa saya jadi masuk ke rumah sakit dan masih menjalani rawat inap. "Di mana mas kamu sama Mbak kamu itu? Mereka tidak datang?" tanya papa, setelah memberikan gelas kepada saya. Papa duduk di atas brankar sembari memperhatikan saya. Saya sampai tak berani menatap sepasang bola mata papa yang mengharapkan jawaban yang dapat menenangkan hatinya. Saya tahu saya tidak bisa memberikan apa yang papa harapkan. Saya merasa kecewa dengan diri saya sendiri dan merasa kesal dengan kedua saudara saya, karena mereka tidak bisa datang ke sini sedangkan saya merasa gagal karena memang, sebelum papa ditangani, papa sempat mengatakan kepada saya untuk meminta saudara-saudara saya untuk datang dan saya tidak bisa membuat mereka datang ke sini. Mereka sudah benar-benar kelewatan. "Mas Joe lagi masih di luar kota untuk promosi filmnya dan mbak Nana masih di luar kota juga untuk bisnisnya," jelas saya jujur apa adanya. Saya sangat merasa tidak enak hati kepada papa yang tidak bisa menepati janji saya kepada dia. Terlihat dari wajah papa, dia nampak kecewa. Tetapi dia berusaha untuk memaklumi keadaan anak-anaknya. Kondisi anak-anaknya yang memang sangat sibuk. "Mereka itu sama seperti papa dan mamamu, kami memang sangat sibuk dan banyak hal yang kita lewatkan karena pekerjaan," jelas Papa dengan pandangan kosong yang penuh arti. Ia tersenyum miris. Saya tidak bisa melihat dia seperti ini. Papa tidak ingin membicarakan hal tersebut lagi, terbukti dia mengalihkan pembicaraan kepada saya. "Di mana mama kamu sama Shena?" tanya papa lagi.  "Mama masih di rumah sama Shena. Nanti juga mereka berdua ke sini," kata saya. Lalu, tak lama, pintu ruangan papa terbuka. Tiba-tiba saja muncul Caca dan Karel, keponakan saya yang tiba-tiba saja datang ke rumah sakit. Mereka berlarian sambil memanggil opa-opa. "Hei, sayang." Saya langsung memeluk kedua anak itu sambil berjongkok di hadapan mereka, lalu saya menggendong Karel dan menggandeng tangan Caca, berjalan tuk mendekati opanya. Saya membantu Caca untuk naik ke brankar rumah sakit supaya dia bisa memeluk opanya. Papa terlihat senang sekali bisa melihat cucunya datang ke sini. "Cucu Opa saja datang, ya, jenguk Opa, tapi om dan tante kalian saja nggak bisa datang ke sini," dumel papa sambil mengelus rambut Caca yang duduk di pangkuan opa. Apa yang saya dengar itu, dia ingin mengungkapkannya kepada anak-anak kecil ini tapi tidak dengan nada yang serius melainkan hanya dengan nada bercanda, tetapi dengan kata-kata yang menyindir. Andaikan saja, mereka ada di sini. Saya yakin, mereka merasa malu di hadapan anak-anak kecil ini yang sangat peduli kepada opanya, tetapi mereka sebagai anaknya, tidak menunjukkan rasa kepeduliannya kepada orang tua mereka sendiri. Saya sangat kecewa dengan sikap dan tindakan mereka tersebut. Terlalu egois hanya dengan mementingkan diri sendiri dan memikirkan kesibukannya sendiri tetapi hal yang lebih penting malah diabaikan oleh anak-anak kandung dari papa sebagai orang tua mereka yang telah memberikan kehidupan yang layak untuk anak-anaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN