Permintaan Skylar

1280 Kata
Apa hal yang lebih menyenangkan saat di rumah cuma lu seorang ditemani laptop yang penuh dengan drakor dan cemilan se-kulkas plus gak ada tugas kampus? Betul sekali! Itu adalah surga dunia bagi mahasiswi kayak gue. Tring Ibu negara : Layla sibuk nak? Astaga namanya masih aja ibu negara. Nanti deh gue ganti. Bisa-bisa di penggal sama pak Aldi kalau gue nyimpan nama ibu negara-nya dengan ibu negara juga. Layla : Ada apa ya, bu? Ibu negara : Boleh ibu mampir sama Kai? Mampus! Layla : Ehh, ada apa ya, bu? Ibu negara : Kalau enggak boleh gpp nak Mau nolak, tapi orang tua. Dosa banget gue kalau sampai nolak kayak gini! Akhirnya dengan pertimbangan yang tinggi, gue pun mengiyakan silaturahmi ibu negara. Sekarang waktunya beres-beres. Membereskan semua surga dunia yang udah gue rancang tadi. Selamat tinggal list drakor yang sudah terancang rapi nan indah. Semoga tamu yang mengganggu acara kencan kita tidak lama-lama bertamunya. Tok Tok Tok “Iya sebentar!” gue berlari ke arah pintu dan memutar knop pintu. “Mommy!” seruan Kai yang pertama kali terdengar. “Hai anak tampan!” gue langsung bawa anak tampan itu dalam gendongan. Menyisakan ibu negara yang tersenyum dengan kantung belanjaan di tangannya. “Ayo bu, mari masuk!” gue ngajak mereka masuk ke dalam rumah. Bang Juna gak balik ke rumah. Dia ada urusan di luar kota. Gue seneng dong pas tau itu, walau harus di ceramahin panjang lebar soal makan dan lain-lain. Makanya gue keliatan bebas di rumah, haha.. “Ibu mau minum apa?” “Ibu bawa minuman sama kue, nak. Jadi kamu di sini aja,” tante Loreta cegat gue buat ke dapur. “Mommy sini aja. Kai kangen!” Astaga anak tampan ini. Gimana coba caranya gue bisa move on? Kalau dia, daddynya dan grandmanya selalu di sekitar gue. “Mommy,” panggil Kai buat gue seketika noleh. “Kenapa Kai?” sahut gue. “Kai bobok sama mommy ya,” pintanya. “Ehh, nanti daddy gak ada temennya kalau Kai sama mommy.” “Daddy bentar lagi ke sini, mommy.” Hah?! Apa?! “Iya nak. Babas sebentar lagi ke sini,” tante Loreta membenarkan. “T-tapi bu..” gue bingung mau ngomong gimana. Soalnya kalau si pak Bastian itu ke sini dan gak balik, apa kata tetangga? “Kamu takut omongan tetangga?” pertanyaan tante Loreta membuyarkan lamunan. Kok bisa tau? “Kalau kamu takut itu, kamu ikut ke rumah aja.” Nah-nah kok jadi gini? “Ayo mommy, ikut Kai pulang!” Kai merengek sambil menggoyang-goyangkan tangan gue. “Permisi,” suara seseorang mengalihkan perhatian kami. Ucup dicinta, ulam pun tiba. Muncul lah si duda dengan setelan kantornya, berdiri di depan pintu dengan gaya cool. Kayaknya baru pulang kerja deh. “Daddy!” sorak Kai bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri pak Bastian. “Jagoan daddy,” pak Bastian mengangkat tubuh Kai dan kemudian bergabung bersama kami. “Daddy!” panggil Kai. “Hmm?” sahut pak Bastian. “Mommy boleh ikut pulang sama kita, kan?” tanya Kai dengan polosnya. Sontak gue dan pak Bastian pun saling tatap. “Boleh, kenapa enggak?” balas pak Bastian yang gue balas pelototan. “Rumah kamu kosong kan?” tanyanya dan dengan bodohnya gue ngangguk. “Gak aman kalau anak gadis sendirian di rumah. Ikut saja,” tambahnya yang diangguki oleh ibu negara. “T-tapi saya gak enak ngerepotin,” gue coba mutar otak biar gak ninggalin rumah. “Mommy..,” Kai natap gue dengan mata berkaca-kaca. Sudah seperti ini, mau gak mau gue ngangguk. “Ya udah, Layla ikut.” “Yeay! Bobok sama mommy!” sorak Kai kegirangan. Gue pun langsung pamit buat beresin keperluan gue selama nginap di rumah calon suami-- ehh gak ding. Rumah pak Bastian maksudnya. “Kalau gitu Layla kemas-kemas dulu ya,” pamit gue pada keluarga bahagia itu. “Kai ikut, mommy!” ucap Kai yang gue anggukin dan kami pun jalan ke kamar buat ngemas barang bawaan selama gue nginep. Sewaktu gue masukin baju ke dalam tas, Kai gue suruh duduk di kasur. Kan gak mungkin dia ngeliat isi lemari pakaian gue ya, gak? “Mommy..” panggil Kai di tengah-tengah pencarian kaos buat besok. “Yes, love.” “Daddy jahat sama mommy ya?” tanyanya tiba-tiba. Gue yang dengar itu natap Kai dengan tatapan bingung. “Enggak. Daddy gak jahat sama kakak. Kai kenapa bisa ngomong gitu?” “Soalnya mommy jadi jarang ketemu Kai. Atau mommy udah gak sayang Kai?” Gue terdiam dan jalan menghampiri Kai yang tertunduk. “Kai.. Kakak sayang sama Kai. Daddy juga enggak jahat kok. Jadi Kai tidak boleh ngomong gitu. Oke?” “Oke mommy..” balasnya. “Good boy. Yuk, kita temuin grandma dan daddy.” Kami pun bergandengan tangan keluar dari kamar menuju ruang tamu. Terlihat asik banget ibu-anak itu ngobrol, sampai gak sadar kita udah balik lagi ke ruang tamu. “Ekhem!” “Ehh, sudah?” tanya tante Loreta yang gue balas anggukan. “Ya sudah, ayo!” ajak pak Bastian. Kami pun keluar dari rumah dan pergi setelah gue masti’in pintu terkunci. Sepanjang jalan, Kai tampak menahan kantuknya. Gue udah nyuruh anak tampan itu buat tidur saja. Tapi dia takut kalau gue tinggalin. Lha, gimana mau ninggalin? Dia lihat sendiri gue ngemas baju di kamar tadi. “Biar aku saja yang menggendongnya,” pak Bastian hendak mengambil Kai dari pangkuan gue. Tapi langsung saja Kai tepis. “Ga pa-pa, pak. Saya saja,” gue tersenyum tipis dan mengangkat tubuh Kai perlahan. Gue yang ngegendong Kai dan daddynya yang berjalan di belakang kita, terus melangkah menuju kamar yang di dekorasi layaknya galaksi. Kamar siapa lagi kalau bukan kamar Kai. “Mommy jangan pergi,” Kai bergumam. “Iya, mommy enggak pergi..” sahut gue sambil ngelus puncak kepalanya sampai dia tertidur. “Kamu gak bawa jas saya ya?” tanya pak Bastian tiba-tiba buat gue kaget. “Pak! Ini Kai baru merem!” tegur gue kesel sama sikap dia yang datang tiba-tiba. “Dia sudah tidur. Ayo kamu ikut saya!” “Ehh--” Gue ditarik paksa sama duda satu ini ke sebuah ruangan yang gue gak tahu, ini ruangan apa? Tenang-tenang, bukan ke kamar kok. “Kenapa sih, pak?!” Kesel aku tuh! Ga bisa dede di giniin! “Jas saya mana?” tanyanya dengan tangan terulur. Gue yang heran dengan sikap duda satu ini langsung membuka tas yang gue bawa.“Jas doang astaga!” ngedumel kan gue sambil ngeluarin jas mahal itu. “Nih!” gue pun ngasih jas yang udah bersih, rapi dan wangi itu ke tangannya. “Syukurlah. Aku pikir kamu menjualnya,” APA?! Hellow! Gak semiskin itu gue buat ngejual jas lu bambank! “Bapak nyebelin banget yak!” gue natap dia dengan kekesalan. “Awas kamu kangen sama saya,” balasnya dengan nada pede. “Idih! Pede bat pak!” “Harus! Jika tidak ada percaya diri, maka tujuan tidak akan tercapai.” “Serah deh pak.” “Iya terserah saya. Kan ini rumah saya.” Ya Tuhan! Kok ada makhluk semenyebalkan dia? Dia sudah tua lho! Sudah punya anak sebiji. “Kalau bapak gak ada kepentingan apapun lagi. Saya akan pergi,” gue dengan langkah seribu pun langsung ninggalin ruang itu. Gue balik lagi dong ke kamar Kai. Masa ke kamar pak Bastian, kan belum sah. Belum halal juga. Ehh, jadi secara gak langsung, gue ngatain diri haram dong? “Saya belum suruh kamu pergi. Kenapa pergi?” Ehh, anjayani! Kaget gue dia tiba-tiba muncul! Kenapa sih nih orang kayak jailangkung? “Kamu masih ada misi sama saya!” tegasnya buat gue seketika neguk ludah kasar. Mama tolong Vero!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN