Dilabrak

1166 Kata
Bastian dan Layla sampai di basement kantor. Layla yang tahu kantor siapa ini, menatap aneh pria di sampingnya. Sedangkan Bastian sendiri sudah melepaskan seat belt-nya dan keluar dari mobil. “Mau sampai kapan kamu di sini?” tanya Bastian saat membuka pintu di samping Layla. “Terus bapak ngapain ngajak saya ke sini?” tanya Layla balik dengan alis terangkat. “Kamu harus tanggung jawab,” balas Bastian. “Tanggung jawab apa? Saya kan diem aja dari tadi.” “Jas saya kotor karena kamu. Jadi kamu harus cuci jas ini!” “Ha? Laundry aja kali pak, kayak orang susah aja. Lagian ya, itu jas mahal dan saya ga berani nyuci yang mahal-mahal. Nanti di suruh ganti rugi, ruginya double!” “Kenapa ruginya double?” tanya Bastian yang masih setia bersandar di samping mobil. “Ya double. Pertama rugi karena saya buang tenaga buat nyuci. Terus kedua, kalau habis saya cuci, terus jas bapak rusak kan saya saya harus ganti rugi,” balas Layla sambil memajukan bibirnya. “Hahaha.. Sudah-sudah, ayo ikut saya!” Bastian pun menarik Layla keluar dari mobilnya dan menutup pintu mobil. Lalu mereka berjalan menuju lift dengan tangan Bastian masih menggenggam tangan Layla. Sedangkan Layla hanya bisa menunduk. Dia tidak ingin Bastian melakukan hal yang sebenarnya dia inginkan juga. Dih, ambigu si Koma! “Selamat siang, pak!” sekretaris menyambut kala Bastian tiba di depan ruangannya. “Jangan biarkan siapapun masuk!” titah Bastian yang diangguki oleh sekretarisnya. “Baik, pak.” Bastian dan Layla pun masuk ke dalam ruangan. Layla menatap kearah tangannya yang masih di genggam oleh Bastian, padahal mereka sudah masuk ke dalam ruangan. “Pak,” panggil Layla. “Apa?” sahut Bastian. “Itu tangannya,” Layla menunjuk ke arah tangan mereka yang masih tertaut. Bastian sontak melepaskan genggamannya dan mengangkat tangannya. “Maaf,” ucap Bastian dan kemudian duduk di singgasananya. “Jas bapak sini deh. Saya laundry aja nanti,” pinta Layla sambil menjulurkan tangannya. Bastian sempat lupa dengan tujuannya membawa gadis itu ke kantornya. “Nah!” dengan luwes dia melepas jas yang melekat pada tubuhnya. Layla meneguk ludah saat melihat bentuk tubuh Bastian dari balik kemeja ketat yang melekat di tubuhnya. Di ambilnya jas itu tanpa melihat kearah si pemilik. “Kalau gitu, saya permisi pak.” ucap Layla pamit dan hendak pergi, namun di tahan oleh Bastian. “Saya belum menyuruh kamu pergi, Koma.” “Ha?” Layla terkejut dengan panggilan pria di hadapannya. “Kenapa? Kamu di panggil Koma, bukan?” Bastian mengangkat sebelah alisnya. “Terserah bapak deh!” balas Layla yang hendak berbalik pergi lagi, namun kembali di tahan. “Temani saya di sini,” pinta Bastian membuat Layla menimbang. “Apa yang saya dapat jika menemani bapak di sini?” balas Layla dengan wajah menantang. “Apa yang kamu mau?” tantang Bastian balik. “Bapak jangan temui saya lagi. Saya gak bisa move on dari Kai kalau daddynya berkeliaran di sekeliling saya,” balas Layla dengan nada sedikit frustasi. “Kamu suka sama anak saya?” tanya Bastian setelah mendapatkan kalimat ambigu dari gadis dihadapannya ini. “Iya pak. Saya suka sama Kai. Anak tampan begitu, siapa coba yang ga suka?” jawab Layla dengan wajah frustasi. “Ohh, huft! Syukurlah,” Bastian sedikit bernafas lega setelah mendengar jawaban Layla. Dia pikir dia akan bersaing dengan putranya sendiri. Yang benar saja?! “Jangan move on kalau gitu,” Bastian kembali duduk di tempatnya setelah berhasil mendudukkan Layla dihadapannya. “Dih! Bapak gimana, sih? Kemarin suruh saya buat jauhin Kai. Sekarang malah ngomong jangan move on!” Layla menekuk wajah kesal dengan pria dihadapannya. “Kapan saya suruh kamu jauhi anak saya?” “Semalam, pak!” “Coba kamu ingat lagi kata-kata saya semalam.” “Saya pikir bapak mau ngebahas SIM, ternyata nyuruh jauhin Kai.” “Inget lagi, Koma!” “Layla, pak! L-A-Y-L-A. Layla!” Layla yang gemas sampai mengeja namanya sendiri. “Iya terserah,” sambil menatap komputer, Bastian menyahuti semua ucapan Layla. Namun perhatiannya teralih kala gadis itu menyebutkan kata yang terdengar aneh ditelinganya. “SIM? Apa maksud kamu ngebahas SIM?” tanya Bastian menatap tajam Layla. “Ehh, enggak pak. Ga ada maksud apa-apa,” Layla merutuki mulut kerannya. Sedangkan Bastian yang akhirnya paham apa arti kata itu hanya tersenyum tipis. “Sabar ya, tunggu kamu selesai kuliah. Baru saya coba dapat SIM kamu dari mamamu,” balas Bastian membuat Layla membulatkan matanya. “Maksud bapak?” “Jangan panggil saya bapak. Panggil saya mas, atau sayang juga boleh.” Bastian mengedipkan matanya membuat Layla menatap aneh duda ekor satu itu. “Bapak kelilipan?” “Panggil mas atau sayang?” “Ga mau!” “Mau saya cium?” “Mau. Eh-enggak pak! Jangan macam-macam pak!” “Saya gak macam-macam kalau kamu cuma satu macam.” “Bapak aja, pak. Inget umur!” “Saya tidak setua itu, Koma!” “Saya Layla, pak! Bukan Koma!” Mata sengit dari keduanya beradu. Aura yang tadi sempat hangat, tiba-tiba menjadi panas. “Permisi, pak.” Sekretaris masuk ke dalam ruangan dan tiba-tiba terkejut dengan atasannya yang sedang beradu tatap dengan gadis dihadapannya. “Ah, sebaiknya nanti saja.” Sekretaris itu pun keluar dengan perlahan. “Siapa perempuan itu?” gumamnya. Tak lama kemudian, Layla terkejut saat menatap jam pada layar laptop pria dihadapannya yang terbuka. “Pak! Saya ada kelas, lho..” Layla seketika panik dan langsung menenteng jas Bastian yang kotor. “Saya akan mengantar kamu,” Bastian yang mendengar itu pun mau tak mau bangkit dari kursinya dan mengambil kunci mobil dari dalam laci. “Saya berangkat sendiri aja, pak.” “Saya tidak terima bantahan, Koma!” Layla yang mendengar itu pun menghela nafas kasar dan mengangguk. “Yaudah iya-iya..” Keduanya pun keluar dari ruangan dengan diiringi beberapa tatapan mata yang menatap curiga sekaligus penasaran. Siapakah gadis yang memegang jas milik bos mereka? Sedangkan beberapa orang melirik pada postur tubuh Bastian yang sangat menggoda menurut mereka. “Abaikan saja mereka,” bisik Bastian tepat di telinga Layla saat mereka berada di dalam lift. “Saya punya mata dan telinga, pak. Ya kali gak liat dan gak dengar,” dengus Layla sebal. Bastian yang mendengar itu pun menutup telinga Layla dengan kedua tangannya. Sedangkan yang diperlakukan seperti itu membulatkan matanya terkejut. “Saya cuma bisa tutup telinga kamu sekarang. Nanti akan ada waktunya mereka tidak lagi bisa menatap dan membicarakan kamu seperti itu.” Layla yang mendengar jelas ucapan pria disampingnya hanya bisa terdiam. Hatinya tergelitik mendengar pernyataan itu. Padahal alasan dia mengikuti pria ini untuk memberi peringatan agar menjauhi dirinya. Namun jika perlakuan yang dia dapat seperti, dia harus apa? Tring! Suara pintu lift terbuka menyadarkan Layla dari posisi canggung keduanya. “Sudah, pak. Saya gak pa-pa,” ucap Layla yang berjalan maju melepas tangan yang membungkus kedua telinganya untuk sesaat tadi. “Baiklah. Ayo saya antarkan kamu,” Bastian berjalan mendahului Layla yang menunduk dengan pipi memerah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN