Bastian si calon suami

1466 Kata
Layla melamun sepanjang kelas berlangsung. Tangannya memang menari di atas kertas binder miliknya, namun pikirannya melalang buana. Tia yang sedari tadi mencoba fokus ke depan, jadi teralihkan karena Layla yang tiba-tiba aneh. “Baiklah sekian pertemuan kita hari ini,” ujar dosen di depan yang langsung keluar dari kelas meninggalkan mahasiswanya yang masih berkemas. “Koma! Lu kenapa sih?” tanya Tia yang bingung dengan tingkah aneh Layla. “Ikut gue ke café depan kantor pajak,” Layla menarik tangan Tia dan menenteng tas juga bindernya. “Ehh, lu mau naik apa?” tanya Tia saat mereka tiba di parkiran. “Motor lu lah!” sahut Layla yang dihadiahi tatapan datar oleh Tia. “Dasar Koma!” umpat Tia yang langsung mengambil motornya. “Ayo!” ajak Tia saat motornya berhenti di depan Layla. Mereka pun pergi meninggalkan kampus menuju café yang disebutkan Layla tadi. Jaraknya tak terlalu jauh dari kampus mereka. Tapi karena jalan yang harus memutar, jadinya memakan waktu. Setelah tiba di café itu, mereka langsung mencari tempat nyaman untuk bercerita. Tia memesan segelas smoothies dan Layla memesan segelas jus melon. “Jadi sekarang cerita kenapa lu mendadak pindah dari kosan dan kenapa dari tadi lu bengong aja kek cicak gak dapat jatah?!” ucap Tia langsung membombardir Layla dengan pertanyaan-pertanyaan. “Gue pindah gara-gara si abang kumpret gue. Dia kemarin tuh mau nginap di kosan. Tapi gara-gara kosan kita cuma sepetak, dia ngadu sama oma. Oma akhirnya nyuruh mama buat nyari rumah di deket kampus. Rumah, Ya.. Lu bayangin aja. Gue yang mageran ini dikasih rumah buat dirawat dan dijaga sepenuh hati kaya malika si kedelai hitam kecap bango,” Layla bercerita panjang sambil mengaduk kesal jus melon yang baru saja datang. Tia yang mendengar cerita melankolis sahabatnya itu, hanya bisa memasang raut wajah prihatin. “Jadi itu alasan lu bengong di kelas tadi?” “Ya enggak.” Seketika wajah prihati Tia berubah menjadi datar. Nih bocah maksudnya apa, coba? “Andai multilasi gak dosa, udah gue lakuin sekarang,” gumam Tia pelan. Layla yang mendengar itu menaikkan alisnya. “Lu bilang apa, Tia? “Enggak.. Gak ada,” balas Tia dengan senyum lebar. Layla hanya mengangguk dan memilih untuk menatap ke luar jendela. Dia masih ingat percakapannya dengan Bastian semalam. “Mama kamu nyuruh saya jauhin Kai dari kamu.” Layla yang mendengar itu terdiam di tempatnya berdiri. Lalu tatapannya kembali pada pria di hadapannya itu. “Lalu apa yang bapak katakan pada mama saya?” tanya Layla penasaran. “Maaf Layla. Saya tidak bisa lakukan itu,” Bastian menghela nafasnya. “Itu kenapa mama saya kemarin terlihat kesal?” Layla menebak. “Mungkin saja. Saya tahu maksud mama kamu baik. Dia ingin kamu fokus pada pendidikan kamu dulu dan tak ingin Kai menelan kekecewaan kalau kamu tak akan pernah jadi mommynya.” Layla kembali terdiam. Tidak akan pernah jadi mommy Kai? Apa dia sudah jatuh sedalam itu? Menginginkan status itu? Status sebagai mommynya Kai? “Saya gak paham maksud bapak. Tapi saya akan coba buat jaga jarak dengan Kai,” Layla pergi setelah mengatakan itu. “Layla! Bukan begitu maksud saya!” “Koma!” “Layla Verona Troyes!” seru Tia untuk yang kesekian kalinya. “Ha? Apa?” dengan wajah cengo, Layla mengalihkan tatapan pada Tia yang ada di hadapannya. “Lu ngomong apa?” tanya Layla. “Lu belum cerita udah ngelamun lagi, ck!” Tia menatap jengah Layla. “Maaf Tia. Gue lagi dilema,” ucap Layla sambil menghembuskan nafas berat. “Udah kayak lagu cherrybelle aja. Tuhan, tolong aku..” “Gak usah pake nyanyi juga!” Layla melempar Tia dengan tisu bekasnya. “Koma! Lu jorok banget sih?!” jerit Tia. “Hahaha..” Layla tertawa dan pikirannya yang sedikit plong. “Boleh dong gue main ke rumah lu kalau gitu?” ucap Tia sambil menaik-turunkan alisnya. “Main aja. Asal betah sama nyonya Troyes dengan segala macam interviewnya,” balas Layla yang terkikik di tempatnya. “Tunggu emak tercinta lu balik ke Aussie lah,” balas Tia dengan entengnya. “Iyain buat lu.” Lalu pembicaraan mereka pun berlanjut tentang seputar kampus dan seputar kegiatan. Hingga sebuah bentakan mengintrupsi pembicaraan mereka. “Heh cabe!” Layla dan Tia sontak menoleh ke arah cewek yang tiba-tiba datang menggebrak meja mereka. “Mirror, please!” balas Tia dengan nada tawa. “Lo ga usah sok-sokan rebut Revan dari gue!” bentak cewek itu yang buat Tia dan Layla saling pandang. “Excuse me! Lu ceritanya lagi ngelabrak sapose?” tanya Tia membuat Layla menahan tawanya. Pasalnya cewek yang menggebrak meja mereka ini datang tiba-tiba dan langsung marah-marah tanpa tahu siapa korban yang akan jadi pelampiasannya. “Lo lah!” tunjuknya pada Tia. “Lha? Gak salah orang ente?” Tia tertawa remeh. “Labrak orang masa salah?” Layla menimpali dan mereka pun tertawa. “Sialan!” cewek itu pun mengambil jus yang ada di hadapan Layla dan berniat menumpahkannya. Namun.. Byar “Aaa!” mereka terkejut saat seorang pria dengan mata kharisma menatap nyalang ke arah cewek yang menumpahkan jus itu ke tubuhnya. “Apa yang anda coba lakukan?” suara bass dan seksi terdengar di indra pendengaran setiap mereka. “A-aku.. Eh-saya.. ” cewek itu tergagap di tempatnya. Sedangkan Layla yang mengetahui siapa pemilik tubuh kekar di hadapannya, memilih diam. “Pergilah, sebelum anda dipermalukan!” Setelah menatap ke sekelilingnya, gadis itu pun pergi meninggalkan café. Tia yang sedari tadi tak berkedip, tiba-tiba sadar saat pria itu membalikkan tubuhnya pada Layla. “Kamu baik-baik saja?” tanya pria itu dengan raut khawatir. “Em. Saya baik-baik aja, pak.” balas Layla. “Wait a minute!” Tia mengintrupsi dua orang di hadapannya. “Kalian saling kenal?” Layla menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan pria dengan jas yang sudah basah itu untuk duduk di sampingnya. “Duduk pak.” “Kok lu ga pernah ngasih tau?” tanya Tia tiba-tiba. “Inget anak yang pernah gue bawa ke kampus?” Layla balik tanya dengan tangan sibuk membersihkan tetesan jus yang mengenai meja. “Ini daddynya,” sambung Layla sambil menunjuk ke arah Bastian. “Ha?! Lu becanda kan, Ma?” Tia menggeleng tak percaya. “Gue serius!” Layla melayangkan tatapan serius pada teman dekatnya itu. “Saya Bastian. Calon suami Layla,” Bastian dengan mantap memperkenalkan dirinya pada Tia. “APA?!” “HA?!” Dua sahabat itu pun menganga tak percaya dengan kalimat yang keluar dari mulut Bastian. Tiba-tiba datang menjadi super hero, lalu memperkenalkan diri sebagai calon suami orang? “Pak! Bapak kalau ngomong jangan yang enggak-enggak, dong!” tegur Layla dengan raut kesal. “Saya serius,” ucap Bastian dengan keseriusan penuh. Layla menggelengkan kepalanya dan mengeluarkan ponselnya. Sedangkan Tia hanya bisa memperhatikan dari tempatnya duduk. Tak ada niatnya untuk mengganggu pasangan beda usia di hadapannya itu. “Kalian sudah tidak ada kelas?” tanya Bastian membuka pembicaraan. “A-ada pak,” ini Tia yang menjawab. Sedangkan Layla hanya diam. “Santai saja dengan saya. Panggil abang saja,” ucap Bastian yang langsung mendapat tatapan aneh dari gadis di sampingnya. “Abang? Inget umur, pak..” “Saya tidak setua itu, Layla.” “Koma! G-gue cabut dulu ya. Inget kelas jam 3!” Tia pamit karena tak tahan dengan suasana canggung di sana. “Ehh, gue ikut!” Layla buru memasukkan ponselnya dan hendak bangkit, namun tertahan dengan tubuh Bastian. “Pak, bisa geser? Saya mau pergi,” Layla meminta izin. “Tidak.” Bastian menyandarkan tubuhnya dan itu membuat Layla kesal. “Ga pa-pa, Ma. Gue sendiri aja,” Tia mencegah Layla mengikutinya. “Pak-ehh bang. Saya titip temen saya ya. Jangan sampai lecet, nanti bisa di gorok nyonya Troyes.” Tia mengingatkan. “Tentu saja! Kamu hati-hati,” ucap Bastian yang diangguki oleh Tia. “Ehh, Tia! Jangan tinggalin gue!” seru Layla saat Tia sudah keluar dari café dan meninggalkannya bersama duda di sampingnya. “Kamu ikut saya!” Bastian menarik tangan Layla dan pergi meninggalkan café. “Ehh, tapi saya belum bayar minumannya pak!” Layla teringat dengan pesanannya yang belum di bayar, walau dia baru minum sedikit. “Sudah saya bayar,” balas Bastian yang langsung menjalankan mobil meninggalkan café itu. “Pak! Jangan culik saya. Saya janji ga akan deket-deket atau telpon-telpon atau--” Cup “Kamu berisik!” ucap Bastian setelah melayangkan kecupan di pipi Layla, membuat gadis itu langsung terdiam. “Hua pak! Apa yang bapak lakukan?!” jerit Layla membuat Bastian kaget dan langsung menepikan mobil. “Layla! Kamu kalau teriak-teriak atau bawel lagi. Bukan pipi yang akan saya cium, tapi bibir kamu!” ancam Bastian membuat Layla langsung menutup mulutnya. “Duduk diam!” perintah Bastian yang langsung dilaksanakan oleh Layla. Bastian tertawa dalam hati dan kembali menjalankan mobil dengan Layla yang tak melepaskan tangannya dari mulut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN