Layla POV
“Mommy suap Kai!” seru Kai buat gue yang lagi coba netralin kegugupan di sini langsung noleh ke arah anak tampan itu.
“Ha?” gue cengo sebentar.
“Mommy ga mau?”
Kan-kan! Gue belum jawab padahal.
“Iya-iya, kakak suapin.” balas gue cepat.
Asal kalian tau aja, ini posisinya cukup ambigu. Jadi daddy Kai duduk di ujung kanan, Kai di tengah dan gue di ujung kiri. Ya intinya itu ngapit si Kai dan sekilas kayak keluarga kecil. Sedangkan ibu negara duduk di depan kita dengan ekspresi ga terbaca.
“Jadi Layla, bisa ceritain gimana nemuin cucu saya?” tanya ibu negara tiba-tiba.
“Ehh, iya boleh bu.” sahut gue dan gue pun ceritain kejadian malam itu dari gue temuin Kai sampai dia di bawa sama pak Aldi.
“Masakan mommy enak, grandma! Kai mau mommy masakin Kai lagi,” Kai bersuara. Gue yang dengar itu melebarkan mata.
“Ehh, enggak bu. Saya cuma masak telur ceplok aja waktu itu,” ralat gue. Entar kalau ekspektasi ibu negara terlalu tinggi buat gue, kan bisa salah paham.
“Bas! Letak dulu Hp-nya kenapa?” tegur ibu negara pada daddy Kai yang sedari tadi mainin hape mahalnya.
Makanan pun datang dan tersaji di hadapan kami. Kai menatap senang dengan makanan dihadapannya. Lalu kami pun mulai menyantap satu persatu hidangan itu.
“Ayo Kai buka mulutnya,” perintah gue sambil melayangkan sesendok nasi di depan mulutnya.
“Am! Nyam-nyam, enak mommy!” seru Kai yang gue balas senyuman. Jadilah gue makan sepiring berdua sama Kai. Udah kayak orang nge-date aja, tapi ini nge-date nya sama bocil.
“Kamu kenapa mau di panggil mommy, La?” tanya ibu negara di saat gue sambil nyuapin si Kai yang asik dengan kunyahannya.
“Layla cari aman, bu.” balas gue sambil menyendokkan nasi ke mulut.
“Maksudnya?”
“Layla udah pernah jelasin sama Kai, tapi dia malah mau nangis.” jelas gue saat nasi udah lewatin kerongkongan.
“Mommy mau lagi!”
“Iya-iya. Sabar anak tampan,”
Gue ga tahu, ini si Kai mommy aslinya mana? Apa dia ga sakit hati anaknya manggil orang lain mommy?
“Ohh begitu,” ibu negara ngangguk-ngangguk.
“Iya bu. Tapi nanti Layla coba ajarin Kai panggil kakak, bukan mommy lagi.”
“Enggak! Mommy tetap mommy!”
Yaelah bocil! Denger aja orang tua ngomong.
“Hahaha.. Ga pa-pa,” si ibu negara malah ngomong begitu.
“Ma. Jangan mulai,” nah itu si bapak-bapak yang dari tadi diam malah nyahut.
Kita pun lanjut makan dengan beberapa percakapan di selip ibu negara. Sampai akhirnya kita semua kenyang. Gue dengan sigap pun bantu Kai bersihin mulutnya yang cukup belepotan. Namanya aja bocil. Mau di suap juga pasti tetep belepotan ujungnya.
Gue liat jam di hape dan ternyata udah jam 2. Hadeh! Kalau di sini terus, gue ga dapat gandengan dong.
“Layla ada janji ya?” tanya ibu negara tiba-tiba.
“Ha? Eh, eng.. iya bu!” balas gue cepat. Untung otak cepat proses. Kalau gue bilang enggak, pasti gue bakal di tahan di samping mereka. Kalau gue bilang iya, pasti gue bisa melalang buana. Haha!
“Ohh, kalau begitu biar di antar sama Babas aja ya.”
Ha? Apa? Diantar sama si bapak-bapak?
“Ehh, ga usah bu. Saya sendiri aja,” tolak gue dengan senyum canggung sambil ngelirik ke arah samping, tempat daddy Kai duduk.
“Ga pa-pa nak. Anggap aja kami berterima kasih karena kamu mau mengasuh dan menjaga Kai kemarin,” ucap ibu negara dengan tatapan memohon.
Kok jadi gini sih? Gue kan niatnya mau lepas. Kenapa malah di jebak?
“Udah ma. Kalau dia ga mau, jangan di paksa.” timpal pria itu buat gue dan ibu negara noleh.
“Mama ga ngomong sama kamu!” ibu negara menatap tajam anaknya itu.
“Mommy ikut daddy aja ya,” ucap Kai sambil mengucek matanya. Sepertinya anak tampan itu ngantuk.
“Kai ngantuk?” tanya gue yang di balas anggukan oleh Kai.
“Pak, anaknya ngantuk tuh.” gue coba tegur pria di samping.
“Ayo ma kita pulang,” ajak daddy Kai.
“Ayo Layla. Kamu juga ikut, dianter sama daddy Kai.”
“Ayo mommy,”
Hadeh! Mau ga mau ini mah.
“Iya deh,” gue ngangguk dan Kai langsung meluk dari samping.
Kita pun keluar dari tempat makan itu dengan gue yang gendong Kai. Sedangkan bapak-bapak itu ke kasir bayar pesanan kami.
“Nak Layla di sini tinggal sama orang tua atau saudara?” tanya ibu negara.
“Ehh, saya nge-kos bu. Seperti cerita saya tadi nah, kalau saya tinggal di kosan dekat perumahan itu.” jelas gue.
“Mandiri berarti ya,” tambah beliau yang gue balas cengiran doang.
“Memang orang tua kamu tinggal di mana?” tanya beliau lagi.
“Orang tua saya di Aussie, bu.”
Ga ngarang kok! Emang mama sama papa di sana.
“Lho, kok kamu malah pilih kuliah di sini?”
“Itu--”
“Sudah, ayo!” interupsi daddy Kai yang tiba-tiba muncul dan langsung mengambil Kai dari gendongan gue.
“Ayo,” ibu negara pun gandeng gue buat jalan duluan dengan anaknya ngawal kita dari belakang.
Di mobil, gue minta buat duduk di belakang karena Kai mau tidur sama gue. Elah ni bocil kenapa jadi manja sama gue? Jadilah gue ngusap-ngusap rambutnya Kai sambil sesekali nanggapin ucapan ibu negara. Sedangkan daddy Kai sibuk nyetir.
“Layla ga mau mampir dulu?” tanya ibu negara saat kita sampai di komplek perumahan elit ini.
“Enggak bu, terima kasih.” gue nolak halus ajakan ibu negara.
“Lain kali mampir ya. Udah punya nomor ibu kan?” ucap beliau yang buat gue balas senyum canggung.
“I-iya bu. Lain kali,” balas gue dan tak lama daddy Kai keluar dari dalam rumah.
“Bas, antar Layla!” perintah ibu negara yang diangguki oleh pak Bas. Sumpah gue bingung mau manggil dia apa.
Pak Babas?
Daddy Kai?
Bapak-bapak?
Bapak anak-anak? Ehh--
“Hey!” tegur daddy Kai buat gue sedikit berjingkit kaget.
“Gak mau diantar?” dia natap gue dengan tatapan datar. Senyum dikit bisa kali pak! Gimana mau jadi kandidat calon laki Layla kalau senyum ke calon istri aja pelit.
Apaan sih La? Makin gak bener otak lu!
“Gak mau?” tawarnya lagi yang gue balas pelototan.
“Sabar, pak. Ini pamit dulu sama ibu,” balas gue.
“Layla pamit ya bu,” gue mencium tangan ibu negara dan pamit masuk ke dalam mobil anaknya yang tampan itu.
Setelah mobil Pajero itu keluar dari komplek perumahan, gue bingung dengan arah yang berlawanan menuju alamat kosan yang gue sebutin ke dia.
“Pak! Kita mau ke mana? Ini bukan arah ke kosan saya!” gue natap ke jalan di belakang mobil yang semakin lama semakin menjauh dari jalan menuju kosan.
“Temani saya sebentar ke kantor. Ada file yang harus saya ambil,” balasnya enteng.
“Pak! Saya ada janji dengan teman saya,” gue yang mendengar jawabannya protes dengan cepat.
“Saya tahu itu alasan kamu aja.”
K-kok nyebelin sih?!
“Au dah! Terang!”
Pasrah udah, pasrah aja La! Susah debat sama bapak-bapak.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang membuka pembicaraan. Gue yang bosan pun buka ponsel pintar yang ternyata.. Yailah gak ada batrai. Sial banget gue!
“Pak, bisa numpang cas hape gak?” gue natap hati-hati pria di samping gue.
“Bisa,” balasnya sambil ngasih kabel cas ke gue.
“Makasih pak,” gue pun langsung cas hape gue yang drop itu dan coba hidupin.
Trrrriiiiinnngggg
Ebuset! Banyak amat notif.
“Kenapa?” tanya pria di samping gue yang mungkin ikutan kaget.
“Gak tau,” balas gue. Tanpa basa-basi gue pun langsung cek satu-satu notif yang masuk.
Lha, Tia ngapain spam sih?
Tia : Komaaaa ada drakor baru
Komaa
K
O
M
A
EMAK LU NELPON GUE OII!!!
ANGKAT MAA
KOMA MATI FIX
MAMPUS LU GUE SPAM
AKU TAK TAU SI KOMA MAU MAKAN MADUUU
KOMAAAA
Dan selebihnya dia spam stiker. Emang ajaib punya temen kayak Tia. Gue pun buru-buru buka chat dari mama.
Mama bawel : Mama lusa ke Indonesia
MAMPUS!
“Kenapa?” tanya daddy Kai sambil melirik ke arah hape gue.
“Lha, bagus kan? Mama kamu kunjungan?” ucapnya yang gue balas ringisan.
“Iya bagus, pak. Tapi ini tiba-tiba buat saya,” balas gue. Masalahnya kalau mama liat isi kulkas yang kosong dan beras, juga bahan makanan gue yang amburadul, tamat gue!
“Aneh kamu,” ucap pria itu sembari keluar dari mobil tanpa ngajak gue. Ya ngapain juga pakai ngajak lu, La? Lagian ini kapan sampainya? Kok gak kerasa sih?
Drrtt Drrttt
Mama bawel calling..
Tamatlah riwayatmu Layla!
“Halo ma?”
“LAYLA VERONA TROYES!”
RIP Kuping