“Sah?”
“SAH!”
Semua pun menundukkan kepala menghantarkan doa untuk pasangan baru yang ada di pelaminan sana.
“Mama kenapa gak pergi sama papa aja sih?” tanya Layla dengan suara berbisik.
“Papa kamu itu dosen! Bukan pengusaha yang punya kantor di mana-mana,” balas Erlina-mama Layla dengan suara tak kalah pelannya.
“Iya-iya ma,”
Selanjutnya Layla hanya diam mengikuti mamanya. Ternyata nyonya Troyes itu datang ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan temannya. Seperti yang di jelaskan Erlina, suaminya yang berprofesi sebagai dosen tidak bisa hadir. Jadilah dia dan putrinya yang hadir.
“Ma. Vero ke stand makanan ya,” Layla meminta izin.
“Makan mulu!” Erlina kesal dengan tingkah putrinya yang tak jauh beda dengan dirinya muda dulu.
“Mama juga dulu gitu, kan? Ketemu papa di stand makanan nikahan orang,” Layla menyindir.
“Hus! Kamu itu,” Erlina menepuk bahu putrinya yang mengungkit masa lalunya.
“Gak pa-pa ma. Siapa tahu Vero kayak mama, ketemu calon Vero di stand makanan,” Layla menaik-turunkan alisnya.
“Pendidikan dulu, Verona!” Erlina menasehati.
“Iya-iya nyonya Troyes,” Layla pun memilih diam dan mengikuti langkah mamanya kemanapun beliau melangkah.
Bingung kenapa panggilan Layla banyak? Oke mari kita kembali ke belakang sebentar. Layla di panggil Koma oleh anak-anak kampusnya. Layla adalah nama umumnya. Sedangkan Verona adalah nama kecilnya. Awalnya keluarga Layla memanggil namanya Layla. Namun entah kenapa nama itu membuat bayi Layla tak nyaman dengan terus menangis dan sering sakit. Kata orang tua Erlina, cucu mereka keberatan nama. Itu kenapa Verona menjadi nama kecilnya sampai sekarang, bagi keluarganya.
“Koma!” Revan muncul dengan setelan jas membuat Layla menoleh. Sedangkan Erlina masih sibuk mencari kenalan yang bisa di ajak berbincang.
“Revan?” Layla cukup kaget bertemu dengan sosok Revan di pesta ini. “Kok lu bisa di sini?”
“Bisalah. Emang aneh gue di pesta nikahan orang?” Revan balik tanya membuat Layla menggeleng.
“Siapa Ver?” tanya Erlina membuat Layla dan Revan menoleh ke arah wanita paruh baya di dekat mereka.
“Ini Revan, ma. Teman kampus Vero,” Layla mengenalkan Revan pada mamanya.
“Revan, tante.” Revan mencium tangan Erlina, menghormati.
“Saya Erlina. Mamanya Vero,” Erlina ikut memperkenalkan diri.
“Eh-iya tante,” Revan tampak segan dengan aura Erlina.
“Kamu sama siapa ke sini?” tanya nyonya Troyes itu tanpa melihat kesekeliling.
“Sama mama juga kebetulan tan,” jawab Revan dan tak lama muncul sosok wanita paruh baya.
“Erlina?”
“Lho, Meliana?”
Layla dan Revan saling pandang dengan tatapan bertanya.
“Udah lama gak liat ihh,” Meliana tertawa melihat Erlina-teman SMP nya dulu.
“Iya. Soalnya belum selesai kuliah udah langsung di bawa lari sama papanya si Vero,” balas Erlina dengan senyum malu.
Sementara para ibu-ibu berbincang, Revan dan Layla masih menyimak di tempat. Layla mendekatkan diri pada Revan dan membisikkan sesuatu.
“Percaya gak percaya, itu cuma basa-basi.”
“Keliatan banget,” Revan mengangguk menyetujui.
“Kenapa ibu-ibu kayak gitu ya?”
“Lu juga bakalan jadi ibu-ibu nanti, ogeb!”
“Iya sih. Tapi gue gak mau begitu,”
“Bagus deh. Kalau iya, gak ngerti gue ngadepin lu nanti.”
Layla menaikkan alisnya. Apa maksud Revan?
“Ohh, ternyata kamu di sini?!” Meliana menghampiri Revan.
“Ehh ma,” Revan menghindar sebelum tangan sang mama hinggap di telinganya.
“Ohh, dia anak mu?” Erlina cukup terkejut dengan kebetulan ini.
“Iya. Aku dari tadi mencarinya, malah di sini bersama seorang gadis,” Meliana menatap tajam Revan. Namun Revan hanya memperlihatkan deretan gigi depannya.
“Ohh. Dia hanya menyapa putriku,” Erlina mendekati Layla membuat Meliana sedikit terkejut.
“Dia putrimu?” tanya Meliana yang di balas anggukan oleh Erlina.
“Iya. Namanya Vero,” Erlina melempar kode pada sang anak.
“Vero, tante.” Layla mengambil tangan Meliana dan menciumnya.
Budaya Indonesia, mencium tangan sebagai tanda hormat pada yang lebih tua.
“Cantik,” puji Meliana membuat Layla sedikit tersipu. Sedangkan Erlina tampak bangga.
“Terima kasih, tante.”
Mereka pun lanjut berbincang sampai Erlina duluan yang memutuskan untuk undur diri. Layla yang sedari tadi tampak risih dengan pembicaraan ibu-ibu di hadapannya, bersorak girang dalam hati.
“Akhirnya ma,” bisik Layla membuat Erlina menatap tajam putri satu-satunya itu.
“Udah ayuk kita cepat pulang!” perintah Erlina membuat Layla cengo.
“Tapi kita belum makan ma!” protes Layla.
“Kita makan di resto aja,” ucap Erlina membuat mata Layla berbinar.
“Mama the best!” seru Layla sambil memeluk tubuh sang mama.
“Baru tau kamu? Kemana aja?” Erlina mendelik.
Menyesal saya memuji nyonya Troyes ini, gumam Layla.
“Mommy!” seru anak kecil yang sangat Layla hafal.
“Kai?” Layla kaget melihat Kai ada di meja keluarga pengantin.
“Kai sama siapa?” tanya Layla setelah berdiri di hadapan anak tampan itu.
“Siapa?” Erlina menatap tajam Layla. Bukan tanpa alasan. Dia mendengar anak itu memanggil putrinya mommy.
“Namanya Kai, ma.” jawab Layla membuat Erlina menaikkan alis.
“Kenapa manggil kamu mommy?” tanya Erlina telak.
“Ha? I-itu karena..” Layla bingung ingin menjawab apa.
“Daddy!” Kai memanggil pria yang membuat Layla semakin mati kutu.
“Kai! Daddy sudah bilang jangan pindah-pindah,” tegur daddy Kai-Bastian.
“Ada mommy, dad!” seru Kai kegirangan. Sedangkan Erlina yang sedari tadi memperhatikan dari tempatnya berdiri meminta penjelasan.
“Pak!” cicit Layla membuat Bastian menatapnya.
“Jelasin sama mama saya,” Layla menunjuk nyonya Troyes itu melalui ekor matanya.
“Ohh. Kalau begitu, kamu bawa Kai dulu.” perintah Bastian yang diangguki oleh Layla.
“Ma. Biar pak Bastian yang jelasin,” ucap Layla yang dibalas anggukan oleh Erlina.
Layla pun membawa Kai sedikit menjauh dari dua orang dengan selisih umur yang mungkin cukup jauh itu.
“Mommy kenapa gak temanin Kai bobok kemarin?” tanya Kai saat mereka sudah dalam radius cukup jauh dari Bastian dan Erlina.
“Kakak kan punya rumah sendiri. Nanti kalau temanin Kai bobok, rumah kakak siapa yang jaga?” Layla menjelaskan.
“Suruh om Didi aja yang jaga,” timpal Kai membuat Layla tertawa.
“Om Didi itu jaga Kai aja. Jangan jaga rumah kakak,” balas Layla. Sebenarnya dia bingung memfilter kata-kata untuk Kai konsumsi. Dia jadi penasaran dengan kata-kata yang pernah tak sengaja Kai dengar dari dirinya atau dari Tia. Apa anak itu mempraktekkan nya di rumah?
“Mommy pulang sama Kai dan daddy ya,” pinta anak tampan itu dengan wajah memelas.
“Maaf ya anak tampan. Mamanya kakak datang, jadi kakak harus pulang sama mama kakak.” jelas Layla membuat wajah tampan itu menunduk. Layla tak tega sebenarnya. Namun apa daya, nyonya besar sedang berkunjung. Tak mungkin dia merengek seperti Kai untuk meminta izin?
“Vero, ayo pulang!” tiba-tiba Erlina menarik putrinya untuk meninggalkan ruang pesta.
“Ehh-mama kok buru-buru?” Layla kaget dengan mamanya yang tiba-tiba menariknya. Sedangkan Kai tampak menangis dalam gendongan daddynya.
Apa yang terjadi?