Cerita singkat

1546 Kata
Bastian benar-benar mengantarkan Layla pulang ke rumahnya, setelah drama Kai yang tak ingin Layla pergi. Sepanjang jalan, Layla hanya diam. Bastian pun memilih diam saja, entah kenapa jadi canggung seperti itu. Setibanya di pekarangan rumah Layla, Bastian memarkirkan mobilnya dan ikut keluar dari mobil. Layla yang tak ambil pusing langsung masuk ke dalam rumah. “Koma,” panggil Bastian membuat Layla yang awalnya cuek, menjadi berbalik menatap ke arah Bastian. “Kamu tidak menawarkan saya untuk masuk?” tanya Bastian membuat Layla menatap malas. “Silahkan masuk, pak.” Layla pun mengajak Bastian untuk masuk ke dalam rumah dan membiarkan pintu untuk tetap terbuka. “Bapak duduk dulu di sini. Saya mau ke kamar letak tas,” ucap Layla yang di angguki oleh Bastian. Layla pun berjalan ke arah kamarnya dan mulai membongkar isi dalam tas dan menatanya. Dia tak perduli jika Bastian harus menunggu lama. Lagi pula percuma pulang ke rumah cepat-cepat, kalau Bastian masih mengganggunya dengan bertamu. Bastian yang sedikit bosan menunggu Layla, mulai berselancar di emailnya. Sesekali dia mengalihkan tatapan ke arah anak tangga, jaga-jaga Layla muncul kembali. “Bapak sejak kapan mengenal abang saya?” tanya Layla yang tiba-tiba muncul dengan nampan di tangannya. Bastian sedikit terkejut dengan kehadiran Layla yang tiba-tiba. “Kamu kenapa bisa muncul dari dapur?” Layla yang di tanya seperti itu langsung melirik ke arah dapur. “Kan tangga di rumah ini ada 2. Satu di dekat pintu utama dan satu lagi akses dapur,” jelas Layla. “Pantas saja,” gumam Bastian pelan. “Kenapa? Bapak nunggu saya turun dari sana ya,” tunjuk Layla pada anak tangga yang tak jauh dari mereka. “Iya. Saya nunggu kamu yang letak tas saja lama sekali,” keluh Bastian membuat Layla tertawa pelan sambil menuangkan minuman di gelas Bastian. “Sengaja, biar bapak bosen dan pamit,” balas Layla sembarangan. “Jadi kamu mau saya pergi?” Bastian menaikkan alisnya dengan ucapan polos Layla. “Bapak sangat paham maksud saya bukan?” Layla melempar senyum lebar. “Sayangnya saya tidak mau,” Bastian menyeringai di tempatnya. “Kai nunggu bapak di rumah. Bapak pulang gih,” “Kai di bawa kabur sama Aldi.” “Nah itu anak bapak di bawa kabur, masa gak marah?” “Kenapa saya harus marah? Kan Aldi adik saya,” “Terserah deh, pak!” “Kamu ganti panggilan saya bisa?” “Kenapa harus?” Bastian menghembuskan nafas berat dan menatap tepat di manik Layla. Layla yang di tatap seperti itu, membatu di tempat. Dia harus bisa menahan sesuatu yang tidak boleh terjadi di antara mereka. “Karena saya tidak setua itu untuk kamu panggil bapak,” jawab Bastian sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Layla yang tak bergerak se-inci pun. “Pak, tolong jaga jarak.” Layla mengingatkan posisi mereka yang sangat dekat. Bastian yang mendengar itu tersenyum dan memundurkan tubuhnya. “Bapak tidak ada kerjaan? Betah banget di rumah saya,” Layla kesal dengan Bastian yang masih saja berada di rumahnya. “Kerjaan saya hari ini menjagamu,” balas Bastian santai. “Saya sudah besar, pak. Mahasiswi semester 5, jadi bapak bisa meninggalkan saya.” “Nah karena kamu mahasiswi semester 5, saya harus menjamin kamu wisuda cepat agar bisa menjadi istri saya.” “Halu!” Layla membuang wajahnya ke arah lain agar tak bertatapan dengan pria di sampingnya. Entahlah, mungkin wajahnya saat ini sedang merona-malu mendapat kalimat bucin seperti itu. “Koma,” panggil Bastian yang di tulikan oleh Layla. “Koma,” lagi Bastian memanggil. “Mommy Kai!” “Apa sih, pak?!” Bastian tertawa dengan respon gadis di sampingnya. “Udah gak sabar jadi mommy Kai, ya?” goda Bastian dengan menaik-turunkan alisnya. Layla yang sudah keburu malu langsung melayangkan pukulan pada lengan Bastian. Sedangkan Bastian sudah tertawa dengan tingkah malu-malu Layla. Gadis itu berhasil membuat dirinya tertawa lebar hari ini. “Hey sudah,” Bastian menangkap tangan Layla yang memukulnya dan menipiskan jarak antara mereka. “Pak!” Layla mendorong tubuh Bastian cepat saat jarak mereka semakin tak karuan. “Astaga Koma! Tenaga kamu boleh juga ya,” Bastian mengelus lengannya yang di dorong kuat oleh Layla. “Bapak sih aneh-aneh!” ucap Layla sambil melempar tatapan tajamnya. “Kenapa jadi saya? Kan kamu yang mukul saya. Otomatis tubuh kamu yang mendekat ke arah saya,” Bastian membela diri. “Pokoknya salah bapak!” ketus Layla. “Terserah kamu,” Bastian tersenyum tipis melihat wajah kesal Layla. Beberapa saat mereka sama-sama diam. Bastian kembali mengecek email yang masuk. Sedangkan Layla menyandarkan kepalanya ke sisi sofa. “Pak,” panggil Layla yang di balas deheman oleh Bastian. “Mommy kandung Kai di mana?” tanya Layla takut-takut. Bastian yang mendengar itu langsung menghentikan aktivitasnya. “Kenapa?” Bastian meletak ponselnya dan menatap Layla dengan tatapan tak terbaca. “Saya hanya penasaran. Saya pikir, mami ada benarnya..” Layla menjeda kalimatnya. “Saya takut mommy Kai kembali disaat saya sulit berjauhan dari anak tampan itu.” Bastian menghembuskan nafas berat dan menggelengkan kepala. Apa harus dia menceritakan tentang ini pada gadis disampingnya? “Kamu benar-benar ingin mendengar cerita mommy Kai?” tanya Bastian memastikan. Layla menganggukkan kepalanya “Iya. Mau, pak.” “Baiklah, saya akan menceritakannya padamu.” Bastian menatap ke arah TV di depan mereka dan mencoba membuka kembali kisah pahit yang pernah dia alami. Entah dia yang bodoh atau terhipnotis sesaat akan gadis di sampingnya, hingga mau menceritakan ini. “Apa yang ada di pikiran kamu, jika saya bilang Kai bukan anak saya?” Bastian memulai ceritanya dengan sebuah pertanyaan. “APA?!” Layla terkejut sambil menutup mulutnya. Bastian tersenyum tipis dengan respon Layla. Bukan hanya Layla, tapi Aldi juga sama. Sedangkan mamanya tidak tahu soal ini. Maka dari itu entah keberanian dan kepercayaan dari mana, dia menceritakannya pada Layla. “Baru awalnya saja, kamu sudah terkejut.” Bastian tertawa kecil. “Bapak tega bener, bilang Kai bukan anak bapak.” Layla mengerucutkan bibirnya dan mengusap ujung matanya yang tak terdapat air mata sama sekali di sana. Ctak! “Aws!” Layla merintih saat sentilan jari dari Bastian hinggap di kepalanya. “Dia anak saya. Tapi saya bukan daddy kandungnya,” jelas Bastian membuat Layla yang sedang mengusap kepalanya berhenti. “Jadi?” “Kai anak mendiang istri saya-- bersama kekasih gelapnya.” Layla melebarkan matanya. B-bagaimana mungkin? “Karena kamu hanya bertanya soal mommy Kai, saya ceritakan sampai situ saja.” ucap Bastian sembari mengambil gelas di hadapannya dan meneguk isi gelas itu sampai habis. “Saya pikir, kamu buatin jus atau minuman berasa. Ternyata hanya air putih dingin,” Bastian mencoba memulihkan suasana. Sedangkan Layla yang mendengar itu menatap aneh ke arah duda ekor satu di sampingnya. “Bapak tuh gak sedih apa sama kenyataan begitu?” “Kenapa harus sedih?” tanya Bastian balik dengan tawa yang cukup dipaksakan. Layla melempar tatapan tak terbaca pada Bastian. Bastian yang tahu dia merasa di kasihani hanya tersenyum tipis. “Jangan kasihani saya. Saya sudah ikhlas. Lagi pula, Kai tidak salah sama sekali. Yang salah adalah orang tuanya. Jadi untuk apa kamu mengasihani saya?” Bastian mencoba menghapus tatapan itu dari Layla. “Bapak hebat banget. Salut saya sama bapak,” ucap Layla dengan nada salut pada pria di sampingnya ini. “Kamu tidak penasaran dengan usia saya?” Bastian mencoba mengganti topik. “Memang berapa?” tanya Layla. “Coba kamu tebak,” balas Bastian membuat Layla mengerutkan kening. Bastian tersenyum, ternyata mengalihkan isi pikiran gadis itu tidak sesulit yang dia bayangkan. “36? 37? 38? 39? 40?” Layla menyebutkan sederet angka. “Saya tidak setua itu, Koma!” Bastian menatap datar Layla. “Terus berapa dong?” Layla memutar bola matanya. “Saya tamat S1 di usia 20--” “Apa? 20, pak?” Layla tak percaya dengan pernyataan Bastian. “Iya. Saya masuk SD umur 5 tahun. Hitung saja sendiri.” “Jadi bapak kuliah 3 tahun?” “Saya 3,5 tahun. Negeri tidak ada yang 3 tahun lagi.” “Ohh, jadi kenapa bisa 20?” “Saya SMA Akselerasi.” Layla mengangguk-anggukkan kepalanya. “Lalu?” “Tamat S2 di usia 22. Menikah di usia 25. Punya Kai setahun setelahnya, lalu sekarang usia Kai itu 3 tahun. Jadi usia saya sekarang?” Bastian membuat Layla berhitung dengan otaknya. “29?” Layla menatap tak percaya Bastian. “Kok bisa pak?!” “Itu buktinya,” balas Bastian. “Jadi umur pak Aldi?” tanya Layla penasaran. Sebab banyak yang mengatakan pak Aldi itu sudah kepala 3. Kalau Aldi kepala 3, Bastian tidak mungkin masih kepala 2. “Kalau saya tidak salah, dia masih 25.” jawab Bastian yang berhasil membuat Layla tertohok. Usia 25 sudah S2 dan mengajar sebagai dosen. Dia yang 21 saja S1 belum dapat. “Bapak keturunan Einstein apa gimana?” Layla memijit pelipisnya karena fakta yang baru saja dia ketahui. “Kenapa? Kamu juga bisa sebenarnya,” balas Bastian. “Enggak pak. Sekian dan terima kasih,” Layla menggelengkan kepalanya, menolak ide konyol Bastian. “Kenapa enggak?” “Yang begini aja udah puyeng, apa lagi mau ngejar bener-bener. Seperti kata pepatah, biarkan saja semua mengalir seperti air.” “Pepatah dari mana seperti itu?” “Dari bang Juna. Hahaha..” Layla tertawa kencang. Sedangkan Bastian menggelengkan kepala melihat Layla yang tertawa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN