Calon istri Revan?

1201 Kata
“Hari ini kita kuis!” seru dosen di depan membuat seisi kelas langsung di penuhi suara binder yang di buka. Tak Tek Tak Begitulah kira-kira bunyi binder yang beradu. Lalu sambil memasang telinga, mereka mendengar satu persatu soal yang disebutkan oleh dosen di depan. “Koma,” panggil Tia dengan berbisik. Sontak Layla yang ada di sampingnya menoleh pelan. “Apa?” balas Layla berbisik juga. “Tia! Layla!” dosen di depan dengan tegas memanggil nama mereka. “Iya pak,” sahut keduanya. “Jangan menyontek!” “Tidak pak,” “Jika ada yang ketahuan menyontek. Siap-siap kuis kalian E,” ancam dosen itu membuat semua mendadak duduk tegak. 45 menit di kelas dengan kuis yang mau tak mau harus di jawab, membuat suasana ruangan itu menjadi panas. Tia yang memang berotak pas-pasan sama dengan Layla mulai mengeluarkan bakat mereka, yaitu mengarang bebas. “Waktu habis! Satu persatu kumpulkan ke depan!” perintah sang dosen membuat mereka berjalan satu persatu menuju meja dosen. Setelah semua mengumpulkan, dosen pun menyelesaikan perkuliahan. Sontak semua mahasiswa berhamburan keluar dan beberapa dari mereka masih membahas soal kuis yang baru saja mereka lakukan. “Gila si kumis! Itu mah soal UAS, bukan soal kuis!” protes Tia membuat Layla tertawa kecil. “Curang lu! Gak bagi-bagi,” Tia menatap sebal Layla. “Ehh, lu pikir gue ngerjain bener-bener? Gue mah ngarang bebas,” Layla memukul bahu Tia yang langsung mendapatkan tatapan protes. “Yaudah, kuy cari makan!” ajak Layla merangkul Tia menuju cafeteria. “Koma!” panggil suara laki-laki membuat Layla dan Tia menoleh. “Duduk sini!” Revan dengan lambaian tangannya menyuruh mereka untuk bergabung. Layla dan Tia yang malas mencari bangku pun langsung menghampiri Revan. “Tumben,” Tia menatap curiga Revan. “Suuzon mulu lu sama gue!” Revan melempar Tia dengan kacang yang ada di tangannya. “Gue mesen dulu deh,” Layla pun bangkit dari tempat duduknya dan menuju stand makanan. “Koma! Gue pecelnya satu!” seru Tia dengan suara melengking, membuat beberapa pasang mata menatap ke arah mereka. “Toa banget mulut lu, Ya!” Revan mendengus kesal. “Bodo amat!” balas Tia dan mereka pun terlibat dalam keheningan sampai Layla kembali. “Lain kali lu pesen sendiri!” Layla kesal dengan mulut Tia. “Lagian lu mau-mau aja di suruh dia,” Revan menggelengkan kepalanya. “Van. Itu cewek cabe kemarin labrak gue sama Koma,” ucap Tia. “Ha? Labrak Koma?” Revan terkejut dan langsung menatap ke arah gadis di sampingnya. “Lu gak pa-pa, kan?” tanya Revan yang di balas gelengan oleh Layla. “Gak usah ngebucin di depan gue, woi!” seru Tia dengan wajah kesal. “Yang di labrak itu si Tia, bukan gue..” balas Layla membuat Revan menghela nafas. “Syukur deh,” ucap Revan yang kembali menikmati kacang di depannya. Tia yang mendengar itu langsung membulatkan mata. “k*****t lu!” tatapan horor keluar dari mata Tia. Tak lama makanan mereka pun tiba. Tia dengan rakus pun langsung menyantap makanannya. Sedangkan Layla yang setiap kali ingin menyuapkan makanannya, Revan selalu mengusilinya. Plak “Aws!” “Revan k*****t!” kesal Layla. “Pedes banget Ma,” Revan mengelus lengannya yang mungkin memerah. Layla memutar bola matanya dan tiba-tiba matanya bertubrukan dengan sepasang mata di ujung sana. Sontak dia menegakkan badannya dan membulatkan matanya. Sepasang mata di ujung sana menatapnya tajam. “Koma,” “Koma yuhuu,” “Oi Koma!” Layla tersadar dan langsung mengalihkan tatapannya. “Ha, kenapa?” sahutnya. “Lu ngeliatin apaan sih?” tanya Tia sambil mengedarkan pandangan. “Omo! Itu bang Bastian, kan?” Tia tampak terkejut dengan sosok di ujung sana. “Bastian?” Revan ikut mengedarkan pandangannya. “Siapa dia?” tanyanya. “Dia daddy dari anak yang di bawa sama Koma kemarin,” balas Tia santai. Sedangkan Layla tampak diam saja. Dia seperti tertangkap selingkuh oleh sosok di ujung sana. “Ohh. Tapi kok duduk sama pak Aldi?” tanya Revan lagi membuat Tia mengangkat bahu. “Pak Aldi itu..” Layla membuka suara. “..adiknya pak Bastian,” sambung Layla membuat Tia dan Revan sontak menatap ke arah Layla. “Anjayani! Jadi ini ceritanya dosenku adalah adik calon suamiku?” ucap Tia membuat Revan melayangkan jitakan. Ctak “Van! Sakit bambang!” jerit Tia karena jitakan yang dia terima. “Lu tuh kalau ngomong! Koma calon istri gue, bukan calon kakak ipar pak Aldi!” Revan menjelaskan. “Idih! Siapa yang mau jadi istri lu?” Layla meminta Revan mengulang. “Lu lah, siapa lagi? Kan emak kita udah saling kenal. Tinggal bokap aja,” Revan memainkan alisnya menggoda Layla. “NAJIS!” umpat Layla yang bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan cafeteria. “Mam to the pus. Mampus!” ucap Tia dan ikut pergi meninggalkan Revan. “Van bayarin makanan kita!” seru Tia sebelum benar-benar hilang. “Bjir! Kok jadi gue yang bayar makanan mereka?” Revan menatap nanar piring-piring di hadapannya. Layla dengan gelisah berjalan mondar-mandir di parkiran, membuat Tia yang melihatnya jenuh sendiri. “Lu kenapa sih?” tanya Tia kesal dengan Layla yang tiba-tiba aneh. “Gue ada salah ya?” tanya Layla balik. “Salah? Gak ada. Emang kenapa?” “Kok dia natap gue gitu ya?” “Siapa?” “Itu tadi..” Tia yang tak mengerti siapa yang di maksud oleh Layla mencoba memutar otak. Kemudian ingatannya tertuju pada pria yang sedari tadi tak berhenti menatap ke arah mereka. “Itu bukan?” Tia menunjuk ke sosok pria yang berjalan menghampiri mereka. Sontak Layla pun menatap ke arah sosok yang ditunjuk oleh Tia. “Pak Bastian..” Layla bergumam pelan saat melihat sosok tegap yang akhir-akhir ini mengisi jalan cerita hidupnya, tengah berjalan ke arah mereka. “Pak,” Tia menyapa Aldi sejenak dan kemudian berbalik pada Bastian. “Bang,” sapa Tia pada Bastian. Layla yang sedari tadi tak melepaskan tatapannya dari Bastian, melupakan tata kramanya sebagai mahasiswa dihadapan Aldi. “Ekhem!” Aldi sengaja batuk demi menyadarkan mahasiswinya yang sedari tadi tak melepaskan tatapan dari abangnya. “Koma,” Tia menyenggol Layla dari samping, namun gadis itu tetap tak berkutik. Bastian yang melihat keterpakuan gadis dihadapannya, tersenyum tipis. Bastian mendekatkan dirinya pada wajah Layla yang sedari tadi menatap ke arahnya. “Mau sampai kapan kamu menatap saya?” Layla yang sadar akan jarak wajahnya dan Bastian terlalu dekat, langsung mundur selangkah. Aldi dan Tia yang melihat itu terkekeh di tempat. “Bapak ngapain dekat-dekat?!” tanya Layla dengan suara yang di tinggikan. “Kamu sendiri, ngapain natap saya kayak gitu?” tanya Bastian balik membuat Layla mengerutkan kening. “Siapa bilang?” Layla menepis pertanyaan Bastian. “Semut yang lewat juga tahu, dari tadi lu natap bang Bastian,” timpal Tia membuat Layla melebarkan matanya menatap gadis itu. “Tia!” “Hehe, piss mak.” “Gue bukan emak lu!” Aldi dan Bastian yang melihat pertengkaran itu hanya menggeleng-gelengkan kepala. Lalu dengan kode mata, Aldi dan Bastian memisahkan dua gadis itu. “Kamu ikut saya!” Bastian menarik Layla. “Ehh, pak!” “Dan kamu juga ikut saya!” Aldi menarik Tia. “Jangan sentuh saya pak!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN