Kasmaran

1177 Kata
Layla dan Bastian hanya diam sepanjang jalan. Layla sebenarnya ingin memberontak karena ditarik paksa oleh duda di sampingnya, tapi semua dia telan karena memikirkan tingkahnya selama di cafeteria tadi. Apa yang salah dengan dia yang hanya bercanda gurau seperti biasa bersama Revan? Kenapa Bastian menatapnya seperti itu? Kenapa juga dia harus merasa bersalah? Lalu kenapa dia harus ada di sini?! “Kamu tidak mau turun?” Bastian membuyarkan lamunan Layla. Layla menatap ke sekelilingnya yang ternyata berada di sebuah basement. Dia kenal basement ini. Ini basement kantor Bastian. “Kenapa ke sini?” tanyanya entah pada siapa, karena Bastian sudah keluar dari mobil dan meninggalkannya. “Sialan gue di tinggal!” umpat Layla dan langsung keluar mengikuti arah langkah Bastian. “Kok saya ditinggal, pak?” tanya Layla saat langkahnya sudah seirama dengan langkah Bastian. “Saya gak tinggalin kamu. Kamu saja yang kebanyakan melamun,” balas Bastian yang langsung menekan tombol lift dan masuk ke dalam, bersamaan dengan Layla. “Terus bapak ngapain bawa saya ke kantor bapak?” Layla mencoba membaca maksud dari Bastian. “Temani saya bekerja,” balas Bastian sekenanya. “Ha? Enggak deh, pak! Saya masih banyak kesibukan dari pada nemenin bapak kerja,” tolak Layla cepat. “Ada Kai di ruangan saya. Dia kangen sama kamu,” ucap Bastian membuat Layla membulatkan matanya. “Serius, pak?” tanya Layla dengan mata berbinar. “Iya. Mama yang nganter tadi,” jawab Bastian dan denting lift pun berbunyi, tanda mereka sudah sampai di lantai ruangan Bastian. Berjalan beriringan keluar dari lift dan melewati meja sekretaris, Bastian menghentikan sejenak langkahnya. “Jangan biarkan siapapun masuk, tanpa seizin saya!” Bastian mengingatkan sekretarisnya. “Baik, pak.” “Bagus.” Bastian pun meneruskan langkahnya dan ternyata Layla sudah di dalam dengan putra sematawayangnya berada dalam pelukan gadis itu. Bastian tersenyum tipis melihat pemandangan itu, sebelum dia benar-benar menghampiri keduanya. “Kalian ngapain?” tanya Bastian saat keduanya tertawa kecil bersamaan. “Enggak,” balas keduanya dengan bersamaan. “Hayo, jangan bohong sama daddy.” “Tidak ada, daddy.” “Kai,” Bastian menatap putranya dengan mata menyipit. “Jangan kasih tau daddy,” bisik Layla yang masih ditangkap indra pendengaran Bastian. “Ohh, jadi mommy dalangnya?” Bastian menyeringai membuat Layla dan Kai tertawa geli. “Ayo kabur!” seru Layla dan mereka pun berlari menjauh dari Bastian yang menatap seringai keduanya. “Ohh, jadi kalian main rahasia sama daddy ya,” Bastian berdiri dan mulai menatap Kai yang tertawa di depan Layla. “Ayo tangkap Kai, daddy!” seru Kai membuat Bastian melipat tangan di depan d**a dan mulai bergerak menangkap putranya dan gadisnya – ehh, gadisnya? “Ayo daddy!” kali ini Layla yang menyemangati. Bastian pun memfokuskan diri untuk menangkap Layla dan Kai. Hingga Layla tak dapat menahan keseimbangan tubuhnya dan hampir terjatuh, membuat Bastian buru-buru melangkahkan kakinya ke arah Layla dan menangkap tubuh gadis itu. Hap “Ehh--” Gubrak Layla dan Bastian terjatuh di atas sofa dengan posisi tubuh Bastian di bawah Layla. Kai yang melihat itu tertawa sendiri di tempatnya berdiri. Sedangkan Layla yang membatu akan posisi mereka, membuat Bastian gemas dengan gadis di atasnya. “Mommy tertangkap!” seru Kai membuat Layla tersadar akan posisinya saat ini. “Sepertinya kamu nyaman di posisi ini,” sindir Bastian dengan alis terangkat sebelah dan senyum miring di wajahnya. “Mimpi, pak!” Layla buru-buru turun dari atas badan Bastian dan memilih duduk di sofa. Bastian pun ikut memperbaiki posisinya dengan duduk di samping Layla. “Daddy dan mommy kenapa?” tanya Kai dengan wajah bingung. “Daddy kerja dulu ya. Kai main sama mommy aja,” ucap Bastian dan langsung menuju kursi kebesarannya di balik meja kerja. “Sini sayang, sama mommy.” Layla menyuruh Kai untuk menghampirinya. Lalu dengan patuh, Kai pun menghampiri Layla dan duduk di pangkuan gadis itu. “Anak tampan sudah makan siang?” tanya Layla yang di angguki oleh Kai. “Makan apa?” “Makan ikan goreng dan sayur bayam, mommy.” “Siapa yang masak?” “Grandma, mommy.” “Nah, grandmanya mana?” “Grandma udah pulang. Grandma bilang, kapan mommy masak buat Kai dan daddy?” Layla tertegun. Lalu tatapannya teralih pada pria yang tengah fokus pada layar komputer dihadapannya. Sepertinya pria itu tak mendengar pertanyaan anaknya. Layla pun langsung memfokuskan kembali tatapannya pada Kai yang menunggu jawaban darinya. Layla menarik dan menghembuskan nafasnya. Dia mengeluarkan senyum manisnya dan menjawab pertanyaan Kai. “Mommy gak bi--” “Mommy akan masak buat Kai dan daddy hari sabtu nanti,” potong Bastian cepat dari meja kerjanya. Layla membulatkan matanya. Apa dia benar-benar bisa membaca pikiranku? “Benarkah mommy?” tanya Kai antusias. “Ha? I-iya. Mommy akan masak buat Kai dan daddy hari sabtu nanti,” sahut Layla sedikit gugup karena terkejut dengan ucapan Bastian yang seolah-olah tahu isi pikirannya. Sedangkan Bastian yang masih fokus dengan layar komputer dihadapannya, tertawa dalam hati. Berjam-jam dalam ruangan Bastian, membuat Kai tertidur dengan paha Layla sebagai bantalan. Layla sendiri tampak tak terganggu dengan itu. Malah dirinya membelai lembut rambut Kai agar tidur anak tampan itu semakin lelap. “Ayo kita pulang,” ajak Bastian yang sudah berjongkok di hadapan Layla. “Astaga, pak! Gak usah buat kaget bisa?” cicit Layla dengan Bastian yang muncul tiba-tiba. “Kaget? Saya gak ngapa-ngapain, kenapa kamu kaget?” Bastian menatap bingung Layla. Layla memutar bola matanya “Dengan bapak tiba-tiba muncul itu, buat saya kaget!” Bastian tertawa geli. “Jadi dengan saya yang tiba-tiba masuk ke dalam hati kamu dan hidup kamu, apa kamu juga akan kaget?” Layla terdiam. Apa maksud pria dihadapannya ini? “M-maksud bapak?” Layla menatap bingung untuk kesekian kalinya. “Kamu cukup paham dengan kalimat saya Koma,” balas Bastian sembari bangkit dan mengangkat tubuh Kai. “Kamu tidak mau pulang?” tanya Bastian membuyarkan lamunan Layla. “I-iya, pak.” Layla pun mengejar Bastian yang sudah keluar terlebih dahulu dari ruangan. Setibanya di pekarangan rumah Layla. Bastian sengaja tidak menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Dia tahu, gadis di sampingnya saat ini masih memikirkan ucapannya tadi. Salahnya memang. Salahnya karena jatuh dalam pesona seorang gadis dengan julukan Koma. “Koma,” Bastian menyentuh pundak Layla, mencoba menyadarkan gadis itu dari lamunannya. “Eh iya,” Layla sedikit terkejut dengan sentuhan di pundaknya. “Kita sudah sampai di rumah kamu,” ucap Bastian sembari menunjuk keluar dengan wajahnya. Layla pun menatap sekeliling dan ternyata benar, mereka sudah tiba di rumah. “K-kalau begitu, saya pamit pak. Terima kasih untuk hari ini,” pamit Layla dan langsung keluar dari mobil. Bastian sendiri hanya tersenyum sebentar dan kemudian membawa mobilnya pergi menjauh dari pekarangan rumah gadis itu. Setelah tak lagi melihat mobil Bastian. Layla buru-buru masuk ke dalam rumah dan berusaha mengatur detak jantungnya. Entah kenapa dia berpikir yang tidak-tidak saat Bastian menyuruhnya untuk memahami setiap kalimat yang pria itu ucapkan. “Uhuk! Ada yang lagi kasmaran nih,” sindir Juna yang bersandar pada dinding rumah. Layla yang mendengar itu langsung menatap Juna dengan wajah terkejut. “Kasmaran dari HONGKONG!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN