Layla dan Tia saat ini sedang berada di rumah. Rumah siapa lagi, kalau bukan rumah Layla. Mereka melakukan kerja kelompok bersama – ah tidak! Yang mengerjakan itu Juna dan kedua gadis itu hanya menyalin hasil kerja Juna, setelah pria itu akhirnya pamit harus pergi mengurus resto miliknya.
“Kemarin lu di bawa ke mana sama pak Aldi?” tanya Layla saat mereka telah menyelesaikan tugas mereka.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Tia merenggangkan tubuhnya yang lelah membungkuk untuk menyalin bagiannya. “Gak di ajak ke mana-mana, soalnya ayang beb langsung nongol.” balas Tia.
“Ayang beb?” Layla mengangkat sebelah alisnya.
“Iya, ayang beb.” balas Tia acuh.
“Siapa?”
“Revan,”
“APA?!”
Layla terkejut-kejut di tempatnya. Sejak kapan? pikirnya.
“Maaf-maaf, Koma. Gak tau juga kenapa dia bisa nembak gue,” Tia menggaruk tengkuknya.
“Bukannya dia selama ini ngejar gue?” tanya Layla masih tak percaya.
Tia menganggukkan kepalanya. “Iya, bener. Tapi sejak lu udah sama bang Bastian, dia mundur.”
“Terus lu terima?”
“Kenapa enggak? Dia sweet banget. Gak kuat dede di gituin,”
Layla cengo di tempatnya. Dia tak menyangka sahabatnya cepat luluh. Dan apa tadi? Dirinya sudah bersama Bastian? Astaga! Persepsi seperti apa itu?
“Serah deh! Jalan kuy!” ajak Layla yang ingin mengistirahatkan pikirannya.
“Ke mana?” tanya Tia.
“Pantai?” saran Layla yang di hadiahi tatapan maut oleh Tia.
“Gila! Ini udah sore, Koma!”
“Emang kenapa? Bentar doang palingan.”
“Lu gak tau mitos ke pantai sore-sore itu apa?”
“Apa emangnya?”
Layla dan Tia saling tatap dengan ekspresi berbeda. Layla yang penasaran dan Tia yang takut sekaligus ragu.
“Mitosnya, jauh jodoh!” seru Tia membuat Layla mendatarkan wajahnya.
“Landasan mitos itu apaan?” ucap Layla dengan nada kesal.
“Sore itu kan pergantian hari. Pantai sendiri identik dengan kerajaan. Bisa jadi salah satu prajurit atau pegawai kerajaan nempelin kita, terus buat kita jadi jauh jodoh. Terus kalau ayang beb gue kabur di usir mereka gimana?” Tia menjelaskan dengan ekspresi mitologi yang membuat Layla geleng-geleng kepala.
“Sebodo amat sama cerita lu! Gue tetep mau pergi,” ucap Layla yang bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar untuk mengambil tas samping.
“Koma! Gue ikut deh, kan gue setia kawan.” cicit Tia saat Layla menyentuh lantai tangga terakhir.
“Bagus! Skuy!”
Mereka pun pergi setelah Layla menutup pintu rumah. Bertanya mereka menggunakan apa? Tentu saja motor Tia yang all cover pink. Apa jadinya jika Revan membawa motor itu? Haha, memikirkannya sudah membuat Layla tertawa geli.
Pantai terdekat yang Tia pilih, karena mengingat hari sudah larut. Layla tampak gembira bisa merasakan hembusan angin dan suara deburan ombak yang tampak menyambut kedatangannya.
“Ke laut bentaran kuy!” ajak Layla yang sudah berlari duluan tanpa mendengar pendapat Tia.
“Koma sableng emang!” gerutu Tia yang mengejar laju lari temannya itu.
Layla menendang air laut dan tertawa kala air itu mengenai pakaiannya. Kekanakan memang, tapi bukankah dengan menjadi anak-anak semua seakan damai, aman dan tenang?
“Gue suka pantai,” ucap Layla membuat Tia menoleh.
“Kenapa?”
“Pantai itu punya daya tariknya sendiri buat memikat gue. Gulungan ombaknya menyejukkan mata, hembusan anginnya menenangkan semua indra gue.” puji Layla sembari memutar tubuh layaknya seorang balerina. Tia yang menyaksikan itu sedikit terkejut. Selama berteman dengan Layla, dia tak pernah melihat sosok ini.
“Rasanya gue gak mau pulang kalau udah ketemu mereka,” Layla masih larut dalam emosi penyatuannya dengan pantai. Sementara itu, Tia yang sambil mengedarkan pandangannya menangkap sosok yang familiar.
“Bang Bastian?” gumamnya melihat sosok yang akhir-akhir ini sering berada di sekitar sahabatnya.
“Tia, lu gak mau rasain air laut?” tanya Layla membuat Tia buru-buru mengalihkan pandangannya.
“Ha? Rasain? Lu suruh gue minum air laut?” tanya Tia balik membuat tawa pecah keluar dari mulut Layla.
“Hahahah… Gak gitu maksud gue, ogeb!” Layla memukul bahu Tia cukup keras hingga gadis itu merintih.
“Koma?” suara bass di sekitar mereka menyadarkan dua gadis itu.
“P—pak Bastian?” Layla terkejut di tempatnya, tidak dengan Tia.
Seorang wanita yang bergelayut manja di lengan Bastian menatap aneh mereka. Sedangkan Layla mencoba mengartikan apa yang ada di depan matanya.
“Koma? Nama yang aneh,” komentar wanita di samping Bastian.
“Hmm,” gumam Bastian.
Layla yang tak mengerti dengan situasi ini, memilih diam. Sedangkan Tia yang merasa ada kejanggalan di sini, langsung mengajak sahabatnya untuk pergi.
“La, kuy cari makan!” ajak Tia mengalihkan kecanggungan itu.
“Bentar,” Layla menahan tangan Tia yang hendak menariknya pergi.
“Maaf. Apa saya bisa bicara empat mata dengan pak Bastian?” tanya Layla degan wajah dibuat sedatar dan setenang mungkin.
Wanita itu pun mengangguk. Sedangkan Bastian menahan tangan wanita itu untuk tidak melepaskan rangkulan itu dari lengannya.
“Katakan saja di sini,” ucap Bastian dengan mata menatap ke arah belakang Layla. Layla yang mendengar itu tersenyum kecut.
“Terima kasih. Saya harap anda bisa merealisasikan ucapan mama saya dan saya pun akan seperti itu,” ucap Layla penuh penekanan.
“Tentu.”
“Kalau begitu, saya permisi. Terima kasih,” akhir Layla dengan senyum di paksakan. Lalu Layla menarik Tia untuk meninggalkan sepasang insan itu.
“Koma, lu gak pa-pa, kan?” tanya Tia saat mereka di parkiran.
“Kenapa gue harus gak pa-pa?” tanya Layla balik dengan wajah tenang, namun matanya memancarkan kesedihan.
“Ya udah, gue antar lu pulang.” Tia pun membawa laju motornya menuju kediaman Layla. Ingatkan dirinya untuk menghubungi Juna agar menemani adik sematawayangnya ini.
“Thanks ya, Ya.” ucap Layla saat mereka tiba di pekarangan rumah.
“Sama-sama,” balas Tia.
“Hati-hati di jalan, gue masuk dulu.” Layla pun masuk setelah mendapat anggukan oleh Tia. Sedangkan Tia langsung menghubungi Juna setelah memastikan Layla masuk ke dalam rumah.
“Halo, bang.”
“Abang bisa pulang sekarang?”
“Tia gak yakin ninggalin Layla sendiri di rumah,” Tia menggigit kukunya karena bimbang akan mengatakan apa.
“Dia lagi patah hati kayaknya.”
“Pokoknya abang cepet balik. Tia matiin,” Tia memutus panggilan itu sepihak. Dia tak ada hak untuk menceritakan itu. Alangkah baiknya Juna tau sendiri dari mulut adiknya.
“Get well soon, Koma..”
Juna yang mendapat panggilan dan kabar mendadak dari Tia, langsung izin pamit pada karyawannya. Dia khawatir mendadak mendengar adik satu-satunya yang tidak pernah patah hati, terlibat patah hati.
Sesampainya di rumah, buru-buru dia menuju kamar Layla. Namun dia tak mendapati gadis itu di kamarnya. Juna panik. Pikiran negatif menghantuinya.
“Vero!”
“Vero di mana kau?!”
“Vero!”
Juna terus mencari keberadaan gadis kecilnya di seluruh ruangan lantai 2.
Layla yang baru saja datang dari tangga dapur, menatap Juna bingung. “Bang Juna ngapain?” tanya Layla melihat Juna yang membuka kamar mandi, namun tidak masuk ke dalam.
“Astaga Vero! Kau dari mana?” tanya Juna yang langsung memeluk tubuhnya.
“A—bang!” Layla tampak sesak karena di peluk erat oleh Juna.
“Abang kenapa sih?” tanya Layla dengan wajah bingungnya.
“Abang yang harusnya nanya, kamu kenapa? Ada apa?” Juna menatap Layla dengan khawatir. Sedangkan yang di tatap tampak menaikkan alisnya.
“Aku?” Layla menunjuk dirinya.
“Iya kamu, gadis kecil abang.”
“Aku gak pa-pa,” balas Layla sambil berjalan santai menuju ruang keluarga lantai 2.
“Bohong! Sekarang cerita sama abang!” Juna menarik Layla untuk menyandar padanya.
“Vero mau balik ke Vero yang awal, bang. Jangan sebut-sebut Kai dan keluarganya lagi. Vero harus kembali jadi mahasiswi yang gak mengenal cinta atau apapun itu,” jelas Layla membuat Juna mengerti titik masalahnya.
“Iya, abang janji akan menjauhkan keluarga itu dari kamu.”
“Makasih, bang.”
Mereka pun larut dalam pikiran masing-masing dengan Juna yang masih mengelus rambut Layla-sayang.
“Bang,” panggil Layla membuat Juna menyahut dengan deheman.
“Vero cuti semester ke Aussie ya,” ucap Layla membuat Juna langsung menatap gadis kecilnya.
“Kenapa?”
“Papa kangen Vero. Vero juga kangen papa,”