Gimana sih?

1299 Kata
Seturut dengan ucapannya, Layla benar-benar kembali menjadi mahasiswi semester 5 yang sedang sibuk di rundung tugas kuliah dan juga persiapan untuk UAS. Aldi sendiri masih mengajar di kampus dan cenderung bingung dengan sikap Layla yang menganggapnya sebagai orang asing. “Koma,” panggil Tia membuat gadis itu menoleh. “Apa?!” “Garang amat mbak,” sindir Revan membuat Layla mengeluarkan tatapan menghunus. “Hati-hati yank, dia lagi PMS.” bisik Tia yang masih bisa Layla dengar. “Kalian kalau mau bucin, sono deh! Gue sibuk nih mau nyelesai-in tugas,” usir Layla pada sejoli dihadapannya. “Iri bilang bos!” seru Tia membuat Layla mendengus sebal. “Lagian kalian juga salah. Kenapa gak nanya dulu tuh cewe siapa?” Revan bersuara. Layla yang mendengar itu menatap tajam Tia. Sedangkan yang di tatap menyengir lebar sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah—bersamaan. “Lagian yank. Gak usah di tanya, udah pasti dari gerak-geriknya kalau itu pasangan si bang Bas.” celetuk Tia yang malah keterusan membahas pria itu. Pria yang namanya saja tak ingin Layla dengar lagi. “Aku pergi jika kalian masih membahas tentang itu,” Layla benar-benar emosi. Tia dan Revan sontak langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Layla yang sedang dipenuhi emosi. Drrt Drrtt Drrttt “Halo?” “Gadis nakal! Papa benar-benar merindukanmu..” “Papa!” jerit Layla membuat beberapa pasang mata menatapnya. Astaga! Dia melupakan mood booster-nya. Kenapa tidak dari kemarin dia menelpon papa tampannya itu? “Kapan kamu menemui papa?” “Liburan semester ini, Vero janji akan ke sana.” Layla tersenyum kala mendengar suara bariton di seberang sana. Sudah lama memang dia tidak bermanja-manja dengan papa bule-nya itu. Haha.. “Sendiri? Atau dengan laki-laki? Atau dengan anak kecil? Atau keduanya?” Layla menyatukan alisnya. Bagaimana papa nya bisa tahu? Apa dari nyonya Troyes? Tapi itu mustahil! Mama nya jelas-jelas tidak menyetujui dia menjalin hubungan dengan siapapun sampai nanti lulus kuliah. Lalu siapa? “Dear, kamu masih di sana?” “Ha? Em, masih papa.” Layla buru-buru tersadar dari lamunannya. Dia tak ingin papa nya mengira dia tidak dalam keadaan baik-baik saja. “Apa ada masalah?” “No, papa. Everything is good,” balas Layla. “Ya sudah. Papa tutup dulu telponnya.” “See yaa papa,” “See yaa too, my little one.” Layla menghela nafas sembari melihat layar ponsel yang menampilkan wajahnya dan kedua orang tuanya. Sepertinya mengunjungi kediaman oma nya di akhir pekan ini, bukan hal yang buruk. Layla mengemas buku-buku yang berada di atas meja dan memasukannya ke dalam tas. Dia harus segera pulang untuk menenangkan pikirannya. “Koma,” panggil sebuah suara yang familiar di telinga Layla. “Ga-ga-ga! Gue pasti halu!” tegas gadis itu dan kembali melanjutkan jalannya. “Koma,” lagi panggilan itu membuat Layla risih hingga menutup kedua telinganya. “Come on, Layla!” Layla menghiraukan panggilan itu dan terus berjalan dengan langkah cepat. “Layla Verona Troyes!” Deg Layla menghentikan langkahnya. Pikirannya melalang buana. Dia ingin menghilangkan jejak pria yang sempat mengisi harinya. Tapi kenapa? “Kamu tuli?” tanya pria itu saat dirinya sudah berdiri tepat di depan Layla. “Saya dari tadi memanggilmu!” Layla menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya, menghiraukan pria yang beberapa saat lalu meninggikan suara padanya. Fokus Layla! Jangan lihat ke mana pun! batin Layla. “Kai sakit,” dua kata itu membuat langkah Layla kembali berhenti. “Bawa ke rumah sakit. Temui dokter, jangan temui saya. Saya hanya mahasiswi semester 5, bukan seorang dokter.” Setelah mengatakan itu, Layla kembali melangkah menjauhi sosok pria yang mematung di tempatnya. Layla menghentikan taksi dan langsung menyebutkan alamat resto Juna. Dia tak bisa sendirian di rumah. Dia takut pria itu akan berada di rumahnya. “Terima kasih pak,” ucap Layla saat taksi menepi di depan resto abangnya yang sedang dalam pembangunan. “Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan resto membuat Layla mengangguk. “Saya ingin bertemu Juna, pemilik resto ini.” balas Layla membuat pelayan itu membulatkan matanya. “B-baiklah. Tapi jika saya boleh tahu, nama nona siapa ya?” “Vero,” “Baik nona, silahkan menunggu.” Setelah mengatakan itu, pelayan itu pun meninggalkan Layla yang di layani oleh pelayan lainnya. Layla melihat beberapa orang bekerja dalam membangun resto yang sudah berdiri 87%. Maka dari itu resto sudah bisa dimasuki oleh pelanggan dan dia sekarang duduk sendiri di meja untuk 4 orang. “Vero?” Juna terkejut melihat sepupu yang sudah dia anggap adik kandungnya itu, tiba-tiba datang. “Abang sibuk?” tanya Layla mengabaikan tatapan terkejut Juna. “Abang selalu free untuk kamu,” balas Juna—duduk di kursi yang ada dihadapan Layla. “Ngomong free-nya pakai nada terpaksa. Cih!” Layla mendengus sebal. “Haha.. Maaf adik tercinta ku,” Juna mengacak gemas rambut Layla. “Abang!” tegur Layla saat rambutnya berantakan. “Udah pesan?” tanya Juna mengalihkan. “Enggak mau. Mahal!” Layla menggelengkan kepala. Sedangkan Juna tertawa di tempat karena jawaban adiknya. “Ini resto ku. Mereka tak akan meminta bayaran padamu sayangku,” ucap Juna dengan sisa tawanya. “Sayang-sayang. Pala lu peyang, bang! Sono cari bini! Udah tuir juga,” ledek Layla membuat wajah Juna datar-sedatar-datarnya. “Terus lu ngapain ke sini?” tanya Juna to the point. “Gue gak mau sendirian di rumah.” “Biasa juga sendiri.” “Kali ini beda. Gue males di rumah sendirian. Nanti kalau gue di culik, lu siap-siap di coret dari KK!” “Lha, malah bagus! Jadi pewaris kekayaan oma tinggal gue. Hahaha..” tawa Juna menggema, menyisakan wajah tak percaya dari Layla. “Tega banget lu bang!” “Bodo!” Setelah puas dengan tawa, mereka pun terdiam untuk beberapa saat sambil menyesap minuman yang ada dihadapan mereka. Bukan Layla yang memesan. Juna yang meminta karyawannya untuk mengantarkan minuman untuk mereka. “Akhir minggu gue mau ke tempat oma. Lu ikut?” tanya Layla teringat akan rencananya akhir minggu ini. “Tumben,” balas Juna menatap Layla heran. “Gue mau kunjungin oma sebelum berangkat.” “Lu sama gue ya, ke Aussie.” “Kalau lu sama gue, ini resto siapa yang urus?” “Gampang lah.” “Enggak bang. Gue udah gede, gue bakal pergi sendiri.” “Ck! Lu bandel banget sih,” Juna geram dengan penolakan Layla. Sedangkan Layla memilih menulikan telinganya dan menatap layar ponselnya yang terdapat banyak pesan dari keluarga anak tampan yang berhasil mengambil hatinya. “Bang,” panggil Layla dengan tatapan masih pada ponsel pintarnya. “Hm,” “Kalau ada yang sakit terus dia minta gue jenguk dia, tapi gue nolak. Salah gak? Gue jahat gak?” Juna mengangkat alisnya. “Siapa?” Layla memutar bola matanya malas. “Jawab aja.” “Menolong orang itu perbuatan baik. Kalau lu nolak, berarti lu kurang baik.” Juna menjawab dengan santai. “Jadi gue harus tolongin?” tanya Layla lagi memastikan. Juna mengangguk “Kalau dia minta, lu harus berbesar hati tolongin.” “Jadi gue beneran harus tolongin?” “Yup!” “Walaupun gue benci sama keluarganya?” Juna yang mendengar pernyataan itu terdiam sebentar dan langsung bisa menebak siapa sosok yang adiknya ini maksud. “Kai?” “Iya..” Layla meringis pelan saat Juna bisa langsung menebak siapa sosok yang dia maksud. “Yang salah bapaknya. Dia gak salah dan gak tau apapun. Kalau kamu memang berniat buat jenguk, gak salah. Tapi kalau kamu gak sanggup buat hadapi bapaknya, kirim doa biar dia sembuh.” Juna mencoba memberi pandangan pada Layla yang masih menimbang. “Gitu ya, bang?” tanya Layla bimbang. Sedangkan Juna cuma bisa mengangguk. Tapi gue udah mutusin buat gak lagi ada hubungan sama keluarga itu... Layla, lu gimana sih?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN