Masak bubur

1070 Kata
“Huft!” Layla menghembuskan nafas untuk kesekian kalinya. Dia sudah berdiri di depan gerbang rumah pria yang sudah tak ingin dia temui selama 15 menit, sejak ojol menurunkannya. Ingin masuk, tapi dia ragu. Alhasil, dia pun membalikkan badan hendak pergi. Namun belum ada selangkah, penjaga gerbang yang sudah hafal dengan kehadiran dirinya menegur. “Non Layla?” Layla melebarkan mata mendengar panggilan itu. Sontak dia pun kembali membalikkan badan dan mendapati pak Tarno—penjaga gerbang rumah mewah itu menyapanya. “Hai pak, apa kabar?” Layla mencoba basa-basi. “Alhamdullilah baik, non. Non apa kabar? Bapak jarang liat non main ke sini,” balas pak Tarno membuat Layla meringis. Sudah beberapa minggu sejak kejadian itu, dia memang tidak ingin bersentuhan atau berada di sekeliling Bastian. “Ah iya, saya juga baik pak.” “Non mau masuk? Kenapa tidak langsung masuk seperti biasa? Kalau bapak tidak lihat cctv, mungkin non gak masuk-masuk.” Layla kembali merutuki dirinya. Dia baru ingat kalau rumah ini memiliki cctv di bagian depan. Semua terbaca di pos penjaga. Jadi 15 menit berdiri di sini, semua tak luput dari penglihatan pak Tarno? “Ehh, iya pak. Saya ingin menjenguk Kai,” ucap Layla cepat sebelum pak Tarno mencurigainya. “Mari non, mari masuk.” pak Tarno mempersilahkan Layla masuk. Layla hanya menunduk sebagai ucapan terima kasih dan dengan perasaan tak karuan berdiri di depan pintu rumah. Layla menekan bel di samping rumah dengan sedikit ragu. Hatinya harap-harap cemas. Siapa yang akan dia temui di balik pintu ini? Apakah Bastian? Ibu negara? Atau dosennya—pak Aldi? “Siapa?!” Pintu terbuka memperlihatkan sosok wanita paruh baya yang sangat Layla kenali sosoknya. “Ibu,” sapa Layla dengan nada takut-takut. Dia takut Bastian mengadukan perihal sikapnya tadi pada ibu negara. “Layla! Kamu dari mana saja, nak? Astaga, ibu kangen sama kamu.” Loreta memeluk Layla erat, seakan-akan mereka baru saja bertemu setelah bertahun-tahun pisah. “Emm, Layla sibuk sama kampus, bu. Maaf baru main lagi sekarang,” alibi Layla. “Astaga, di rumah ini kan ada Bastian dan Aldi. Kamu bisa minta mereka ajarin aja, atau biar mereka yang kerjain tugas kamu. Sedangkan kamu main sama ibu dan Kai,” ucap Loreta sembari melepaskan pelukannya. “Ehh--” “Yaudah ayo kita temui Kai. Kasihan dia sakit,” Loreta menarik Layla masuk dan langsung membawa gadis itu ke kamar cucunya. “Kai! Lihat siapa yang datang!” ucap Loreta dengan Layla di belakangnya. Kai yang tengah melihat layar I-pad milik Loreta, tak menghiraukan ucapan neneknya. “Kai mau mommy, grandma. Kai gak mau yang lain,” ucap Kai dengan nada dingin namun terdengar lemah. Layla yang mendengar itu tersenyum tipis. Lalu berjalan mendekat dan langsung merebut I-pad di pangkuan anak itu. “Ihh apa sih?!” protes Kai sembari melihat ke arah orang yang merebut I-pad miliknya. “Kenapa? Kai mau marah?” Layla menatap anak tampan dihadapannya dengan alis terangkat sebelah dan tangan terlipat. Kai menatap tak percaya dengan sosok dihadapannya. Anak itu mengerjapkan mata dan menguceknya untuk memastikan, kalau sosok itu nyata dan bukan ilusinya. “MOMMY!” seru Kai kegirangan dan langsung melompat ke gendongan Layla. “Ehh—astaga Kai,” Layla menyipitkan matanya karena kaget dengan serangan dadakan itu. “Mommy, Kai kangen sama mommy. Mommy kenapa jahat sama Kai? Mommy kenapa enggak lihat Kai? Kai kangen mommy,” lirih Kai membuat hati Layla tercubit. Kai gak salah apa-apa, tapi Layla memang harus melakukan ini agar anak itu terbiasa tanpanya. “Shh, sudah ya anak tampan. Jangan nangis, kakak di sini kok. Kai harus sembuh, oke?” ucap Layla menenangkan anak tampan di gendongannya. Sedangkan I-pad yang dia rebut tadi, diletakkan ke atas meja dibelakangnya. “Mommy! Bukan kakak!” protes Kai membuat Layla menutup matanya dan mengangguk. Dia lagi sakit, La. Jadi turutin aja dulu, batin Layla “Iya anak mommy,” ucap Layla yang di hadiahi pelukan erat oleh Kai. “Grandma,” panggil Layla membuat Loreta yang sedari tadi menyaksikan mereka menyahut. “Kai sudah makan obat?” tanya Layla menghadapkan diri pada ibu negara itu. “Bagaimana mau makan obat? Makan nasi saja belum,” Loreta menghembuskan nafas berat membuat Layla menatap tajam Kai di gendongannya. “Makanannya gak enak, mommy.” Kai mengerucutkan bibirnya. “Ya sudah, mommy buatin bubur buat Kai. Tapi Kai ikut bantu, oke?” Layla mengangkat jempolnya. “Ote mommy!” seru Kai bersemangat. Mereka pun keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Walau rumah ini besar, tapi Layla sudah hapal dengan tiap ruang yang ada di rumah ini. Bagaimana tidak? Kai pernah mengajaknya berkeliling rumah ini seharian. “Kai duduk di sini ya,” Layla menurunkan Kai di kursi dapur. Sedangkan dirinya mengambil apron dan memakainya. “Sebentar, mommy mau temuin bi Rina.” Layla menoel hidup mancung Kai dan berjalan menghampiri asisten rumah tangga yang tertangkap ekor matanya. “Bi Rina,” panggil Layla. “Iya non,” “Tolong buka jendela kamar Kai dan biarkan udara masuk. Ganti seprei dan sarung bantalnya dengan yang baru. Lalu rapikan sedikit kamarnya agar tidak sumpek,” ucap Layla yang langsung diangguki oleh bi Rina. “Baik non, ada lagi?” “Tidak. Terima kasih bi,” Setelah mengatakan itu, Layla pun kembali ke dapur untuk memasakkan bubur ayam request Kai. Sedangkan bu Loreta hanya diam mengamati calon menantu pilihannya dan pilihan cucunya berkutat dengan bahan dan alat di dapur. “Daddy pulang!” Deg “Daddy!” Layla mematung mendengar suara itu dan tanpa sadar jarinya menyentuh panci panas. “Aws..” rintihnya membuat semua yang ada di dapur menoleh. Mendengar itu, membuat Bastian buru-buru menghampiri Layla dan memegang jari gadis itu yang memerah. “Kamu kenapa? Kaget saya datang?” Bastian ngomel sambil membawa jari itu ke wastafel dan meletakkan jari itu ke air mengalir. “Ayo ikut sini!” perintah Bastian yang hanya dipatuhi dalam diam oleh Layla. Bastian mengambil kotak P3K dan menemukan salep di dalamnya. Lalu dengan telaten Bastian mengoles salep itu pada jari Layla. Semua itu tak luput dari pandangan Loreta. Dia semakin yakin, bahwa pilihannya tidak salah. “Sudah cukup,” Layla menarik tangannya dan kembali pada masakannya. Bastian yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafas. Dia juga bingung, kenapa harus memberikan perhatian pada gadis yang umur saja terpaut jauh dari dirinya? “Daddy ke kamar dulu,” Bastian pun berjalan meninggalkan dapur menuju kamarnya. Sedangkan dapur yang tadi dihiasi suasana ceria, seketika canggung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN