“Kai sudah tidur?” tanya Bastian datang dengan tiba-tiba dari pintu kamar.
“Pak! Bisa ga sih? Masuk itu ketuk pintu dulu atau salam dulu. Saya kaget tau!” Layla mengelus dadanya. Bastian yang mendengar itu hanya menganggap angin lalu.
“Sebaiknya kamu menginap,” ucap Bastian membuat Layla melebarkan matanya. Apa pria dihadapannya ini sadar apa yang keluar dari mulutnya?
“Saya sudah menyuruh abang saya untuk menjemput,” balas Layla dan kemudian keluar dari kamar Kai setelah memastikan anak itu tidur dengan baik. Panasnya sudah turun, tapi anak tampan itu masih harus banyak istirahat.
“Kamu benar tidak menginap, nak?” Loreta menatap penuh harap pada gadis yang sedang mengemasi barangnya.
“Iya, bu. Saya tidak bisa menginap,” balas Layla kekeh dengan keputusannya. Loreta menatap ke arah Bastian, namun Bastian hanya bisa menggelengkan kepala menghargai keputusan gadis itu.
Tak lama, notifikasi ponsel Layla berbunyi.
“Bang Juna sudah di depan. Layla pamit ya bu, pak.” Layla pamit pada dua manusia beda generasi itu.
“Hati-hati di jalan ya, nak. Terima kasih, kamu sudah mampir.” ucap Loreta dengan senyum khas ibu-ibu. Layla yang mendengar itu hanya mengangguk.
“Iya, sama-sama bu.”
Layla pun berjalan menuju pintu utama dengan diikuti sosok tegap Bastian. Layla sadar jika Bastian berjalan di belakangnya, tapi dia berpura-pura untuk tidak mengetahuinya.
“Sudah mau pulang, non?” tanya pak Tarno yang dibalas anggukan oleh Layla. “Saya pulang dulu ya, pak.”
Layla masuk ke dalam mobil tanpa berpamitan kembali dengan Bastian. Sedangkan Bastian memasang raut wajah bersalah dengan tindakannya kemarin.
“Ayo pergi, bang.” Layla menyuruh Juna untuk segera meninggalkan rumah itu setelah masuk ke dalam mobil. Juna yang mendapat perintah itu pun menatap kasihan pada Bastian yang berharap jika Layla akan menoleh ke arahnya sedikit saja.
“Baiklah,” Juna pun membawa laju mobilnya meninggalkan komplek perumahan Bastian.
“Udah makan?” tanya Juna berbasa-basi.
“Udah.”
“Makan apa tadi?”
“Nasi.”
“Lauknya?”
“Ikan.”
Juna menghela nafasnya. Dia harus menampung stok kesabaran ekstra untuk menghadapi sosok Layla yang tiba-tiba berubah menjadi cuek, secuek-cueknya.
“Abang belum makan. Temani abang makan dulu, boleh?” tanya Juna hati-hati, karena dia tahu Layla tidak dalam mood bagus.
“Maaf bang. Vero jutek. Abang kalau mau makan dulu, ayo Vero temenin,” Layla menatap Juna dengan rasa bersalah. Juna yang mendengar itu tersenyum tipis. Lalu tangannya terulur untuk mengacak rambut Layla. “Tenang aja! Abang udah hafal sifat Vero kecil yang begini,”
“Iya—tapi ga pakai acak rambut gue juga kali!” geram Layla mengundang tawa dari Juna.
“Ck!”
Juna menghentikan mobil ke salah satu restoran cepat saji kesukaan Layla. Restoran dengan menu utama-nya adalah Pizza. Jika kalian tau, bisa sebut dalam hati saja ya. Jangan di bayangin, nanti jadinya laper.
“Di sini, bang?” Layla terheran-heran dengan tempat makan pilihan abangnya. Padahal pria itu selalu mewanti-wanti dirinya untuk tidak makan makanan cepat saji. Tapi sekarang mereka malah duduk di dalam restoran cepat saji itu.
“Kenapa?” tanya Juna setelah dia menyebutkan pesanannya.
“Abang ga lagi kesambet, kan?” Layla mencoba memastikan.
Juna dengan cepat menoyor kepala Layla tanpa perasaan. “Lu kali yang kesambet!” ucapnya membuat Layla melebarkan bola matanya. “k*****t lu, bang!” Layla berusaha membalas, namun tak sampai.
“Makanya tumbuh tuh ke atas, bukan ke bawah!” ledek Juna membuat Layla emosi di tempat.
“Abang!”
“Hahaha..”
Juna dan Layla pun menghabiskan malam itu dengan sambil melempar percakapan. Layla bersyukur dalam hati, karena Juna ada bersamanya. Oma memang sangat mengerti dirinya.
Keesokan paginya, Layla terkejut melihat jam di dinding yang menunjukkan angka 7. Buru-buru dia bangkit dari tempat tidur dan bersiap ekspres. Di cek beberapa kali ponsel, siapa tahu dewi fortuna berpihak kepadanya setelah terlambat bangun pagi ini.
“Ayolah, dosen jangan masuk!” seru Layla dalam hati sambil memakai sepatunya. Namun harapannya musnah karena tak menerima kabar bahagia itu sama sekali.
“ABANG! VERO BERANGKAT! UDAH TELAT!”
“Sarapan dulu!”
“UDAH TELAT! BYE!”
Layla pun membanting pintu utama membuat Juna yang tengah menikmati sarapannya mengelus d**a.
“Dia sebenarnya cewek apa cowok sih?” gumam Juna dan kemudian memasukkan roti selai buatannya ke dalam mulut.
Sementara itu, Layla terus melihat jam sambil berjalan menuju kelas. 5 menit lagi jika dia tidak berada di dalam kelas, maka dia harus merelakan absennya.
“Maaf pak, saya terlambat!” seru Layla dengan kepala tertunduk.
Hening..
“Bhahaha..”
Ehh—Layla mendongakkan kepalanya dan ternyata, dosen belum ada di kelas. Sedangkan sekelas sudah menghujaminya dengan tawa.
Yudi sebagai pria bongsor yang sekilas terlihat seperti dosen, langsung berdiri dan menghampiri Layla. “Iya nak, tidak apa-apa. Lain kali jangan di ulangi ya,” ucap Yudi yang sontak mengundang kembali tawa sekelas.
“k*****t lu!” umpat Layla dan langsung duduk di kursi samping Tia yang sudah terbahak-bahak.
“Cie si Koma malu,”
“Koma-koma.. Hahaha..”
“Seneng lu, nyet! Temen susah di ketawain!” Layla menatap datar ke arah Tia dan yang lainnya.
“Lagian lu, ga biasanya telat. Ada apa?” tanya Tia setelah tawanya mereda.
“Ga tau. Gue ga mimpi apa-apa kayaknya,” Layla merogoh tasnya, mencoba menemukan benda pipih miliknya.
“Ehh, handphone gue ke mana ya?” Layla mulai panik.
“Njir! Kok lu jadi pelupa, Ma?” Tia ikutan panik.
“Pinjem hape lu,”
Tia pun memberikan ponselnya. Layla langsung menghubungi nomor yang terselip di ponsel pintarnya.
“Gimana?” tanya Tia.
“Ga di angkat,” balas Layla harap-harap cemas.
“Coba lagi,” ucap Tia yang diangguki oleh Layla.
Dering pertama dan kedua, tidak ada yang menjawab. Namun pada dering ketiga, panggilan pun di jawab.
“Halo? Ini siapa?” tanya Layla cepat.
“Ini saya,” suara bass yang sangat familiar terdengar.
“Saya siapa? Nama anda saya? Kenapa ponsel saya bisa sama anda?” Layla mencerca orang yang sedang memegang ponselnya dengan pertanyaan.
“Bastian.”
Deg
Layla terdiam. Bagaimana bisa ponselnya ada pada pria itu?