Sambil menutupi kepalanya dengan jubah rumah Ahmed yang dipenuhi bercak noda darah, Julia bergegas keluar dari ruangan yang telah porak poranda serta berantakan karena pertarungan tadi. Pisau tipis yang terbuat dari baja hitam pilihan itu ia genggam erat di tangan kanan yang juga tertutupi kain. Dengan waspada, ia mengendap-endap menuju pintu depan yang ia tahu pasti jika di sana akan ada penjagaan yang cukup ketat. Segera ia sampai di belakang pintu luar. Saat datang tadi, ia telah menghitung jika hanya terdapat dua pengawal dan sopir yang bersiaga di dekat mobil yang tadi membawa dirinya ke tempat itu. Gadis itu menghirup napas panjang dan mengisi paru-parunya dengan oksigen untuk menenangkan debar hatinya. Setelah merasa agak tenang, ia segera merubah gestur serta sikap tubuhnya da

