16

1306 Kata
Thalia duduk di balkon, sembari menghisap rokok dan bermain ponsel. Dengan akun palsu, ia menelusuri akun-akun media sosial milik teman-temannya, terutama Oyoy, Wina, Rere, dan kawan-kawannya. Sejak ia dibully karena pacaran dengan Han, entah kenapa Thalia malah jadi suka memantau mereka di media sosial. Merasa penasaran, apakah mereka menyinggung dirinya di media sosial. Saat ia sedang melihat akun Oyoy, Thalia tertegun melihat status ceritanya. Kalau emaknya janda genit, anaknya pasti nyontoh emaknya kan? Wkwkwkwk, Thalia menegakkan tubuhnya, ia kemudian menyentuh layar sekali menggunakan ibu jarinya, untuk melihat cerita selanjutnya. Bukannya asal nuduh ya, kebanyakan janda tuh kan emang gatel. Apa lagi janda satu ini nih, makanya dia nampung brondong di rumahnya. Gak cuman satu loh, tapi tiga. Padahal ada putrinya yang seumuran mereka. Gak takut tuh anaknya diapa-apain, atau malah mereka yang mau apa-apain cowok-cowok itu? Alibi aja tuh, dibilangnya nge-kost. Buktinya jalan bareng, mereka dikasih pinjem mobil. Pasti buat dirayu, apa lagi? Siapa coba yang dengan gampang percayain mobilnya ke orang lain? Emang ya, kalau emaknya murahan, anaknya pasti juga. Atau bahkan lebih? Kan guru kencing berdiri, murid kencing berlari, awokwkwkwk, Thalia menggertakan gigi. Awalnya ia berharap, ia yang sensitif karena mengira status ini tentang ia dan mamanya, tapi di status selanjutnya, sudah jelas kalau yang ia bicarakan memang dirinya dan mamanya. Saat ia melihat statusnya, Oyoy tengah memamerkan tiket bioskop. Thalia berdecih. "Gak cuman tiga, gue bakal gandeng sembilan cowok ya lont*," ucap Thalia, sembari bangkit dari kursinya, kemudian masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian dan berdandan. ••• "Mendadak banget, gue belum mandi," tutur Jino. "Lo kan bisa pake parfum," balas Thalia. "Nah, terus kita pergi naik apa? Kan mobilnya udah gue balikin ke mama lo," giliran Jeno yang bersuara. "Kan ada taksi online," dengus Thalia. "Gue yang bayar," "Ya udah, kita siap-siap dulu," ucap Jino sembari bangkit berdiri dari sofa. Ia kemudian melirik Thalia dengan tatapan khawatir dan curiga, tapi memilih tidak bertanya. Namun bukan hanya Jino yang merasa janggal, Jeno juga. Selagi menunggu Jino dan Jeno, Thalia menghabiskan rokoknya dengan duduk di sofa ruang tengah. Ia sesekali akan menyembunyikan wajahnya di balik satu telapak tangannya, saat merasakan ada air yang keluar dari matanya. Tiba-tiba terdengar suara motor di halaman, Thalia buru-buru menyeka air matanya, kemudian berusaha terlihat biasa saja. Suara pintu yang dibuka tutup tak lama terdengar, disusul dengan langkah kaki yang mengarah ke ruang tengah. Thalia menoleh ke belakang, dan mendapati Brian yang hendak naik ke lantai atas. Tapi karena Thalia menatapnya, ia jadi mengurungkan niatnya. "Gimana Nolan?" tanya Thalia. "Dia diem aja," balas Brian. "Tapi lo gak usah khawatir, gue sedikit ngobrol sama dia, dan dia untungnya gak tertutup banget, jadi dia mau sedikit ungkapin bebannya," "Makasih," ucap Thalia sembari tersenyum simpul. "Sama-sama. Lo sama Nolan itu kuat banget, bisa ngadepin masalah yang berat, jadi jangan ngerasa terbebani, hal baik pasti bakal dateng," Thalia hanya menjawab dengan sedikit anggukan dan senyuman kecil. "Eum, kita mau nonton, lo ikut ya?" ••• "Ada film yang pengen banget lo tonton?" tanya Jeno pada Thalia, di tengah perjalanan menuju mall. Thalia hanya membalas dengan anggukan. "Maaf ya, kalau kalian keberatan," tutur Thalia. "Padahal tolak aja kalau emang kalian gak pengen keluar rumah," "Ah, enggak kok, kita cuman kaget aja lo tiba-tiba ajak nonton. Ajak Jazmi sama yang lain juga lagi," balas Jino. "Lo udah mau deket sama kita?" Thalia tidak menjawab, ia hanya melirik Jino, Jeno, dan Brian yang duduk di jok tengah, melalui kaca spion depan, sambil tersenyum tipis. "Tapi lo ngajak temen-temen yang lain gimana caranya? Emang lo punya kontak temen-temen?" tanya Brian. "Enggak, tapi gue punya kontak Jazmi, gue minta dia ajakin yang lain, terus pada mau," Brian menganggukkan kepalanya mengerti mendengar jawaban Thalia. "Baguslah, jadi gak bosen nonton kartun doang di rumah, mana cuman ditemenin Jeno, minumannya cuman ada s**u kotak. Niatnya tadi kita mau nge teh sama nonton drama, tapi tehnya gak ada," kata Jino. "Nanti sekalian mau beli?" tanya Thalia. "Mau! Kebetulan drama yang seru juga baru nanti malem tayangnya," "Belajar woy! Besok senin!" sahut Jeno. "Apa itu belajar dan senin? Apakah itu sejenis samsak untuk dipukuli?" "Emang lu ya, minta digampar," Brian mengabaikan perdebatan kecil Jino dan Jeno, ia sibuk melihat layar ponselnya, karena ada satu pesan baru masuk. From: Jazmi Si Thalia tiba-tiba ngajak nonton, aneh. Filmnya juga udah ditentuin sama dia, Ini Jeno gue chat juga gak bales-bales, To: Jazmi Ho'oh, kita juga kaget, Dia lagi berantem sama Jino, From: Jazmi Thalia bukan tipe anak yang suka bikin masalah kan? To: Jazmi Gak tau, tapi kayaknya enggak. Dia selama ini diem-diem ajakan? Kalau lo khawatir dia bakal bikin masalah, ngapain lo iyain ajakannya? From: Jazmi Ya soalnya gue juga lagi gabut di rumah. Temen-temen pas gue tanya mau ikutan, langsung iyain, hari minggu sih, mereka juga pasti pengen jalan-jalan, To: Jazmi Yah, lagian masalah apa yang bakal muncul cuman dari nonton? From: Jazmi Iya sih. Btw, gue, Aaron sama Han udah sampe, To: Jazmi Oke, kita juga bentar lagi sampe kok, ••• Sesampainya di mall, mereka langsung pergi ke bioskop. Meskipun Randy, Henry dan Felix belum datang, mereka sudah bilang akan datang agak terlambat karena sama-sama mengurus adik di rumah —tiga-tiganya punya adik perempuan yang masih kecil —. Thalia mengajukan diri untuk membeli tiket, Jeno dan Jino pun berinisiatif menemani. Film yang akan mereka tonton, akan mulai sekitar tiga puluh menit lagi. Sesaat setelah Thalia, Jeno dan Jino pergi, Jazmi melihat ada tiga gadis yang merupakan teman sekolahnya juga ternyata ada di sini saat ia sedang mengedarkan pandangannya, mereka terlihat sedang duduk di meja yang berada di belakang bagian pojok. Sedangkan ia dan teman-temannya duduk di meja yang berada di depan, di samping dinding kaca. Jazmi otomatis melambaikan tangan pada mereka dan tersenyum. "Oyoy, Rere, Wina!" sapa Jazmi. Brian terkejut mendengar Jazmi menyapa mereka, ia langsung menendang kaki Jazmi dari bawah meja. "Jangan disapa, Thalia ketakutan tau waktu ngeliat mereka," tutur Brian. Jazmi mengernyit. "Kenapa?" Brian tidak menjawab, karena ia juga tidak tahu pasti apa alasannya Thalia takut pada mereka. Sementara Han langsung menerka-nerka sendiri kenapa. Ia menoleh ke arah gadis-gadis itu yang tampak cekikikan dan senyum ke arah mereka sambil melambaikan tangan. Saat mereka beranjak berdiri hendak menghampiri, Thalia, Jino dan Jeno sudah lebih dulu kembali dari beli tiket. Membuat ketiganya terkejut dan mengurungkan niat mereka. Thalia menoleh ke arah meja ketiga gadis-gadis itu, ia hanya menatap datar mereka, tapi hatinya tersenyum lebar. Ia sudah tahu dari awal datang kalau mereka duduk di sana, dan mereka yang malah tidak sadar dengan kehadirannya dengan keenam anak laki-laki ini. "Siapa yang mau beli cemilan?" tanya Jeno yang posisinya masih berdiri, begitu juga dengan Thalia dan Jino, karena mereka sudah kehabisan tempat duduk. "Gue aja lagi gimana?" tanya Thalia. "Tapi gantian sama yang lain belinya, jangan sama Jeno, Jino lagi, biar mereka bisa duduk," "Gak papa sih kalau kita jalan lagi, emangnya kita udah sepuh?" timpal Jino. "Enggak ah, sama yang lain aja, sama Han, Jazmi yuk," ajak Thalia sambil tersenyum ke arah mereka. "Oh, sama Brian juga deh, soalnya yang dibeli lumayan banyak, beliin sekalian buat Henry, Randy sama Felix, gue yang bayarin," "Lagi banyak duit lo?" kekeh Brian. "Gue selalu banyak duit kok, cuman gak mau dikeluarin aja," kata Thalia. Padahal tadinya mau bicara sambil terkekeh juga seperti Brian, tapi entah kenapa tidak bisa. "Ya udah yuk," kata Brian sembari bangkit berdiri, begitu juga dengan Han dan Jazmi. Jazmi yang sukanya 'sok' akrab, hampir merangkul bahu Thalia, tapi Han dengan cepat menepisnya, dan memelototi Jazmi. "Eyy, mantan gak boleh gitu," ledek Brian sembari merangkul Han. Han hanya berdecak sembari melipat kedua tangannya di depan d**a. "Pose yang ganteng, ada yang motoin kita," ucap Thalia tiba-tiba, yang membuat ketiganya mengernyit bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN